Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Tuesday, September 16, 2008

Sampai Mei 2009

[English]
Akhirnya tiba juga saatnya. Saya akan pergi sekitar tujuh-delapan bulan untuk belajar di Sekolah Beshara, Skotlandia, Britania Raya. Insya Allah saya akan menjumpai Anda kembali pada bulan April atau Mei 2009. Jangan terlalu nakal. Tetap bersenang-senang. Baek-baek.

-eva

Gambar: Diambil di salah satu ruas jalan Orchard Road, Singapura.

Rembulan dan rintik hujan

[English]


Dan rembulan adalah tempat dua teman senang bertemu, berbagi cerita tentang terang dan gulita. Dalam hening, kicau kata, gelak tawa dan air mata—kadang semua teraduk menjadi satu.

Atau bahkan melalui saling tukar tatapan kriptik, bahasa tubuh yang demikian halus, dan siratan senyum yang hanya dapat dipahami oleh keduanya.

Rembulan memang titik temu sempurna. Rembulan tidak berdaya untuk menghasilkan sinar sendiri. Ia sekedar memantulkan sinar yang ia dapat (kebanyakan) dari matahari—layaknya dua teman yang mencerminkan satu dengan yang lain. Rembulan menyinar dengan terang yang lembut. Tak pernah menyilaukan, namun tetap menghadirkan kehangatan sederhana bagi hati dan mengulas senyum bagi bibir.

Jadi, tampaknya aku akan bertemu denganmu malam ini di langit, dimana rembulan menjelma—purnama maupun tidak. Putih, jingga, abu atau merah jambu. Untuk sekali ini saja, aku tak terlalu peduli terhadap detail.

Bahkan bila rembulan tak merupa pun, kita tahu bahwa ia ada. Kita tetap tahu di mana harus bertemu. Kita tetap bertemu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena ia sibuk menyinari belahan dunia lain. Tak apa. Cahaya rembulan cukup melimpah bagi semua. Namun ingat, keindahan hangat yang menyelimuti kita, tetaplah ekslusif untuk kita. Aku tahu. Begitu pula dirimu.

Mungkin rembulan tak menampakkan diri karena rute edarnya yang tidak mudah diprediksi, tak semudah mentari. Aku rasa itu bagian dari keindahan sang rembulan--membuat kita terus menebak, memunculkan rasa penasaran dan kadang merindu. (Aku mulai bertanya-tanya apakah matahari adalah satu-satunya yang dicerminkan oleh sang rembulan.)

Atau mungkin rembulan tak menampakkan diri karena terhalang awan. Itu pun aku tak keberatan. Karena awan membawa janji-janji akan turunnya hujan. Hujan pula mengingatkan aku pada dirimu.

Dan di tempat yang akan kukunjungi ini—hujan turun setiap saat.

---

Tantanganku bukanlah untuk mengingatkan diri agar mendongak menatap langit malam. Tantanganku adalah untuk tidak terus-menerus mendongak. Aku tahu aku harus memfokuskan diri pada apa yang terbentang di hadapanku dan tidak mengizinkan hati ini berkelana terlalu sering, bahkan untuk mengembara menjenguk dirimu sekalipun.

Lagipula, jauh di dasar hati, aku tahu kau akan baik-baik saja. Kau memang sedemikian kuat dan terberkati. Dan itu satu-satunya yang aku perlu tahu. Satu-satunya hal yang penting bagiku.

Temanku tersayang. Mentor spiritualku dalam mencinta, merasa (lagi), berekspresi (lagi), dan—kini—untuk melepaskan. To let go. Aku tahu aku mesti membiarkan dirimu menapaki perjalananmu sendiri.

Dan tempatku adalah dua langkah di belakangmu, atau tepatnya, di sekitarmu. Di belakang ruangan, menyeruput kopi hitam hangat, mencicipi kue kecil, dan mencelotehkan obrolan tak bermakna dengan sosok di sebelahku. Tersenyum bangga kepadamu, karenamu.

Sementara kau berada di atas panggung, kembali bertumbuh dengan indah, dan wangi dan liar dan segar, serta penuh rasa syukur atas segala hal kecil yang mengada.

Waktu telah tiba bagi kita untuk meneruskan perjalanan. Entah bersama atau sendiri-sendiri, atau kadang bersama kadang terpisah. Ya, mungkin itu. Terima kasih telah menjadi teman seperjalanan dan bagian dari karunia dalam hidup ini.


Nalar memahami. Hati masih butuh lebih banyak waktu.

Foto pertama diambil di Ubud (Bali), kedua dari sini dan ketiga di Anomali Coffee (Senopati, Jakarta).

Wednesday, September 10, 2008

Harta tercuri

[English]
Al Ghazali mengatakan bahwa kadang Tuhan (atau alam atau apa pun kekuatan Maha yang kaupercayai) akan mengambil hal-hal yang demikian kita hargai dan dekap erat di hati guna memberi kita pelajaran akan hidup.

