Tuesday, September 16, 2008

Sampai Mei 2009

[English]
Akhirnya tiba juga saatnya. Saya akan pergi sekitar tujuh-delapan bulan untuk belajar di Sekolah Beshara, Skotlandia, Britania Raya. Insya Allah saya akan menjumpai Anda kembali pada bulan April atau Mei 2009. Jangan terlalu nakal. Tetap bersenang-senang. Baek-baek.

-eva

Gambar: Diambil di salah satu ruas jalan Orchard Road, Singapura.

Rembulan dan rintik hujan

[English]
…

Dan rembulan adalah tempat dua teman senang bertemu, berbagi cerita tentang terang dan gulita. Dalam hening, kicau kata, gelak tawa dan air mata—kadang semua teraduk menjadi satu.

Atau bahkan melalui saling tukar tatapan kriptik, bahasa tubuh yang demikian halus, dan siratan senyum yang hanya dapat dipahami oleh keduanya.

Rembulan memang titik temu sempurna. Rembulan tidak berdaya untuk menghasilkan sinar sendiri. Ia sekedar memantulkan sinar yang ia dapat (kebanyakan) dari matahari—layaknya dua teman yang mencerminkan satu dengan yang lain. Rembulan menyinar dengan terang yang lembut. Tak pernah menyilaukan, namun tetap menghadirkan kehangatan sederhana bagi hati dan mengulas senyum bagi bibir.

Jadi, tampaknya aku akan bertemu denganmu malam ini di langit, dimana rembulan menjelma—purnama maupun tidak. Putih, jingga, abu atau merah jambu. Untuk sekali ini saja, aku tak terlalu peduli terhadap detail.

Bahkan bila rembulan tak merupa pun, kita tahu bahwa ia ada. Kita tetap tahu di mana harus bertemu. Kita tetap bertemu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena ia sibuk menyinari belahan dunia lain. Tak apa. Cahaya rembulan cukup melimpah bagi semua. Namun ingat, keindahan hangat yang menyelimuti kita, tetaplah ekslusif untuk kita. Aku tahu. Begitu pula dirimu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena rute edarnya yang tidak mudah diprediksi, tak semudah mentari. Aku rasa itu bagian dari keindahan sang rembulan--membuat kita terus menebak, memunculkan rasa penasaran dan kadang merindu. (Aku mulai bertanya-tanya apakah matahari adalah satu-satunya yang dicerminkan oleh sang rembulan.)

Atau mungkin rembulan tak menampakkan diri karena terhalang awan. Itu pun aku tak keberatan. Karena awan membawa janji-janji akan turunnya hujan. Hujan pula mengingatkan aku pada dirimu.

Dan di tempat yang akan kukunjungi ini—hujan turun setiap saat.

---

Tantanganku bukanlah untuk mengingatkan diri agar mendongak menatap langit malam. Tantanganku adalah untuk tidak terus-menerus mendongak. Aku tahu aku harus memfokuskan diri pada apa yang terbentang di hadapanku dan tidak mengizinkan hati ini berkelana terlalu sering, bahkan untuk mengembara menjenguk dirimu sekalipun.

Lagipula, jauh di dasar hati, aku tahu kau akan baik-baik saja. Kau memang sedemikian kuat dan terberkati. Dan itu satu-satunya yang aku perlu tahu. Satu-satunya hal yang penting bagiku.

Temanku tersayang. Mentor spiritualku dalam mencinta, merasa (lagi), berekspresi (lagi), dan—kini—untuk melepaskan. To let go. Aku tahu aku mesti membiarkan dirimu menapaki perjalananmu sendiri.

Dan tempatku adalah dua langkah di belakangmu, atau tepatnya, di sekitarmu. Di belakang ruangan, menyeruput kopi hitam hangat, mencicipi kue kecil, dan mencelotehkan obrolan tak bermakna dengan sosok di sebelahku. Tersenyum bangga kepadamu, karenamu.

Sementara kau berada di atas panggung, kembali bertumbuh dengan indah, dan wangi dan liar dan segar, serta penuh rasa syukur atas segala hal kecil yang mengada.

Waktu telah tiba bagi kita untuk meneruskan perjalanan. Entah bersama atau sendiri-sendiri, atau kadang bersama kadang terpisah. Ya, mungkin itu. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan dan bagian dari karunia dalam hidup ini.


Nalar memahami. Hati masih butuh lebih banyak waktu.

Foto pertama diambil di Ubud (Bali), kedua dari sini dan ketiga di Anomali Coffee (Senopati, Jakarta).

Monday, September 15, 2008

Selamat Idul Fitri 1429H

[English]
Saya melihat sekitar dan bertanya-tanya
apakah saya telah memberikan yang terbaik bagi mereka.
Saya menilik ke dalam dan mereka-reka
apakah saya telah memberikan yang terbaik bagi diri sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H
Semoga perjalanan pulang menuju diri sejati Anda
dipenuhi kesadaran akan cinta dan damai.

PS: Saya nyadar kok. Agak sedikit awal. Tapi saya akan pergi besok lusa (Rabu pagi) ke Britania Raya. Saya akan mengambil kursus enam bulan di Sekolah Beshara, Skotlandia. Selama itu, saya praktis tidak akan mengakses Internet dan teknologi bergerak.

Baek-baek, teman-teman.
Selamat bersenang-senang dalam kehidupan!

Wednesday, September 10, 2008

Harta tercuri

[English]
Al Ghazali mengatakan bahwa kadang Tuhan (atau alam atau apa pun kekuatan Maha yang kaupercayai) akan mengambil hal-hal yang demikian kita hargai dan dekap erat di hati guna memberi kita pelajaran akan hidup.

