Friday, August 17, 2007

Selamat Hari Kemerdekaan

[English]
Hari ini Indonesia merayakan Hari Kemerdekaanya yang ke-62. Saya mencoba mencari foto yang cocok untuk tulisan ini.

Pilihan saya jatuh kepada foto di bawah, menampilkan pemain bulutangkis double Indonesia, Hendra Gunawan dan Joko Riyadi, di Kejuaraan Dunia yang masih berlangsung di Malaysia.

Diambil dari artikel Kompas Cyber Media bertajuk “Pebulutangkis Indonesia Terus Melaju.” Lihat keseriusan, semangat pantang menyerah dan determinasi yang jelas tercermin dalam raut muka mereka.

Lebih dari itu, karena inilah yang saya rasakan atau saya harapkan dari bangsa dan negara kita tercinta ini: Bahwa kita terus melaju.

Saya capek mendengar orang complain, mengeluh tentang kondisi negara ini, menyalahkan pemerintah dan semua orang lain kecuali dirinya sendiri. Sudah waktunya kita mengubah paradigma itu dan menjadi lebih optimistis, konstruktif dan aktif.

Seperti kaos yang saya lihat di mall tadi siang: “You have to be the change that you want to see.” Bener banget.

Mulailah melakukan sesuatu. Apapun itu.

Tuesday, August 14, 2007

Kita sudah begitu banyak menerima

[English]
Masih dari obrolan dengan Pak Brotoseno.

Kami membicarakan tentang kontemplasi. Kami membicarakan tentang rasa syukur. Berkontemplasi tentang sebegitu banyak yang telah kita terima dari siapa pun, dan dari apa pun di alam ini.

Lihat hal yang tampak jelas. Orang-orang yang secara eksplisit dan langsung telah memberi kepada kita. Orangtua kita. Guru kita. Teman kita. Sponsor kita.

Lihat hal-hal yang tidak terlalu eksplisit. Sepiring nasi yang tengah kita makan. Petani yang bekerja keras menumbuhkannya. Orang-orang yang membantu menuai. Orang yang menyediakan pupuk. Orang yang membeli beras dari petani. Orang yang memindahkan beras sampai ke toko. Orang yang menjual beras. Orang yang membeli beras. Orang yang menanaknya untuk kita. Orang yang menyediakan nasi ini di depan kita.

Itu baru nasi. Lihat makanan lain yang kita makan, lihat perangkatnya, piring, sendok garpu, tempat duduk, meja, lampu, dan atap yang menaungi kita. Berkontemplasi atas proses yang sama. Dan orang-orang yang menemani kita menikmati makanan ini.

Lihat lebih jauh dari sekedar manusia. Udara yang kita hirup. Segarnya air untuk mengatasi dahaga. Burung-burung di sekitar. Bunga-bunga. Semua merupakan kenikmatan sendiri buat indra kita.

Lihat betapa banyaknya yang telah kita terima.

Jadi ketika kita melakukan sesuatu buat orang lain, kita tidak melihatnya seperti mereka berhutang kepada kita. Kita tidak melihat kita telah berjasa bagi mereka.K

Karena mereka sudah melakukan dan memberikan banyak kepada kita.Jauh lebih banyak. Lihat tindakan kita sebagai ungkapan rasa terima kasih, sebagai balas jasa kepada mereka, orang-orang di sekitar kita, kepada masyarakat dan kepada alam.

Tentu ada orang-orang atau peristiwa yang menimbulkan rasa sakit atau amarah dalam diri. Tapi kalau kita mulai melihat betapa banyaknya orang yang telah berjasa pada kita, betapa kita telah menerima begitu banyak, kita mulai memahami, bahwa jumlah orang yang telah memberi jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang menimbulkan rasa sakit dan amarah. Jumlah itu menjadi insignifikan.

Bersyukur. Mulai lakukan sesuatu. Apapun itu.

Monday, August 13, 2007

Persona: Pak Broto dan Pak Pujo

[English]
Akhir pekan lalu saya ke Solo, pulang kampung bersama ibu dan kakak-kakak saya. Salah satu tujuan kakak saya adalah hunting barang antik untuk rumahnya. Dia mendapat referensi satu orang ini, namanya Pak Brotoseno.

Sesampai di rumah beliau, ternyata beliau sudah tidak bergerak di bidang barang antik, tapi lebih ke produksi barang-barang dari kayu. Dari gayanya sudah tampak, beliau mencintai pekerjaannya. Dan hanya mengerjakan hal yang ingin ia kerjakan. Indahnya.

Saya berjalan ke lantai atas rumahnya. Saya bertanya ini ruang apa. Ternyata beliau mengajar meditasi tiap malam. Wah!

Tanpa berpikir lama saya katakan bahwa saya akan kembali malam itu. Dan saya datang. Kami (saya, kakak saya, pak broto dan bapaknya, pak pujo) berbincang. Topik malam ini adalh dasar-dasar meditasi.Pak Pujo yang memimpin.

Kami diajarkan dan mempraktekkan beberapa teknik meditasi. Katanya seorang meditator harus bisa melewati lima hal: keserakahan, kemarahan, kemalasan, keragu-raguan dan ketakutan.

Yang menarik adalah keserakahan. Karena serakah yang fisik sudah kita kenal. Tetapi banyak serakah yang lebih halus yang suka terlewat dari radar kita. Ketika kita bahagia, kita tidak mau hal itu berakhir. Itu sudah keserakahan.

Ketika kita merasa tenang, kita tidak ingin ketenangan itu berakhir. Itu merupakan keserakahan tersendiri. Weleh.

Satu paradoks yang ia utarakan adalah: untuk merasakan ketenangan yang sebenarnya, kita harus menghilangkan keinginan untuk tenang. Satu hal yang patut saya renungi sebelum saya bisa mulai memahaminya.

Baik Pak Broto maupun Pak Pujo tidak menarik biaya atas sesi yang mereka adakan tiap malam. Bahkan mereka menyediakan makan dan minum sekedarnya. Katanya "Saya dulu gak bayar untuk dapat pembelajaran ini semua. Jadi saya anggap apa yang saya lakukan adalah pemberian saya kembali." Sederhana dan sama sekali tidak ada jumawanya.

Jam sembilan, beliau menengok ke saya bilang, "saya rasa cukup sekian?". Dan sesi pun berakhir. Ketika saya pamit pulang, Pak Pujo lagi 'ngejongrok' di depan TV, menunggui program TV yang ingin ia tonton. Kepolosan yang luar biasa.

Sederhana dalam bersikap dan bertutur, tetapi kebijakan dan ketulusan tetap terpancar dari dirinya. Saya datang ke tempatnya untuk mencari barang antik, yang saya dapatkan adalah seorang guru baru. Terima kasih.

ps: Dia mengingatkan aku ke dirimu, pa. Sampai ke gerak tubuhnya. Tapi yang pasti keterus-terangannya, kesederhanaannya, kerendahan hatinya, dan kebijakannya.

Wednesday, August 08, 2007

Kumis atau klimis?

[English]
Hari PILKADA saat Jakarta nyoblos memilih gubernur barunya.
Jadi yang mana nih? *deg-degan*

Standar ganda

[English]
Malam ini saya ngobrol lama dengan seorang teman. Obrolan yang menyenangkan. (Well, sebenarnya dengan dia, setiap obrolan selalu menyenangkan). Kita ngobrol banyak hal. Ada satu subjek yang terus mengusik di benak. Moga-moga dia gak keberatan.

Tahu donk rasanya kalau kita terlalu deket pada suatu subjek atau seseorang, maka pandangan kita sudah tidak objektif lagi, persepsi menjadi agak terpengaruhi. Kita mulai memiliki standar ganda. Saya akan menggunakan contoh yang cukup umum.

Kita gak suka kalau mendengar satu orangtua berteriak ke anaknya atau melihat seseorang berlaku kasar pada orang lain. Tapi sayangnya kita pun kadang meninggikan suara ke anak dan memperlakukan orang lain dengan kurang hormat.

Kita tahu sebagai orangtua kita harus membantu anak supaya mandiri. Tapi kadang kita tergoda untuk terlalu melindungi mereka.

Kita bilang kita menghargai perbedaan yang ada di diri orang lain, misalnya dalam hal agama atau kecenderungan seksual. Tapi bagaimana kalau salah seorang keluarga terdekat kita ingin ‘berbeda’? Apakah kita juga bisa menghargainya?

Kita bilang ke orang lain: santai donk, nikmati hidup, jangan kerja terlalu keras. Tapi kita sendiri?

Mungkin itu saat-saat kita butuh orang lain untuk mengembalikan kita ke jalan yang lurus. Ketika kita harus benar-benar mendengarkan nurani. Terima kasih, teman.

Tuesday, August 07, 2007

Guru-guru kehidupan

[English]
Salah satu karunia terbesar yang saya rasakan dalam hidup ini (selain keluarga saya) adalah hal-hal yang bisa saya pelajari hanya dengan ‘menonton’ orang lain.

Orang-orang yang memperjuangkan hidupnya hanya dengan kedua tangannya. Mereka tidak berasal dari keluarga berada, tapi lihat betapa mapannya mereka sekarang secara finansial. The survivors.

Orang-orang yang begitu puas akan hidupnya, yang begitu bersyukur. Orang-orang yang penuh dengan kasih dan damai. Orang-orang yang memiliki hati yang begitu sederhana dan semangat tiada henti untuk menolong orang lain.

Orang-orang yang tidak peduli dan begitu rakus. Orang-orang yang selalu mengeluh tentang segala hal. Orang-orang yang terus berlari seperti seekor anjing yang berlari berputar mengejar ekornya sendiri.

Orang-orang yang telah melalui saat-saat berat dalam hidupnya dan berhasil. Yang telah mengalami neraka hidup dan tetap bertahan. Orang-orang yang mengalami berbagai cobaan namun kini hanya bisa sekedar bertahan untuk hidup. Dan mereka yang tidak bisa bertahan sama sekali – disadari atau tidak.

Sebuah karunia yang besar karena saya hanya perlu menonton dan tidak perlu melalui apa yang mereka lalui. Karena kalau saya juga harus merasakannya, saya tidak yakin saya bisa sekuat mereka.

Guru-guru besar dalam hidup saya. Saya hanya tinggal menonton. Dan menarik pelajaran darinya.

Thursday, August 02, 2007

Iyengar yoga retreat

[English]
Semua yang menarik dalam hidup ini dimulai dengan “kebetulan”. Tadinya saya tidak berniat ikut yoga retreat bersama Ann Barros di Ubud, Bali.

