Sunday, July 06, 2008

Pohon dan kerendahhatian

[English]
Rendah hati--sebuah istilah yang jarang muncul dalam kamus saya, sayangnya. Bekerja dan hidup dalam dunia modern yang demikian penuh persaingan dan gerak cepat, harga diri dan bahkan kesombongan kerap dinilai sebagai pendorong yang berhasil membawa saya berjalan sejauh ini. Kesederhanaan dan kerendahhatian jarang mendapat tempat dalam permainan.

Namun, tampaknya kerendahhatian merupakan pelajaran saya bulan ini. Setidaknya, empat kali kata 'rendah hati' telah dijejalkan ke dalam kepala saya. Dua diantaranya menggunakan pohon sebagai metafora.

SATU
Cerita dari Pak Merta Ade, Bali Usada. Seorang raja dan rombongannya berjalan mengelilingi taman. Sang raja melihat pohon yang demikian kokoh,dengan buah yang lebih ranum dan daun lebih rindang ketimbang pohon lain. Raja memetik beberapa buah dari pohon itu. Rombongan pun mulai melakukan hal yang sama. Memetik beberapa buah dari pohon yang sama. Buah habis, daun dipetik. Daun habis, ranting diambil. Pohon dibiarkan tak bersisa.

Sang raja kemudian selesai memutari taman dan melihat apa yang terjadi pada pohon itu. Dia merenung, "Semakin besar kita (dibanding yang lain), semakin menjadi pusat perhatian, semakin besar kecenderungan orang lain memanfaatkan kita. Lebih baik menjadi diri yang lebih sederhana dan seperti kebanyakan yang lain."

DUA
Seorang teman terkasih menceritakan perbincangannya dengan teman lain. Teman lain itu menunjuk ke sebuah pohon, kurus, tidak terlalu banyak daun, dsb. Namun, ketahui bahwa pohon itu tetap memberikan manfaat bagi sekitarnya, sebaik yang ia biasa, sesuai dengan perannya. "Pohon kecil yang tidak diacuhkan siapa pun itu," ujarnya, "Jadilah pohon itu. Jadilah pohon itu." (Saya senang sekali dengan cerita ini).

TIGA
Teman terkasih saya itu sendiri. Di mata saya, dia bagai ensiklopedia berjalan, terutama tentang isu spiritualisme. Namun kalau Anda tak sengaja berpapasan dengannya di jalan, kemungkinan Anda hanya akan melewatinya. Dia demikian .. biasa. Dia telah menjadi pohon itu. Saya sudah lama berusaha bertemu dengan dia lagi. Tapi jadwal kami tidak pernah bertemu. Jadi ketika saya bertemu dengannya beberapa hari lalu, saya katakan padanya saya merasa mendapat hadiah. Saya merasa demikian terberkati untuk mendapat kesempatan bertemu dengannya lagi.

EMPAT
Dari sebuah sesi akhir pekan Beshara. Seluruh sesi membicarakan kerendah-hatian. Kerendahhatian sebagai prasyarat untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Teks yang dibahas ketika itu mengatakan [catatan: terjemahan bebas] "Kerendahhatian dalam pengertian seluas-luasnya merupakan kemiskinan jiwa, bukan kemiskinan karena kekurangan, namun karena kaidah individualisme, ia adalah sikap menerima keterbatasan kita; dengan pernyataan lain sebuah perkiraan realistis dari diri tanpa adanya ilusi diri hasil rekayasa diri itu sendiri secara berlebihan.

Singkat kata, kerendahhatian adalah penilaian jujur tentang keberadaan diri, yang merupakan hal penting dalam memahami diri secara dekat. Walau upaya untuk memahami diri ini memaktub realisasi potensi individu secara maksimal--yang pada akhirnya akan membantu proses penyempurnaan diri--, namun tetap ada sederet kekurangan dan kelemahan diri ini yang demikian buruk dan mengerikan."

Empat perulangan untuk sebuah pelajaran yang sama dalam kurun waktu satu bulan. Entah karena pelajaran ini demikian penting atau saya memang demikian sombong. Mungkin keduanya.

No comments: