Wednesday, May 23, 2007

Pendidikan dan UKM

[English]

Saya inget suatu hari pernah menyusuri bantaran kali yang ada di Jakarta, tempat rumah-rumah kumuh berdiri. Saya bertanya ke teman saya, gimana cara menghilangkan rumah-rumah itu. Dia cuma bilang, entaskan kemiskina. Bener banget. Bagaimana caranya?

Pendidikan dan pengembangan UKM. Saya benar benar benar percaya bahwa dua hal itu akan membantu membangkitkan kembali negara saya. Jangan minta saya untuk memberikan penjelasan panjang lebar alasan kuatnya. Karena saya tidak punya.

Pendidikan. Tidak perlu dijelaskan toh.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mayoritas perusahaan di Indonesia dikategorikan sebagai usaha kecil atau menengah. Mayoritas. Terbayang gak kalau kebanyakan dari mereka berkembang dan maju? Kebayang betapa kuatnya gak ekonomi kita?

Kembali, gimana caranya?

Pertanyaan bernilai sejuta dolar. Saya akan mengutip teman lain ketika saya bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” Dia bilang: lakukan apa yang kita bisa. Pas banget. Kita kebanyakan mikir. Berhenti berpikir, mulai bekerja.

Apa yang bisa kita lakukan? Banyak sekali. Lihat keluarga orang-orang yang kerja untuk kita. Office Boy. Supir. Pembantu. Pedagang kaki lima yang tiap hari keliling melewati rumah kita.

Punya waktu luang, ketrampilan tertentu? Jadi relawan. Ikutlah kegiatan sosial di sekitar kita, apa pun yang kita anggap paling sesuai buat kita, gak terlalu penting apa itu.

Suka nulis? Ya nulis donk. Dimana pun.

Punya uang? Sumbangin. Kurangi jumlah kopi starbucks yang dibeli tiap bulan, kurangi empat saja, dan berikan uangnya ke orang-orang yang membutuhkan.

Jadi orang yang benar-benar profesional dalam pekerjaan, apa pun pekerjaan kita. Gak ada tuh korupsi. Gak ada istilah mengeluh. Kalau kita konsultan, ya berikan konsultasi yang baik. Kalau kerjanya jadi perencana bisnis, ya rencanakan dengan benar. Kalau jadi kasir, hitung dengan benar. Punya kerja? Kalau gitu kita termasuk yang beruntung.

Senyum dan sapa orang yang membukakan pintu buat kita, orang yang mbersihin meja kita tiap hari, yang menyupiri kendaraan kita ke kantor, orang-orang yang tiap hari kita temui di lift kantor.

Kalau masih tetap ngerasa gak mampu membantu, minimal jangan perburuk situasi. Sudah terlalu banyak tanda-tanda yang diberikan. Apa lagi yang kita tunggu?

Mulailah melakukan sesuatu. Apapun itu.

Akhir pekan yang menyenangkan sekali..

[English]

Sebenarnya saya sudah berencana pergi dengan beberapa teman. Tapi mereka membatalkan di saat-saat terakhir. Saya cuma mengatakan “ya udah.” Dan langsung berpindah ke Plan B. Rencana B: pergi bareng para sahabat saya. ‘Kebetulan’ mereka memang berencana pergi ke tempat yang sama. Klop.

[Nanti ya saya upload fotonya]

“Gak marah loe?” beberapa orang bertanya.

Gimana saya mau marah, kalau Plan B saya adalah pergi bareng sahabat-sahabat saya? Bahkan mungkin saya harus berterima kasih sama teman-teman saya yang membatalkan rencana jalan-jalan kita itu.

Akhir pekan yang sangat menyenangkan. Terima kasih ya.

Tuesday, May 15, 2007

"Wah, saya tidak tau"

[English]

Saya membaca tulisan ini lebih dari sepuluh tahun lalu di Kolom zodiak Daily Mail Skotlandia. Sepuluh tahun silam, tapi saya masih mengingatnya. Kata-katanya begini:

"Buat kamu, kata-kata yang paling sulit terucap bukanlah "Maafkan saya", tetapi "Saya tidak tahu."