Tapi ‘kebetulan’, teman saya terus mengajak, ‘kebetulan’ saya ikut yoga retreat lain yang membuat saya mulai berubah pikiran, dan ‘kebetulan’ workload kerja saya juga semakin membuat saya berpikir “enak kali ye break sebentar..”

Dan tidak ada yang disesali sama sekali. Baru kali ini saya berkenalan dengan Iyengar yoga, yang menekankan keakuratan serta kesejajaran pada setiap postur.

Dan Ann yang sudah sekitar 30 tahun mengajar benar-benar sangat tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan murid-muridnya. “Hargai keterbatasan kita”, “Berusahalah sesuai dengan keterbatasan itu.”

Tidak ada TV, tidak ada telepon (walau ada satu deadline artikel yang harus saya tulis, tidak apa). Yang ada hanya alam dan teman-teman yang menyenangkan.

Namun hiburan terindah selalu datang dari keheningan alam. Pada saat kita diam memandang pemandangan sekitar bebas dari polusi—udara maupun kebisingan. Ubud memang magis, entah kenapa.

Di akhir setiap kelas, kita selalu saling berucap salam “Namaste”, yang berarti “saya menghormati Keagungan dalam dirimu, yang penuh dengan Cinta, Cahaya dan Kebenaran hakiki. Saya menghargai relung di hatimu dan di hatiku yang membuat kita menjadi Satu.”

Mungkin memang ini jalan saya. Saya merasa nyaman bersama yoga, sebagai ajang latih diri untuk mencapai hening dan semedhi, atau sekedar membugarkan dan melenturkan tubuh. Disadari atau tidak. Diniatkan atau tidak.

Catatan: foto menyusul. Moga-moga.

Tuesday, July 31, 2007

Rumah

[English]
Hari ini terasa begitu melelahkan. Saya pikir saya bakal mau sakit. Rasanya ingin pulang dan ketemu sama keluarga. Kemudian, saya berjalan pulang. Perjalanan terasa berjalan lambat. Namun, tubuh berangsur membaik, sedikit demi sedikit.

Akhirnya, saya tiba di rumah. Dan entah bagaimana, terasa lega. Seperti beban berat telah diangkat dari pundak saya. Saya ngobrol dengan keluarga. Tertawa. Makan malam.

Senangnya berada di rumah. Senangnya punya tempat yang bisa kita sebut “rumah”. Terima kasih.

Thursday, July 19, 2007

Worth it gak sih

[English]
Seorang temannya teman lembur setiap hari. Tiap hari dia terus berada di kantor hingga larut. Suatu malam dia meng-sms manajernya, "saya lelah sekali." Dia meng-sms manajernya dua kali. Akhirnya, dia pulang.

Setelah itu, teman-temannya mendengar, sang teman telah meninggal dunia. Kalau sudah seperti ini, jadi bertanya-tanya dalam diri, worth it gak sih semua ini?

Saturday, July 14, 2007

Dibantu gak?

[English]
Teman saya ada yang diberikan kelebihan dari segi materi. Satu kelebihan yang menimbulkan dilema. Satu kelebihan yang sering disalahgunakan oleh orang lain.

Orang lantas menganggap dia gudang uang dengan persediaan tak terbatas. Ada saja ‘teman’, keluarga, sanak famili yang datang ke dia untuk pinjam atau meminta uang. Dengan alasan beragam tentunya. Sakit. Anak sekolah. Bayar sewa rumah. Pelunasan hutang yang lain (dengan bunga). Buka usaha.

Kalau sudah begitu, teman saya bingung, bantu gak ya? Bukannya pelit, dia hanya bimbang. Gimana tahu kalau orang yang datang itu jujur dan tidak neko-neko? Kok alasan pinjam uangnya seperti itu? Denger-denger dia agak 'gak bener'. Apalagi kalau orang itu meminta bukan untuk pertama kalinya.

Saya mengerti kebimbangannya. Saya ikut bingung. Dibantu gak ya?

Tetaplah bermimpi, teman-teman

[English]
Senang rasanya mendengar teman dengan mimpi-mimpinya. Ikut semangat rasanya. Saya yakin sekali semua itu bermulai dari mimpi. Tapi ndak boleh berhenti di situ. Mimpi harus menjadi objektif, dengan target. Terus ada langkah-langkah menuju ke sana.

Karena itu setiap ada orang menceritakan mimpinya kepada saya, saya cenderung mengatakan “bagus tuh. Wujudkan donk.” Kadang saya berpikir saya lebih percaya pada kemampuan teman-teman saya ketimbang mereka terhadap diri mereka sendiri.

Kehidupan sering membuat kita takut berangan. Membuat kita memilih mengambil langkah “pragmatis” dengan segala alasan ‘logis’. Akhirnya, kita cenderung status quo, walau disertai dengan letupan keluhan di sana-sini. Percuma.

Lantas otak saya berputar bagaimana membantu mimpinya jadi kenyataan. Entah itu sumbang ide, atau saya mencari orang yang kira-kira bisa membantu dia mewujudkan mimpinya.

Ada teman yang ingin buat warung kopi. Hayuk. Buat spiritual healing center di luar kota. Hayuk. Buat center serupa di dalam kota. Hayuk juga. Buat gerakan untuk mengingatkan kita tentang nilai-nilai masyarakat yang terlupakan. Boleh juga.

Buat sekolah gratis. Dengan senang hati. Buat perusahaan yang membantu perusahaan lain untuk mempertajam kegiatan sosialnya. Tob. Jadi penulis. Kenapa tidak? Bahkan ada yang mau jadi gubernur. Boleh juga, negara butuh orang seperti dia.

Orang hanya terbatasi oleh angannya. Teruslah bermimpi.

.mulailah melakukan sesuatu. Apa pun itu.

Rumah aman

[English]

Punya gak tempat dimana kita ngerasa bisa nangis dan curhat dengan bebasnya, tanpa takut orang melirik setengah mata dengan pandangan curiga dan penuh penilaian? Saya punya. Dulu saya punya. Gereja Katholik.

Kalau ditilik dari KTP, saya bukan seorang Katholik. Tapi saya merasa diterima di tempat itu. Saya dulu sering ke sana. Bahkan ada masa-masa saya datang setiap hari. Mungkin jika dilihat dari sejarah, gereja merupakan rumah aman buat banyak orang. Gereja merupakan rumah aman juga buat saya. Dulu.

Tapi sekarang, di sini, dimana agama ini bukan merupakan mayoritas, dimana kita merasa kita kenal sama semua orang, dimana kita tahu orang begitu sensitif terhadap ritual-ritual lintas agama, tiba-tiba rumah aman terasa tidak seaman itu lagi.

Kangen.

Thursday, July 12, 2007

Taufik Savalas II

[English]
Masih meneruskan topik yang mirip. Dari sisi lain. Sesampai di rumah, saya menyalakan TV. Kata ibu saya, orang yang melayat banyaknya luar biasa. Alhamdulillah, subhanallah. Begitu besar perhatian orang terhadap kematian seorang Taufik Savalas.

Acara di channel itu selesai, saya tekan tombol remote control TV saya, berpindah ke Metro TV. Pas saat itu diberitakan adanya kapal laut tenggelam, bersama 120 orang penumpangnya. Baru 30 ditemukan, dua diantaranya meninggal dunia.

120 orang menghilang dan kemungkinan meninggal dalam kecelakaan ini. Saya bertanya-tanya berapa besar perhatian orang terhadap nasib 120 orang ini? Atau 30 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan di Indonesia.

Taufik Savalas I

[English]
Pagi ini orang-orang dikejutkan oleh meninggalnya Taufik Savalas, selebriti jenaka yang terkenal baik dan rendah hati, akibat kecelakaan. Semua datang dari Tuhan dan semua akan kembali padanya.

Saya terharu sekali mendengar kesan-kesan yang dicetuskan oleh teman-teman Taufik yang diwawancara. Simpati dari masyarakat terhadap kematian beliau yang begitu mendadak ini tampak sekali dalam kehebohan berita yang ditayangkan di TV dan diperdengarkan di radio.

“Dia bukan orang besar, tapi dia orang baik,” kata Ulfa, salah satu sahabatnya. Sabar dan menyenangkan buat semua orang.

Menyenangkan buat semua orang. Itu juga topik obrolan yang saya dengar di radio sepulang saya dari kantor. Pesan hari ini, rupanya. Menyenangkan, nyaman buat semua orang.

Kematian seseorang selalu membuat kita berpikir tentang kematian kita sendiri. Kira-kira, kalau kita meninggal, kesan apa yang tertanam di benak teman atau keluarga kita?

Wednesday, July 11, 2007

"Nanti kalau kaya, aku mau aktif di kegiatan sosial"

[English]
Saya sering sekali mendengar kata ini. Terlalu sering. Masalahnya, orang merasa gak kaya-kaya. Orang selalu merasa terlalu sibuk dengan segala prioritas lain sehingga tidak pernah terlibat dengan segala yang berhubungan dengan kegiatan sosial.

Balik ke masalah "kaya". Saya rasa semua orang tahu bahwa membantu tidak perlu berarti dengan uang, jadi tidak perlu menunggu kaya. Tadi siang, baru saja saya mendiskusikan ini dengan teman saya. Kemudian saya bercerita..

Ada teman saya, Prita. Dia suka membuat nasi bungkus untuk orang-orang tuna wisma. Dan dia membuat sendiri nasi bungkusnya. Selain hemat, itu juga "biar lebih terasa".

Suatu hari, tetangganya datang kepada Prita. Tetangganya itu orang yang hidupnya pas-pasan. Sang tetangga bilang, "Mbak, saya gak punya banyak uang, jadi saya tidak bisa menyumbang uang."

Dia kemudian menambahkan, dengan sangat tulus, "Tetapi boleh gak saya membantu memasakkan dan membagikan nasi bungkus itu?"

Tidak perlu uang memang. Tenaga juga bisa. Pemikiran juga bisa. Niat pun sudah disyukuri. Senyum pun amal.

.mulailah melakukan sesuatu. apa pun itu.

Kembali ke sekolah

[English]
Minggu depan anak-anak sudah kembali ke sekolah. Anak-anakmu atau ponakanmu pada mulai sekolah lagi gak?

Boleh saya bertanya, bagaimana dengan anak-anak supir, pembantu, office boy, satpammu? Mereka juga kembali ke sekolah? Sudah ditanyakan?

Gambar: Sekolah Istiqon-nya Ibu Sudan.


.mulailah melakukan sesuatu. apa pun itu.

