Showing posts with label teman. Show all posts
Showing posts with label teman. Show all posts

Tuesday, September 16, 2008

Rembulan dan rintik hujan

[English]
…

Dan rembulan adalah tempat dua teman senang bertemu, berbagi cerita tentang terang dan gulita. Dalam hening, kicau kata, gelak tawa dan air mata—kadang semua teraduk menjadi satu.

Atau bahkan melalui saling tukar tatapan kriptik, bahasa tubuh yang demikian halus, dan siratan senyum yang hanya dapat dipahami oleh keduanya.

Rembulan memang titik temu sempurna. Rembulan tidak berdaya untuk menghasilkan sinar sendiri. Ia sekedar memantulkan sinar yang ia dapat (kebanyakan) dari matahari—layaknya dua teman yang mencerminkan satu dengan yang lain. Rembulan menyinar dengan terang yang lembut. Tak pernah menyilaukan, namun tetap menghadirkan kehangatan sederhana bagi hati dan mengulas senyum bagi bibir.

Jadi, tampaknya aku akan bertemu denganmu malam ini di langit, dimana rembulan menjelma—purnama maupun tidak. Putih, jingga, abu atau merah jambu. Untuk sekali ini saja, aku tak terlalu peduli terhadap detail.

Bahkan bila rembulan tak merupa pun, kita tahu bahwa ia ada. Kita tetap tahu di mana harus bertemu. Kita tetap bertemu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena ia sibuk menyinari belahan dunia lain. Tak apa. Cahaya rembulan cukup melimpah bagi semua. Namun ingat, keindahan hangat yang menyelimuti kita, tetaplah ekslusif untuk kita. Aku tahu. Begitu pula dirimu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena rute edarnya yang tidak mudah diprediksi, tak semudah mentari. Aku rasa itu bagian dari keindahan sang rembulan--membuat kita terus menebak, memunculkan rasa penasaran dan kadang merindu. (Aku mulai bertanya-tanya apakah matahari adalah satu-satunya yang dicerminkan oleh sang rembulan.)

Atau mungkin rembulan tak menampakkan diri karena terhalang awan. Itu pun aku tak keberatan. Karena awan membawa janji-janji akan turunnya hujan. Hujan pula mengingatkan aku pada dirimu.

Dan di tempat yang akan kukunjungi ini—hujan turun setiap saat.

---

Tantanganku bukanlah untuk mengingatkan diri agar mendongak menatap langit malam. Tantanganku adalah untuk tidak terus-menerus mendongak. Aku tahu aku harus memfokuskan diri pada apa yang terbentang di hadapanku dan tidak mengizinkan hati ini berkelana terlalu sering, bahkan untuk mengembara menjenguk dirimu sekalipun.

Lagipula, jauh di dasar hati, aku tahu kau akan baik-baik saja. Kau memang sedemikian kuat dan terberkati. Dan itu satu-satunya yang aku perlu tahu. Satu-satunya hal yang penting bagiku.

Temanku tersayang. Mentor spiritualku dalam mencinta, merasa (lagi), berekspresi (lagi), dan—kini—untuk melepaskan. To let go. Aku tahu aku mesti membiarkan dirimu menapaki perjalananmu sendiri.

Dan tempatku adalah dua langkah di belakangmu, atau tepatnya, di sekitarmu. Di belakang ruangan, menyeruput kopi hitam hangat, mencicipi kue kecil, dan mencelotehkan obrolan tak bermakna dengan sosok di sebelahku. Tersenyum bangga kepadamu, karenamu.

Sementara kau berada di atas panggung, kembali bertumbuh dengan indah, dan wangi dan liar dan segar, serta penuh rasa syukur atas segala hal kecil yang mengada.

Waktu telah tiba bagi kita untuk meneruskan perjalanan. Entah bersama atau sendiri-sendiri, atau kadang bersama kadang terpisah. Ya, mungkin itu. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan dan bagian dari karunia dalam hidup ini.


Nalar memahami. Hati masih butuh lebih banyak waktu.

Foto pertama diambil di Ubud (Bali), kedua dari sini dan ketiga di Anomali Coffee (Senopati, Jakarta).

Wednesday, September 10, 2008

Harta tercuri

[English]
Al Ghazali mengatakan bahwa kadang Tuhan (atau alam atau apa pun kekuatan Maha yang kaupercayai) akan mengambil hal-hal yang demikian kita hargai dan dekap erat di hati guna memberi kita pelajaran akan hidup.

Agar kita dapat belajar hidup tanpa hal-hal yang kita kekapi itu dan dapat terus melangkah.

Agar kita dapat menghargai karunia yang kita miliki dan menggunakannya secara (lebih) bijak.

Hanya setelah kita memahami, Dia akan mengembalikannya pada kita.

Saya telah merasakan sedemikian banyak hal diambil dari saya selama perjalanan hidup ini. Beberapa masih belum saya dapati kembali. Beberapa saya masih ragu atau bahkan takut untuk memilikinya lagi. Pengingkaran dan penghindaran. Tampaknya saya benar-benar masih terus belajar.

post script: Namun akan kusampaikan satu hal padamu. Apapun yang telah teralami, aku tetap baik-baik saja dan aku masih merasa sebagai salah satu makhluk yang paling beruntung-- dan terberkati--yang pernah ada di muka bumi. Seperti halnya dirimu. Lebih dari yang kaukira. Terima kasih telah menjadi salah satu karunia dalam hidupku.

Jangan pernah memiliki pandangan yang berbeda dari ini.

Menilik ke dalam

[English]
Saya tengah mengikuti sebuah diskusi kelompok, ketika salah seorang peserta bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia ingin membantu seseorang yang datang kepadanya, namun tidak bisa karena dia sudah terlanjur ada janji lain.

Sang peserta terus berpikir bagaimana perasaan orang itu dan apakah ia telah mengambil keputusan yang benar dengan tidak menghiraukan permintaan tersebut.

Seorang peserta lain bercerita betapa ia telah memaafkan orang yang telah menyakitinya. Betapa kita harus sabar. Betapa kita harus memaafkan dan melepaskan. Harus bersikap rendah hati dan sederhana.

Saya berpikir, menakjubkan sekali bagaimana kita sering berupaya untuk memperbaiki diri dengan menelaah cara kita bersikap terhadap orang lain atau berdasarkan cara orang lain memandang kita. Kadang kita tidak menyadari bahwa yang punya masalah itu kita dengan diri kita sendiri, bukan kita dengan mereka, apalagi mereka dengan diri mereka sendiri.

Sebuah buku yang baru-baru ini saya baca memberikan perspektif berbeda (dan menarik). Buku itu menyarankan kita (atau sebenarnya, saya) untuk mulai dengan diri sendiri. Ketimbang menekankan pada bagaimana kita harus bersikap, buku itu mengundang kita untuk memperhatikan proses yang terjadi dalam diri.