Saya tidak tahu apakah saya harus tertawa atau tersinggung membacanya. Kata-kata yang sering terucap dan terasa akrab di telinga seperti "Tau donk pasti", "Oh saya kenal tuh orang yang tahu hal itu", atau "Saya gak gitu yakin, tapi sebentar, saya cari tahu dulu."

Hal-hal yang saya lakukan untuk memperumit hidup.

Sunday, May 06, 2007

Catatan: Mi'raj--langit II dan III (oleh A. Chodjim)

[English]

Setelah sebelumnya membahas lapisan Adam, yang mencerminkan tingkat upaya kita untuk melepaskan diri dari kemelekatan pada dunia, kita memasuki lapisan ke-dua.

Saat mi’raj, pada lapisan langit ke-dua Muhammad bertemu dengan Isa dan Yahya. Yahya dalam bahasa Arab berarti hidup, sementara Isa diriwayatkan dapat menghidupkan orang mati.

Pada lapisan ke-dua kita mempelajari bagaimana—mencoba menjadi—manusia yang dapat memaknai hidup, dan bahkan memberikan ‘kehidupan’ kepada orang lain.
Beberapa hal yang dapat kita pelajari dalam lapisan Yahya dan Isa:
* Berserah diri.
* Tidak memihak kecuali kepada kebenaran.
* Sanggup menghadapi cobaan.
* Semua itu adalah milik-Nya.
* Bebas dari keterikatan materi.

Dari situ, kita memasuki lapisan ke-tiga – Yusuf: untuk melihat keindahan di balik keindahan.

Ada tujuh hal yang melatarbelakangi kecerdasan Yusuf (yang menunjukkan betapa tingginya kesadaran beliau):
* Melihat keindahan di balik keindahan.
* Lebih baik di penjara daripada mempermalukan orang.
* Menyelamatkan orang banyak daripada diri sendiri.
* Memaafkan dan tidak memiliki dendam.
* Hanya menerima tugas yang benar-benar dikuasai.
* Senantiasa menjaga tutur kata yang baik.
* Beragama yang bersih.

Semua ini proses. Pak Chodjim bilang, “Gak bisa sa’ det, sa’ nyet”. ☺ Tapi harus dimulai. Dan mulai dari diri sendiri, kalau bukan kita yang mau mulai, siapa lagi.

Hanya orang yang sudah dapat memaknai hidup dan memberikan kehidupan bagi yang lain (melewati lapisan Yahya dan Isa) yang bisa melihat keindahan di balik keindahan (lapisan Yusuf); dan hanya orang yang sudah bisa melebihi kehidupan material (lapisan Adam), yang bisa memberikan kehidupan bagi yang lain.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Saturday, May 05, 2007

27 tahun mengelola sekolah untuk anak tak mampu

[English]

Saya baru saya mengunjungi sekolah yang dikelola oleh teman ibu, Ibu Su’dan. Beliau bersama almarhum suaminya mendirikan sekolah ini tahun 1980 di bawah Yayasan Ittiqon untuk anak-anak kurang mampu di kawasan Jakarta Utara.

Mereka memulai dengan hanya kurang dari 10 tahun dengan bangunan gedek. Mereka mengunjungi rumah-rumah sekitar untuk meminta ijin pada para orangtua agar anaknya diperbolehkan sekolah. “Ah buat apa. Paling nanti anak saya juga jadi pemulung”.

Duapuluh tujuh tahun telah lewat. (Ampun, 27 tahun!). Kini sekolah menampung 800 murid SD dan SMP. Gratis. Beberapa kalau mau bayar, disilakan semampunya. Beberapa anak malah menabungkan uang jajannya untuk mencicil uang sekolah sebisa mereka.

Empatpuluh dua sosok luar biasa mengajar di sekolah ini, dengan ‘gaji’ jauh di bawah UMR. Mereka mengajar, membersihkan sekolah dan bahkan kalau dibutuhkan, memasak buat anak-anak muridnya.

Kadang-kadang, anak-anak mendapat sumbangan susu, nasi atau roti keju. Ibu Sudan bercerita kalau ada beberapa anak yang ketika itu belum pernah merasakan keju. Jadi begitu mereka diberi roti keju, mereka buang. “Asin, Bu,” ungkapnya jujur. Susu pun pada awalnya membuat para murid murus karena tidak terbiasa.