Semarang

Baru saja kembali dari Semarang untuk urusan kantor. Perjalanan yang menyenangkan. Ada teman-teman di Semarang. Perjalanan yang menyenangkan.
Pic: Simpang Lima, dilihat dari lantai 7 Hotel Ciputra.

Sunday, July 08, 2007

Catatan: Quraish Shihab – Hal yang disukai-Nya

[English]
Kita suka beribadah dengan apa yang kita senangi, dan bukan yang disenangi Allah. Senang melakukan puasa sunnah, shalat tahajud, tetapi tetap dengki, kikir dan berbohong. Lebih senang menghias diri ketimbang membersihkan diri.

Padahal, dalam sebuah hadits kudtsi, disebutkan bahwa, apabila seseorang mendekati-Ku dengan apa yang Aku senangi, maka Aku akan senang padanya. Apabila Aku telah senang pada seseorang, maka penglihatan-Ku-lah yang digunakan untuk penglihatannya, pendengaran-Ku-lah yang digunakan untuk pendengarannya, tangan-Ku-lah yang digunakan untuk menggenggam olehnya, dan kaki-Ku-lah yang ia gunakan untuk berjalan.

Karena itu, penting untuk mengetahui hal-hal apa yang disukai Allah. Yang paling banyak diulang dalam Al Qur’an, adalah Allah senang pada orang-orang mukhsinin yang:
- Adil, yaitu adil yang menyenangkan kedua pihak yang berselisih.
- (tetap) Berbuat baik pada orang-orang yang telah menyakiti hatinya.

Catatan lengkap dapat di-download dari sini.

Cerna apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Setiap orang sesuai dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhannya masing-masing.

Untuk mama

[English]
Saya mengutip kutipan ini Mbak Lita. Tulisan ini aslinya dibuat oleh Ira Lathief pada bulan Agustus 2006 dengan judul "Dont know what i've got till it's gone..."

Satu setengah tahun yang lalu Mama ku pergi menghadap Tuhan. Sangat banyak hal2 yang belum sempat aku sampaikan kepadanya....
"Ma...akhirnya ira diterima kerja...ini berkat doa Mama"
"Ma...ini gaji pertama ira ...semuanya hadiah buat Mama aja"
"Ma...ira bentar lagi dapat bonus ..nanti gajian kita jalan-jalan ya"

Juga, pada saatnya nanti, tak bisa lagi aku sampaikan kepadanya...
"Ma...kenalin, ini calon suamiku..."
"Ma...mohon do'a restunya, ira mau menikah..."
"Ma...ini cucu Mama, ajarin ira jadi ibu yang baik seperti Mama ya..."

Arti seorang ibu seperti udara bagi kehidupan manusia. Begitu besar arti kehadirannya... namun seringkali kita tidak menyadari.... Sampai saat kita harus kehilangannya!

Dipersembahkan untuk semua ibu yang ada di dunia ini. Peluk cium dan cinta untuk ibuku tersayang.

Postscript: Saya mengirimkan ini kepada seorang teman. Jawabannya: sayangilah ibumu, selagi dia masih bersamamu.

Bermimpilah

[English]
Masih dari wawancara Yos Luhukay. Orang hanya dibatasi dengan angan, dengan mimpi kita. Seberapa berani kita bermimpi? Mungkin kebanyakan dari kita bersikap pragmatis, realistis. Terjebak dengan keadaan sekarang.

Jangan terbatasi dengan keadaan. Mulai dari akhir. Coba dibayangkan, punya visi, kira-kira apa yang ingin kita capai, di usia tertentu, dalam hal pekerjaan, pribadi, keluarga, dan spiritualitas. Setelah itu baru, telusuri balik apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya.

Apakah apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang kita visikan? Tentukan sampai kapan kita akan ada di tempat kita sekarang, dengan jabatan akhir apa.

Kata-kata ini membuat saya berpikir. Saya sudah terbayang apa yang saya ingin lakukan. Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, apa yang sudah saya lakukan untuk mencapainya? Rasanya tidak terlalu banyak. Belum cukup banyak.

Sedih jadinya. Eh, gak boleh sedih ya. Harus berusaha.

Jadikan dirimu “obsolete”

[English]
Apa terjemahan “obsolete” dalam Bahasa Indonesia? Sudah tak terpakai lagi, karena fungsinya sudah tergantikan oleh yang lain. Nah, apa tuh bahasa Indonesianya? Usang?

Apa pun kata dalam Bahasa Indonesianya, saran yang brilian ini keluar dari mulut seorang Yos Luhukay dalam wawancara di Trijaya FM Jumat sore lalu.

Dimana pun dirimu berada, jadikan dirimu ‘obsolete’. Latih orang-orang di sekitarmu untuk dapat melakukan apa yang biasanya kaulakukan, sehingga kamu menjadi ‘obsolete’ (dan kemudian bisa pergi kapanpun semaumu).

Baru-baru ini saya membantu mempersiapkan suatu acara proyek saya. Yang saya lakukan hanyalah memberikan masukan sedikit. Selain itu, semua dilakukan oleh teman-teman saya.

Saya senang dan bangga melihat acara tersebut berjalan lancar. Saya merasa saya telah menjadi ‘obsolete’. Dan saya merasa senang.

-Mungkin kini saya bisa pergi. Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk pergi. Tanda kedua.-

Dalam kenangan: Bu Zul

[English]
Minggu lalu ibu saya kehilangan seorang sahabat, Bu Zul. Terakhir saya bertemu dengan Ibu Zul adalah sekitar dua minggu lalu. Keluarga saya (12 orang) baru saja selesai sarapan bareng di salah satu rumah makan dekat rumah. Ibuku bersiteguh bahwa semua harus mampir ke rumah Ibu Zul, lengkap dengan oleh-oleh pancake dari rumah makan itu.

Ketika kami datang, Bu Zul sedang tiduran di kamarnya. Beliau tampak lebih lemah dari biasa. Saya agak kaget. Dia tampak.. Satu-satu dari kami menyalami beliau, dan untuk setiap dari kami, Bu Zul mengucapkan doanya, berbeda untuk tiap orang.

Tetap saja, cukup kaget juga mendengar berita bahwa beliau sudah tiada. Malam meninggalnya, beliau masih menelepon teman-temannya. Tengah malam, semua anaknya dipanggil untuk datang ke rumahnya.

Baru-baru ini beliau agak berselisih paham dengan salah satu anaknya, alhamdulillah hubungan sudah membaik sebelum ini. Kepada anak yang satu ini, beliau meminta maaf. Anaknya bilang, “Bukan mi, saya yang salah. Saya yang minta maaf.”

Bu Zul meminta anaknya untuk berzikir. Anaknya pun mengucapkan zikir dan Ibu Zul mengamini setiap kalimatnya. Setelah itu, Ibu Zul berdoa dalam Bahasa Jawa. Dan langsung menghembuskan nafas terakhir. Cara pergi yang begitu indah.

Semoga Tuhan memberikan kedamaian dan cahaya-Nya dalam sisa perjalanan beliau. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang begitu baik dan setia bagi keluarga saya.

[Gambar: melati, bunga kesayangan Bu Zul. Diambil dari sini.]

Thursday, July 05, 2007

Estafet: Rockin' Girl Blogger Award

[English]
Terima kasih ya Han, sudah memberikan tongkat estafet Rockin’ Girl Blogger Award. Lima perempuan:

Pilihan pertamaku, jatuh pada dirimu sendiri. Hanny dengan berada di sini-nya. Dulu saya punya buku berjudul “Write from the heart”. Kalau saya baru membaca, Hanny sudah melakukannya. Menulis dengan segenap hati.

Kedua, sama dengan pilihan Hanny, Mbak Lita dengan precious moments-nya. Blog yang didedikasikan untuk anaknya. Jarang sekali ada blog yang membuat saya menitikkan air mata. Cinta Ibu memang sepanjang zaman. Precious.

Ketiga, Han(n)y yang lain. Suryatmaning Hany dengan blog matahari dan bintang-nya. Semua hal itu menyenangkan dan menarik. Hidup itu anggap ringan dan santai saja. Pisang goreng di warung sebelah rumah pun terasa begitu menyenangkan kalau Hany yang menulis. Gak penting tapi kok ya sangat menarik. Gelo tea.

Keempat, mungkin tidak bisa dikunjungi oleh umum karena ada di friendster. Punya-nya Anne dengan Tequila shot for the soul-nya. Bisa dikira-kira gak isinya apa? Cool name. Cool pics. Cool girl.

Kelima (mulai mikir nih, siapa ya), Saya pilih Dee. Tapi bukan blog dia yang serius, Dee sebagai seorang yang kontemplatif rasanya sudah dikenal. Dee dengan pikiran-pikirannya yang gak penting, itu lebih menarik. Blog baru tapi kelihatan idenya ok banget. Menunjukkan bahwa banyak sekali gurauan-gurauan kecil dalam hidup yang terlewat begitu saja. Sayang.

Baiklah, silakan melanjutkan estafet.

Tuesday, July 03, 2007

Dana hibah untuk ide bisnis inovatif

[English]

Ada hal-hal yang memang patut untuk dipromosikan.


SENADA, sebuah proyek peningkatan daya saing Indonesia yang didanai USAID, meluncurkan dana hibah senilai 1.000.000 dolar Amerika bagi perusahaan, lembaga dan organisasi yang memiliki gagasan inovatif untuk menjadikan Indonesia lebih berdaya saing.

Inovasi yang diusulkan dapat berupa produk dan jasa baru yang dapat menambah nilai atau mengurangi biaya; inovasi adalah prakarsa yang mendapatkan atau mempertahankan pelanggan atau memberikan layanan baru, atau gagasan yang mampu menciptakan lingkungan yang lebih ramah usaha.

Apapun inovasinya, yang terpenting adalah manfaat dari inovasi tersebut tidak hanya dirasakan organisasi penerima hibah, tetapi juga memiliki dampak lebih luas terhadap peningkatan daya saing suatu rantai nilai industri.

Lihat websitenya Business Innovation Fund SENADA.

.mulailah melakukan sesuatu. apapun itu.

Sunday, June 24, 2007

kebaikan, kemurahan hati

[English]

Seperti biasa, saya punya 'kepercayaan' bahwa apa pun yang terjadi pada saya, yang diucapkan kepada saya, terbaca oleh saya dua kali, saya merasa itu adalah pesan khusus buat saya.

Minggu ini giliran kata-kata "kebaikan, kemurahan hati."

Hanya itu yang bisa saya katakan sekarang. Saya masih mencoba mencerna kenapa pesan itu disampaikan kepada saya.

