Showing posts with label Kejadian. Show all posts
Showing posts with label Kejadian. Show all posts

Monday, September 15, 2008

Selamat Idul Fitri 1429H

[English]
Saya melihat sekitar dan bertanya-tanya
apakah saya telah memberikan yang terbaik bagi mereka.
Saya menilik ke dalam dan mereka-reka
apakah saya telah memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H
Semoga perjalanan pulang menuju diri sejati Anda
dipenuhi kesadaran akan cinta dan damai.

PS: Saya nyadar kok. Agak sedikit awal. Tapi saya akan pergi besok lusa (Rabu pagi) ke Britania Raya. Saya akan mengambil kursus enam bulan di Sekolah Beshara, Skotlandia. Selama itu, saya praktis tidak akan mengakses Internet dan teknologi bergerak.

Baek-baek, teman-teman.
Selamat bersenang-senang dalam kehidupan!

Monday, September 01, 2008

Dari satu rumah ke rumah lain

[English]
Sekarang sudah bulan September. Pada tanggal 17, saya akan ke Skotlandia untuk mengikuti program enam bulan di sebuah sekolah bernama Beshara.

Perjalanan di bulan-bulan mendatang kehidupan saya dimulai dengan salah satu kelokan tak terduga dalam hidup saya. Saya diperkenalkan ke kelompok Beshara di Jakarta tahun lalu.

Saya menghadiri program akhir pekannya dan saya akui bahwa saya tidak langsung nyambung dengan mereka. Namun ada sesuatu yang terus menerus menarik saya ke kelompok itu. Saya nurut saya, mungkin atas nama penasaran.

Awal tahun ini, saya kembali mengikuti program akhir pekan Beshara. Di penghujung acara, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah seorang fasilitatornya.

Saya bertanya apakah mungkin bagi saya untuk mendapatkan beasiswa guna mengikuti program di sana. Beliau menjawab, "Coba saja email direktur sekolahnya." Pernyataan yang demikian sederhana.

Hebatnya, proses selanjutnya pun sama sesederhananya. Saya tak 'mengacuhkan' jawaban beliau, hingga seminggu kemudian entah apa yang menggerakkan saya. Saya pikir, ya sud, kenapa tidak. Toh saya tidak akan rugi atau kehilangan apa-apa dengan mengemailnya.

Lantas, saya email sang direktur sekolah. Beliau pun menjawab. Ya. Ya??!?!? Saya SMS beberapa teman, mem-forward email itu, dan bertanya ke mereka apakah saya telah memahami email ini dengan benar. Iya, kata mereka. Wah.

Beberapa teman (berulang kali) bertanya bagaimana saya bisa dapat beasiswa itu, atas dasar apa. Satu-satunya jawaban yang dapat saya berikan adalah: “Mungkin, kita hanya perlu bertanya.” Jawaban pasrah karena saya tak tahu harus bernalar seperti apa lagi. Tak perlu.

Dan sisa cerita pun bergulir dengan sendirinya. Saya menerima email tersebut bulan Maret tahun ini. Hidup terus mengalir. Sekarang kita sudah di bulan September. Dua minggu dari sekarang, insya Allah saya akan berada di Skotlandia.

Skotlandia. Kawasan yang sangat dekat di hati saya. Para sahabat dan keluarga saya tahu betapa saya telah jatuh cinta pada tempat itu.

Jadi ketika mereka mendengar saya akan ke Skotlandia, mereka hanya memberikan dua komentar: “Memang sudah digariskan” dan “Oh, mau pulang kampung.”

Iya, saya pun merasa saya akan pulang kampung. Saya akan pulang, dari satu rumah ke rumah yang lain. Memang sudah digariskan. Saya sekedar menjalani.

Kalau kamu ke sana--dan kamu ke sana bersama saya, saya yakin kamu akan dapat melihat apa yang saya lihat, dan merasa apa yang saya rasa. Mungkin kemudian kamu akan mengerti kenapa.

---
Saya terjaga pagi ini dengan sebuah SMS dari seorang teman: “Mudah-mudahan semua upaya baik bisa membimbing jiwa kepada pencerahan sejati, sekalipun itu bukanlah jalan yang mudah.”

Saya tahu. Kamu tahu. Yang lain tidak. Tarik napas dalam.


Gambar diambil dari Beshara, Stirling Uni, and Gettyimages.

Tuesday, August 12, 2008

Singapura: Untuk sebuah urusan (tak biasa)

[English]
Entah kenapa, Singapura selalu terasa 'bisnis' di lidah saya. Rasanya saya tidak pernah menyambangi negara ini murni sebagai turis. Selalu saja ada tujuan spesifik: mengantar ibu saya ke rumah sakit, mengunjungi teman-teman, menghadiri konferensi, atau, seperti kali ini, mengikuti pelatihan.

Saya mengikuti pelatihan empat hari Craniosacral Therapy (CST). Cranio apa? Sebuah teknik penyembuhan melalui sentuhan ringan yang dikembangkan oleh John Upledger. Secara sederhana, sentuhan ringan ini akan merilekskan otot yang tegang dan, sebaliknya, mengaktifkan kembali otot tidur.

Saya menggandrungi CST karena beberapa alasan. CST dapat membantu orang. (Saya menjadi saksi. Saya pernah merasakannya.) Terapi ini menggunakan sentuhan ringan, yang tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali. (hanya sentuhan seberat lima gram.) CST memiliki penalaran medis ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung teknik ini (pas untuk otak kiri saya yang super kritis dan kerap logis berlebihan.)

Sentuhan ini adalah cara untuk terhubung dengan tubuh (dan pikiran) sang 'pasien'. Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menyembuhkan diri sendiri. Sentuhan sekedar mengatakan "kami mendengarkan" dan menunggu sang tubuh untuk membuka diri dan mulai bercerita.

[Ingatkan saya untuk menulis lebih banyak tentang CST. Sementara ini, silakan mengacu ke situs web resmi Upledger Institute untuk info lebih lanjut.]

Pelatihannya sendiri sangat amat menyenangkan. Bapak instruktur Michael, keempat asisten pengajar dan Greenpartners sebagai penyelenggara (hai Kheng!) benar-benar hebat.

Dua dari asisten tersebut adalah terapis saya—Martyn dan Heather. Saya sebelumnya tidak tahu bahwa mereka akan ada di sana. Jadi Heather menyelinap dari belakang, menutup mata saya dengan tangannya dan berkata, “Tebak siapa saya. Kamu harusnya bisa menebak dari sentuhan tangan saya .” ☺ Wah, lelucon khas CST!

Saya benar-benar menikmati pelatihan ini. Serius. Pada hari pertama, saya meng-sms teman saya sekedar untuk mengatakan “Aku suka hidupku.” Dari dasar hati terdalam. Saya rasa kata-kata itu tidak pernah tercetus di pikiran saya, minimal sudah lama tidak. Hidup saya murni suatu berkah, namun hari itu saya benar-benar merasa terberkati.

Ketika saya menceritakan ke beberapa teman bahwa saya mengambil pelatihan ini, mereka bertanya, “Mau ngapain setelah loe ngambil kursus itu?” Pertanyaan menarik.

Sebuah pertanyaan yang mengingatkan saya pada tulisan Paulo Coelho di Pilgrimage. Karakter utamanya begitu bersemangat untuk menemukan pedang sakti itu. Sedemikian semangat sehingga dia tidak menyadari bahwa sebelum dia menemukan pedang tersebut, terlebih dahulu dia harus menjawab satu pertanyaan terpenting: “Apa yang akan kaulakukan setelah menemukan pedang tersebut?”

Saya sendiri belum yakin apa jawaban saya. Mungkin ini merupakan suatu langkah mewujudkan mimpi masa kecil untuk menjadi dokter. Dulu saya memang ingin menjadi dokter, sehingga saya bisa menggunakan setengah waktu saya untuk mencari uang dan setengah sisanya untuk membantu orang.

Atau mungkin ini masa melunasi hutang. Saya ingat perasaan tak berdaya saya ketika saya menjadi relawan untuk membantu korban banjir besar Jakarta. Demikian banyak yang menderita, sedikit sekali yang bisa saya lakukan.

Tak tahu lah. Tapi saya yakin pada saatnya saya akan tahu harus saya apakan kemampuan saya itu.

Sementara, saya ingin berterima kasih kepada tim CST (dan teman-teman baru saya) untuk pengalaman yang demikian berharga dan menyenangkan. Terima kasih kepada Kota Singapura yang selalu berbaik hati pada saya (dan profesional plus efisien!).

Terima kasih ekstra spesial pada Yolli, Hany dan Andien yang telah mengizinkan saya menghamparkan diri di tempat mereka. Nila dan Mike untuk hidangan veggie-nya. Peluk hangat untuk teman-teman yang saya temui selama di sana.

Terbang kembali

[English]
Saya tengah duduk di ruang makan ketika saya melihat ada burung terjatuh ke tanah. Jatuhnya cukup keras. Saya menjulurkan kepala, mencoba melihat kenapa burung itu bisa terjatuh. Ternyata ada anak-anak yang melempar burung tersebut dengan batu. *geram*

Kedua anak itu berlari-lari dengan semangatnya mendekati sang burung. Saya memandangi mereka, tak tahu mesti apa. Hanya terduduk dan menatap.

Jarak antara anak dan burung tinggal dua meter ketika tiba-tiba wooshhh sang burung mengangkasa kembali. Terbang gagah meninggalkan kedua anak dengan tangan hampa.

Sayang saya sedang dalam keadaan hening. Kalau tidak, saya akan bertepuk tangan dan bersorak untuk sang burung. Nilai sementara: Burung 1, Manusia 0.

Dalam komedi, waktu memang krusial, teman. Waktu memang krusial.

Monday, August 11, 2008

10 hari berdiam diri

[English]
Tahap kedua dari perjalanan: 11 hari meditasi Tapa Brata II (TB2), dikelola oleh Bali Usada, di Pacung (dimana pun itu di Bali. Geografi memang tidak pernah menjadi salah satu kekuatan saya).

Dari 11 hari tersebut, 10 hari di antaranya saya jalani dalam keadaan hening (noble silence).