Saya begitu bangga ketika mendengar bahwa murid dari sekolah itu termasuk ranking lima besar murid dengan nilai UAS terbaik se-Jakarta Utara.

Murid-murid yang telah menyelesaikan tingkat SMA mendapat beasiswa untuk memasuki program D3 UIN Syarif Hidayatullah, untuk kemudian kembali ke sekolah sebagai pengajar. Satu siklus telah dilalui dengan mulia.

Kini sekolah Ittiqon baru selesai membangun dua buah kelas baru. Mereka telah dijanjikan oleh sebuah organisasi bantuan untuk membangun 15 kelas lagi .

Masih banyak yang harus dikerjakan. Ini wish list saya:
  • Pemberian susu atau nutrisi lain mingguan.
  • Pemeriksaan kesehatan anak didik.
  • Buku-buku atau alat pendidikan lain.
  • Gaji guru yang lebih baik.
  • Bonus untuk guru.
  • Gedung yang lebih memadai.
  • Dan harapan bahwa anak-anak ini bisa menjadi manusia yang lebih besar, ketimbang kita semua.

Berminat?


Mulailah melakukan sesuatu. Apapun itu.

Sunday, April 29, 2007

Catatan: Mi'raj--langit pertama (oleh A. Chodjim)

Mi’raj sudah sering dibahas sebagai perjalanan Muhammad dari Yerusalem melintasi tujuh langit. Di masing-masing langit, Muhammad bertemu dengan nabi berbeda.

Jarang sekali mi’raj dimaknai secara esoterik, sebagai implementasi kehidupan bagi umat. Padahal mi’raj merupakan perjalanan manusia untuk menemui Tuhannya. Tujuh lapisan langit adalah tahapan yang harus kita lalui.

Di lapisan pertama ada Adam. Dalam bahasa Arab, Adam berarti tanah, dan mencerminkan kemelekatan kita terhadap dunia lahiriyah.

Untuk melewati tahap ini, kita harus menyadari betapa kemelekatan ini telah menghambat perjalanan kita sebagai manusia. Kita hendaknya tahu bahwa dunia ini merupakan sarana semata buat kita. Bahwa kebahagiaan bukan berasal dari luar diri, melainkan tumbuh dari dalam.

Semoga kita menyadarinya, sebelum kita menemui sakaratul maut. Dan semoga kita bisa terus melanjutkan perjalanan ke tahap selanjutnya.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Saturday, April 28, 2007

Pertanda

[English]

Percaya gak dengan tanda-tanda dari alam? Saya percaya.

Ketika saya dalam perjalanan pulang semalam, saya mendengarkan bincang-bincang di radio. Topiknya "Waktunya untuk keluar dari pekerjaan sekarang." Topik yang sesuai dengan suasana hati saya sekarang. Jadi saya berpikir, hm.

Saya terus mendengarkan bincang-bincang itu. Di saat terakhir, pada sesi penutup, pembawa acara berkata, "tapi kalau kita setia sama perusahaan dalam kondisi (perusahaan) susah dan senang, kita akan mendapat nilai plus."

Hm. Hal-hal yang kita dapat kalau kita bertahan (untuk mendengarkan) hingga saat akhir.

Terima kasih ya teman-teman

[English]

Kemarin seorang teman (dan mentor) menanggapi tulisan saya sebelum ini. Dia bilang “Nikmati sebuah cangkir kopi yang hangat, pasang ipodmu sambil pandangi orang yang berlalu lalang di depanmu. Hidup ini begitu indah.” Terima kasih, Mbak.

Seorang teman lain yang sering menjadi ‘tong sampah’ saya bertanya, “Kapan terakhir kali loe duduk dan curhat ke teman loe?”. Pertanyaan yang bagus. Saya gak ingat tuh. Mungkin karena entah kenapa saya merasa bukan begitu (lagi) caranya buat saya.

Dia menyarankan, “kenapa gak ngopi bareng temen dan curhat?” Dia tampaknya tidak menyadari, di pikiran saya, itulah yang sedang saya lakukan dengannya.

Malam itu saya memutuskan untuk melakukan hal yang rasanya sudah lama sekali tidak saya lakukan. Janjian dengan-Mu jam 11 malam. Saya berdoa. Saya curhat. Sejenak saja. Ketika saya keluar ruangan, kucing saya menyelusup masuk dan tiduran di sajadah saya. Jadi saya duduk kembali. Dan saya bermeditasi. Kali ini, lebih dari sejenak.