Friday, June 22, 2007

Kemarin

[English]

Kemarin itu bukan salah satu hari favorit saya di kantor. Rasanya terlalu banyak orang yang melewati tenggat waktunya (deadline maksudku). Dan mereka yang mengirimkan hasil kerjanya pun, hasilnya kurang memuaskan.

Bahkan ada satu saat dimana saya udah gak bisa ngomong apa-apa. (kebayang gak: saya, gak bisa ngomong apa-apa). Jadi bukannya saya mengeluarkan serentetan pertanyaan "kenapa" seperti biasanya, satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut saya hanyalah "Oh for God's sake". Saat saya berhenti bertanya, justru merupakan saat untuk mulai merasa khawatir.

Waktunya rehat kopi.

post script: Saat-saat terbaik kemarin adalah ketika saya mau keluar dari pintu kantor, penerima tamu di kantor saya yang selalu menghibur itu melakukan gerakan-gerakan biasa (atau tidak biasa?) untuk mengucapkan selamat jalan, dengan senyuman (cengiran, cenderung nakal) seperti biasa. Dia mungkin gak sadar betapa dia telah membuat hari saya menjadi jauh lebih menyenangkan.

Namun, saat terbaik dari yag terbaik untuk kemarin adalah ketika saya pergi ke rumah baru kakak saya sepulang kerja dan kumpul bareng keluarga saya. Sekumpulan orang aneh yang paling menyenangi dan menyenangkan saya. Dan selalu ditemani dengan berbagai makanan plus cemilan nikmat.

Thursday, June 14, 2007

Cara membicarakan atau memperlakukan orang

[English]

Bagaimana kita membicarakan seseorang ketika orang itu ada di sekitar kita memang penting.
Tapi lebih penting lagi adalah bagaimana kita membicarakan seseorang ketika orang itu sedang tidak ada di sekitar kita.

Bagaimana kita memperlakukan teman kita memang penting.
Tapi lebih penting lagi (dan lebih menarik) adalah bagaimana kita memperlakukan musuh kita.

Karena dua hal itu yang mendefinisikan karakter kita.

Apapun yang kita katakan tentang seseorang, harusnya kita bisa mengatakan hal yang sama (dengan cara yang sama pula), ketika orang itu ada di depan kita. Kalau tidak, kita sebenarnya sudah melewati batas.

Jangan pernah bilang hal ini susah diubah. Jangan juga kasih alasan bahwa “emang gitu, namanya juga manusia”. Karena ini semata adalah masalah latihan. Masalah kebiasaan.


Arfan Pradiansyah. Trijaya FM. Tadi sore.



PS: Pikiran menghasilkan maksud; maksud menghasilkan tindakan; tindakan membentuk kebiasaan; Kebiasaan menentukan karakter; dan karakter memastikan nasib.--Tryon Edwards

Wednesday, June 13, 2007

Ssst

[English]

Apa yang harus dilakukan apabila kita tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain? Apa yang harus dilakukan kalau (kita tahu) kita tidak boleh kasih tahu hal tersebut ke siapa pun juga? Kita tutup mulut rapat-rapat. Terima kasih atas kepercayaannya. Nya.

Tapi btw, Bapak Thich Nhat Hanh yang terhormat, kayaknya saya butuh pulau teduh Sati, Smarti, dan Panya-mu untuk membantu saya.

Sunday, June 10, 2007

Persona: Mbak Lina

[English]

Saya senang sekali kalau bisa ketemu sama orang-orang inspirasional. Saya ketemu satu diantaranya minggu lalu: instruktur yoga saya Mbak Lina dari Balance Yoga, Yogyakarta.

Kalau dilihat penampilan sepintas, Mbak Lina tampak sederhana, layaknya seorang ibu Jawa. Namun impresi ini meningkat sangat kuat seiring dengan cerita-cerita tentang dirinya.

Saya akan cerita satu hal tentang beliau. Mbak Lina punya anak dengan downsyndrome. Tapi dia tidak menyerah. Dia tetap dengan sikap positifnya dan pergi ke sana kemari untuk membantu anaknya bertumbuh.

Anaknya tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Namun Mbak Lina tidak berhenti di situ. Ia mendirikan sebuah yayasan untuk membantu keluarga dengan anak downsyndrome.

Dia mengatakan bahwa dalam kasus seperti ini, kuncinya ada di sang ibu. Ibu yang akan membuat anaknya bertumbuh atau sebaliknya. (Salam hormat untuk semua ibu, peluk cium untuk Ibu saya).

Saya bercerita tentang Mbak Lina ini ke teman saya. Say bilang yang terpikir oleh saya ketika bertemu dengan si Mbak Lina ini adalah: weleh, saya belum ada apa-apanya. Tanggapan teman saya ketika itu adalah: wah kalau itu mah gua sering merasakannya, bahwa gua belum ada apa-apanya. He he, tertampar rasanya saya.

Saturday, June 09, 2007

Hening

[ English]

Saya punya ‘kepercayaan’ bahwa kalau ada sesuatu yang terjadi atau saya dengar sampai dua kali, apalagi kalau kedua kejadian berdekatan, maka saya merasa itu adalah ‘pesan’ buat saya, sesuatu yang harus saya renungi.

Minggu ini, sesuatu itu adalah: hening. Hening di dalam diri. Keheningan murni.

Kamis sore, saya mendengarkan radio talk show yang kebetulan membincangkan tentang hening. Kemudian, tadi malam obrolan saya dengan teman-teman pun salah satunya menyinggung topik hening.

Siapa pun yang pernah membaca blog saya atau mengenai saya tahu bahwa saya sangat menyukai hal-hal yang berbau spiritualitas, apa pun arti kata spiritualitas itu bagi Anda. Jadi topik hening bukanlah sesuatu yang baru, secara teori. Secara praktek, hidup saya masih dipenuhi dengan keterburu-buruan dan kebisingan.

Saya meng-sms pertanyaan saya ke radio. Talk show sudah hampir selesai, jadi mereka hanya membacakan pertanyaan saya secara cepat. Satu-satunya tanggapan yang saya dapatkan dari si pembicara hanyalah “itu masalah teknis ya”.

Tanggapan yang pas banget buat saya. Mungkin saya memang terlalu stuck dengan hal-hal teknis, padahal harusnya saya hanya perlu membiarkannya, membiarkan diri. Dalam keheningan.

Setelah menulis ini, saya lantas mencari kata “hening” di google dan wikipedia. Tampaknya perjalanan saya masih sangat jauh.

Wednesday, May 23, 2007

Pendidikan dan UKM

[English]

Saya inget suatu hari pernah menyusuri bantaran kali yang ada di Jakarta, tempat rumah-rumah kumuh berdiri. Saya bertanya ke teman saya, gimana cara menghilangkan rumah-rumah itu. Dia cuma bilang, entaskan kemiskina. Bener banget. Bagaimana caranya?

Pendidikan dan pengembangan UKM. Saya benar benar benar percaya bahwa dua hal itu akan membantu membangkitkan kembali negara saya. Jangan minta saya untuk memberikan penjelasan panjang lebar alasan kuatnya. Karena saya tidak punya.

Pendidikan. Tidak perlu dijelaskan toh.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mayoritas perusahaan di Indonesia dikategorikan sebagai usaha kecil atau menengah. Mayoritas. Terbayang gak kalau kebanyakan dari mereka berkembang dan maju? Kebayang betapa kuatnya gak ekonomi kita?

Kembali, gimana caranya?

Pertanyaan bernilai sejuta dolar. Saya akan mengutip teman lain ketika saya bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan?” Dia bilang: lakukan apa yang kita bisa. Pas banget. Kita kebanyakan mikir. Berhenti berpikir, mulai bekerja.

Apa yang bisa kita lakukan? Banyak sekali. Lihat keluarga orang-orang yang kerja untuk kita. Office Boy. Supir. Pembantu. Pedagang kaki lima yang tiap hari keliling melewati rumah kita.

Punya waktu luang, ketrampilan tertentu? Jadi relawan. Ikutlah kegiatan sosial di sekitar kita, apa pun yang kita anggap paling sesuai buat kita, gak terlalu penting apa itu.

Suka nulis? Ya nulis donk. Dimana pun.

Punya uang? Sumbangin. Kurangi jumlah kopi starbucks yang dibeli tiap bulan, kurangi empat saja, dan berikan uangnya ke orang-orang yang membutuhkan.

Jadi orang yang benar-benar profesional dalam pekerjaan, apa pun pekerjaan kita. Gak ada tuh korupsi. Gak ada istilah mengeluh. Kalau kita konsultan, ya berikan konsultasi yang baik. Kalau kerjanya jadi perencana bisnis, ya rencanakan dengan benar. Kalau jadi kasir, hitung dengan benar. Punya kerja? Kalau gitu kita termasuk yang beruntung.

Senyum dan sapa orang yang membukakan pintu buat kita, orang yang mbersihin meja kita tiap hari, yang menyupiri kendaraan kita ke kantor, orang-orang yang tiap hari kita temui di lift kantor.

Kalau masih tetap ngerasa gak mampu membantu, minimal jangan perburuk situasi. Sudah terlalu banyak tanda-tanda yang diberikan. Apa lagi yang kita tunggu?

Mulailah melakukan sesuatu. Apapun itu.

Akhir pekan yang menyenangkan sekali..

[English]

Sebenarnya saya sudah berencana pergi dengan beberapa teman. Tapi mereka membatalkan di saat-saat terakhir. Saya cuma mengatakan “ya udah.” Dan langsung berpindah ke Plan B. Rencana B: pergi bareng para sahabat saya. ‘Kebetulan’ mereka memang berencana pergi ke tempat yang sama. Klop.

[Nanti ya saya upload fotonya]

“Gak marah loe?” beberapa orang bertanya.

Gimana saya mau marah, kalau Plan B saya adalah pergi bareng sahabat-sahabat saya? Bahkan mungkin saya harus berterima kasih sama teman-teman saya yang membatalkan rencana jalan-jalan kita itu.

Akhir pekan yang sangat menyenangkan. Terima kasih ya.

Tuesday, May 15, 2007

"Wah, saya tidak tau"

[English]

Saya membaca tulisan ini lebih dari sepuluh tahun lalu di Kolom zodiak Daily Mail Skotlandia. Sepuluh tahun silam, tapi saya masih mengingatnya. Kata-katanya begini:

"Buat kamu, kata-kata yang paling sulit terucap bukanlah "Maafkan saya", tetapi "Saya tidak tahu."