Agar kita dapat belajar hidup tanpa hal-hal yang kita kekapi itu dan dapat terus melangkah.

Agar kita dapat menghargai karunia yang kita miliki dan menggunakannya secara (lebih) bijak.

Hanya setelah kita memahami, Dia akan mengembalikannya pada kita.

Saya telah merasakan sedemikian banyak hal diambil dari saya selama perjalanan hidup ini. Beberapa masih belum saya dapati kembali. Beberapa saya masih ragu atau bahkan takut untuk memilikinya lagi. Pengingkaran dan penghindaran. Tampaknya saya benar-benar masih terus belajar.

post script: Namun akan kusampaikan satu hal padamu. Apapun yang telah teralami, aku tetap baik-baik saja dan aku masih merasa sebagai salah satu makhluk yang paling beruntung-- dan terberkati--yang pernah ada di muka bumi. Seperti halnya dirimu. Lebih dari yang kaukira. Terima kasih telah menjadi salah satu karunia dalam hidupku.

Jangan pernah memiliki pandangan yang berbeda dari ini.

Menilik ke dalam

[English]
Saya tengah mengikuti sebuah diskusi kelompok, ketika salah seorang peserta bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya. Dia ingin membantu seseorang yang datang kepadanya, namun tidak bisa karena dia sudah terlanjur ada janji lain.

Sang peserta terus berpikir bagaimana perasaan orang itu dan apakah ia telah mengambil keputusan yang benar dengan tidak menghiraukan permintaan tersebut.

Seorang peserta lain bercerita betapa ia telah memaafkan orang yang telah menyakitinya. Betapa kita harus sabar. Betapa kita harus memaafkan dan melepaskan. Harus bersikap rendah hati dan sederhana.

Saya berpikir, menakjubkan sekali bagaimana kita sering berupaya untuk memperbaiki diri dengan menelaah cara kita bersikap terhadap orang lain atau berdasarkan cara orang lain memandang kita. Kadang kita tidak menyadari bahwa yang punya masalah itu kita dengan diri kita sendiri, bukan kita dengan mereka, apalagi mereka dengan diri mereka sendiri.

Sebuah buku yang baru-baru ini saya baca memberikan perspektif berbeda (dan menarik). Buku itu menyarankan kita (atau sebenarnya, saya) untuk mulai dengan diri sendiri. Ketimbang menekankan pada bagaimana kita harus bersikap, buku itu mengundang kita untuk memperhatikan proses yang terjadi dalam diri.

Mungkin memang sudah saatnya untuk (lebih) jujur pada diri kita, tentang diri kita sendiri. Apa yang sebenarnya kita rasa? Untuk memahami diri. Untuk menerima bahwa kita masih merasakan kemarahan, kemuakan, kegembiraan, dan cinta. Segala kombinasi rasa yang berkecamuk dalam diri. Untuk jujur pada diri.

Kita terlalu banyak menghabiskan waktu kita mengingkari apa yang kita rasa--terutama kalau rasa itu negatif. Terlalu sering kita hanya menyapu perasaan kita ke kolong tempat tidur--sekedar memindahkan dari sadar ke bawah sadar, menambahkan beban emosi yang sebenarnya telah menumpuk. Tidak benar-benar mengatasinya.

Kita mulai dengan mengakui perasaan kita dan memperhatikannya. Kemudian memperhatikan bagaimana rasa itu berubah, berevolusi.

Buku itu kemudian mengajak kita untuk "menghirup perasaan negatif, dan menghembuskan perasaan positif." Saya rasa ini pendekatan yang cukup berani.

Namun hanya setelah melalui proses penilikan ke dalam ini, kita dapat melangkah ke tahap selanjutnya untuk merangkul orang lain. Hanya dengan memahami perasaan kita, kita dapat mulai memahami perasaan orang lain. Hanya dengan menerima dan mencintai diri kita, kita dapat mulai menerima dan mencintai orang lain.

Masuk akal menurut saya. Ya gak sih?

Catatan tambahan. Apakah kita benar-benar berendah hati ketika kita secara eksplisit mengatakan kita rendah hati? Apakah kita benar-benar sabar ketika kita mengklaim diri ini sabar? Apakah kita benar-benar menerima ketika kita menyatakan bahwa kita menerima? Atau kita hanya membohongi diri sendiri? Sebuah kata lain muncul di pikiran ketika saya menulis ini: Arogansi. Lupa kita siapa sebenarnya lawan main kita.

Tuesday, September 09, 2008

Lentera jiwa

[English]
Saya senang dengan orang-orang (terutama teman-teman) yang memiliki mimpi dan aspirasi. Saya terlebih menyukai mereka yang mengikuti mimpi-mimpi itu. Saya sangat percaya bahwa panggilan dari dalam yang terus-menerus mengemuka itu benar-benar berusaha mengatakan sesuatu pada kita. Ia bukan sekedar hal acak tak berarti.

Jadi saya membuka tangan dan hati terhadap tren Lentera Jiwa baru-baru ini.

Memang, ini (lagi-lagi) sebuah langkah pemasaran yang keren dari Yoris dan Morin untuk mempromosikan album baru Nugie.

Tetap saja, Lentera Jiwa merupakan sarana untuk mengingatkan kita bahwa kita dapat (dan seharusnya) memanfaatkan dan menikmati hidup semaksimal mungkin. Untuk mengejewantahkan potensi kita sebaik kita bisa dan tidak menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Recto Verso – album terbaru Dee juga merupakan contoh nyata dari lentera jiwa seseorang. Saya tidak membicarakan Dee di sini. Saya rasa dia tidak perlu perkenalan lagi (Love and light, D).

Saya ingin menceritakan tentang seorang teman lain yang membantu mendistribusikan album Recto Verso. Teman saya ini bekerja dalam bidang TI. Dia sangat gandrung pada musik atau, sejujurnya, apa pun yang berbau indie.

Yang menarik di sini adalah teman saya itu telah menggandrungi musik sejak saya pertama kenal dia (yang berarti sudah cukup lama, karena saya kenal dia saja sudah lebih dari 15 tahun).

Dia mungkin tidak (belum?) bisa mendedikasikan waktunya untuk memainkan instrumen musik sendiri tapi dia mempersembahkan pada musik apa yang ia bisa--kecintaannya, kemampuan organisasi dan manajemennya, dan logikanya yang brilian.

Dia menyumbangkan apa yang ia miliki. Mungkin dia satu-satunya yang bisa memainkan peran itu, dan hal ini membuatnya unik dalam konteks keseluruhan formula yang ada.

Pemikiran ini membawa saya kembali ke tahun 2002, ketika saya merasa agak tak berdaya melihat semua korban banjir Jakarta. Saya mengikuti seorang teman dokter saya keliling. Dia membantu para korban. Sedangkan seorang saya, apa yang bisa saya lakukan? Saya sekedar membantu teman saya membungkus obat-obat sederhana bagi para korban.

Sekarang--setelah memperhatikan teman saya dengan musik indie-nya--saya menyadari bahwa saya tidak perlu menjadi dokter untuk membantu dalam bidang kesehatan. Secara profesi, saya seorang konsultan komunikasi. Jadi harusnya itu yang saya lakukan--dan telah mulai saya lakukan sedikit-sedikit.

Saya belum menemukan satu topik--atau organisasi--yang bisa membuat saya demikian tertarik sehingga saya ingin saya fokuskan diri saya padanya.

Namun, sejauh ini, saya lebih memilih untuk menjadi 'konsultan' bagi lembaga atau yayasan yang dikelola teman-teman saya--melaksanakan pelatihan komunikasi, membantu membuat newsletter, menulis cerita tentang mereka, memfinalisasi proposal pendanaan mereka, dsb.

Mungkin itulah tempat atau fungsi unik saya dalam ensembel ini. Itu dan hal lain. Kita lihat nanti.

Saya bisa bilang dua hal pada Anda, sementara ini. Pertama, dengarkan diri Anda dan temukan panggilan itu. Kedua, tidak perlu terburu-buru. Ini semua proses. Anda tidak perlu serta merta melompat dan melakukannya sekarang juga.

Mungkin yang Anda lakukan sekarang adalah persiapan menuju langkah yang akan Anda ambil. Persiapan yang baik adalah setengah dari kemenangan yang akan kita capai. Manfaatkan waktu yang ada, namun jangan terlena terlalu lama ;)

Saya ingin mengulang apa yang ditulis di situs web Lentera Jiwa:
"Hidup memang penuh pilihan, tapi seringkali pilihan terbaik adalah mengikuti LENTERA JIWA kita. Cahaya yang menuntun kita pada tujuan hidup. Our passion in life.
Bagaimana dengan LENTERA JIWA-mu?"

Wednesday, September 03, 2008

Saat berdiam diri. Saat hening.

[English]
Sekolah saya belum dimulai. Saya bahkan belum memulai perjalanan saya secara fisik. Namun beragam pelajaran tampaknya sudah mulai berdatangan.

Seorang mentor penyembuhan Reza Gunawan pernah berucap pada saya bahwa kadang tubuh dan jiwa kita tahu kalau kita akan beperjalanan dan mereka pun berinisiatif memulai prosesnya bahkan sebelum kita memulai perjalanan yang kasat mata sekalipun.

Saya dapat merasakan bahwa proses telah dimulai. Di dalam. Satu (atau dua, atau tiga) sensasi yang demikian akrab dan, saya ingat betul, cukup intens. Mereka mulai mengemuka kembali. Kali ini, saya menyambutnya dengan tangan terbuka dan sepenuh hati. Mungkin saya perlu menyisipkan kata "mencoba" di sini, karena proses ini bisa menjadi sangat menantang.

Guru meditasi saya Pak Merta Ade dari Bali Usada pernah berkata, “Jika kamu sudah siap, coba merasakannya lebih lama." (terjemahan: jangan melarikan diri. Coba hadapi.)

Kala itu beliau tengah mengacu pada sensasi indera yang kerap muncul selama meditasi. Tapi pendengaran saya menangkap hal-hal di luar itu. Saya mendengar kesedihan, kemarahan, trauma dan berbagai hal lain yang berkecamuk dalam diri. Segala emosi yang belum tuntas.

Buku yang saya terima dari seorang teman menganjurkan untuk memulai dari tempat saya kini berpijak. Untuk mengakrabkan diri dengan kondisi fisik dan emosi saya; untuk belajar dari mereka. Kembali, segala emosi yang belum tuntas.

Kedua kejadian di atas mengajak saya untuk "memperlambat laju jalan, menghentikan langkah, duduk tenang dan menghadapi diri." Jadi saya pun duduk. Dalam hening. Tanpa ditemani seorang pun kecuali Kamu.Tak mudah.

Entah bagaimana semua perasaan dan memori usang semakin lama semakin jelas. Saya menjadi gelisah. Saya bertanya-tanya apakah saya benar-benar telah siap untuk menceburkan diri ke dalam hal ini lagi.

Tapi bukan saya kalau tidak ada coba-coba kreatif.

Mungkin kalau saya menyibukkan diri, saya tidak akan terlalu terikat pada kegiatan ini. Saya mengerjakan beberapa proyek meskipun tanggal keberangkatan saya sudah semakin mendekat. Rupanya saya lupa siapa yang sedang saya hadapi. Kedua proyek pun berjalan tak terlalu cepat. Saya masih punya banyak waktu luang untuk "terikat pada kegiatan ini."

Hm, mungkin ada cara meringankan beban ini sedikit. Berbagi mungkin membantu? Tak ada salahnya khan bila saya bercerita ke satu atau dua teman? Salah.

Beberapa hal memang sebaiknya tetap tak terucap dan disimpan sendiri. Selalu saja ada yang terjadi. Koneksi Internet terputus. Terlalu banyak orang di sekitar. Jadwal yang tak sinkron. Tak ada cukup waktu. Jadi gitu, bukan karena saya tak mau berbagi, tapi saya tak bisa, saya tak boleh.

Untuk kesekian kalinya, saya terduduk dalam hening. Dengan diri dan aku. Dan Dirimu.

Saya tahu waktunya telah tiba. Saya mafhum ini adalah perjalanan pribadi yang harus saya tapaki sendiri. Tanpa seorang pun kecuali Kamu. Miliki keyakinan. Ya, saya yakin.

Kamu mungkin tak mengerti. Tak apa. Kadang saya pun tak paham.

Nalar memahami. Hati masih butuh lebih banyak waktu.

Monday, September 01, 2008

Dari satu rumah ke rumah lain

[English]
Sekarang sudah bulan September. Pada tanggal 17, saya akan ke Skotlandia untuk mengikuti program enam bulan di sebuah sekolah bernama Beshara.

Perjalanan di bulan-bulan mendatang kehidupan saya dimulai dengan salah satu kelokan tak terduga dalam hidup saya. Saya diperkenalkan ke kelompok Beshara di Jakarta tahun lalu.

Saya menghadiri program akhir pekannya dan saya akui bahwa saya tidak langsung nyambung dengan mereka. Namun ada sesuatu yang terus menerus menarik saya ke kelompok itu. Saya nurut saya, mungkin atas nama penasaran.

Awal tahun ini, saya kembali mengikuti program akhir pekan Beshara. Di penghujung acara, saya ngobrol-ngobrol santai dengan salah seorang fasilitatornya.

Saya bertanya apakah mungkin bagi saya untuk mendapatkan beasiswa guna mengikuti program di sana. Beliau menjawab, "Coba saja email direktur sekolahnya." Pernyataan yang demikian sederhana.

Hebatnya, proses selanjutnya pun sama sesederhananya. Saya tak 'mengacuhkan' jawaban beliau, hingga seminggu kemudian entah apa yang menggerakkan saya. Saya pikir, ya sud, kenapa tidak. Toh saya tidak akan rugi atau kehilangan apa-apa dengan mengemailnya.

Lantas, saya email sang direktur sekolah. Beliau pun menjawab. Ya. Ya??!?!? Saya SMS beberapa teman, mem-forward email itu, dan bertanya ke mereka apakah saya telah memahami email ini dengan benar. Iya, kata mereka. Wah.

Beberapa teman (berulang kali) bertanya bagaimana saya bisa dapat beasiswa itu, atas dasar apa. Satu-satunya jawaban yang dapat saya berikan adalah: “Mungkin, kita hanya perlu bertanya.” Jawaban pasrah karena saya tak tahu harus bernalar seperti apa lagi. Tak perlu.

Dan sisa cerita pun bergulir dengan sendirinya. Saya menerima email tersebut bulan Maret tahun ini. Hidup terus mengalir. Sekarang kita sudah di bulan September. Dua minggu dari sekarang, insya Allah saya akan berada di Skotlandia.

Skotlandia. Kawasan yang sangat dekat di hati saya. Para sahabat dan keluarga saya tahu betapa saya telah jatuh cinta pada tempat itu.

Jadi ketika mereka mendengar saya akan ke Skotlandia, mereka hanya memberikan dua komentar: “Memang sudah digariskan” dan “Oh, mau pulang kampung.”

Iya, saya pun merasa saya akan pulang kampung. Saya akan pulang, dari satu rumah ke rumah yang lain. Memang sudah digariskan. Saya sekedar menjalani.

Kalau kamu ke sana--dan kamu ke sana bersama saya, saya yakin kamu akan dapat melihat apa yang saya lihat, dan merasa apa yang saya rasa. Mungkin kemudian kamu akan mengerti kenapa.

---
Saya terjaga pagi ini dengan sebuah SMS dari seorang teman: “Mudah-mudahan semua upaya baik bisa membimbing jiwa kepada pencerahan sejati, sekalipun itu bukanlah jalan yang mudah.”

Saya tahu. Kamu tahu. Yang lain tidak. Tarik napas dalam.


Gambar diambil dari Beshara, Stirling Uni, and Gettyimages.