Hari ini sudah masuk akhir pekan. Sekarang saya mau pergi lagi, untuk melakukan satu ritual lain yang juga sudah mulai terlupakan. Sarapan hari Sabtu di kedai kopi dekat rumah saya, bersama diri, buku-buku dan orang-orang tak dikenal yang berlalu lalang.

Terima kasih ya. Ke kalian semua.

Khusus buat Kamu: Saya tidak menyadari betapa kangennya saya dengan bincang-bincang kita. Harusnya saya datang ke diri-Mu lebih cepat ya. Jauh lebih cepat. Tiap detik dalam hidup ini. Maafkan. Tapi saya di sini sekarang. Moga-moga Kamu mengijinkan, membantu, saya untuk tetap ada di sini mulai sekarang.

Thursday, April 26, 2007

Lelah

Ingin rasanya aku berkata bijak. Ingin berucap kalimat kontemplatif. Ingin menceritakan suatu hal positif. Tapi ndak bisa. Lagi ndak bisa. Aku hanya merasa lelah.

Ada kala kita mulai berandai ada apa di depan nanti. Ada kala kita mencari pembelajaran di balik peristiwa. Ada kala kita menimbang, terus atau belok. Atau mulai bertanya kenapa, bagaimana. Kini adalah waktuku.

Aku tahu aku diberkati. Aku tahu aku beruntung. Aku tahu semua terjadi karena memang telah seharusnya, sesuai dengan kebutuhan. Hidup adalah perjalanan perbaikan diri. Namun apa yang kutahu kadang tak sama dengan yang kurasa.

Dan aku merasakannya hingga ke tulang sumsum. Aku benar-benar lelah. Tolong.

Saturday, April 21, 2007

Selamat Hari Kartini

[English]

Selamat Hari Kartini, semua. Kalau kita berada di Indonesia, gak mungkin hal ini terlewatkan. Nyalakan TV, lihat koran, tengok billboard, masuk sekolah, jalan ke mall, pasti kita lihat/dengar “untuk memperingati jasa-jasa Ibu Kartini..”.

Dengan segala rasa hormat kepada Anda dan Ibu Kartini sendiri, saya sering bertanya-tanya tentang dua hal: (1) Berapa banyak orang yang benar-benar tahu sejarah Ibu Kartini dan Hari Kartini, dan (2) Kenapa Ibu Kartini begitu istimewa. Kenapa ada Hari Kartini tetapi gak ada, misalnya, Hari Tjut Nyak Dien?

Mungkin seharunya saya gak terlalu memikirkan ini. Yang lebih penting adalah semangat untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan pengutamaan arus gender (istilah populer dalam pemberdayaan perempuan). Dan berikut impresi saya terhadap hari ini.

Tadi pagi saya ikut dalam seminar tentang waralaba untuk perempuan yang diselenggarakan oleh majalah Femina. Saya kagum dengan jumlah orang (atau perempuan) yang menghadiri acara ini. Banyak. Dan keliatannya pada semangat dan determinan semua.

Di sesi awal, ada dua orang pembicara (semua cowok btw): Amir Karamoy dan Rhenald Khasali. Pak Amir, menurutku, berbicara lebih lugas. Beliau konsisten dengan tema hari ini: waralaba, sementara Pak Rhenald, betapa pun menariknya beliau sebagai seorang pembicara, memaparkan hal yang lebih umum (dan lebih terkait dengan buku barunya).

Senang saya ketika pada saat sesi tanya jawab, kebanyakan pertanyaan diarahkan kepada Pak Amir. Peserta seminar benar-benar ingin tahu tentang waralaba. Tampak determinasi pada perempuan ini. Ada fokus dalam pikiran. Entah kenapa, timbul rasa bangga dalam hati saya.

Selain itu, hari ini Kompas juga mengangkat topik terkait dengan Hari Kartini. Koran ini menulis kisah seorang pengemudi becak perempuan, Ibu Aminah. Beliau sudah menggenjot becak selama lima tahun untuk menghidupi keluarga dan ke-10 anaknya. Sepuluh anak, hm. Ini topik tersendiri. Anyway, Ibu Aminah adalah sosok heroik nyata bagi saya.