Saya tidak tahu apakah saya harus tertawa atau tersinggung membacanya. Kata-kata yang sering terucap dan terasa akrab di telinga seperti "Tau donk pasti", "Oh saya kenal tuh orang yang tahu hal itu", atau "Saya gak gitu yakin, tapi sebentar, saya cari tahu dulu."

Hal-hal yang saya lakukan untuk memperumit hidup.

Sunday, May 06, 2007

Catatan: Mi'raj--langit II dan III (oleh A. Chodjim)

[English]

Setelah sebelumnya membahas lapisan Adam, yang mencerminkan tingkat upaya kita untuk melepaskan diri dari kemelekatan pada dunia, kita memasuki lapisan ke-dua.

Saat mi’raj, pada lapisan langit ke-dua Muhammad bertemu dengan Isa dan Yahya. Yahya dalam bahasa Arab berarti hidup, sementara Isa diriwayatkan dapat menghidupkan orang mati.

Pada lapisan ke-dua kita mempelajari bagaimana—mencoba menjadi—manusia yang dapat memaknai hidup, dan bahkan memberikan ‘kehidupan’ kepada orang lain.
Beberapa hal yang dapat kita pelajari dalam lapisan Yahya dan Isa:
* Berserah diri.
* Tidak memihak kecuali kepada kebenaran.
* Sanggup menghadapi cobaan.
* Semua itu adalah milik-Nya.
* Bebas dari keterikatan materi.

Dari situ, kita memasuki lapisan ke-tiga – Yusuf: untuk melihat keindahan di balik keindahan.

Ada tujuh hal yang melatarbelakangi kecerdasan Yusuf (yang menunjukkan betapa tingginya kesadaran beliau):
* Melihat keindahan di balik keindahan.
* Lebih baik di penjara daripada mempermalukan orang.
* Menyelamatkan orang banyak daripada diri sendiri.
* Memaafkan dan tidak memiliki dendam.
* Hanya menerima tugas yang benar-benar dikuasai.
* Senantiasa menjaga tutur kata yang baik.
* Beragama yang bersih.

Semua ini proses. Pak Chodjim bilang, “Gak bisa sa’ det, sa’ nyet”. ☺ Tapi harus dimulai. Dan mulai dari diri sendiri, kalau bukan kita yang mau mulai, siapa lagi.

Hanya orang yang sudah dapat memaknai hidup dan memberikan kehidupan bagi yang lain (melewati lapisan Yahya dan Isa) yang bisa melihat keindahan di balik keindahan (lapisan Yusuf); dan hanya orang yang sudah bisa melebihi kehidupan material (lapisan Adam), yang bisa memberikan kehidupan bagi yang lain.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Saturday, May 05, 2007

27 tahun mengelola sekolah untuk anak tak mampu

[English]

Saya baru saya mengunjungi sekolah yang dikelola oleh teman ibu, Ibu Su’dan. Beliau bersama almarhum suaminya mendirikan sekolah ini tahun 1980 di bawah Yayasan Ittiqon untuk anak-anak kurang mampu di kawasan Jakarta Utara.

Mereka memulai dengan hanya kurang dari 10 tahun dengan bangunan gedek. Mereka mengunjungi rumah-rumah sekitar untuk meminta ijin pada para orangtua agar anaknya diperbolehkan sekolah. “Ah buat apa. Paling nanti anak saya juga jadi pemulung”.

Duapuluh tujuh tahun telah lewat. (Ampun, 27 tahun!). Kini sekolah menampung 800 murid SD dan SMP. Gratis. Beberapa kalau mau bayar, disilakan semampunya. Beberapa anak malah menabungkan uang jajannya untuk mencicil uang sekolah sebisa mereka.

Empatpuluh dua sosok luar biasa mengajar di sekolah ini, dengan ‘gaji’ jauh di bawah UMR. Mereka mengajar, membersihkan sekolah dan bahkan kalau dibutuhkan, memasak buat anak-anak muridnya.

Kadang-kadang, anak-anak mendapat sumbangan susu, nasi atau roti keju. Ibu Sudan bercerita kalau ada beberapa anak yang ketika itu belum pernah merasakan keju. Jadi begitu mereka diberi roti keju, mereka buang. “Asin, Bu,” ungkapnya jujur. Susu pun pada awalnya membuat para murid murus karena tidak terbiasa.

Saya begitu bangga ketika mendengar bahwa murid dari sekolah itu termasuk ranking lima besar murid dengan nilai UAS terbaik se-Jakarta Utara.

Murid-murid yang telah menyelesaikan tingkat SMA mendapat beasiswa untuk memasuki program D3 UIN Syarif Hidayatullah, untuk kemudian kembali ke sekolah sebagai pengajar. Satu siklus telah dilalui dengan mulia.

Kini sekolah Ittiqon baru selesai membangun dua buah kelas baru. Mereka telah dijanjikan oleh sebuah organisasi bantuan untuk membangun 15 kelas lagi .

Masih banyak yang harus dikerjakan. Ini wish list saya:
  • Pemberian susu atau nutrisi lain mingguan.
  • Pemeriksaan kesehatan anak didik.
  • Buku-buku atau alat pendidikan lain.
  • Gaji guru yang lebih baik.
  • Bonus untuk guru.
  • Gedung yang lebih memadai.
  • Dan harapan bahwa anak-anak ini bisa menjadi manusia yang lebih besar, ketimbang kita semua.

Berminat?


Mulailah melakukan sesuatu. Apapun itu.

Sunday, April 29, 2007

Catatan: Mi'raj--langit pertama (oleh A. Chodjim)

Mi’raj sudah sering dibahas sebagai perjalanan Muhammad dari Yerusalem melintasi tujuh langit. Di masing-masing langit, Muhammad bertemu dengan nabi berbeda.

Jarang sekali mi’raj dimaknai secara esoterik, sebagai implementasi kehidupan bagi umat. Padahal mi’raj merupakan perjalanan manusia untuk menemui Tuhannya. Tujuh lapisan langit adalah tahapan yang harus kita lalui.

Di lapisan pertama ada Adam. Dalam bahasa Arab, Adam berarti tanah, dan mencerminkan kemelekatan kita terhadap dunia lahiriyah.

Untuk melewati tahap ini, kita harus menyadari betapa kemelekatan ini telah menghambat perjalanan kita sebagai manusia. Kita hendaknya tahu bahwa dunia ini merupakan sarana semata buat kita. Bahwa kebahagiaan bukan berasal dari luar diri, melainkan tumbuh dari dalam.

Semoga kita menyadarinya, sebelum kita menemui sakaratul maut. Dan semoga kita bisa terus melanjutkan perjalanan ke tahap selanjutnya.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Saturday, April 28, 2007

Pertanda

[English]

Percaya gak dengan tanda-tanda dari alam? Saya percaya.

Ketika saya dalam perjalanan pulang semalam, saya mendengarkan bincang-bincang di radio. Topiknya "Waktunya untuk keluar dari pekerjaan sekarang." Topik yang sesuai dengan suasana hati saya sekarang. Jadi saya berpikir, hm.

Saya terus mendengarkan bincang-bincang itu. Di saat terakhir, pada sesi penutup, pembawa acara berkata, "tapi kalau kita setia sama perusahaan dalam kondisi (perusahaan) susah dan senang, kita akan mendapat nilai plus."

Hm. Hal-hal yang kita dapat kalau kita bertahan (untuk mendengarkan) hingga saat akhir.

Terima kasih ya teman-teman

[English]

Kemarin seorang teman (dan mentor) menanggapi tulisan saya sebelum ini. Dia bilang “Nikmati sebuah cangkir kopi yang hangat, pasang ipodmu sambil pandangi orang yang berlalu lalang di depanmu. Hidup ini begitu indah.” Terima kasih, Mbak.

Seorang teman lain yang sering menjadi ‘tong sampah’ saya bertanya, “Kapan terakhir kali loe duduk dan curhat ke teman loe?”. Pertanyaan yang bagus. Saya gak ingat tuh. Mungkin karena entah kenapa saya merasa bukan begitu (lagi) caranya buat saya.

Dia menyarankan, “kenapa gak ngopi bareng temen dan curhat?” Dia tampaknya tidak menyadari, di pikiran saya, itulah yang sedang saya lakukan dengannya.

Malam itu saya memutuskan untuk melakukan hal yang rasanya sudah lama sekali tidak saya lakukan. Janjian dengan-Mu jam 11 malam. Saya berdoa. Saya curhat. Sejenak saja. Ketika saya keluar ruangan, kucing saya menyelusup masuk dan tiduran di sajadah saya. Jadi saya duduk kembali. Dan saya bermeditasi. Kali ini, lebih dari sejenak.

Hari ini sudah masuk akhir pekan. Sekarang saya mau pergi lagi, untuk melakukan satu ritual lain yang juga sudah mulai terlupakan. Sarapan hari Sabtu di kedai kopi dekat rumah saya, bersama diri, buku-buku dan orang-orang tak dikenal yang berlalu lalang.

Terima kasih ya. Ke kalian semua.

Khusus buat Kamu: Saya tidak menyadari betapa kangennya saya dengan bincang-bincang kita. Harusnya saya datang ke diri-Mu lebih cepat ya. Jauh lebih cepat. Tiap detik dalam hidup ini. Maafkan. Tapi saya di sini sekarang. Moga-moga Kamu mengijinkan, membantu, saya untuk tetap ada di sini mulai sekarang.

Thursday, April 26, 2007

Lelah

Ingin rasanya aku berkata bijak. Ingin berucap kalimat kontemplatif. Ingin menceritakan suatu hal positif. Tapi ndak bisa. Lagi ndak bisa. Aku hanya merasa lelah.

Ada kala kita mulai berandai ada apa di depan nanti. Ada kala kita mencari pembelajaran di balik peristiwa. Ada kala kita menimbang, terus atau belok. Atau mulai bertanya kenapa, bagaimana. Kini adalah waktuku.

Aku tahu aku diberkati. Aku tahu aku beruntung. Aku tahu semua terjadi karena memang telah seharusnya, sesuai dengan kebutuhan. Hidup adalah perjalanan perbaikan diri. Namun apa yang kutahu kadang tak sama dengan yang kurasa.

Dan aku merasakannya hingga ke tulang sumsum. Aku benar-benar lelah. Tolong.

Saturday, April 21, 2007

Selamat Hari Kartini

[English]

Selamat Hari Kartini, semua. Kalau kita berada di Indonesia, gak mungkin hal ini terlewatkan. Nyalakan TV, lihat koran, tengok billboard, masuk sekolah, jalan ke mall, pasti kita lihat/dengar “untuk memperingati jasa-jasa Ibu Kartini..”.