Saya belum pernah melakukan meditasi selama sebelas hari sebelumnya. Klise memang, selalu ada saat pertama bagi segala yang terjadi. Saya pernah mengikuti meditasi tujuh hari, tapi belum pernah sebelas.

Suatu pengalaman yang berbeda. Suatu pengalaman berharga.

Seperti biasa, orang-orang di sekitar selalu menarik perhatian saya. Apalagi yang ini. Sekumpulan orang yang tidak sekedar ingin iseng mencoba-coba bermeditasi untuk pertama kalinya.

Mereka sudah menjalani beberapa tradisi meditasi. Mereka telah mengikuti Tapa Brata 1. Entah bagaimana, mereka tentu berpikir ada manfaatnya dan memutuskan untuk melanjutkan ke TB2.

Saya disapa oleh alam yang demikian indah dan hidup yang begitu sederhana, berbincang dengan teman-teman (pada saat hening belum dimulai atau telah lewat) dan Pak Merta Ade, membuat suatu kesepakatan dengan Tuhan sekedar untuk mampu menjalani ini semua, dan melakukan berbagai rendez-vous dengan pekatnya malam di Pacung.

Begitu banyak yang ingin saya ceritakan sehingga saya memutuskan—seperti halnya pengalaman saya beryoga—untuk membaginya dalam beberapa entri. Saya kangen berbagi ini semua dengan teman-teman—dengan kamu.

Selamat menikmati. Pelan-pelan.

Sunday, August 10, 2008

Ruang yang terbuka bagi semua

[English]
Saya suka sekali kamar ini.

Jujur saya tadinya berharap mendapatkan kamar lain, yang ada di bagian lebih belakang dari penginapan ini. Kamar-kamar di belakang memiliki tata ruang dan perabot yang lebih cantik dan tradisional, memiliki pemandangan yang lebih indah dan terletak lebih dekat dengan peserta yoga lain.

Rupanya saya terlalu cepat berbicara.

Kamar saya itu, kamar saya yang lebih sederhana dan terpencil itu, adalah sempurna. Pertama, kamar ini sebenarnya nyaman dan mencukupi. Semua berfungsi dengan baik.

Kedua, saya punya tetangga yang pas. Sesama peserta yoga yang entah bagaimana memiliki latar belakang profesional (dan personal) yang mirip dengan saya. Jadi kami langsung nyambung.

Ketiga, kamar ini merupakan kamar terdekat ke ruang yoga kami. Lima menit ekstra yang demikian berharga. Orang lain harus sudah mulai berjalan ke kelas, saya masih bisa leyeh-leyeh sebentar.

Selain itu, dan ini yang paling ok, kamar ini menghadap jalan kecil yang harus dilalui oleh semua orang ke kelas yoga atau kemana pun. Dilengkapi dengan teras depan cantik, saya merasa memiliki rumah mungil menyenangkan yang menyambut setiap teman atau tamu yang kebetulan lewat.

Mencukupi, nyaman, terbuka dan hangat. Sebuah rumah impian.

Bekerja @ Ubud

[English]
Email ke seorang klien seminggu sebelum saya berangkat ke Bali: "Hai. Sekedar mengingatkan. Saya akan pergi ke Bali dalam waktu seminggu. Apakah Mbak masih membutuhkan bantuan saya? Kalau ya, bolehkah kita selesaikan semua sebelum saya pergi?”

Email ke klien yang sama dua hari sebelum saya pergi: ”Hai. Bolehkah saya mendapat kepastian bahwa kita sudah bisa bergerak ke tahap selanjutnya? Saya akan pergi dua hari lagi. Tapi kalau dibutuhkan, saya masih bisa bekerja hingga tanggal 22 pagi. Tanggal 22 siang, saya akan memulai meditasi saya dan akan mematikan hp serta koneksi Internet saya.”

Saya menerima email dari klien saya tepat pada hari saya pergi ke Bali. Jadi pekerjaannya harus saya selesaikan selama saya di Bali. Saya mengakses Internet dan ngobrol dengan teman saya. Saya ceritakan padanya bahwa saya sedang di Bali dan sedang bekerja.

Teman saya hanya bertanya satu hal, “Bagaimana perasaanmu?” Pertanyaan yang bagus. “Baik-baik saja” jawab saya, "Saya sama sekali tidak keberatan melakukan pekerjaan ini sekarang.”

“Bagus. Hanya itu yang penting." adalah tanggapan yang saya dapatkan darinya.

Teman saya benar. Perasaan baik-baik saja, tidak keberatan, menganggap semua ringan atau bahkan dengan sejumput (atau lebih) suka cita adalah penting, apapun yang tengah kita hadapi.

Yoga di Bali

[English]
Juli lalu, saya mengikuti kursus lima hari Iyengar Yoga bersama Ann Barros. Ini kali ke-dua saya mengikuti kelasnya.

Tampaknya saya demikian menikmati kelasnya yang dulu sehingga saya dengan senang hati kembali ke Ubud untuk mengikutinya lagi.

Hm, sebenarnya sih, saya akan kembali ke Ubud untuk alasan apapun.

Saya sangat menyukai kelas-kelas Iyengar. Tradisi Iyengar memberikan perhatian khusus pada presisi (saya banget gak sih☺) dan keselarasan dalam setiap posturnya.