Mungkin memang sudah saatnya untuk (lebih) jujur pada diri kita, tentang diri kita sendiri. Apa yang sebenarnya kita rasa? Untuk memahami diri. Untuk menerima bahwa kita masih merasakan kemarahan, kemuakan, kegembiraan, dan cinta. Segala kombinasi rasa yang berkecamuk dalam diri. Untuk jujur pada diri.

Kita terlalu banyak menghabiskan waktu kita mengingkari apa yang kita rasa--terutama kalau rasa itu negatif. Terlalu sering kita hanya menyapu perasaan kita ke kolong tempat tidur--sekedar memindahkan dari sadar ke bawah sadar, menambahkan beban emosi yang sebenarnya telah menumpuk. Tidak benar-benar mengatasinya.

Kita mulai dengan mengakui perasaan kita dan memperhatikannya. Kemudian memperhatikan bagaimana rasa itu berubah, berevolusi.

Buku itu kemudian mengajak kita untuk "menghirup perasaan negatif, dan menghembuskan perasaan positif." Saya rasa ini pendekatan yang cukup berani.

Namun hanya setelah melalui proses penilikan ke dalam ini, kita dapat melangkah ke tahap selanjutnya untuk merangkul orang lain. Hanya dengan memahami perasaan kita, kita dapat mulai memahami perasaan orang lain. Hanya dengan menerima dan mencintai diri kita, kita dapat mulai menerima dan mencintai orang lain.

Masuk akal menurut saya. Ya gak sih?

Catatan tambahan. Apakah kita benar-benar berendah hati ketika kita secara eksplisit mengatakan kita rendah hati? Apakah kita benar-benar sabar ketika kita mengklaim diri ini sabar? Apakah kita benar-benar menerima ketika kita menyatakan bahwa kita menerima? Atau kita hanya membohongi diri sendiri? Sebuah kata lain muncul di pikiran ketika saya menulis ini: Arogansi. Lupa kita siapa sebenarnya lawan main kita.

Tuesday, September 09, 2008

Lentera jiwa

[English]
Saya senang dengan orang-orang (terutama teman-teman) yang memiliki mimpi dan aspirasi. Saya terlebih menyukai mereka yang mengikuti mimpi-mimpi itu. Saya sangat percaya bahwa panggilan dari dalam yang terus-menerus mengemuka itu benar-benar berusaha mengatakan sesuatu pada kita. Ia bukan sekedar hal acak tak berarti.

Jadi saya membuka tangan dan hati terhadap tren Lentera Jiwa baru-baru ini.

Memang, ini (lagi-lagi) sebuah langkah pemasaran yang keren dari Yoris dan Morin untuk mempromosikan album baru Nugie.

Tetap saja, Lentera Jiwa merupakan sarana untuk mengingatkan kita bahwa kita dapat (dan seharusnya) memanfaatkan dan menikmati hidup semaksimal mungkin. Untuk mengejewantahkan potensi kita sebaik kita bisa dan tidak menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Recto Verso – album terbaru Dee juga merupakan contoh nyata dari lentera jiwa seseorang. Saya tidak membicarakan Dee di sini. Saya rasa dia tidak perlu perkenalan lagi (Love and light, D).

Saya ingin menceritakan tentang seorang teman lain yang membantu mendistribusikan album Recto Verso. Teman saya ini bekerja dalam bidang TI. Dia sangat gandrung pada musik atau, sejujurnya, apa pun yang berbau indie.

Yang menarik di sini adalah teman saya itu telah menggandrungi musik sejak saya pertama kenal dia (yang berarti sudah cukup lama, karena saya kenal dia saja sudah lebih dari 15 tahun).

Dia mungkin tidak (belum?) bisa mendedikasikan waktunya untuk memainkan instrumen musik sendiri tapi dia mempersembahkan pada musik apa yang ia bisa--kecintaannya, kemampuan organisasi dan manajemennya, dan logikanya yang brilian.

Dia menyumbangkan apa yang ia miliki. Mungkin dia satu-satunya yang bisa memainkan peran itu, dan hal ini membuatnya unik dalam konteks keseluruhan formula yang ada.

Pemikiran ini membawa saya kembali ke tahun 2002, ketika saya merasa agak tak berdaya melihat semua korban banjir Jakarta. Saya mengikuti seorang teman dokter saya keliling. Dia membantu para korban. Sedangkan seorang saya, apa yang bisa saya lakukan? Saya sekedar membantu teman saya membungkus obat-obat sederhana bagi para korban.

Sekarang--setelah memperhatikan teman saya dengan musik indie-nya--saya menyadari bahwa saya tidak perlu menjadi dokter untuk membantu dalam bidang kesehatan. Secara profesi, saya seorang konsultan komunikasi. Jadi harusnya itu yang saya lakukan--dan telah mulai saya lakukan sedikit-sedikit.

Saya belum menemukan satu topik--atau organisasi--yang bisa membuat saya demikian tertarik sehingga saya ingin saya fokuskan diri saya padanya.

Namun, sejauh ini, saya lebih memilih untuk menjadi 'konsultan' bagi lembaga atau yayasan yang dikelola teman-teman saya--melaksanakan pelatihan komunikasi, membantu membuat newsletter, menulis cerita tentang mereka, memfinalisasi proposal pendanaan mereka, dsb.

Mungkin itulah tempat atau fungsi unik saya dalam ensembel ini. Itu dan hal lain. Kita lihat nanti.

Saya bisa bilang dua hal pada Anda, sementara ini. Pertama, dengarkan diri Anda dan temukan panggilan itu. Kedua, tidak perlu terburu-buru. Ini semua proses. Anda tidak perlu serta merta melompat dan melakukannya sekarang juga.

Mungkin yang Anda lakukan sekarang adalah persiapan menuju langkah yang akan Anda ambil. Persiapan yang baik adalah setengah dari kemenangan yang akan kita capai. Manfaatkan waktu yang ada, namun jangan terlena terlalu lama ;)

Saya ingin mengulang apa yang ditulis di situs web Lentera Jiwa:
"Hidup memang penuh pilihan, tapi seringkali pilihan terbaik adalah mengikuti LENTERA JIWA kita. Cahaya yang menuntun kita pada tujuan hidup. Our passion in life.
Bagaimana dengan LENTERA JIWA-mu?"

Monday, September 01, 2008

Dari satu rumah ke rumah lain

[English]
Sekarang sudah bulan September. Pada tanggal 17, saya akan ke Skotlandia untuk mengikuti program enam bulan di sebuah sekolah bernama Beshara.