Dengan segala rasa hormat kepada Anda dan Ibu Kartini sendiri, saya sering bertanya-tanya tentang dua hal: (1) Berapa banyak orang yang benar-benar tahu sejarah Ibu Kartini dan Hari Kartini, dan (2) Kenapa Ibu Kartini begitu istimewa. Kenapa ada Hari Kartini tetapi gak ada, misalnya, Hari Tjut Nyak Dien?

Mungkin seharunya saya gak terlalu memikirkan ini. Yang lebih penting adalah semangat untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan pengutamaan arus gender (istilah populer dalam pemberdayaan perempuan). Dan berikut impresi saya terhadap hari ini.

Tadi pagi saya ikut dalam seminar tentang waralaba untuk perempuan yang diselenggarakan oleh majalah Femina. Saya kagum dengan jumlah orang (atau perempuan) yang menghadiri acara ini. Banyak. Dan keliatannya pada semangat dan determinan semua.

Di sesi awal, ada dua orang pembicara (semua cowok btw): Amir Karamoy dan Rhenald Khasali. Pak Amir, menurutku, berbicara lebih lugas. Beliau konsisten dengan tema hari ini: waralaba, sementara Pak Rhenald, betapa pun menariknya beliau sebagai seorang pembicara, memaparkan hal yang lebih umum (dan lebih terkait dengan buku barunya).

Senang saya ketika pada saat sesi tanya jawab, kebanyakan pertanyaan diarahkan kepada Pak Amir. Peserta seminar benar-benar ingin tahu tentang waralaba. Tampak determinasi pada perempuan ini. Ada fokus dalam pikiran. Entah kenapa, timbul rasa bangga dalam hati saya.

Selain itu, hari ini Kompas juga mengangkat topik terkait dengan Hari Kartini. Koran ini menulis kisah seorang pengemudi becak perempuan, Ibu Aminah. Beliau sudah menggenjot becak selama lima tahun untuk menghidupi keluarga dan ke-10 anaknya. Sepuluh anak, hm. Ini topik tersendiri. Anyway, Ibu Aminah adalah sosok heroik nyata bagi saya.

Secara umum, kenyataan bahwa kita masih tetap merayakan Hari Kartini, secara tak langsung menyatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Seperti juga kenyataan bahwa ada kuota minimum buat perempuan di DPR. Atau ada Kementerian Negara untuk Pemberdayaan Perempuan. Atau poligami. Atau kekerasan rumah tangga. Atau suami yang tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga. Atau komentar orang "pasti karena ibunya" ketika ada anak yang bermasalah. Dst. Perjuangan masih jauh.

Selamat Hari Kartini, semua. Selamat Hari Kartika, han & fam ;)

Wednesday, April 18, 2007

Anand Krishna

Semalam saya bertemu dengan Anand Krishna.

Pernah gak berjabat tangan dengan seseorang dan rasanya langsung ingin menangis? Saya pernah. Atau paling sedikit, sekarang saya sudah pernah.

Sunday, April 15, 2007

Setahun bersama Rumi, untuk tanggal 15 April

Aku ingin tau, apa yang ditulis Rumi untuk tanggal 15 April di buku A Year with Rumi. Terjemahan bebas dari versi Bahasa Inggris-nya Coleman Bark. Halaman 127.

Tenggelam dalam kebingungan

Ada beragam wujud kepandaian
Sebagian dari dirimu tengah meniti angin kencang
Sementara bagian yang lebih sederhana
Mengambil langkah kecil dan mematuk-matuk lantai tempat berpijak.

Pengetahuan konvensional adalah kematian buat jiwa kita
Dan bahkan sebenarnya bukan milik kita. Pengetahuan ini sudah ditentukan, disiapkan.
Namun kita terus mengatakan kita menemukan ‘tempat berteduh’ dalam ‘keyakinan’ ini.

Kita hendaknya merasa haus, terus merasa kekurangan
terhadap apa yang telah diajarkan pada kita
Dan tenggelam dalam kebingungan

Jauhi apa-apa yang memberikan keuntungan maupun kenyamanan
Jangan percayai siapa pun yang memujimu
Berikan uang investasimu, serta bunga dari modalmu, kepada mereka yang kekurangan.

Lupakan rasa aman. Tinggallah di tempat yang menakutkanmu
Obrak-abrik reputasimu. Jadilah populer untuk hal-hal yang kurang mengenakkan.
Aku telah terlalu lama mencoba untuk berencana dengan penuh kehati-hatian.
Mulai sekarang. Aku akan menggila.

Weleh. Met ultah ye.

Friday, April 13, 2007

Mama Loren bilang..

"2012 Indonesia akan membaik, orang sudah mulai sadar dan memperbaiki diri."

...

"Tapi jumlah orang di Indonesia akan tinggal setengahnya. Ya sekitar 40% lah. 60% lainnya sudah hilang."

.nah lo.

Sunday, April 08, 2007

Nyangkut

[English]

"Hm, kayaknya ada yang salah. Cakarku kok gak bisa lepas ya. Ok, tenang, gak apa.."


"Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, umph, umph, rrrrrrrrrr"


"Arrrrghghghghtthhgghg, miauw, miauw. **&*^%^(!!"


"Hmph. capekdueh. Yasud. Stay di sini aja kali ya. Heh! Ikannya mana? Laper neh."



[Model: Miauw]

Buku: Syech Siti Jenar - Achmad Chodjim

[English]

Akhirnya saya selesai membaca buku Syech Siti Jenar karangan Achmad Chodjim. Terima kasih kepada libur Jumat Agung dan Paskah. Tulisan saya di sini kebanyakan saya kutip dari bab renungan buku tersebut.

Pandangan Syech Siti Jenar merupakan pandangan sufistik yang diramu dengan kehidupan mistis Jawa. Tekanan bukan pada materi, tapi pada Cinta dalam bentuk manunggaling kawula kawan Gusti, tauhid al wujud, menyatunya hamba dan Tuhan.

Beliau berpendapat bahwa agama akan indah bila sesuai dengan hukum Tuhan di alam. Yaitu eksistensi yang penuh ragam. Biarkan agama ini tumbuh sesaui dengan tempat tumbuhnya, sesuai dengan ekosistemnya. Dalam hal ini, tanah Jawa.

Alquran, menurutnya, harus dipahami betul-betul substansinya, bukan cuma dibaca dan dimengerti terjemahannya. Bukan hal yang mudah. Karena itu, pemilihan guru (kehidupan) sangat penting.

Guru harus merupakan wujud konkret Alquran, yang mampu memberikan petunjuk. Seseorang yang mengerti hukum, pandai dan bermutu ibadahnya.

Mengerti hukum berarti memahami aturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Paham tentang etika hidup. Budi pekerti luhur setempat.

Ibadat bermutu karena pengabdiannya dalam kehidupan yang tanpa pamrih. Ketulusan hidupnya terpancar dalam hidup kesehariannya. Seperti halnya ajaran Rasullullah, tujuannya adalah akhlak yang mulia, caranya dengan melatih kedisiplinan hidup yang disebut syariah.

Guru sebaiknya ahli tapa. Jangan dibayangkan orang yang mengasingkan diri di gunung-gunung. Ahli tapa di sini adalah orang yang mampu menahan diri dari berbagai godaan dunia, baik di tengah keramaian maupun di tempat yang sepi. Orang yang terasah pikirannya dan telah terbukti mampu menghadapi tantangan hidup.
.
Dalam wujud lahir, Siti Jenar menekankan pada bangkitnya kepribadian. Sehingga hidup tidak hanya tampak hidup. Tetapi betul-betul hidup yang memiliki hak, kemandirian dan kodrat. Hidup adalah sebuah eksistensi, yang tidak menguasai maupun dikuasai orang lain.

Dalam sekali menurut saya buku ini. Rasanya saya butuh lebih banyak waktu untuk merenungkan dan mengayak maknanya. Apalagi menerapkannya. Moga-moga bermanfaat.

April dan Spanyol

[English]

April selalu mengingatkan saya akan Spanyol. Bulan April merupakan waktu terbaik untuk mengunjungi Sevilla, dimana salah satu perayaan paskah paling agung dan paling tradisional digelar.

Di bulan April Sevilla juga mengadakan Feria de Abril, pesta rakyat tradisional seminggu penuh yang penuh keriaan, saat bisa dikatakan tidak ada orang yang tidur di Sevilla pada minggu itu. (Padahal hari libur juga gak lho. Jadi orang-orang itu ya pesta aja pada malam hari dan kerja seperti biasa di siang harinya, selama seminggu.)

April juga merupakan saat saya pindah ke Barcelona, untuk episode tersendiri dalam hidup. Di sana, saya dikaruniai kesempatan untuk tinggal bersama keluarga seorang pelukis perempuan dengan semangat luar biasa.

Saya ingin berterima kasih (untuk kesekian kalinya) kepada Spanyol untuk salah satu kenangan terindah dalam hidup saya. Benar-benar kado ulang tahun paling berkesan yang Tuhan pernah berikan padaku.

Mungkin tidak akan ada yang pernah tahu atau terbayang betapa pengalaman saya di sana telah membantu saya bertumbuh menjadi saya sekarang.

Ini saya taruh link ke posting saya kurang lebih setahun lalu. Dalam Bahasa Inggris. Dan dalam Bahasa Spanyol.

Os quiero, y recuerdo. Siempre.

Saturday, April 07, 2007

Siapa orang-orang yang paling kita kagumi?

[English]

Saya denger ini di Trijaya, Kamis sore. Lagi ada talkshow-nya Mas Arfan siapa gitu (lupa nama lengkapnya, di webnya trijaya kok juga gak ada ya). Dia sedang membicarakan "menjadi diri sendiri".

Satu pertanyaan yang menarik darinya adalah: siapa idola kita? Siapa tiga orang yang paling kita kagumi? Dan kenapa? Jawaban terhadap pertanyaan siapa dan kenapa itu mencerminkan nilai penting dalam diri kita. Hm, menarik.

Jadi saya mulai menanyakan itu ke diri saya. Tiga orang. Yang terpikir orang-orang dekat dengan saya.

Almarhum bapak saya. Visi jangka panjang. Kritis. Sederhana. Rendah hati. Lugas. Gak basa-basi. Kebebasan yang diberikan kepada anaknya untuk bertumbuh.

Ibu saya. Sederhana. Sabar tiada batas. Pasrah. Rela untuk berada di belakang suami dan anak-anaknya tanpa pernah timbul.