Tradisi ini menggunakan berbagai alat bantu khusus seperti tali-tali, bantal, selimut tebal, kursi dsb untuk membantu praktisi mengalami kesempurnaan dalam postur.

Karena itu, kelas ini terasa sebagai kursus penyegaran untuk mengingatkan saya bagaimana postur-postur yoga itu sebenarnya. Anda harus menyaksikan sendiri bagaimana Ann berkomentar dan membetulkan postur kami serinci mungkin--yang kadang terasa tidak nyaman pada saat kita berada dalam keadaan terbalik (kaki di atas, kepala di bawah). Dia juga senang menyelipkan satu dua catatan filosofis yoga. Senangnya!

Kami tinggal di penginapan Kebun Indah. Saya menempati sebuah kamar yang sangat menyenangkan dan bertemu beberapa teman yang sama menyenangkannya.

Sarapan adalah salah satu momen favorit buat saya. Kami berkumpul di kamar terbesar dan bersama-sama menyantap sarapan. Nyam nyam.

Saat-saat itulah kami bisa saling bercerita. Waktu sarapan adalah saat saya bisa mendengarkan cerita luar biasa dari teman-teman baru saya. Orang lain memang benar-benar cermin dari kita semua. Cermin-cermin tercinta.

Pada waktu luang, saya menjelajahi Ubud, kadang sendiri (dengan buku!), namun kadangkala dengan teman untuk ngopi, makan siang, makan malam, atau pun menonton pagelaran tari Kecak. Sekali dua kali meng-sms teman-teman. Dan terkadang, bekerja ;)

Saya menapaki jalan-jalan alternatif di Ubud dan tetap bisa merasakan betapa mengagumkannya mereka.

Beberapa bahkan lebih menarik ketimbang jalan-jalan utama sesak dengan toko turis.

Saya menyadari bahwa telah lama saya tidak berjalan-jalan sendiri. Kangen pengalaman itu.

Namun kini saya telah menemukan sensasi berada bersama diri lagi. Menyenangkan mengalami rasa itu kembali. Lebih senang lagi karena rasa itu datang dibarengi oleh teman-teman baru, Ubud dan Iyengar Yoga yang demikian indah.

Terima kasih, Ann. Terima kasih, teman-teman. Terima kasih, Ubud. Seperti yang dikatakan oleh Arnold the Governator, “Saya akan kembali!” Saya janji.

Catatan untuk diri: harus mendapatkan foto teman-teman dan taruh di sini.

Saturday, August 02, 2008

Di hari pernikahanmu

[English]
Maafkan bila aku tak dapat hadir pada salah satu hari terpenting dalam hidupmu.

Aku tak akan banyak memberi alasan, karena rentetan kata apa pun yang akan kumuntahkan dari mulutku akan terasa hambar di telinga maupun hatimu.


Namun hati dan doaku akan tetap hadir bersamamu, terutama di hari istimewamu ini. Aku berdoa agar dirimu dan pasangan dianugerahi hidup yang bersimbah kebahagiaan sederhana dan cinta sejati.

Semoga kalian berdua dapat membentuk suatu kemitraan spiritual seumur hidup yang patut menimbulkan iri di hati semua makhluk.

Sebuah kemitraan yang mengizinkan masing-masing kalian untuk saling mendukung dalam bertumbuh dan mewujudkan potensi diri seutuhnya--dengan ikhlas dan penuh kebahagiaan.

Saat tidak ada lagi yang disebut dengan "pengorbanan", karena memang tak ada yang merasa menjadi korban ataupun mengorbankan sesuatu. Ketika setiap hari dipandang sebagai satu lagi keajaiban dan hadiah istimewa dari Tuhan.

Semoga kalian berdua dapat menyambut pagi, menapaki hari, dan beranjak tidur dengan pemahaman dan rasa syukur akan ternikmatinya hidup dan cinta terindah yang pernah ada.

Tuesday, June 24, 2008

Mengenang Miko Protonema

Copy and paste dari email seorang teman. Beberapa hal memang patut didukung.

Konser amal “dari teman untuk teman”
untuk mengenang Miko Protonema
Jam 12.00, 30 Jun 2008 - jam 03.00, 1 Jul 2008
Fame Station Bandung

Konser amal “dari teman untuk teman”untuk mengenang Miko Protonema adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh dana guna memberikan sedikit bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan berupa asuransi pendidikan untuk Fiko, anak yang ditinggalkan Miko.

Miko memang bukan siapa-siapa. Namun kepergiannya memberikan inspirasi kepada kami teman-temannya, mungkin inilah moment yang dapat mempersatukan dan mendorong kami (segelintir orang Bandung dari berbagai komunitas yang bersentuhan dengan dunia kreatif, pertunjukkan, dan pehobi motor) untuk bergerak, berbuat sesuatu, menggali potensi lebih optimal, lebih produktif, menuju masa depan Bandung yang lebih baik, dan berbagi untuk sesama. Bandung Bergerak! Jadi selain untuk charity, event ini juga diharapkan menjadi tonggak kebangkitan dan perekat kebersamaan berbagai komunitas Bandung.