Perjalanan di bulan-bulan mendatang kehidupan saya dimulai dengan salah satu kelokan tak terduga dalam hidup saya. Saya diperkenalkan ke kelompok Beshara di Jakarta tahun lalu.

Saya menghadiri program akhir pekannya dan saya akui bahwa saya tidak langsung nyambung dengan mereka. Namun ada sesuatu yang terus menerus menarik saya ke kelompok itu. Saya nurut saya, mungkin atas nama penasaran.

Awal tahun ini, saya kembali mengikuti program akhir pekan Beshara. Di penghujung acara, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah seorang fasilitatornya.

Saya bertanya apakah mungkin bagi saya untuk mendapatkan beasiswa guna mengikuti program di sana. Beliau menjawab, "Coba saja email direktur sekolahnya." Pernyataan yang demikian sederhana.

Hebatnya, proses selanjutnya pun sama sesederhananya. Saya tak 'mengacuhkan' jawaban beliau, hingga seminggu kemudian entah apa yang menggerakkan saya. Saya pikir, ya sud, kenapa tidak. Toh saya tidak akan rugi atau kehilangan apa-apa dengan mengemailnya.

Lantas, saya email sang direktur sekolah. Beliau pun menjawab. Ya. Ya??!?!? Saya SMS beberapa teman, mem-forward email itu, dan bertanya ke mereka apakah saya telah memahami email ini dengan benar. Iya, kata mereka. Wah.

Beberapa teman (berulang kali) bertanya bagaimana saya bisa dapat beasiswa itu, atas dasar apa. Satu-satunya jawaban yang dapat saya berikan adalah: “Mungkin, kita hanya perlu bertanya.” Jawaban pasrah karena saya tak tahu harus bernalar seperti apa lagi. Tak perlu.

Dan sisa cerita pun bergulir dengan sendirinya. Saya menerima email tersebut bulan Maret tahun ini. Hidup terus mengalir. Sekarang kita sudah di bulan September. Dua minggu dari sekarang, insya Allah saya akan berada di Skotlandia.

Skotlandia. Kawasan yang sangat dekat di hati saya. Para sahabat dan keluarga saya tahu betapa saya telah jatuh cinta pada tempat itu.

Jadi ketika mereka mendengar saya akan ke Skotlandia, mereka hanya memberikan dua komentar: “Memang sudah digariskan” dan “Oh, mau pulang kampung.”

Iya, saya pun merasa saya akan pulang kampung. Saya akan pulang, dari satu rumah ke rumah yang lain. Memang sudah digariskan. Saya sekedar menjalani.

Kalau kamu ke sana--dan kamu ke sana bersama saya, saya yakin kamu akan dapat melihat apa yang saya lihat, dan merasa apa yang saya rasa. Mungkin kemudian kamu akan mengerti kenapa.

---
Saya terjaga pagi ini dengan sebuah SMS dari seorang teman: “Mudah-mudahan semua upaya baik bisa membimbing jiwa kepada pencerahan sejati, sekalipun itu bukanlah jalan yang mudah.”

Saya tahu. Kamu tahu. Yang lain tidak. Tarik napas dalam.


Gambar diambil dari Beshara, Stirling Uni, and Gettyimages.

Thursday, August 14, 2008

Layaknya tangan kiri dan tangan kanan

[English]
Seorang pria tengah memaku dinding. Tangan kirinya memegang paku, sementara tangan kanannya memegang palu. Duk duk duk.

“Aduh!” tiba-tiba sang pria berteriak. Dia telah memukul tangan kirinya dengan palu. Atau kalau mau, bisa dibilang tangan kanannya (yang memegang palu) telah memukul tangan kirinya (yang memegang paku).

Tahukah Anda apa yang terjadi selanjutnya?

Tangan kanan segera membuang palu yang tengah dipegangnya untuk memegang tangan kiri. Tangan kiri tengah kesakitan dan fokus pada rasa sakitnya. Kedua tangan bekerja sama untuk sebaik-baiknya mengurangi rasa sakit.

Menurut Anda, apa yang akan terjadi kalau hal ini berlangsung antara dua manusia? A memukul B. A bisa saja melarikan diri. A bisa saja berlagak tidak terjadi apa-apa. Atau A bisa saja memarahi B karena keteledorannya—menerapkan prinsip 'memarahi dulu sebelum dimarahi.'

B, di lain pihak, mungkin akan menatap A dengan rasa marah dan benci. B tentu akan menyalahkan A atas apa yang baru saja terjadi. B akan menyimpan rasa kesal dan jauh di dalam benaknya mungkin telah menyimpan baik-baik memori kejadian ini dan diam-diam menyusun rencana balas dendam di masa nanti.

Tapi tidak demikian dengan tangan-tangan itu. Tangan kanan tidak melarikan diri. Ia tak bisa melarikan diri. Kedua tangan ini tergabung dalam satu tubuh. Tangan kanan langsung melupakan apa yang tengah ia kerjakan untuk mengurus tangan kiri. Tangan kiri tidak memendam kekesalan dan bahkan tidak berpikir sama sekali untuk membalas dendam terhadap tangan kanan.

Selalu aja ada hal yang terjadi. Kedua tangan bekerja sama sebaik mungkin. Mereka bisa merasa satu sama lain. Mereka terhubung satu sama lain. Mereka tahu bahwa, pada akhirnya, mereka adalah satu dan saling terkoneksi. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun. Mereka terus bekerja sama.

Tubuh manusia yang luar biasa ini merupakan refleksi mikroskopis tentang bagaimana dunia saling terkait dan bagaimana manusia selayaknya memperlakukan satu sama lain. Sayangnya, sedikit sekali yang memperhatikan.

-cerita dari Thich Nhat Hanh yang dihaturkan selama pembicaraan dengan Nat di Bangkok.

Bangkok: teman-teman lama bertemu

[English]
Saya baru menyadari bahwa Bangkok adalah satu-satunya kota dalam rute saya kali ini yang saya tidak punya agenda khusus kecuali bertemu dengan teman. Tidak ada retreat, tidak ada pelatihan, tidak ada apa-apa. Enak juga sekali-sekali tidak punya agenda.

Ada satu agenda sih: untuk ngobrol dengan teman saya Nat. (oh dan sesi pijat Thai.) Saya bertemu dengan Nat ketika saya di Spanyol secara 'kebetulan.' Kami ngopi bareng dan mulai mengobrol. Obrolan singkat bertumbuh menjadi pertemanan.

Kunjungan tiga hari ke Bangkok ini sebenarnya merupakan kali kedua saya bertatap muka dengannya. Saya tidak terlalu tahu apa yang yang harus saya tulis di sini. Ada ide, Nat? Saya tidak kenal orang lain yang bisa saya ajak ngobrol seperti kami ngobrol.