Sunday, August 31, 2008

Foto keluarga - Agustus 2008

[English]
Foto keluarga sebelum Ramadhan. 31 Agustus 2008.
Gak heran saya demikian mencintai mereka

Wednesday, August 27, 2008

Hidup tak usai

[English]

Kota kecil abad pertengahan bertatahkan batu itu hening sempurna
Semua penghuni telah terlelap
Semua kecuali satu. Annette yang remaja
Jalan kota diam membisu
Namun bagi remaja ini
Sang kota tengah membeberkan jiwa yang lelah

Annette yang remaja terbalut dalam jaket musim dingin
Dia menatap nanar pada jalan melompong
Dada sesak, napas singkat, mata membasah
Namun ia tetap berdiri, tak tergerak
Membeku dalam ruang dan waktu
Tak acuh terhadap fahrenheit menusuk yang menggeluti tubuh

Karena ada tusukan lain yang terasa lebih menohok
Sesuatu tentang kota yang demikian dicinta
Kesedihan mendalam, frustasi dan kemiskinan yang melantakkan hati

Annette telah menentukan langkah
Ia tahu apa yang yang harus ia lakukan
Dan niat pun meneguh untuk mengejewantahkannya

Merasa cukup, perempuan ini masuk kembali
Ke gubuk kecil yang hangat dan nyaman
Ke sang ayah yang pandai dan pekerja keras
Ke ibunda nan sederhana dan penuh cinta
Dan ke adik laki-lakinya yang lugu

Annette yang mulai tumbuh dewasa tahu
Tanah subur di keliling kota ini adalah kunci
Untuk membawa orang-orang di sekitarnya
keluar dari jurang kemiskinan
Perekonomian berbasis pertanian. Itulah jawabannya
Itulah yang akan ia tekuni
Sebuah dedikasi total terhadap idealisme dan sesama

Prestasi Annette melambung di atas semua perempuan di zamannya
Pikiran-pikirannya dihargai

Namun Annette berpuas terlalu cepat
Pujian dan penghargaan telah membutakan
Keangkuhan pun secara laten mengambil alih kuasa atas jiwa
Ia lupa seberapa jauh ia masih dapat berjalan
Ia melalaikan beribu kilometer yang masih harus ia tapaki

Jalan pun membelok semakin jauh
Annette yang dewasa bertemu seorang pria
Mereka jatuh cinta
Mereka hidup berbahagia selama sisa hari dalam kehidupan

Annette lupa tujuan ia mengada
Ia mencengkeram kebahagiaan, takut akan kehilangan yang ia punya
Ia tidak tahu kalau ia bisa saja memiliki segalanya
Memiliki ini dan itu
Dan masih banyak lagi. Sang Pemelihara sedemikian murah hati

Di atas tempat tidurnya, Annette yang setengah tua menilik sekitar
Ia merasa bahagia. Ia merasa cinta
Annette telah memiliki apa yang ia dambakan
Kekayaan. Kehormatan. Keluarga
Dan (pemahaman akan) cinta
(yang ternyata membatasi dan cenderung salah kaprah)

Namun di menit-menit terakhir, ia teringat sesuatu
Kerja belum usai
Ia telah menafikan alasan kenapa ia ada di sini
Kini ia mulai menyadari kembali
Di saat-saat terakhir dalam hidupnya

Namun masih tersisa butiran asa
Perjalanan belum benar-benar berakhir
Masih ada kesempatan lain
Dan kesempatan itu mewujud sekarang, saat ini

Ketika semua entah bagaimana tertata rapi
Ketika semua dapat dan akan menjelma menjadi jalinan sempurna
Cinta. Dan kali ini, ia berharap Sang Maha Cinta.

Sunday, August 24, 2008

Terus..?

[English]
"Perhatikan barang bawaan Anda"

Saya membaca tulisan itu di satu toilet pusat perbelanjaan.

Pandangan saya lantas jatuh pada tas saya. Saya memperhatikannya, kemudian saya berpikir, "umm, terus mesti ngapain lagi?"

:p

Monday, August 18, 2008

Catatan akhir untuk perjalanan kali ini: Kehidupan yang demikian cepat

[English]
Tuntas sudah. Akhir dari rangkaian perjalanan saya kali ini. Besok, kerja (sebagai seorang profesional dalam bidang komunikasi) dimulai kembali. Perjalanan tiga minggu yang luar biasa.

Beberapa minggu lalu, ketika saya membeberkan jadwal perjalanan saya—yoga, meditasi, pelatihan penyembuhan, ketemuan dengan orang, empat-bahkan-lebih-lokasi di tiga negara dalam kurun waktu tiga minggu, dia berkata "cepat sekali hidupnya.”

Saya tidak pernah berpikir seperti itu hingga saat teman saya berkata demikian. Suatu sudut pandang yang cukup valid. Kalau Anda melihat jadwal saya, maka hidup saya ini tampak berjalan sangat cepat dari satu titik ke titik lain.

Namun menariknya, di setiap titik, hidup tersebut seperti melambat hingga ke tingkat yang tampak tidak bergerak sama sekali. Hidup ini berjalan lambat di tiap titik. Hidup telah memanfaatkan waktu yang dimilikinya dan menikmati proses yang dijalaninya.

Kini hidup sama sekali tak tampak berjalan cepat. Tidak lagi.

Hidup dengan ringan pindah dari satu titik ke titik lain, namun saya tahu bahwa ia menyimak setiap detik yang dilewatinya--mencelupkan diri dalam pengalaman yang diberikan oleh tiap node petualangan, menikmati proses, dan menyambut setiap pelajaran yang dihadiahkan oleh alam.

Melepaskan, menikmati, dan menyambut tampak menjadi kata-kata kunci dari episode perjalanan kali ini.