Secara umum, kenyataan bahwa kita masih tetap merayakan Hari Kartini, secara tak langsung menyatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Seperti juga kenyataan bahwa ada kuota minimum buat perempuan di DPR. Atau ada Kementerian Negara untuk Pemberdayaan Perempuan. Atau poligami. Atau kekerasan rumah tangga. Atau suami yang tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga. Atau komentar orang "pasti karena ibunya" ketika ada anak yang bermasalah. Dst. Perjuangan masih jauh.

Selamat Hari Kartini, semua. Selamat Hari Kartika, han & fam ;)

Wednesday, April 18, 2007

Anand Krishna

Semalam saya bertemu dengan Anand Krishna.

Pernah gak berjabat tangan dengan seseorang dan rasanya langsung ingin menangis? Saya pernah. Atau paling sedikit, sekarang saya sudah pernah.

Sunday, April 15, 2007

Setahun bersama Rumi, untuk tanggal 15 April

Aku ingin tau, apa yang ditulis Rumi untuk tanggal 15 April di buku A Year with Rumi. Terjemahan bebas dari versi Bahasa Inggris-nya Coleman Bark. Halaman 127.

Tenggelam dalam kebingungan

Ada beragam wujud kepandaian
Sebagian dari dirimu tengah meniti angin kencang
Sementara bagian yang lebih sederhana
Mengambil langkah kecil dan mematuk-matuk lantai tempat berpijak.

Pengetahuan konvensional adalah kematian buat jiwa kita
Dan bahkan sebenarnya bukan milik kita. Pengetahuan ini sudah ditentukan, disiapkan.
Namun kita terus mengatakan kita menemukan ‘tempat berteduh’ dalam ‘keyakinan’ ini.

Kita hendaknya merasa haus, terus merasa kekurangan
terhadap apa yang telah diajarkan pada kita
Dan tenggelam dalam kebingungan

Jauhi apa-apa yang memberikan keuntungan maupun kenyamanan
Jangan percayai siapa pun yang memujimu
Berikan uang investasimu, serta bunga dari modalmu, kepada mereka yang kekurangan.

Lupakan rasa aman. Tinggallah di tempat yang menakutkanmu
Obrak-abrik reputasimu. Jadilah populer untuk hal-hal yang kurang mengenakkan.
Aku telah terlalu lama mencoba untuk berencana dengan penuh kehati-hatian.
Mulai sekarang. Aku akan menggila.

Weleh. Met ultah ye.

Friday, April 13, 2007

Mama Loren bilang..

"2012 Indonesia akan membaik, orang sudah mulai sadar dan memperbaiki diri."

...

"Tapi jumlah orang di Indonesia akan tinggal setengahnya. Ya sekitar 40% lah. 60% lainnya sudah hilang."

.nah lo.

Sunday, April 08, 2007

Nyangkut

[English]

"Hm, kayaknya ada yang salah. Cakarku kok gak bisa lepas ya. Ok, tenang, gak apa.."


"Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, umph, umph, rrrrrrrrrr"


"Arrrrghghghghtthhgghg, miauw, miauw. **&*^%^(!!"


"Hmph. capekdueh. Yasud. Stay di sini aja kali ya. Heh! Ikannya mana? Laper neh."



[Model: Miauw]

Buku: Syech Siti Jenar - Achmad Chodjim

[English]

Akhirnya saya selesai membaca buku Syech Siti Jenar karangan Achmad Chodjim. Terima kasih kepada libur Jumat Agung dan Paskah. Tulisan saya di sini kebanyakan saya kutip dari bab renungan buku tersebut.

Pandangan Syech Siti Jenar merupakan pandangan sufistik yang diramu dengan kehidupan mistis Jawa. Tekanan bukan pada materi, tapi pada Cinta dalam bentuk manunggaling kawula kawan Gusti, tauhid al wujud, menyatunya hamba dan Tuhan.

Beliau berpendapat bahwa agama akan indah bila sesuai dengan hukum Tuhan di alam. Yaitu eksistensi yang penuh ragam. Biarkan agama ini tumbuh sesaui dengan tempat tumbuhnya, sesuai dengan ekosistemnya. Dalam hal ini, tanah Jawa.