Di taksi menuju bandara pagi hari itu, saya merasa sedih. Saya telah mengunjungi beberapa tempat akhir-akhir ini, namun hanya Bangkok yang berhasil membuat saya merasa sesentimentil ini.

Saya merasa seperti meninggalkan kota ini terlalu cepat. Rasanya Bangkok belum berkesempatan untuk menceritakan kisah-kisahnya pada saya. Mungkin ada kata-kata yang belum terucap, pemandangan yang belum terlihat, dan pengalaman yang belum terbagi.

Di atas pesawat, saya membuka halaman pertama buku yang Nat berikan pada saya. Buku berjudul "Start Where You Are: A Guide to Compassionate Living written" by a female monk Pema Chödrön. Buku yang luar biasa kuat. Saya bergidik ketika membuka halaman pertamanya dan saya dapat merasakan mata saya menghangat ketika saya membuka halaman pembuka.

Halaman ix, paragraf dua:
“In our era, when so many people are seeking help to relate to their own feelings of woundedness and at the same time wanting to help relieve the suffering they see around them, the ancient teaches presented here are especially encouraging and to the point. When we find that we are closing down to ourselves and to others, here is instruction on how to open. When we find that we are holding back, here is instruction on how to give. That which is unwanted and rejected in ourselves and in others can be seen and felt with honesty and compassion. This is teaching on how to be there for others without withdrawing.”

Saya menulis entri ini namun saya awalnya tidak tahu gambar-gambar apa yang dapat saya pajang di sini sebagai ilustrasi. Mungkin saya seharusnya mengambil foto atau gambar dari tempat-tempat yang kita kunjungi dan santapan yang kita makan, Nat. Namun gambar-gambar itu terasa tidak penting dan bahkan tidak relevan ketimbang hal-hal yang kita obrolkan dan bagi. Terima kasih telah menjadi suatu hadiah bagi hidup.

Kamu benar. Pertemuan yang terasa kebetulan itu sebenarnya bukanlah kebetulan sama sekali. Pertemuan itu bukanlah pertemuan dua orang asing, namun pertemuan dua teman lama.

Tuesday, August 12, 2008

Singapura: Untuk sebuah urusan (tak biasa)

[English]
Entah kenapa, Singapura selalu terasa 'bisnis' di lidah saya. Rasanya saya tidak pernah menyambangi negara ini murni sebagai turis. Selalu saja ada tujuan spesifik: mengantar ibu saya ke rumah sakit, mengunjungi teman-teman, menghadiri konferensi, atau, seperti kali ini, mengikuti pelatihan.

Saya mengikuti pelatihan empat hari Craniosacral Therapy (CST). Cranio apa? Sebuah teknik penyembuhan melalui sentuhan ringan yang dikembangkan oleh John Upledger. Secara sederhana, sentuhan ringan ini akan merilekskan otot yang tegang dan, sebaliknya, mengaktifkan kembali otot tidur.

Saya menggandrungi CST karena beberapa alasan. CST dapat membantu orang. (Saya menjadi saksi. Saya pernah merasakannya.) Terapi ini menggunakan sentuhan ringan, yang tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali. (hanya sentuhan seberat lima gram.) CST memiliki penalaran medis ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung teknik ini (pas untuk otak kiri saya yang super kritis dan kerap logis berlebihan.)

Sentuhan ini adalah cara untuk terhubung dengan tubuh (dan pikiran) sang 'pasien'. Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menyembuhkan diri sendiri. Sentuhan sekedar mengatakan "kami mendengarkan" dan menunggu sang tubuh untuk membuka diri dan mulai bercerita.

[Ingatkan saya untuk menulis lebih banyak tentang CST. Sementara ini, silakan mengacu ke situs web resmi Upledger Institute untuk info lebih lanjut.]

Pelatihannya sendiri sangat amat menyenangkan. Bapak instruktur Michael, keempat asisten pengajar dan Greenpartners sebagai penyelenggara (hai Kheng!) benar-benar hebat.

Dua dari asisten tersebut adalah terapis saya—Martyn dan Heather. Saya sebelumnya tidak tahu bahwa mereka akan ada di sana. Jadi Heather menyelinap dari belakang, menutup mata saya dengan tangannya dan berkata, “Tebak siapa saya. Kamu harusnya bisa menebak dari sentuhan tangan saya .” ☺ Wah, lelucon khas CST!

Saya benar-benar menikmati pelatihan ini. Serius. Pada hari pertama, saya meng-sms teman saya sekedar untuk mengatakan “Aku suka hidupku.” Dari dasar hati terdalam. Saya rasa kata-kata itu tidak pernah tercetus di pikiran saya, minimal sudah lama tidak. Hidup saya murni suatu berkah, namun hari itu saya benar-benar merasa terberkati.

Ketika saya menceritakan ke beberapa teman bahwa saya mengambil pelatihan ini, mereka bertanya, “Mau ngapain setelah loe ngambil kursus itu?” Pertanyaan menarik.

Sebuah pertanyaan yang mengingatkan saya pada tulisan Paulo Coelho di Pilgrimage. Karakter utamanya begitu bersemangat untuk menemukan pedang sakti itu. Sedemikian semangat sehingga dia tidak menyadari bahwa sebelum dia menemukan pedang tersebut, terlebih dahulu dia harus menjawab satu pertanyaan terpenting: “Apa yang akan kaulakukan setelah menemukan pedang tersebut?”

Saya sendiri belum yakin apa jawaban saya. Mungkin ini merupakan suatu langkah mewujudkan mimpi masa kecil untuk menjadi dokter. Dulu saya memang ingin menjadi dokter, sehingga saya bisa menggunakan setengah waktu saya untuk mencari uang dan setengah sisanya untuk membantu orang.

Atau mungkin ini masa melunasi hutang. Saya ingat perasaan tak berdaya saya ketika saya menjadi relawan untuk membantu korban banjir besar Jakarta. Demikian banyak yang menderita, sedikit sekali yang bisa saya lakukan.

Tak tahu lah. Tapi saya yakin pada saatnya saya akan tahu harus saya apakan kemampuan saya itu.

Sementara, saya ingin berterima kasih kepada tim CST (dan teman-teman baru saya) untuk pengalaman yang demikian berharga dan menyenangkan. Terima kasih kepada Kota Singapura yang selalu berbaik hati pada saya (dan profesional plus efisien!).

Terima kasih ekstra spesial pada Yolli, Hany dan Andien yang telah mengizinkan saya menghamparkan diri di tempat mereka. Nila dan Mike untuk hidangan veggie-nya. Peluk hangat untuk teman-teman yang saya temui selama di sana.