Bude saya. Ceria dan positif dalam keadaan apa pun. Pinter banget kalau cerita, penuh semangat dan ekspresif.

Ekstra boleh gak. Kakak saya. Tegar abis. Cara mengasuh anak yang rrruarrrrr biasa.

Saya juga mengagumi beberapa figur politik/sosial, seperti Bill Clinton karena karisma dan teknik berkomunikasi yang simpatik, Bunda Teresa karena pengorbanan tanpa pamrihnya, dan Johny Depp karena (gantengnya dan) keberanian dan keberhasilannya ketika memutuskan untuk hanya mau main film yang dia suka, dan tinggal jauh dari hidup gemerlap.

Otak saya berputar terus. Gus Dur karena nyelenehnya yang pinter. Arwin Rasyid karena gaya kepemimpinan yang tegas, unik dan rendah hati. Janet Jackson karena six pack-nya (Iri atau kagum nih?) Kok jadi banyak sih?

Kemudian, emang kayak apa sih diri sendiri itu? Yang sekarang kita lakoni itu diri sendiri bukan? Apa enaknya atau untungnya jadi diri sendiri? Ruginya? Gimana caranya menjadi diri sendiri?

Ah, masih banyak pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Seperti biasa. (bagian dari menjadi diri saya sendiri?)

Friday, April 06, 2007

Hee Ah Lee, pemain piano berjari empat

[English]

Minggu lalu, Jakarta diberi 'anugerah' dengan kedatangan Hee Ah Lee. Dia menggelar konser tunggal yang tiketnya terjual habis. Saya tidak akan bercerita banyak dan mempersilahkan Anda untuk menonton video di bawah ini. Hasil bidikan Sammania.



Upaya, keuletan, keberanian dan cinta yang ditelah dituangkan untuk mencapai keberhasilan ini. Luar biasa.

Kajian: Meneladani Muhammad

[English]

Walau sedikit telat, saya akan menulis pemahaman saya tentang kajian yang saya hadiri seminggu lalu, berkenaan dengan Maulud Nabi, tentang Muhammad SAW sebagai teladan kita. Kajian dengan guru Bapak Achmad Chodjim.

Setiap orang yang terus menginginkan pertemuan dengan Tuhan selamanya (hingga hari akhir) dan senantiasa banyak mengingat Allah dapat menjadikan Nabi sebagai teladan. (QS 33:21).

QS 7:157 menyebutkan bahwa Muhammad disertai “cahaya”, atau tepatnya cahaya spiritual. Walau secara fisik, Nabi telah tidak ada, tetapi cahaya yang turun kepada beliau tetap ada. Cahaya itu yang bisa menyingkap kegelapan di dalam diri kita. Cahaya itu yang harus kita cari, kita teladani.

Muhammad Al Ghazali membagi keteladanan ini menjadi tiga tingkat. Ada yang meneladani Nabi dalam bentuk lahiriah tanpa memahami konteks dan sejarah di belakangnya. Ada yang memahami karena belajar dari orang yang telah paham lebih dulu. Ada yang memahami melalui pencarian dan perenungan sendiri.

Dalam kajian ini, Pak Chodjim lebih mengambil yang ketiga. Segala daya upaya Nabi untuk mendapatkan cahaya tersebut, itulah yang harus kita teladani dari Beliau.

Apabila kita dapat dan telah mengikuti teladan itu, kita yakin akan keberadaan cahaya Allah, maka kita akan “terbuka” dengan sendirinya.

Semakin mendapat cahaya, semakin tertuntunlah orang tersebut, semakin beradab, dan kepentingan hawa nafsu pun dapat disisihkan. Kita tidak lagi mengandalkan informasi dari orang ke orang; Cukup hanya dengan melakukan refleksi sendiri.

Tidak dapat diprovokasi lagi, tidak dapat dikendalikan dalil untuk kepentingan diri sendiri, seperti ada orang yang menggunakan dalil poligami sebagai justifikasi.

Catatan lengkap dapat di-download di sini.

Terima apa yang bisa diterima, hargai perbedaan di antara kita. Masing-masing dengan kebutuhan dan tahap pertumbuhan jiwanya.

Selamat paskah ya semua..

[English]

Damai dan kasih di dunia. Dan di dalam diri.

Beberapa foto dari salah satu perayaan paskah terindah di dunia: Semana Santa, Sevilla, Spanyol.





Sabar

[English]

Kayaknya kesabaran adalah hal yang harus saya pelajari minggu ini (atau dalam hidup ini?).

Udah beberapa bulan ini saya merasa sangat tidak sabar. Saya pikir saya bosan. Tapi mungkin kebosanan hanyalah sekedar gejala. Masalah utama terletak pada kesabaran (atau ketidakadaan kesabaran)

Saya baru ngeh tentang ini ketika saya lagi ngomel/curhat ke teman saya. Di akhir obrolan kita (tentang topik satu ini) dia cuma bilang: "(dijalanin aja) satu-satu. Kita gak akan tau. You will never know." Saya langsung berhenti ngomel menit itu juga (bukan detik, beberapa detik kemudian mungkin masih ada ekses omelan saya..)

Saya tau dia bener. Jalan itu sudah disiapin. Kita tuh tinggal njalanin aja. (iya gus, gitu aja kok repot)

'Kebetulan', saya terima sms dari teman saya yang lain tentang satu pengajian yang sudah sekitar dua tahun tidak saya ikuti. Entah kenapa pas saat itu, dia keinget untuk sms saya lagi. Pengajian ini juga 'pas' jadi topik lain dalam obrolan dengan teman saya yang tadi nyuruh saya sabar.

Saya datang ke pengajian itu karena 'pas' saya sebelumnya ada acara di sekitar situ. Tau gak topiknya apa: kesabaran. Satu dari sedikit hal yang harus kita minta ke Tuhan, melalui doa dan perbuatan baik.

Tuhan, katanya, bersama orang yang sabar. Terus guru itu bertanya, sabar itu ada batasnya? Dia kemudian menjawab: ada, ketika Tuhan tidak lagi bersama kita. Jadi ketika kita lagi marah, kehilangan kesabaran, tau donk kita lagi bersama siapa, atau tidak bersama siapa.

Dia juga mengatakan bahwa sabar itu perlu ilmu. Kayak menanak nasi aja. Kalau kita tahu butuh waktu 15-20 menit untuk menanak nasi, maka selama 15-20 menit itu pun kita akan bersabar. Menarik ya.

Tuh. Saya udah dikasih tahu harus ngapain dan bagaimana caranya.

Kesabaran benar-benar merupakan pelajaran untuk minggu ini (atau untuk kehidupan ini?) buat saya. Kesabaran, konsistensi dan stamina. Dengan ridha, lindungan dan tuntunan dariMu. Jalan sudah disiapkan kok. Saya tinggal menjalaninya aja.

-Khan udah bilang, satu hari saya akan menulis tentang dirimu.-

Tuesday, April 03, 2007

Gak boleh kecepetan menilai orang..

Tadi siang saya habis makan gado-gado di gang deket kantor saya. Keluar gang, ngelewatin sebuah gerobak rokok. Ada ibu-ibu yang lagi ngobrol di telepon (hp).

Dari jauh saya sudah tertarik dengan sosoknya. Ibu-ibu itu siang hari bolong, di pinggir jalan raya, pake daster kaos kutung warna hijau terang dengan bunga-bunga merah, rambut keriting belum disisir, sambil ngerokok dan telepon, berdiri milih-milih barang di gerobak rokok itu.

Kebayang? Nah. Waktu saya melewati dia, saya bisa mendengar sedikit apa yang dia katakan. Dan dia berkata kepada teman teleponnya, "Terus dia mau masuk ke pasar indonesia dengan 1,3 persen, gua pikir khan gila itu.."

Wah. Saya sampe nengok ke ibu itu dengan tampang kaget. Untung si Ibu sibuk dengan teleponnya.

Makanya, gak boleh tuh terlalu cepat menilai orang.

Menampilkan: saya

Saya tadi siang ngobrol sebentar dengan seorang teman. Dia bilang, dia agak ragu untuk menaruh link personal blog dia di blog perusahaannya. Terlalu personal, katanya.

Saya pernah membaca blog beliau. Saya sangat mengerti kenapa ia merasa blognya sangat pribadi. Bahkan, kalau saya boleh bilang, blognya begitu mencerminkan kepribadian yang indah. Dari seorang ibu ke anak. Ketika saya membaca, saya merasa terharu, saya bisa merasakan emosi yang tertuang di situ. Penuh cinta.

Saya dulu juga pernah ragu untuk masuk ke dunia perblogan. Saya juga menggunakan alasan yang sama, walau dalam kasus saya ini benar-benar alasan saja. Perasaan saya adalah sesuatu yang terlalu pribadi.

Kalau boleh jujur, ini bukan hanya tentang pribadi. Lebih ke ketidakmampuan (atau ketidakmauan) saya untuk berbagi perasaan, pikiran saya yang terdalam. Lebih ke ego saya, atau ilusi sebuah ego yang sudah saya bangun begitu lama untuk menunjukkan seorang saya yang tegar.

Menulis blog yang bersifat pribadi seperti ini seperti menunjukkan apa yang ada dalam diri saya kepada seluruh dunia. Menempatkan saya di posisi yang terasa begitu rapuh.

Selain itu, ada juga kekhawatiran bahwa saya akan menyakiti hati seseorang. Saya cukup tahu bagaimana diri saya: saya bukan orang yang paling diplomatis di dunia. Dan saya tidak mau menciptakan (lebih banyak lagi) konflik dalam hidup ini.

Namun akhirnya, saya memutuskan untuk melakukannya. Menulis blog. Saya memanfaatkan blog untuk berbagi buah pikiran saya. Sebagai tempat latihan mengasah kemampuan menulis. Lebih penting lagi, menggunakannya sebagai tempat berlatih menulis buah pikiran saya tanpa menyakiti orang lian, melihat sesuatu dari perspektif lain, dari sudut pandang yang lebih positif.

Dan yang terpenting, menggunakannya untuk menampilkan diri saya secara spontan dan jujur. Menampilkan: saya. aku. gua. gue. kulo. I. me. yo.

Dan saya ingin mengatakan kepada teman saya yang ragu untuk mencantumkan blognya: bahwa apa yang dia bagikan dalam blog itu indah sekali. Saya jarang sekali merasa begitu terharu, terenyuh apabila membaca suatu blog. Tolong jangan berhenti berbagi. Dan yang pasti, jangan pernah ragu.