Alquran, menurutnya, harus dipahami betul-betul substansinya, bukan cuma dibaca dan dimengerti terjemahannya. Bukan hal yang mudah. Karena itu, pemilihan guru (kehidupan) sangat penting.

Guru harus merupakan wujud konkret Alquran, yang mampu memberikan petunjuk. Seseorang yang mengerti hukum, pandai dan bermutu ibadahnya.

Mengerti hukum berarti memahami aturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Paham tentang etika hidup. Budi pekerti luhur setempat.

Ibadat bermutu karena pengabdiannya dalam kehidupan yang tanpa pamrih. Ketulusan hidupnya terpancar dalam hidup kesehariannya. Seperti halnya ajaran Rasullullah, tujuannya adalah akhlak yang mulia, caranya dengan melatih kedisiplinan hidup yang disebut syariah.

Guru sebaiknya ahli tapa. Jangan dibayangkan orang yang mengasingkan diri di gunung-gunung. Ahli tapa di sini adalah orang yang mampu menahan diri dari berbagai godaan dunia, baik di tengah keramaian maupun di tempat yang sepi. Orang yang terasah pikirannya dan telah terbukti mampu menghadapi tantangan hidup.
.
Dalam wujud lahir, Siti Jenar menekankan pada bangkitnya kepribadian. Sehingga hidup tidak hanya tampak hidup. Tetapi betul-betul hidup yang memiliki hak, kemandirian dan kodrat. Hidup adalah sebuah eksistensi, yang tidak menguasai maupun dikuasai orang lain.

Dalam sekali menurut saya buku ini. Rasanya saya butuh lebih banyak waktu untuk merenungkan dan mengayak maknanya. Apalagi menerapkannya. Moga-moga bermanfaat.

April dan Spanyol

[English]

April selalu mengingatkan saya akan Spanyol. Bulan April merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Sevilla, dimana salah satu perayaan paskah paling agung dan paling tradisional digelar.

Di bulan April Sevilla juga mengadakan Feria de Abril, pesta rakyat tradisional seminggu penuh yang penuh keriaan, saat bisa dikatakan tidak ada orang yang tidur di Sevilla pada minggu itu. (Padahal hari libur juga gak lho. Jadi orang-orang itu ya pesta aja pada malam hari dan kerja seperti biasa di siang harinya, selama seminggu.)

April juga merupakan saat saya pindah ke Barcelona, untuk episode tersendiri dalam hidup. Di sana, saya dikaruniai kesempatan untuk tinggal bersama keluarga seorang pelukis perempuan dengan semangat luar biasa.

Saya ingin berterima kasih (untuk kesekian kalinya) kepada Spanyol untuk salah satu kenangan terindah dalam hidup saya. Benar-benar kado ulang tahun paling berkesan yang Tuhan pernah berikan padaku.

Mungkin tidak akan ada yang pernah tahu atau terbayang betapa pengalaman saya di sana telah membantu saya bertumbuh menjadi saya sekarang.

Ini saya taruh link ke posting saya kurang lebih setahun lalu. Dalam Bahasa Inggris. Dan dalam Bahasa Spanyol.

Os quiero, y recuerdo. Siempre.

Saturday, April 07, 2007

Siapa orang-orang yang paling kita kagumi?

[English]

Saya denger ini di Trijaya, Kamis sore. Lagi ada talkshow-nya Mas Arfan siapa gitu (lupa nama lengkapnya, di webnya trijaya kok juga gak ada ya). Dia sedang membicarakan "menjadi diri sendiri".

Satu pertanyaan yang menarik darinya adalah: siapa idola kita? Siapa tiga orang yang paling kita kagumi? Dan kenapa? Jawaban terhadap pertanyaan siapa dan kenapa itu mencerminkan nilai penting dalam diri kita. Hm, menarik.

Jadi saya mulai menanyakan itu ke diri saya. Tiga orang. Yang terpikir orang-orang dekat dengan saya.

Almarhum bapak saya. Visi jangka panjang. Kritis. Sederhana. Rendah hati. Lugas. Gak basa-basi. Kebebasan yang diberikan kepada anaknya untuk bertumbuh.