Berbagi cerita

[English]
Sepanjang 11 hari meditasi TB2, saya menghabiskan 10 hari di antaranya dalam keadaan hening. Masa hening (noble silence) berarti “keheningan di tataran tubuh, ucapan dan pikiran. Segala bentuk komunikasi dengan sesama peserta meditasi--baik dalam bentuk bahasa tubuh, tulisan, lisan, dsb--tidak diperbolehkan.

Namun peserta diperbolehkan berbicara dengan para fasilitator/instruktur jika diperlukan. Mereka juga diperbolehkan untukberkomunikasi dengan pihak penyelenggara berkenaan dengan masalah seperti makanan, akomodasi, kesehatan, dsb. Tetapi kontak seperti ini sekalipun harus diminimalkan. Kita harus menciptakan rasa bahwa kita berjalan sendiri.”

Yang tidak saya sangka-sangka adalah .. bahwa tidak berbicara dengan orang di sekitar saya bukanlah tantangan terbesar bagi saya. Mungkin karena saya tidak terlalu mengenal mereka. Kami baru bertemu beberapa jam sebelumnya, sehingga ikatan emosional belum terbentuk dengan kuat.

Tantangan terbesar saya, ternyata, adalah bahwa saya tidak bisa menulis atau bercerita (secara tertulis maupun lisan) kepada teman-teman saya.

Saya kangen bercerita dengan teman-teman saya—dengan kamu—dan berbagi impresi dengan mereka—dengan kamu. Saya kangen teman-teman saya—kangen kamu. Dibutuhkan 10 hari hening untuk membantu saya menyadari betapa berbagi dengan teman-teman saya—dengan kamu—demikian berharga buat saya.


Bukit-bukit dan awan yang terhampar di hadapan saya memberikan pelajaran keduanya:”Bersabarlah. Tunggu hingga proses ini berakhir, tunggu sampai semua ini terang bagimu, kemudian berbagi ceritalah”.

Sang rembulan, yang terus bertahan di langit hingga jam tujuh pagi hari itu, menguatkan pelajaran ini: "Teman-temanmu akan tetap ada di situ ketika kau selesai, menunggu dirimu untuk kembali pada mereka.”

Sunday, August 10, 2008

Terima kasih atas antusiasmenya

[English]
Pesan singkat melalui HP saya terima ketika saya di Bali.

Dia: "Hai Va, kita ketemuan hari ini?”
Saya: "Gak, kita ketemu dua minggu lagi. Tapi terima kasih lho untuk antusiasmenya :D”

Saya tahu teman saya tentu sekedar lupa atau punya alasan lain yang lebih logis, tapi biarkan saya untuk berpegang pada yang satu ini ;)

Bekerja @ Ubud

[English]
Email ke seorang klien seminggu sebelum saya berangkat ke Bali: "Hai. Sekedar mengingatkan. Saya akan pergi ke Bali dalam waktu seminggu. Apakah Mbak masih membutuhkan bantuan saya? Kalau ya, bolehkah kita selesaikan semua sebelum saya pergi?”

Email ke klien yang sama dua hari sebelum saya pergi: ”Hai. Bolehkah saya mendapat kepastian bahwa kita sudah bisa bergerak ke tahap selanjutnya? Saya akan pergi dua hari lagi. Tapi kalau dibutuhkan, saya masih bisa bekerja hingga tanggal 22 pagi. Tanggal 22 siang, saya akan memulai meditasi saya dan akan mematikan hp serta koneksi Internet saya.”

Saya menerima email dari klien saya tepat pada hari saya pergi ke Bali. Jadi pekerjaannya harus saya selesaikan selama saya di Bali. Saya mengakses Internet dan ngobrol dengan teman saya. Saya ceritakan padanya bahwa saya sedang di Bali dan sedang bekerja.

Teman saya hanya bertanya satu hal, “Bagaimana perasaanmu?” Pertanyaan yang bagus. “Baik-baik saja” jawab saya, "Saya sama sekali tidak keberatan melakukan pekerjaan ini sekarang.”

“Bagus. Hanya itu yang penting." adalah tanggapan yang saya dapatkan darinya.

Teman saya benar. Perasaan baik-baik saja, tidak keberatan, menganggap semua ringan atau bahkan dengan sejumput (atau lebih) suka cita adalah penting, apapun yang tengah kita hadapi.

Yoga di Bali

[English]
Juli lalu, saya mengikuti kursus lima hari Iyengar Yoga bersama Ann Barros. Ini kali ke-dua saya mengikuti kelasnya.

Tampaknya saya demikian menikmati kelasnya yang dulu sehingga saya dengan senang hati kembali ke Ubud untuk mengikutinya lagi.

Hm, sebenarnya sih, saya akan kembali ke Ubud untuk alasan apapun.

Saya sangat menyukai kelas-kelas Iyengar. Tradisi Iyengar memberikan perhatian khusus pada presisi (saya banget gak sih☺) dan keselarasan dalam setiap posturnya.

Tradisi ini menggunakan berbagai alat bantu khusus seperti tali-tali, bantal, selimut tebal, kursi dsb untuk membantu praktisi mengalami kesempurnaan dalam postur.

Karena itu, kelas ini terasa sebagai kursus penyegaran untuk mengingatkan saya bagaimana postur-postur yoga itu sebenarnya. Anda harus menyaksikan sendiri bagaimana Ann berkomentar dan membetulkan postur kami serinci mungkin--yang kadang terasa tidak nyaman pada saat kita berada dalam keadaan terbalik (kaki di atas, kepala di bawah). Dia juga senang menyelipkan satu dua catatan filosofis yoga. Senangnya!

Kami tinggal di penginapan Kebun Indah. Saya menempati sebuah kamar yang sangat menyenangkan dan bertemu beberapa teman yang sama menyenangkannya.

Sarapan adalah salah satu momen favorit buat saya. Kami berkumpul di kamar terbesar dan bersama-sama menyantap sarapan. Nyam nyam.

Saat-saat itulah kami bisa saling bercerita. Waktu sarapan adalah saat saya bisa mendengarkan cerita luar biasa dari teman-teman baru saya. Orang lain memang benar-benar cermin dari kita semua. Cermin-cermin tercinta.

Pada waktu luang, saya menjelajahi Ubud, kadang sendiri (dengan buku!), namun kadangkala dengan teman untuk ngopi, makan siang, makan malam, atau pun menonton pagelaran tari Kecak. Sekali dua kali meng-sms teman-teman. Dan terkadang, bekerja ;)

Saya menapaki jalan-jalan alternatif di Ubud dan tetap bisa merasakan betapa mengagumkannya mereka.

Beberapa bahkan lebih menarik ketimbang jalan-jalan utama sesak dengan toko turis.

Saya menyadari bahwa telah lama saya tidak berjalan-jalan sendiri. Kangen pengalaman itu.