Event yang akan diselenggarakan dari pukul 12.00 tanggal 30 Juni 2008 hingga 03.00 tanggal 1 Juli 2008 di Fame Station Bandung ini, insya Allah dapat terselenggara karena dukungan dari berbagai pihak. Diantaranya: IKA Unpad yang menyediakan asuransi pendidikan untuk Fiko, Harian Umum Pikiran Rakyat sebagai media partner, serta banyak media lainnya.

Para musisi yang telah menyatakan kesediaannya untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan ini antara lain: PAS Band, Syaharani, Java Jive, Baron cs, Yuke-Dewa & Friend, Jodi Bedjo, Gugum Project Pop, Rocket Rockers, Speaker First, The Panas Dalam, Alone At Last, 4 Peniti, Boy Are Toys, Dirty Doll, 70 Orgasm, Cuts, Nudist Island, Time Bomb Blues, Bubble, Blue Fairy, Good Boy Badminton, Fresh Milk, Experience, Glory Of Love, The Patrol, Bad Boy Blues, The Ababiels Attack, Roullette, Red Arses, Hopelane, D’Army, Cronik, M.a.l.i, Freaky Famous dan lain-lain.

Kegiatan charity ini diprakarsai oleh Joe P Project yang dibantu oleh PASS17, 86 Community, Naracipta Production, Independent Network Indonesia dan Forum Event Bandung, serta banyak pihak lain yang tidak tersebutkan satu per satu.


NARACIPTA
P R O D U C T I O N

Rumah Musik Harry Roesli
Jl. Supratman 57 Bandung 40115
phone | fax 022 720 5890
mobile 0811 222 5678

event | talent | music | training
m a n a g e m e n t

Wednesday, May 28, 2008

Walk the World

[English]

Beberapa hal memang patut didukung.

Di tengah kelaparan dan malnutrisi yang melanda negeri ini.

Thursday, May 22, 2008

Hari Kebangkitan Nasional - 1

[English]
Dengar ini di acara klien kemarin. Setiap kali mendengar lagu tersebut, saya pasti tertegun atau, tepatnya, tercenung.

Indonesia Jaya
Dipopulerkan pertama kali oleh Harvey Malaiholo

Hari-hari terus berlalu
Tiada pernah berhenti
Seribu rintangan jalan berliku
Bukan suatu penghalang

Hadapilah segala tantangan
Mohon petunjuk yang kuasa
Ciptakanlah kerukunan bangsa
Kobarkanlah dalam dada
Semangat jiwa Pancasila

Hidup tiada mungkin
Tanpa perjuangan
Tanpa pengorbanan
Mulia adanya
Berpeganglah tangan
Satu dalam cinta
Demi masa depan
Indonesia jaya


Lagu yang pas untuk Hari Kebangkitan Nasional. Ayo, bangun.

Wednesday, April 23, 2008

Saya hanya meminta sebuah kapel kecil…

[English]
Entah kenapa, saya selalu diarahkan ke area ini. Mungkin ditarik merupakan kata yang lebih tepat. Kamu terus memberikan ‘alasan’ bagi saya untuk pergi ke sana.

Pertama, ada godaan untuk mengunjungi toko barang-barang kemah/trekking favorit saya. Saya menahan diri.

Kemudian seorang teman meminta saya membelikan sebuah produk yang katanya dijual di daerah sana. Saya masih menahan diri dan membeli produk tersebut di daerah lain.

Akhirnya, Kamu berhasil menarik saya ke sana karena ada teman lain yang mengajak bertemu di daerah itu. Baiklah, saya pergi.

Jadilah saya melangkah ke daerah itu. Setelah makan siang dengan teman tersebut, saya berputar-putar di daerah sekitar. Sedikit mengomel. Kamu sudah menarik saya hingga sini, dan sekarang saya apa yang mesti saya lakukan? Tidak adil. Kasih saya suatu tanda.

Saya pergi ke toko kemah itu dan tidak melihat sesuatu yang menarik. Ok, saya masih belum tahu kenapa saya mesti ke daerah ini.

Tiba-tiba, tepat di depan saya: Katedral Saint Andrew Singapura. Waah. Kemarin saya minta Tuhan untuk dibolehkan mengunjungi gereja Khatolik, tempat menyendiri favorit saya. Kemarin saya tidak menemukannya. Lantas saya lupa atas permintaan saya itu.

Rupanya, ada yang tidak lupa.

Bahkan lebih dari itu.

Saya hanya meminta sebuah gereja—atau bahkan kapel—Khatolik kecil yang sederhana buat saya untuk duduk diam. Dan Dia memberikan saya katedral.

.gak tau mesti ngomong apa.

Refleksi yang sempurna

[English]
Ini kali kedua saya menggunakan kata “sempurna”. Hidup rupanya memang sedang baik-baik saja.

Kita duduk bareng untuk keribuan kali. Dan setiap kali, selalu merupakan saat yang amat menyenangkan.

Siang yang demikian cerah (matahari tersenyum lebar, langit biru terang), tempat ngopi yang pas (makanan enak, staf ramah, pengunjung menyenangkan), dan kita yang duduk di dekat jendela melongok ke lapangan hijau dan orang berlalu-lalang di sekeliling kita.