Ibu saya. Sederhana. Sabar tiada batas. Pasrah. Rela untuk berada di belakang suami dan anak-anaknya tanpa pernah timbul.

Bude saya. Ceria dan positif dalam keadaan apa pun. Pinter banget kalau cerita, penuh semangat dan ekspresif.

Ekstra boleh gak. Kakak saya. Tegar abis. Cara mengasuh anak yang rrruarrrrr biasa.

Saya juga mengagumi beberapa figur politik/sosial, seperti Bill Clinton karena karisma dan teknik berkomunikasi yang simpatik, Bunda Teresa karena pengorbanan tanpa pamrihnya, dan Johny Depp karena (gantengnya dan) keberanian dan keberhasilannya ketika memutuskan untuk hanya mau main film yang dia suka, dan tinggal jauh dari hidup gemerlap.

Otak saya berputar terus. Gus Dur karena nyelenehnya yang pinter. Arwin Rasyid karena gaya kepemimpinan yang tegas, unik dan rendah hati. Janet Jackson karena six pack-nya (Iri atau kagum nih?) Kok jadi banyak sih?

Kemudian, emang kayak apa sih diri sendiri itu? Yang sekarang kita lakoni itu diri sendiri bukan? Apa enaknya atau untungnya jadi diri sendiri? Ruginya? Gimana caranya menjadi diri sendiri?

Ah, masih banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Seperti biasa. (bagian dari menjadi diri saya sendiri?)

Friday, April 06, 2007

Hee Ah Lee, pemain piano berjari empat

[English]

Minggu lalu, Jakarta diberi 'anugerah' dengan kedatangan Hee Ah Lee. Dia menggelar konser tunggal yang tiketnya terjual habis. Saya tidak akan bercerita banyak dan mempersilahkan Anda untuk menonton video di bawah ini. Hasil bidikan Sammania.



Upaya, keuletan, keberanian dan cinta yang ditelah dituangkan untuk mencapai keberhasilan ini. Luar biasa.

Kajian: Meneladani Muhammad

[English]

Walau sedikit telat, saya akan menulis pemahaman saya tentang kajian yang saya hadiri seminggu lalu, berkenaan dengan Maulud Nabi, tentang Muhammad SAW sebagai teladan kita. Kajian dengan guru Bapak Achmad Chodjim.

Setiap orang yang terus menginginkan pertemuan dengan Tuhan selamanya (hingga hari akhir) dan senantiasa banyak mengingat Allah dapat menjadikan Nabi sebagai teladan. (QS 33:21).

QS 7:157 menyebutkan bahwa Muhammad disertai “cahaya”, atau tepatnya cahaya spiritual. Walau secara fisik, Nabi telah tidak ada, tetapi cahaya yang turun kepada beliau tetap ada. Cahaya itu yang bisa menyingkap kegelapan di dalam diri kita. Cahaya itu yang harus kita cari, kita teladani.

Muhammad Al Ghazali membagi keteladanan ini menjadi tiga tingkat. Ada yang meneladani Nabi dalam bentuk lahiriah tanpa memahami konteks dan sejarah di belakangnya. Ada yang memahami karena belajar dari orang yang telah paham lebih dulu. Ada yang memahami melalui pencarian dan perenungan sendiri.

Dalam kajian ini, Pak Chodjim lebih mengambil yang ketiga. Segala daya upaya Nabi untuk mendapatkan cahaya tersebut, itulah yang harus kita teladani dari Beliau.

Apabila kita dapat dan telah mengikuti teladan itu, kita yakin akan keberadaan cahaya Allah, maka kita akan “terbuka” dengan sendirinya.

Semakin mendapat cahaya, semakin tertuntunlah orang tersebut, semakin beradab, dan kepentingan hawa nafsu pun dapat disisihkan. Kita tidak lagi mengandalkan informasi dari orang ke orang; Cukup hanya dengan melakukan refleksi sendiri.

Tidak dapat diprovokasi lagi, tidak dapat dikendalikan dalil untuk kepentingan diri sendiri, seperti ada orang yang menggunakan dalil poligami sebagai justifikasi.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Selamat paskah ya semua..

[English]

Damai dan kasih di dunia. Dan di dalam diri.

Beberapa foto dari salah satu perayaan paskah terindah di dunia: Semana Santa, Sevilla, Spanyol.