Namun kini saya telah menemukan sensasi berada bersama diri lagi. Menyenangkan mengalami rasa itu kembali. Lebih senang lagi karena rasa itu datang dibarengi oleh teman-teman baru, Ubud dan Iyengar Yoga yang demikian indah.

Terima kasih, Ann. Terima kasih, teman-teman. Terima kasih, Ubud. Seperti yang dikatakan oleh Arnold the Governator, “Saya akan kembali!” Saya janji.

Catatan untuk diri: harus mendapatkan foto teman-teman dan taruh di sini.

Saturday, August 02, 2008

Di hari pernikahanmu

[English]
Maafkan bila aku tak dapat hadir pada salah satu hari terpenting dalam hidupmu.

Aku tak akan banyak memberi alasan, karena rentetan kata apa pun yang akan kumuntahkan dari mulutku akan terasa hambar di telinga maupun hatimu.


Namun hati dan doaku akan tetap hadir bersamamu, terutama di hari istimewamu ini. Aku berdoa agar dirimu dan pasangan dianugerahi hidup yang bersimbah kebahagiaan sederhana dan cinta sejati.

Semoga kalian berdua dapat membentuk suatu kemitraan spiritual seumur hidup yang patut menimbulkan iri di hati semua makhluk.

Sebuah kemitraan yang mengizinkan masing-masing kalian untuk saling mendukung dalam bertumbuh dan mewujudkan potensi diri seutuhnya--dengan ikhlas dan penuh kebahagiaan.

Saat tidak ada lagi yang disebut dengan "pengorbanan", karena memang tak ada yang merasa menjadi korban ataupun mengorbankan sesuatu. Ketika setiap hari dipandang sebagai satu lagi keajaiban dan hadiah istimewa dari Tuhan.

Semoga kalian berdua dapat menyambut pagi, menapaki hari, dan beranjak tidur dengan pemahaman dan rasa syukur akan ternikmatinya hidup dan cinta terindah yang pernah ada.

Wednesday, July 16, 2008

Mewujudkan mimpi masa kecil

[English]
Mau jadi apa nanti kalau sudah besar? Apa yang menjadi minat atau ambisimu sejak dulu? Sewaktu kecil, kamu sering mimpi menjadi apa? Amatlah menyenangkan bila kita dapat mewujudkannya menjadi kenyataan. Mimpi pribadi (masa kecil) selalu menjadi topik diskusi yang menarik.

Tapi tau gak apa yang lebih menarik—buat saya—melebihi keinginan untuk mewujudkan mimpi masa kecil saya? Membantu orang lain mewujudkan mimpinya.

Saya tidak tahu kenapa, namun saya selalu bersemangat bila mendengar mimpi orang lain. Bahkan, bagi saya, mendengar mimpi orang lain lebih menggugah ketimbang memikirkan mimpi saya sendiri. Otak saya berputar ekstra keras. Kepala ini berimajinasi bagaimana mengubah mimpi tersebut menjadi kenyataan, siapa yang bisa saya hubungkan dengan teman saya ini, dsb, dsb.

Saya paling gemas kalau melihat orang-orang berbakat—yang bakatnya sedemikian jelas sehingga menyilaukan—namun mereka tetap hidup 'biasa-biasa saja.' Kenapa sih?

Saya percaya masing-masing insan memiliki bakat yang unik dan istimewa. Tiap-tiap kita memiliki peran yang sangat spesifik dalam hidup. Sebagian dari tugas kita adalah mencari tahu (atau ada juga yang bilang, mengingat kembali) keistimewaan kita. Bagian lain dari tugas kita adalah menjalaninya.

Bagaimana kita dapat mencari tahu dan menjalani peran, bakat dan mimpi istimewa kita tersebut?

Rahasia untuk menjadi istimewa—seperti yang dikatakan oleh Master Oogway dan Bapaknya Po Mr. Ping—adalah nihil. Tidak ada rahasia sama sekali. Kita hanya perlu meyakini bahwa kita ini istimewa.

Tapi ada triknya. Triknya adalah: dicoba.

Kalau kita tidak coba, bagaimana kita tahu kalau kita bisa? Mustahil, katamu? Well, mencoba sesuatu yang mustahil itu bisa menjadi mengasyikkan lho. Yuk!

Mimpi kita itu menunjukkan sesuatu kepada kita. Wujudkan. Jalani. Kemudian, manfaatkan demi kepentingan bersama.

Menulis dan menjadi penulis

[English]
Saya cukup terkejut, bingung dan lumayan tersanjung ketika beberapa teman bertanya apakah saya pernah berpikir untuk menulis buku.

"Um, gak tuh" adalah jawaban pertama saya. Singkat, walaupun mungkin tidak terlalu manis.

Kemudian jawaban kedua muncul setelah saya memikirkan pertanyaan itu sedikit lebih lama, "Tentang apa ya?" Saya tidak tahu buku apa yang bisa saya tulis sehingga mampu menarik orang untuk membaca atau bahkan membelinya sekalipun.

Karena saya tidak pernah melihat diri saya sebagai seorang penulis, apalagi penulis yang baik. Saya rasa saya tidak memiliki passion untuk menulis. Tidak seperti yang dimiliki oleh beberapa teman saya. Orang-orang itu melihat menulis sebagai passion mereka. Bagi mereka, menulis tampaknya telah ditaruh di tengah panggung sebagai pemeran utama atau bahkan pemeran tunggal. Saya tidak seperti itu.

Saya melihat menulis sebagai sekedar ekspresi dari pikiran dan perasaan saya. Salah satu medium untuk mengekspresikan passion saya, itu betul, namun tidak sebagai passion itu sendiri.

Tetap saja, sebagai seorang penggemar introspeksi, saya mencoba mengunyah pernyataan teman-teman saya itu sedikit lebih lama.

Saya obrolkan dengan teman lain--sesama zinister dan pemilik salah satu blog favorit saya. Saya yakin dia juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang penulis.

Komentarnya, "Kenapa (mesti menulis buku)? Gua sih lebih senang kalau loe tetap pada apa yang loe gunakan sekarang: blog dan sirkulasi email. Gratis. Kalau buku khan gua harus beli." Poin yang bagus.

Mohon jangan disalahartikan. Tentu saya memiliki respek yang sangat amat tinggi terhadap para penulis buku--para penulis berbakat luar biasa untuk buku yang telah maupun belum beredar. Buku telah menjadi salah satu sahabat terbaik saya dan saya tidak akan memiliki mereka--ataupun mendapatkan demikian banyak pembelajaran maupun pengetahuan--apabila bukan karena para penulisnya.

Semalam seorang teman lain berargumen, "Lho, kalau melalui buku khan semua pikiran dan ide loe terkompilasi dengan lebih compact (pepak, kalau kata ibu saya) dan terorganisir dengan rapi. Lagipula, loe akan dapat merangkul lebih banyak orang." Betul, mungkin. Tetapi apa yang akan saya tulis? Siapa yang mau saya rangkul?