Kita berbincang sedikit tentang kerja. Kita berbincang lebih banyak tentang pribadi. Kita berbincang tentang keluarga, rasa dan perjalanan. Kita berbincang tentang bahagia dan resah.

Saya rasa sedikit sekali cerita yang tidak saya bagi dengan dirimu. Saya dengan senang hati menjawab semua hal yang kamu tanyakan. Saya pun dengan suka cita dan sukarela bercerita tentang hal yang tak kamu tanyakan.

Kita berbicara tentang kita yang senantiasa menjadi si kuat. Si penyelesai masalah dalam cinta dan hidup. Kita sebagai orang-orang dengan hidup sederhana tanpa ada yang disembunyikan.

Hidup kita demikian sederhana sehingga tak ada yang perlu kita bagi kepada orang lain. Tidak ada keluhan satu kata pun. Hidup yang sederhana. Hidup yang baik-baik saja. Kita yang kuat-kuat saja.

Sampai suatu saat dalam kurun bincang kita, kebenaran menyesakkan menguak. (Wah, saya baru saja melihatmu online! Di jam-jam aneh ini). Kita ini terlalu gengsi, harga diri begitu tinggi, terlalu tinggi untuk mengakui atau bahkan menyadari.

Menara ini sedemikian tinggi sehingga kita sendiri pun tak dapat melihat apa yang ada di dalam. Semua baik-baik saja. Semua terbuat dari bebatuan kokoh.

Biarkan diri menjadi lemah, menjadi rentan, kata saya. Atau itu kata-katamu? Tak penting. Tak masalah. Sama saja. Pernyataan berlaku dua arah. Seperti biasa.

Karena kamu adalah refleksi sempurna diri saya. Apa yang saya ucapkan pada kamu, saya ucapkan pada diri sendiri. Cerita kamu adalah cerita saya juga.

Ketika saya mendengarkanmu, saya mendengarkan diri sendiri, dengan rasa bahagia dan kesedihan mendalam. Apa yang kamu rasakan (atau kamu pikir kamu rasakan) selalu terasa familiar di saya. Mengerikan.

Pantaslah saya tidak pernah ragu untuk bercerita padamu. Sejak pertama kita berbincang. Karena saya hanya berbincang dengan diri sendiri. Tidak perlu merasa malu. Karena kamu sudah tahu. Karena entah bagaimana itu pun kamu.

Saya menyayangimu sebagai seorang sahabat tercinta. Sejak awal. Hingga kapan pun. Terima kasih sudah menjadi cermin yang bening, refleksi sempurna dari diri ini. Walau kerap kita enggan mengakuinya.

Saat yang menyenangkan. Pas untuk melepas penat. Terima kasih.

PS: Ingat foto kita yang kita ambil di akhir kopi kita, yang ternyata buram? Mungkin ada hal-hal yang harus kita simpan sendiri. Atau tepatnya, di antara kita saja. Tempat sampah bagi satu sama lain.

Wednesday, April 02, 2008

Lihat sekitar, lihat ke bawah

[English]
Kejadian pertama
“Nih dia nih, banyak ilmu tapi pelit.” Komentar selewatan dari seorang teman. Dia memiliki sebuah yayasan pendidikan anak. Komentar itu ditujukan pada saya ketika kami berada di kantor yayasannya.

Apa saya memang sepelit itu? Apa memang saya demikian kaya ilmu untuk dibagi?

Kejadian kedua
Sebuah formulir yang harus saya isi. Salah satu pertanyaannya berujar: "tanya pada sahabat Anda apa kelemahan utama Anda." Kata tiga teman saya: kebanyakan mikir, terlalu santai, dan kurang percaya diri. Wah, apa benar?

.Hm.

Kejadian ketiga

Spanduk besar di Toko Djoger Bali.

Mau sejelas apa lagi pesannya?

Kita (terlalu) sering berpikir bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita selalu melihat ke atas, tidak pernah ke bawah. Saya hanya pemula. Saya masih harus belajar banyak. Masih beribu hal yang perlu saya kejar.

Kita menyepelekan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang telah kita teguk selama hidup kita, selama masa pendidikan kita, selama masa kerja kita. Kita terus haus akan lebih banyak ilmu, pengalaman, dan kekayaan.

Jarang kita sadari bahwa kebanyakan orang di berbagai daerah tidak pernah mengenyam pendidikan dasar sekalipun, tidak punya cukup pangan untuk sekedar hidup, tidak pernah berkelana di luar desa/kotanya. Betapa tidak pedulinya kita. Betapa tidak pedulinya saya.

Pandangan seperti ini memberikan rasa palsu dalam diri bahwa kita memiliki hak untuk terus menerima. Kita lupa untuk memberi, untuk berbagi. Kita lupa bahwa bahkan hal sepele bagi kita merupakan hal besar bagi orang lain.

Jadi mungkin saya memang pelit. Saya terlalu banyak mikir. Saya tidak melakukan cukup banyak hal, terlalu santai. Saya tidak menyadari kemampuan saya. Saya kerap melihat ke atas, dan jarang ke bawah.