Relakan

Kejadian ini sebenarnya telah berlangsung lebih dari 10 tahun yang lalu.

Saya sedang umroh dengan keluarga saya. Kami baru saja turun dari taksi, ketika saya menyadari kalau jaket saya ketinggalan di taksi. Panik. Bapak saya memegang tangan saya, kemudian dia bilang: "Relakan.".

Mungkin karena umur, mungkin juga karena bawaan, saya tetap panik. Bapak saya sekali lagi memegang tangan saya, menatap saya dalam-dalam dan mengulang apa yang telah dia katakan: "Relakan." Mendadak saya terdiam, menjadi tenang. Dan berhenti berusaha.

Sampai sekarang, kalau saya 'kehilangan' sesuatu atau seseorang, atau merasa terlalu berpegang erat pada sesuatu atau seseorang, saya mengatakan kepada diri saya, "Lepaskan. Relakan. Let it go."

Love you, pop.

Monday, April 02, 2007

Gua bangettt

Tadi saya pulang telat. Jam 7 dari kantor. Sempet gak ya ngejar kelas yoga jam 8? Sempat kali ya. Ternyata jalan sedang tidak bersahabat. Macet banget.

Saya pikir, "kalau sampe di rumah jam 7.45, saya akan ke yoga. Kalau lewat, ya sudah lah."

Kendaraan berjalan sangat lambat. Saya terus melirik jam. "Ok lah, jam 7.50 juga masih bisa."

Lambat sekali gerak kendaraan. Ah, whatever. Jam berapa pun, saya akan tetap yoga.

Ampun deh. "Loe bangettt, va", kalau kata teman saya.

Saya akhirnya sampai rumah jam 7.55. Buru-buru saya berganti baju, dan langsung pergi ke gym.

Hanya untuk mendapati bahwa guru saya yang biasanya mengajar tidak datang, yang ngajar 'hanya' guru pengganti. :(

Lucu banget. Becanda abis. Seluruh hari sudah seperti itu.

Kesal, saya ngambek, entah kepada siapa. Udah ah, gak mau yoga. Gak mood. Saya mau treadmill aja. Atau ngopi kayaknya enak.

Baru saya memasukkan mat yoga saya dalam lemari, guru yoga yang lain melintas sambil ngomong, kok gak masuk?

Langsung luluh lho, dan saya bilang ini baru mau masuk. Akhirnya masuk lah saya ke kelas yoga itu. Dasar. Sekali lagi saya mendengar teman saya, "Loe bangettt, va."

Ternyata kelas berlangsung lebih lama dari biasa. Dan sesi relaksasinya pun cukup menyenangkan (atau tepatnya, menenangkan).

Penutup yang baik untuk hari yang lucu banget.

Belated happy April fool's day.

Sunday, April 01, 2007

Pak Mus - 2

Salah satu tempat 'hang out' favorit kami selama di Aceh. Mesjid Raya Banda Aceh yang demikian agung dan--entah kenapa--mendamaikan.

Pak Mus

Seorang teman baik baru saja meninggalkan dunia. Bapak Mustafa Alatas. Beliau juga ayah dari seorang teman baik lain.

Pak Mus dan saya bekerja bareng selama kurang lebih sebulan di Aceh dua tahun lalu. Orangnya baik sekali. Tidak pernah suaranya meninggi meskipun dalam situasi paling stres sekalipun.

Selalu memikirkan orang lain dalam tim. Semua orang dalam tim memanggil dia "Opa". Dan kayaknya tidak ada satu helai kesombongan pun dalam dirinya. Dia adalah seorang guru yang baik buat saya.

Beberapa hari lalu, di suatu hari cerah, Pak Mus menghadiri pemakaman teman di Bogor. Dia merasa lelah. Dia mampir untuk istirahat sebentar di rumah saudaranya di Bogor. Dadanya terasa sakit, dan dia pun menghembuskan napasnya yang terakhir.

Saya berkunjung ke rumah Pak Mus malam harinya, begitu saya mendengar kabar. Istri Pak Mus menyambut saya, dengan senyuman. Ibu bilang terima kasih sudah datang, maafkan kalau ada kesalahan ya.

Beliau pun bercerita kepada orang-orang yang hadir di sana tentang apa yang terjadi. Ibu Mus tampak begitu tabah. Dia seperti sudah menerima dan memutuskan untuk terus hidup. Jarang sekali saya bertemu dengan orang atau keluarga yang demikian tabah. Dan baik hati.

Tampaknya, Pak Mus tetap merupakan guru yang baik, sekalipun beliau sudah meninggal dunia.

Selamat jalan ya Pak. Merupakan suatu kehormatan bagi saya sudah memiliki Bapak sebagai teman. Suatu hari saya akan menyusul dan mungkin kita bisa bercakap lagi nanti.

Gambar: Langit Aceh.

Wednesday, March 21, 2007

Pas!

Waktu makan siang buat saya sering berarti makan siang dengan cepat, diikuti ngopi berlama-lama.

Saat saya makan bekal saya dari rumah di kantor dan setelah itu setengah bergegas turun ke taman di kawasan kantor saya. Terus saya duduk di situ. Baca buku. Memandang orang berlalu-lalang.

Minggu lalu saat saya sedang duduk-duduk di tempat ngopi langganan saya, saya menyadari: Rasanya tidak ada gedung kantor yang lebih pas buat saya. Atau bahkan, mungkin tidak ada pekerjaan yang lebih pas buat saya. Untuk titik ini dalam kehidupan saya.

Saya merasa saya lumayan memahami apa yang saya harus lakukan dalam pekerjaan ini -- saya sudah mengerjakan hal yang kurang lebih sama delapan tahun belakangan ini. Saya bisa pulang jam lima sore, atau malah kurang. Hubungan dengan teman kantor baik (moga-moga mereka merasa hal yang sama). Saya bisa memperluas jaringan.

Dan ini. Gedung kantor dengan taman dan tempat ngopi dengan kursi di taman. Ck ck.

Saya tidak tahu sudah berapa kali saya mengatakan ini, tapi saya ingin mengatakannya lagi. Terima kasih.

Meditasi berjalan

Minggu sore, hampir maghrib. Baru selesai makan siang sama segerombolan teman lama, dilanjutkan waktu ngopi dengan seorang teman lainnya. Kami berpisah. Tapi saya masih tidak ingin pulang.

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan rumah saya. Tapi ada lah saat-saat seperti itu, ya gak? Saat kita ingin berputar-putar tanpa ada tujuan. Sendiri, hanya bersama badan (dan jiwa) ini. Pikiran membisu. Begitu pula mulut. Terlalu lelah untuk bergerak. Apalagi berucap.

Terlalu banyak yang simpang siur di kepala ini. Hal-hal yang tidak terlalu ingin terbagi dengan orang lain. Entah tidak bisa. Atau tidak ingin.

Jadi saya berputar-putar sendiri di tengah kota. Dan saya 'ditraktir' dengan keindahan tenggelamnya matahari. Matahari khas kota besar. Tetap saja cantik. Dan berhasil menghadirkan senyum di wajah ini.

Cantik. Saya sih nggak keberatan kalau kamu yang menemani saya.

Sarapan yang menyenangkan

Hari raya di Indonesia -- Nyepi. Rasanya semua orang buru-buru melarikan diri dari ibukota ini. Keluargaku? Ibu, abang, kakak dan aku pun pergi sarapan di warung kopi dekat rumah kami. Santai. Senang. Hangat.

Terasa akrab sekali pagi itu. Layaknya sebuah keluarga. Terima kasih ya.

Thursday, March 15, 2007

Perubahan yang begitu cepat

Hari ini Jakarta begitu cerah. Kemarin pagi dan siang pun, Jakarta cerah.


Kemudian, sekitar jam 5 sore, langit tiba-tiba berubah.


[foto: Harian Kompas]


Saat itu saya tengah menunggu kendaraan, setengah mengomel kenapa lama sekali datangnya. Jadi saya 'terpaksa' berdiri terpaku di tempat saya, memandangi langit kawasan Timur Jakarta.

Saya benar-benar terpaku di situ, memandangi gulungan awan hitam mendekat ke tempat saya berada. Cepat sekali. Langit yang cerah tiba-tiba menjadi gelap. Sangat gelap. Gelap yang mengerikan.

Dalam perjalanan pulang, tercetus dalam pikiran saya, mungkin keterpaksaan saya untuk berdiri memandang perubahan langit yang begitu drastis itu bukanlah suatu kebetulan.

Keharusan menunggu kendaraan yang tidak kunjung datang itu hanyalah alasan logis untuk memaksa saya berdiri di situ, tanpa punya pilihan selain memandangi langit dan perubahannya. Dari cerah menjadi gelap.

Layaknya kini saya berdiri terpaku memandang perubahan yang tengah terjadi di tanah air saya.

Tuesday, March 13, 2007

Lumpur Sidoarjo

Katanya gambar itu bisa berbicara layaknya seribu kata. Silakan bercakap-cakap.




Gimana caranya kamu masih dapat berjalan di atas muka bumi ini dengan kepala tegak?


[pics courtesy of Efrulwan, Surabaya]

Thursday, March 08, 2007

Senang

Sebenarnya saya tidak punya alasan kuat untuk menaruh foto dua ponakan saya ini. Cuma senang aja. Liat ekspresi mereka. Bahagia sekali tampaknya. Gemes.

Sebenarnya sih, itu pun alasan yang cukup kuat ya.

Leyeh-leyeh bareng ibu

Teman-temanku ngajak hang-out malam ini. Tapi aku gak mau. Aku cuma ingin pulang.

Pagi tadi aku mikir mau ke gym setelah kantor. Tapi berubah pikiran. Aku cuma ingin pulang.

Aku nganter beberapa teman ke hotel mereka. Mereka nanya mau mampir dulu gak. Aku gak mau. Aku cuma ingin pulang.

Entah kenapa, aku cuma ingin cepat pulang. Untuk leyeh-leyeh bareng ibuku.

Wednesday, March 07, 2007

Posko Garuda untuk Kecelakaan di Yogya

POSKO GARUDA INDONESIA
AIRPORT

487880/487882/ 484261
081 328 180 019 (BPK. LARAS WIDHYO)
0817 469 271 (BPK. SENTOT)
0817 277 345 (BPK SONNY)

INFORMASI KORBAN DAPAT DICEK JUGA DI:
1. RS. AKADEMI ANGKATAN DARAT (AAU) - BLOK O - LANUD ADISUTJIPTO
2. RS. PANTI RINI (Ph. 0274 - 497 206 ) - RINGISAN KALASAN