Dalam satu diskusi beberapa minggu lalu, sesama partisipan bertanya kenapa saya tidak mengatakan apapun selama sesi terakhir. Saya bilang karena tidak ada yang perlu saya tambahkan. Dia menjawab, "Tetapi harusnya ikut urun rembug donk. Saya khan juga ingin belajar dari Anda." Benar juga. Menarik bahkan. Saya tidak pernah melihat diamnya saya sebagai suatu keengganan untuk berbagi.

Namun, sementara ini, saya tetap mengikuti saran teman saya untuk menggunakan media blog dan sirkulasi email. Untuk saat ini.

[Gambar 1 - pribadi; 2 - punya Hany]

Friday, July 11, 2008

Pilihan dalam hidup

[English]
Tampaknya seorang teman sedang gandrung dengan kata-kata “Hidup adalah tentang pilihan." Pernyataan yang membuat saya berpikir. Apa memang hidup adalah tentang pilihan? Apakah kita memang benar-benar memilih?

Ada orang yang berpaham bahwa mereka sudah mentok dengan apa yang mereka miliki saat ini. Mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Kebanyakan mungkin karena alasan ekonomi, namun ada kalanya lebih karena kita tidak terbiasa berpikir tentang adanya pilihan lain dalam hidup. Bahwa kita dapat berjalan lebih jauh, kalau saja kita berusaha, kalau saja kita percaya.

Kemudian ada pula orang yang sudah mulai berpikir bahwa hidup adalah tentang pilihan. Kita punya begitu banyak pilihan dalam hidup. Kita memiliki kekuatan untuk memilih. Saya agak bertanya-tanya apakah kita perlu waktu berpikir untuk memilih adalah karena kita tidak cukup mengenal diri kita.

Jika kita tahu kita lebih suka teh ketimbang kopi, jika kita lebih suka es krim stroberi ketimbang cokelat, kita bahkan tidak akan berpikir tentang kopi atau es krim cokelat. Bahkan ketika kopi dan es krim cokelat itu terhidang di hadapan, kita tidak melihatnya sebagai suatu pilihan, karena itu bukan kita. Kita akan dengan mudahnya mengatakan "teh" dan "stroberi," tanpa perlu berpikir panjang.

Lagipula, siapa kita berani-beraninya bilang kalau kita bisa mengendalikan hidup ini. Seorang teman lain pernah berkata bahwa "persepsi akan kendali itu adalah ilusi." Kita pikir kita memiliki kendali, tapi satu menit kemudian semua bisa hancur berantakan tanpa kita dapat melakukan apa-apa. Terlalu arogan apabila kita berpikir kitalah orang yang mengendalikan hidup, bahwa kitalah yang membuat pilihan-pilihan itu.

Kemudian, ada juga orang yang hanya melakukan. Mereka sekedar menapaki jalan kehidupan. Mereka tidak merasa memilih karena mereka tahu bahwa jalan itu telah dibentangkan khusus untuk mereka jalani. Mereka memiliki keyakinan. Mereka berupaya sebaik mungkin memanfaatkan apa yang ada di hadapan mereka, apa yang telah dihidangkan bagi mereka, karena mereka tahu semua ini berasal dari Dia khusus untuk mereka.

Selain itu, ada orang yang hanya mengada. Orang yang melakukan bukan sekedar demi melakukan atau menjalani apa yang ada di hadapan mereka, namun karena semua berasal dari dalam diri. Karena itulah mereka. Mereka senantiasa merujuk ke hati, bukan ke pikiran.

Nantinya, entah kapan, akan tiba waktu saat apa yang kita 'inginkan' sama persis dengan apa yang Dia inginkan. Di sini kita tidak lagi berbicara tentang 'mengada' karena yang ada hanya Dia dan tidak yang lain. Dia adalah kita tapi kita bukan benar-benar Dia.

Saya yakin ada penjelasan-penjelasan lain. Tapi saya akan berhenti di sini dan mengakhiri tulisan saya dengan apa yang ditulis oleh seorang teman dalam emailnya. Dia berujar, “Ketika kamu terhubung dengan hatimu dan bergerak berdasarkannya, semua yang kamu lakukan adalah jujur. Tidak ada benar atau salah. Hanya 'ada'. Pikiranmu tidak akan menghalangi. Kamu akan menjalaninya tanpa ragu."

Dia meneruskan, “Ketika kamu fokus untuk hanya menggali dirimu, semua hal lain akan tertata dengan sendirinya. Hati, dalam hal ini, memainkan peran yang demikian penting. Hati menjadi jembatan antara pikiran dan tindakanmu. Cinta membutuhkan hati yang terbuka untuk bisa memberi dan menerima. Semakin terbuka hatimu, semakin kamu dapat memberi dan menerima. "Dia" adalah "cinta."

Saya sangat terberkati. Saya menyadari itu. Terima kasih.

Pertemanan

[English]
Saat saya membaca kembali tulisan terdahulu saya--yang merujuk ke suatu pertemuan dengan seorang teman tertentu sebagai hadiah, saya baru menyadari. Pernyataan itu tidak sepenuhnya benar dan cenderung ceroboh.

Seharusnya saya menganggap bahwa "setiap pertemuan dengan setiap teman merupakan hadiah. Sebuah Anugerah."

Lebih tepat lagi, setiap teman adalah hadiah, anugerah. Titik. Dan saya dikarunia demikian banyak hadiah tersebut dalam hidup ini.

Saya hanya berharap saya tidak terlalu mengecewakan mereka (dan Kamu). Saya hanya berharap saya dapat membalas uluran tangan mereka (dan Kamu), dengan cara apapun.

PS: Terima kasih padamu (dan Kamu) untuk menyadarkan saya akan hal ini tadi malam.

Thursday, July 10, 2008

*peluk*

[English]
Saya hanya ingin mengatakan betapa hari ini indah dan menyenangkan bagi saya.

Terima kasih lho.

*Peluk. Peluk. Peluk.*

PS: Gak kok, saya masih vegetarian.

Sunday, July 06, 2008

Pohon dan kerendahhatian

[English]
Rendah hati--sebuah istilah yang jarang muncul dalam kamus saya, sayangnya. Bekerja dan hidup dalam dunia modern yang demikian penuh persaingan dan gerak cepat, harga diri dan bahkan kesombongan kerap dinilai sebagai pendorong yang berhasil membawa saya berjalan sejauh ini. Kesederhanaan dan kerendahhatian jarang mendapat tempat dalam permainan.