Rasa terima kasih saya haturkan pada guru-guru dan teman-teman saya. Dan Tuhan. Dan keluarga saya tercinta. Dan--walau terdengar aneh--kepada diri yang telah mengizinkan proses ini berlangsung.

Saat saya menulis catatan akhir ini, sebuah kalimat dalam buku yang saya terima dari seorang teman seperjalanan beresonansi dalam ruang kepala: “Compassion for others begins with kindness to ourselves. --- Rasa kasih terhadap makhluk lain dimulai dengan kebaikan dan kelembutan terhadap diri sendiri.”

PS: Kangen juga dengan dirimu. Um, beneran.

Thursday, August 14, 2008

Layaknya tangan kiri dan tangan kanan

[English]
Seorang pria tengah memaku dinding. Tangan kirinya memegang paku, sementara tangan kanannya memegang palu. Duk duk duk.

“Aduh!” tiba-tiba sang pria berteriak. Dia telah memukul tangan kirinya dengan palu. Atau kalau mau, bisa dibilang tangan kanannya (yang memegang palu) telah memukul tangan kirinya (yang memegang paku).

Tahukah Anda apa yang terjadi selanjutnya?

Tangan kanan segera membuang palu yang tengah dipegangnya untuk memegang tangan kiri. Tangan kiri tengah kesakitan dan fokus pada rasa sakitnya. Kedua tangan bekerja sama untuk sebaik-baiknya mengurangi rasa sakit.

Menurut Anda, apa yang akan terjadi kalau hal ini berlangsung antara dua manusia? A memukul B. A bisa saja melarikan diri. A bisa saja berlagak tidak terjadi apa-apa. Atau A bisa saja memarahi B karena keteledorannya—menerapkan prinsip 'memarahi dulu sebelum dimarahi.'

B, di lain pihak, mungkin akan menatap A dengan rasa marah dan benci. B tentu akan menyalahkan A atas apa yang baru saja terjadi. B akan menyimpan rasa kesal dan jauh di dalam benaknya mungkin telah menyimpan baik-baik memori kejadian ini dan diam-diam menyusun rencana balas dendam di masa nanti.

Tapi tidak demikian dengan tangan-tangan itu. Tangan kanan tidak melarikan diri. Ia tak bisa melarikan diri. Kedua tangan ini tergabung dalam satu tubuh. Tangan kanan langsung melupakan apa yang tengah ia kerjakan untuk mengurus tangan kiri. Tangan kiri tidak memendam kekesalan dan bahkan tidak berpikir sama sekali untuk membalas dendam terhadap tangan kanan.

Selalu aja ada hal yang terjadi. Kedua tangan bekerja sama sebaik mungkin. Mereka bisa merasa satu sama lain. Mereka terhubung satu sama lain. Mereka tahu bahwa, pada akhirnya, mereka adalah satu dan saling terkoneksi. Tidak ada yang menyalahkan siapa pun. Mereka terus bekerja sama.

Tubuh manusia yang luar biasa ini merupakan refleksi mikroskopis tentang bagaimana dunia saling terkait dan bagaimana manusia selayaknya memperlakukan satu sama lain. Sayangnya, sedikit sekali yang memperhatikan.

-cerita dari Thich Nhat Hanh yang dihaturkan selama pembicaraan dengan Nat di Bangkok.

Bangkok: teman-teman lama bertemu

[English]
Saya baru menyadari bahwa Bangkok adalah satu-satunya kota dalam rute saya kali ini yang saya tidak punya agenda khusus kecuali bertemu dengan teman. Tidak ada retreat, tidak ada pelatihan, tidak ada apa-apa. Enak juga sekali-sekali tidak punya agenda.

Ada satu agenda sih: untuk ngobrol dengan teman saya Nat. (oh dan sesi pijat Thai.) Saya bertemu dengan Nat ketika saya di Spanyol secara 'kebetulan.' Kami ngopi bareng dan mulai mengobrol. Obrolan singkat bertumbuh menjadi pertemanan.

Kunjungan tiga hari ke Bangkok ini sebenarnya merupakan kali kedua saya bertatap muka dengannya. Saya tidak terlalu tahu apa yang yang harus saya tulis di sini. Ada ide, Nat? Saya tidak kenal orang lain yang bisa saya ajak ngobrol seperti kami ngobrol.

Di taksi menuju bandara pagi hari itu, saya merasa sedih. Saya telah mengunjungi beberapa tempat akhir-akhir ini, namun hanya Bangkok yang berhasil membuat saya merasa sesentimentil ini.

Saya merasa seperti meninggalkan kota ini terlalu cepat. Rasanya Bangkok belum berkesempatan untuk menceritakan kisah-kisahnya pada saya. Mungkin ada kata-kata yang belum terucap, pemandangan yang belum terlihat, dan pengalaman yang belum terbagi.

Di atas pesawat, saya membuka halaman pertama buku yang Nat berikan pada saya. Buku berjudul "Start Where You Are: A Guide to Compassionate Living written" by a female monk Pema Chödrön. Buku yang luar biasa kuat. Saya bergidik ketika membuka halaman pertamanya dan saya dapat merasakan mata saya menghangat ketika saya membuka halaman pembuka.

Halaman ix, paragraf dua:
“In our era, when so many people are seeking help to relate to their own feelings of woundedness and at the same time wanting to help relieve the suffering they see around them, the ancient teaches presented here are especially encouraging and to the point. When we find that we are closing down to ourselves and to others, here is instruction on how to open. When we find that we are holding back, here is instruction on how to give. That which is unwanted and rejected in ourselves and in others can be seen and felt with honesty and compassion. This is teaching on how to be there for others without withdrawing.”