Bagaimana pun, telah tiba saat untuk memberi, untuk berbagi.

.Mulailah melakukan sesuatu. Apa pun itu.

Friday, February 22, 2008

Jalan-jalan ke Bromo

[English]
Sudah lama saya tidak bepergian untuk sekedar berjalan-jalan. Biasanya kalau saya bepergian itu untuk pekerjaan, belajar atau keluarga. Jadi saya tidak tahu apa yang membuat saya mengiyakan ajakan untuk pergi ke Bromo minggu lalu.

Kami berempat. Mantan teman sekerja. Hm, kurang tepat sebenarnya. Saya hanya bekerja dengan salah satu dari mereka. Dua yang lain masuk ke kantor itu ketika saya sudah keluar. Namun saya entah kenapa sama sekali tidak ragu untuk menyambut undangan gabung jalan-jalan. Dan untung saya mengiyakannya.

Jalan-jalannya sangat menyenangkan. Walau cuaca kurang mendukung tetapi kami tetap senang. Kami menyambangi beberapa tempat di sekitar Jawa Timur, makan berbagai hidangan dan kudapan dalam jumlah yang, um, lebih dari cukup, dan praktis ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan. Ngobrol ngalur ngidul. Menyenangkan sekali.

Saya ingat guru saya pernah berkata bahwa kita hendaknya tidak bepergian untuk melarikan diri dari masalah dan mencari kedamaian. Karena kedamaian itu berada di dalam.

Hadirkan damai dalam diri. Sehingga pada saat kita bepertigan, kita tidak lagi melarikan diri. Kita berjalan-jalan untuk mengapresiasi keindahan alam dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang kita temui selama perjalanan. Kita mengagungkan Tuhan.

Terima kasih, padamu. Dan pada-Mu. Untuk pemandangan yang menakjubkan, persahabatan yang begitu indah.

Thursday, February 21, 2008

Menyegarkan

[English]
Saya sedang menunggu teman saya di sebuah rumah makan. Gelas pertama minuman saya sudah habis dan saya dengan halus menolak tawaran mas-mas pelayan untuk memesan gelas kedua.

Tiba-tiba si Mas datang dengan membawa sebuah gelas air putih dingin. Gratis untuk menemani saya menunggu.

Menyegarkan sekali. Airnya.
Dan inisiatifnya.

Saturday, January 26, 2008

Meditasi Mengenal Diri

[English]
Tanggal 24 Desember 2007 sampai tanggal 1 Januari 2008 lalu saya mengikuti Meditasi Mengenal Diri arahan Pak Hudoyo Hupudio untuk pertama kalinya di Vihara Mendut, Jawa Tengah.

Meditasi mengenal diri bertujuan untuk melepaskan diri dari kemelekatan. Bukannya mendambakan sensasi atau perasaan yang damai atau menyenangkan. ‘Aturan permainan’ retret adalah sebagai berikut:
− Satu-satunya ‘tugas’ kita adalah sadar. Sadari dan amati setiap tindakan dan pikiran kita. Bedakan sadar dengan konsentrasi.
− Satu-satunya yang diminta dari kita adalah tidak mengganggu orang lain.

Sederhana, tapi tentu tidak mudah bagi saya yang pemula ini.

Hari-hari saya pun penuh naik turun. Mulai dari pikiran hingga sensasi fisik, pegal dsb. Namun saya memutuskan untuk mendisiplinkan diri saya dan agar tidak menyerah pada kepegalan dan kebosanan ini.

Waktu berjalan relatif cepat. Saya menikmatinya. Nah, ini pun jebakan emas (atau jebakan batman). Pak Hudoyo mengingatkan, “Hati-hati. Sadari kalau kamu menikmati. Sampai suatu saat kamu merasa biasa saja.” Ck, licik ya pikiran kita itu.

Menjelang penutupan, kepala Vihara Mendut hadir bersama kami. Kembali beliau mengajak kita untuk senantiasa mengamati, menyadari, termasuk saat-saat kita bosan dan frustasi kok gak bisa meditasi.

Pikiran terbiasa mencari, meminta, dan mendapatkan. Sulit bagi pikiran untuk memberi dan melepaskan. Bahkan ketika kita beramal pun, tetap ada pikiran “Apa yang saya dapat?” Mulai dari budi baik dari orang lain, karma, balasan perbuatan atau rezeki, hingga surga. Masih dengan pamrih sebenarnya.

Lebih halus lagi, ada pikiran-pikiran “saya memberi agar saya mendapat kepuasan hati”. Tetap ada harapan. Pikiran sulit melepaskan.

Pada saat kita bermeditasi pun, kerap menyelinap pikiran, moga-moga aku mendapatkan kemajuan. Jadi ketika kita merasa tenang, kita pun merasa senang, merasa ada kemajuan. Tetap mendapatkan sesuatu.

Kebiasaan kita untuk terus mencari, meminta, dan berharap ini muncul dari keakuan. Pikiran yang senantiasa menagih. Hal inilah yang membuat sengsara, menciptakan keresahan hati, ketidakpuasan.

Untuk mengatasinya, cukup diamati saja. ‘Metode’ meditasi ini sangat sederhana. Kita semua memiliki kemampuan untuk mengamati pikiran dan jasmani.