Namun, tampaknya kerendahhatian merupakan pelajaran saya bulan ini. Setidaknya, empat kali kata 'rendah hati' telah dijejalkan ke dalam kepala saya. Dua diantaranya menggunakan pohon sebagai metafora.

SATU
Cerita dari Pak Merta Ade, Bali Usada. Seorang raja dan rombongannya berjalan mengelilingi taman. Sang raja melihat pohon yang demikian kokoh,dengan buah yang lebih ranum dan daun lebih rindang ketimbang pohon lain. Raja memetik beberapa buah dari pohon itu. Rombongan pun mulai melakukan hal yang sama. Memetik beberapa buah dari pohon yang sama. Buah habis, daun dipetik. Daun habis, ranting diambil. Pohon dibiarkan tak bersisa.

Sang raja kemudian selesai memutari taman dan melihat apa yang terjadi pada pohon itu. Dia merenung, "Semakin besar kita (dibanding yang lain), semakin menjadi pusat perhatian, semakin besar kecenderungan orang lain memanfaatkan kita. Lebih baik menjadi diri yang lebih sederhana dan seperti kebanyakan yang lain."

DUA
Seorang teman terkasih menceritakan perbincangannya dengan teman lain. Teman lain itu menunjuk ke sebuah pohon, kurus, tidak terlalu banyak daun, dsb. Namun, ketahui bahwa pohon itu tetap memberikan manfaat bagi sekitarnya, sebaik yang ia biasa, sesuai dengan perannya. "Pohon kecil yang tidak diacuhkan siapa pun itu," ujarnya, "Jadilah pohon itu. Jadilah pohon itu." (Saya senang sekali dengan cerita ini).

TIGA
Teman terkasih saya itu sendiri. Di mata saya, dia bagai ensiklopedia berjalan, terutama tentang isu spiritualisme. Namun kalau Anda tak sengaja berpapasan dengannya di jalan, kemungkinan Anda hanya akan melewatinya. Dia demikian .. biasa. Dia telah menjadi pohon itu. Saya sudah lama berusaha bertemu dengan dia lagi. Tapi jadwal kami tidak pernah bertemu. Jadi ketika saya bertemu dengannya beberapa hari lalu, saya katakan padanya saya merasa mendapat hadiah. Saya merasa demikian terberkati untuk mendapat kesempatan bertemu dengannya lagi.

EMPAT
Dari sebuah sesi akhir pekan Beshara. Seluruh sesi membicarakan kerendah-hatian. Kerendahhatian sebagai prasyarat untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Teks yang dibahas ketika itu mengatakan [catatan: terjemahan bebas] "Kerendahhatian dalam pengertian seluas-luasnya merupakan kemiskinan jiwa, bukan kemiskinan karena kekurangan, namun karena kaidah individualisme, ia adalah sikap menerima keterbatasan kita; dengan pernyataan lain sebuah perkiraan realistis dari diri tanpa adanya ilusi diri hasil rekayasa diri itu sendiri secara berlebihan.

Singkat kata, kerendahhatian adalah penilaian jujur tentang keberadaan diri, yang merupakan hal penting dalam memahami diri secara dekat. Walau upaya untuk memahami diri ini memaktub realisasi potensi individu secara maksimal--yang pada akhirnya akan membantu proses penyempurnaan diri--, namun tetap ada sederet kekurangan dan kelemahan diri ini yang demikian buruk dan mengerikan."

Empat perulangan untuk sebuah pelajaran yang sama dalam kurun waktu satu bulan. Entah karena pelajaran ini demikian penting atau saya memang demikian sombong. Mungkin keduanya.

Tuesday, June 24, 2008

Mr. Zero

[English]
Akhir pekan kemarin sangat menyenangkan, bersama keluarga dan teman. Saya menerima satu hadiah istimewa dari seorang teman.

Dia adalah suami dari seorang teman yang sudah saya anggap sebagai kakak saya. Sebenarnya hari Minggu itu adalah pertama kali saya bertemu dengan suaminya. Dia (sang suami) mendengar tentang cerita saya dan perjalanan yang akan saya lakukan.

Dia berujar , “Saya akan kasih kamu Mr. Zero. Saya sudah menyimpan satu buat orang yang menurut saya cocok untuk menerimanya.”

Dia beranjak dari tempat duduknya, keluar ruangan, dan kembali dengan membawa boneka kuning dengan tulisan hitam “Mr. Zero” dan angka “0” di perutnya. Kalau tidak salah, dari ESQ-nya Ary Ginanjar.

Saya tersenyum. Saya mengerti pesannya. Mirip pesan yang disampaikan oleh seorang teman lain beberapa bulan silam.

Sebuah proses berpikir lateral. Untuk kembali ke titik nol. Untuk hidup tanpa terlalu berpegang erat pada ide yang telah lebih dulu tertanam dalam diri. Untuk (benar-benar) berpikiran terbuka. Sebuah tantangan luar biasa bagi orang-orang idealis seperti saya.

Saya rasa sikap seperti ini didiskusikan secara lebih eksplisit dalam Budha ketimbang tradisi lain. Sikap "ke titik nol" ini merupakan dasar dari kesadaran (mindfulness), sebuah konsep yang didiskusikan panjang lebar oleh seorang Bhante Gunaratana.

Mindfulness merupakan observasi tanpa prasangka/penilaian. Kemampuan pikiran untuk mengamati tanpa ada preferensi, kritik atau penilaian tertentu. Tidak ada yang mengejutkan ketika seseorang bersikap mindful. Orang itu memiliki minat seimbang terhadap objek yang diamati, apa adanya. Tidak ada keputusan, tidak ada penilaian. Hanya pengamatan.

Mindfulness adalah pikiran yang bertindak sebagai cermin jernih. Kemawasan total. Kesadaran tanpa konsep. Kesadaran akan sini kini. Kewaspadaan yang tidak egois. Kesadaran akan perubahan. Observasi.

Mindfulness benar-benar melihat objek yang disadari. Tidak dipikirkan. Objek disimpan sebagai pengalaman, tetapi tidak untuk dibandingkan, diberikan label, atau dikategorikan. Mindfulness mengamati semuanya layak hal itu terjadi untuk pertama kali. Tidak ada analisis berdasarkan refleksi atau memori.

Mindfulness melihat objek secara langsung, apa adanya, esensi sesungguhnya dari semua fenomena. Mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan.

Mengingatkan saya tentang apa yang seharusnya saya lakukan. Apa yang selayaknya saya pelajari. Apa yang selayaknya saya ingat.

“Kalau kamu menghadapi situasi yang sulit--atau sebenarnya situasi apa pun--kembalilah ke titik nol itu. Kembali ke Mr. Zero. Dia akan menjadi sahabat terbaikmu,” kata teman saya. Saya tahu dia benar.

Saya tersenyum. Saya mengerti pesannya. Terima kasih.