Saya menulis entri ini namun saya awalnya tidak tahu gambar-gambar apa yang dapat saya pajang di sini sebagai ilustrasi. Mungkin saya seharusnya mengambil foto atau gambar dari tempat-tempat yang kita kunjungi dan santapan yang kita makan, Nat. Namun gambar-gambar itu terasa tidak penting dan bahkan tidak relevan ketimbang hal-hal yang kita obrolkan dan bagi. Terima kasih telah menjadi suatu hadiah bagi hidup.

Kamu benar. Pertemuan yang terasa kebetulan itu sebenarnya bukanlah kebetulan sama sekali. Pertemuan itu bukanlah pertemuan dua orang asing, namun pertemuan dua teman lama.

Tuesday, August 12, 2008

Singapura: Untuk sebuah urusan (tak biasa)

[English]
Entah kenapa, Singapura selalu terasa 'bisnis' di lidah saya. Rasanya saya tidak pernah menyambangi negara ini murni sebagai turis. Selalu saja ada tujuan spesifik: mengantar ibu saya ke rumah sakit, mengunjungi teman-teman, menghadiri konferensi, atau, seperti kali ini, mengikuti pelatihan.

Saya mengikuti pelatihan empat hari Craniosacral Therapy (CST). Cranio apa? Sebuah teknik penyembuhan melalui sentuhan ringan yang dikembangkan oleh John Upledger. Secara sederhana, sentuhan ringan ini akan merilekskan otot yang tegang dan, sebaliknya, mengaktifkan kembali otot tidur.

Saya menggandrungi CST karena beberapa alasan. CST dapat membantu orang. (Saya menjadi saksi. Saya pernah merasakannya.) Terapi ini menggunakan sentuhan ringan, yang tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali. (hanya sentuhan seberat lima gram.) CST memiliki penalaran medis ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung teknik ini (pas untuk otak kiri saya yang super kritis dan kerap logis berlebihan.)

Sentuhan ini adalah cara untuk terhubung dengan tubuh (dan pikiran) sang 'pasien'. Tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menyembuhkan diri sendiri. Sentuhan sekedar mengatakan "kami mendengarkan" dan menunggu sang tubuh untuk membuka diri dan mulai bercerita.

[Ingatkan saya untuk menulis lebih banyak tentang CST. Sementara ini, silakan mengacu ke situs web resmi Upledger Institute untuk info lebih lanjut.]

Pelatihannya sendiri sangat amat menyenangkan. Bapak instruktur Michael, keempat asisten pengajar dan Greenpartners sebagai penyelenggara (hai Kheng!) benar-benar hebat.

Dua dari asisten tersebut adalah terapis saya—Martyn dan Heather. Saya sebelumnya tidak tahu bahwa mereka akan ada di sana. Jadi Heather menyelinap dari belakang, menutup mata saya dengan tangannya dan berkata, “Tebak siapa saya. Kamu harusnya bisa menebak dari sentuhan tangan saya .” ☺ Wah, lelucon khas CST!

Saya benar-benar menikmati pelatihan ini. Serius. Pada hari pertama, saya meng-sms teman saya sekedar untuk mengatakan “Aku suka hidupku.” Dari dasar hati terdalam. Saya rasa kata-kata itu tidak pernah tercetus di pikiran saya, minimal sudah lama tidak. Hidup saya murni suatu berkah, namun hari itu saya benar-benar merasa terberkati.

Ketika saya menceritakan ke beberapa teman bahwa saya mengambil pelatihan ini, mereka bertanya, “Mau ngapain setelah loe ngambil kursus itu?” Pertanyaan menarik.

Sebuah pertanyaan yang mengingatkan saya pada tulisan Paulo Coelho di Pilgrimage. Karakter utamanya begitu bersemangat untuk menemukan pedang sakti itu. Sedemikian semangat sehingga dia tidak menyadari bahwa sebelum dia menemukan pedang tersebut, terlebih dahulu dia harus menjawab satu pertanyaan terpenting: “Apa yang akan kaulakukan setelah menemukan pedang tersebut?”

Saya sendiri belum yakin apa jawaban saya. Mungkin ini merupakan suatu langkah mewujudkan mimpi masa kecil untuk menjadi dokter. Dulu saya memang ingin menjadi dokter, sehingga saya bisa menggunakan setengah waktu saya untuk mencari uang dan setengah sisanya untuk membantu orang.

Atau mungkin ini masa melunasi hutang. Saya ingat perasaan tak berdaya saya ketika saya menjadi relawan untuk membantu korban banjir besar Jakarta. Demikian banyak yang menderita, sedikit sekali yang bisa saya lakukan.

Tak tahu lah. Tapi saya yakin pada saatnya saya akan tahu harus saya apakan kemampuan saya itu.

Sementara, saya ingin berterima kasih kepada tim CST (dan teman-teman baru saya) untuk pengalaman yang demikian berharga dan menyenangkan. Terima kasih kepada Kota Singapura yang selalu berbaik hati pada saya (dan profesional plus efisien!).

Terima kasih ekstra spesial pada Yolli, Hany dan Andien yang telah mengizinkan saya menghamparkan diri di tempat mereka. Nila dan Mike untuk hidangan veggie-nya. Peluk hangat untuk teman-teman yang saya temui selama di sana.