Pikiran (keinginan, rencana) dalam keseharian kita hendaknya disaring terlebih dulu. Baikkah pikiran itu? Apakah merugikan diri kita, orang lain atau makhluk lain? Apa aku mampu atau terlalu ambisius, memaksakan dan serakah? Semua sesuai takaran.

Apabila baik, maka kita harus konsisten, setia dalam melakukan rencana ini.

Keseharian kita adalah meditasi kita sepanjang masa. Maka hadirkanlah pengamatan ini. Amati gerak fisik dan pikiran kita yang senantiasa menagih kepada siapa saja, termasuk kepada Tuhan, diri dan orang lain.

Catatan lengkap saya taruh di sini. Bisa juga baca pengalaman teman saya dalam bermeditasi mengenal diri di sini.

Monday, December 03, 2007

Anahata Villa & Spa Resort

[English]
Saya pergi ke Ubud akhir pekan lalu untuk mengikuti program Healing power of ikhlas yang diselenggarakan bersama oleh True Nature Healing dan Kata Hati Institute.

Saya ingin bercerita banyak tentang program ini tapi saya sedang menunggu handout yang mau dikirim oleh si penyelenggara lewat e-mail. Biar ceritanya tepat dan lengkap. Jadi sementara, saya akan bercerita tentang tempat kami menginap yang begitu indah: Anahata Villa & Spa Resort.

Di paragraf pertama dalam brosurnya, tertulis:

“Nestled in the lush landscape of the Petanu River bank, Anahata is a world class Bali hotel villa. Surrounded by verdant tropical forest and restful waters, visitors to these Bali vacation villas experience the tranquility of a pristine environment with all the amenities of luxurious living.” (Sori Bahasa Inggris, abis susah nerjemahinnya).


Anda bisa membaca lebih lanjut tentang tempat ini di situs webnya. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak tertulis dalam brosur maupun situsnya.

Tentang nama. Menurut Wikipedia yang handal selalu itu, chakra Anahata secara fisik terletak di daerah jantung. Anahata dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan di luar realita karma.

Dalam Anahata, seseorang mengambil berbagai keputusan, mengikuti kata hatinya, berdasarkan diri yang lebih ‘agung’, dan bukan berdasarkan emosi yang belum terpuaskan maupun nafsu dari diri yang lebih rendah.

Pohon pengabul keinginan, kalpa taru, tumbuh di sini, menyimbolkan kemampuan untuk memanifestasi apa pun yang Anda inginkan terjadi di dunia.

Anahata juga diasosiasikan dengan cinta dan kasih, pemberian terhadap sesama, dan bentuk penyembuhan psikis.

Wah, indah betul namanya.

Tentang orang-orang yang ada di sana. Saya berkesempatan untuk bertemu Onie Djatmiko, pemilih Anahata resort. Dia—beserta seluruh stafnya, seluruhnya—benar-benar ingin melayani semua tamunya. Dan kalau Anda kenal saya secara personal, Anda pasti tahu ini merupakan pujian yang tinggi dari saya.

Saya bisa pinjem hair dryer? Tentu. Bagaimana cara membuat sup ini? Oh kita melakukan ini dan itu. Nanti saya berikan resepnya ya.

Saya meninggalkan botol air mineral saya di meja restoran karena saya mau ke toilet sebentar. Waktu saya kembali, botol itu sudah penuh terisi kembali.

“Bus Ibu ke airport baru akan pergi satu jam lagi. Masih ada waktu lho untuk menikmati satu cangkir the lagi. Complimentary.”

Tentang sungai. Sungai yang mengalir di tepi Anahata benar-benar luar biasa. Resort ini terletak di tepi pertemuan dua sungai. Orang Bali percaya bahwa lokasi pertemuan dua sungai merupakan tempat yang bertuah, suci, penuh luapan energi. Anda harus berada di sana, benar-benar berada di sana, untuk memahaminya.

Tempat favorit saya, tepi sungai. Pagi-pagi (atau jam berapa pun, tidak masalah). Sendiri (atau bersama orang lain, sama nikmatnya).

Onie, tempatmu indah sekali.
Terima kasih sudah berbagi.


Gambar: dari Anahata resort.

Sunday, November 18, 2007

Perubahan sudut pandang

[English]
Sudah agak larut dan saya masih ketak-ketuk di meja kantor saya. Ruangan sudah mulai menggelap. Mata ini terus menatap monitor komputer sampai waktu untuk pulang (akhirnya) tiba.

Saya memutar kursi saya untuk melihat ke jendela. Sekedar mengetahui seberapa macetnya kondisi jalan. Dan saya terkagum-kagum pada pemandangan yang terhampar di depan saya.

Langit jingga di atas bayangan gelap pencakar langit Jakarta.

Pemandangan ini sebenarnya sudah dari tadi stand-by di situ, siap untuk menghibur siapa pun yang dinaunginya tanpa pandang bulu, namun satu-satunya yang saya pandangi hingga detik itu adalah komputer saya.

Hal-hal yang bisa kita lihat, kalau saja kita mau mengubah sudut pandang kita.