Berbagi cerita

[English]
Sepanjang 11 hari meditasi TB2, saya menghabiskan 10 hari di antaranya dalam keadaan hening. Masa hening (noble silence) berarti “keheningan di tataran tubuh, ucapan dan pikiran. Segala bentuk komunikasi dengan sesama peserta meditasi--baik dalam bentuk bahasa tubuh, tulisan, lisan, dsb--tidak diperbolehkan.

Namun peserta diperbolehkan berbicara dengan para fasilitator/instruktur jika diperlukan. Mereka juga diperbolehkan untukberkomunikasi dengan pihak penyelenggara berkenaan dengan masalah seperti makanan, akomodasi, kesehatan, dsb. Tetapi kontak seperti ini sekalipun harus diminimalkan. Kita harus menciptakan rasa bahwa kita berjalan sendiri.”

Yang tidak saya sangka-sangka adalah .. bahwa tidak berbicara dengan orang di sekitar saya bukanlah tantangan terbesar bagi saya. Mungkin karena saya tidak terlalu mengenal mereka. Kami baru bertemu beberapa jam sebelumnya, sehingga ikatan emosional belum terbentuk dengan kuat.

Tantangan terbesar saya, ternyata, adalah bahwa saya tidak bisa menulis atau bercerita (secara tertulis maupun lisan) kepada teman-teman saya.

Saya kangen bercerita dengan teman-teman saya—dengan kamu—dan berbagi impresi dengan mereka—dengan kamu. Saya kangen teman-teman saya—kangen kamu. Dibutuhkan 10 hari hening untuk membantu saya menyadari betapa berbagi dengan teman-teman saya—dengan kamu—demikian berharga buat saya.


Bukit-bukit dan awan yang terhampar di hadapan saya memberikan pelajaran keduanya:”Bersabarlah. Tunggu hingga proses ini berakhir, tunggu sampai semua ini terang bagimu, kemudian berbagi ceritalah”.

Sang rembulan, yang terus bertahan di langit hingga jam tujuh pagi hari itu, menguatkan pelajaran ini: "Teman-temanmu akan tetap ada di situ ketika kau selesai, menunggu dirimu untuk kembali pada mereka.”

Malam terakhir

[English]
Malam itu adalah malam terakhir saya di Pacung untuk TB2. Hari berikutnya adalah saat kami menyudahi masa hening, hari-hari meditasi pun akan berakhir, dan saya akan melanjutkan perjalanan.

Jadi larut malam itu, saya duduk di teras saya, menatapi taman yang telah menggelap sedari tadi dan langit malam gemintang yang terbentang di atas saya.

Saya tersenyum dan berterima kasih pada mereka—pada malam, bintang, kolam, air mancur, sawah, taman, hewan, angin—atas pengalaman penuh berkah ini. Satu-satunya sahabat perjalanan di kala doa-doa malam terpanjatkan.

Malam demikian benderang. Saya belum pernah melihat langit demikian bertabur bintang di Indonesia. Namun bulan tak tampak. Saya sedikit bertanya-tanya kemana dia. Tak mengapa. Saya tahu ia ada di sana, entah dimana tepatnya tapi ada. Saya tetap menghaturkan senyum padanya.

Saya menimbang-nimbang untuk pergi tidur, namun sesuatu dalam diri mengajak untuk bertahan barang sejenak lagi. Jadi saya terus duduk dan berbincang dengan alam malam yang ramah, dekat dan hangat.

Kemudian malam mempersembahkan pertunjukan puncaknya untuk kali terakhir: Sebuah bintang jatuh yang gemilang dan—tampak—penuh warna. Cepat! Sebutkan sebuah keinginan!

Saya tidak dapat menahan senyum. Baik sekali.

Malam telah mengucap kata terakhirnya. Ia lantas mengizinkan saya untuk beranjak ke peraduan.

Perhatikan alam merekah

[English]
Bagaimana caranya ini..











Berubah menjadi ini..











Kemudian ini..











Sebelum sepenuhnya berkembang menjadi ini..









Perhatikan bagaimana alam merekahkan keindahannya.

X menandai titiknya

[English]
Lihat gambar di kiri ini? Gambar yang saya ambil ketika saya sedang bermeditasi dengan Bali Usada di Pacung, Bali.

Bila kita berdiri pas di situ dan tubuh mengarah ke titik bertemunya dua bukit di hadapan kita, kita dapat mendengar air mengalir dari tiga sumber berbeda: sungai kecil di depan, kolam di belakang, dan air mancur di kanan.

Tapi Anda tidak akan dapat melihatnya. Anda pun tidak akan dapat mendengarnya.

Titik luar biasa itu disediakan oleh alam khusus untuk saya. Hanya untuk saya. Dan saya tidak akan berbagi dengan siapa pun!

Terbang kembali

[English]
Saya tengah duduk di ruang makan ketika saya melihat ada burung terjatuh ke tanah. Jatuhnya cukup keras. Saya menjulurkan kepala, mencoba melihat kenapa burung itu bisa terjatuh. Ternyata ada anak-anak yang melempar burung tersebut dengan batu. *geram*

Kedua anak itu berlari-lari dengan semangatnya mendekati sang burung. Saya memandangi mereka, tak tahu mesti apa. Hanya terduduk dan menatap.

Jarak antara anak dan burung tinggal dua meter ketika tiba-tiba wooshhh sang burung mengangkasa kembali. Terbang gagah meninggalkan kedua anak dengan tangan hampa.

Sayang saya sedang dalam keadaan hening. Kalau tidak, saya akan bertepuk tangan dan bersorak untuk sang burung. Nilai sementara: Burung 1, Manusia 0.

Dalam komedi, waktu memang krusial, teman. Waktu memang krusial.