Agar kita dapat belajar hidup tanpa hal-hal yang kita kekapi itu dan dapat terus melangkah.

Agar kita dapat menghargai karunia yang kita miliki dan menggunakannya secara (lebih) bijak.

Hanya setelah kita memahami, Dia akan mengembalikannya pada kita.

Saya telah merasakan sedemikian banyak hal diambil dari saya selama perjalanan hidup ini. Beberapa masih belum saya dapati kembali. Beberapa saya masih ragu atau bahkan takut untuk memilikinya lagi. Pengingkaran dan penghindaran. Tampaknya saya benar-benar masih terus belajar.

post script: Namun akan kusampaikan satu hal padamu. Apapun yang telah teralami, aku tetap baik-baik saja dan aku masih merasa sebagai salah satu makhluk yang paling beruntung-- dan terberkati--yang pernah ada di muka bumi. Seperti halnya dirimu. Lebih dari yang kaukira. Terima kasih telah menjadi salah satu karunia dalam hidupku.

Jangan pernah memiliki pandangan yang berbeda dari ini.

Wednesday, September 03, 2008

Saat berdiam diri. Saat hening.

[English]
Sekolah saya belum dimulai. Saya bahkan belum memulai perjalanan saya secara fisik. Namun beragam pelajaran tampaknya sudah mulai berdatangan.

Seorang mentor penyembuhan Reza Gunawan pernah berucap pada saya bahwa kadang tubuh dan jiwa kita tahu kalau kita akan beperjalanan dan mereka pun berinisiatif memulai prosesnya bahkan sebelum kita memulai perjalanan yang kasat mata sekalipun.

Saya dapat merasakan bahwa proses telah dimulai. Di dalam. Satu (atau dua, atau tiga) sensasi yang demikian akrab dan, saya ingat betul, cukup intens. Mereka mulai mengemuka kembali. Kali ini, saya menyambutnya dengan tangan terbuka dan sepenuh hati. Mungkin saya perlu menyisipkan kata "mencoba" di sini, karena proses ini bisa menjadi sangat menantang.

Guru meditasi saya Pak Merta Ade dari Bali Usada pernah berkata, “Jika kamu sudah siap, coba merasakannya lebih lama." (terjemahan: jangan melarikan diri. Coba hadapi.)

Kala itu beliau tengah mengacu pada sensasi indera yang kerap muncul selama meditasi. Tapi pendengaran saya menangkap hal-hal di luar itu. Saya mendengar kesedihan, kemarahan, trauma dan berbagai hal lain yang berkecamuk dalam diri. Segala emosi yang belum tuntas.

Buku yang saya terima dari seorang teman menganjurkan untuk memulai dari tempat saya kini berpijak. Untuk mengakrabkan diri dengan kondisi fisik dan emosi saya; untuk belajar dari mereka. Kembali, segala emosi yang belum tuntas.

Kedua kejadian di atas mengajak saya untuk "memperlambat laju jalan, menghentikan langkah, duduk tenang dan menghadapi diri." Jadi saya pun duduk. Dalam hening. Tanpa ditemani seorang pun kecuali Kamu.Tak mudah.

Entah bagaimana semua perasaan dan memori usang semakin lama semakin jelas. Saya menjadi gelisah. Saya bertanya-tanya apakah saya benar-benar telah siap untuk menceburkan diri ke dalam hal ini lagi.

Tapi bukan saya kalau tidak ada coba-coba kreatif.

Mungkin kalau saya menyibukkan diri, saya tidak akan terlalu terikat pada kegiatan ini. Saya mengerjakan beberapa proyek meskipun tanggal keberangkatan saya sudah semakin mendekat. Rupanya saya lupa siapa yang sedang saya hadapi. Kedua proyek pun berjalan tak terlalu cepat. Saya masih punya banyak waktu luang untuk "terikat pada kegiatan ini."

Hm, mungkin ada cara meringankan beban ini sedikit. Berbagi mungkin membantu? Tak ada salahnya khan bila saya bercerita ke satu atau dua teman? Salah.

Beberapa hal memang sebaiknya tetap tak terucap dan disimpan sendiri. Selalu saja ada yang terjadi. Koneksi Internet terputus. Terlalu banyak orang di sekitar. Jadwal yang tak sinkron. Tak ada cukup waktu. Jadi gitu, bukan karena saya tak mau berbagi, tapi saya tak bisa, saya tak boleh.

Untuk kesekian kalinya, saya terduduk dalam hening. Dengan diri dan aku. Dan Dirimu.

Saya tahu waktunya telah tiba. Saya mafhum ini adalah perjalanan pribadi yang harus saya tapaki sendiri. Tanpa seorang pun kecuali Kamu. Miliki keyakinan. Ya, saya yakin.

Kamu mungkin tak mengerti. Tak apa. Kadang saya pun tak paham.

Nalar memahami. Hati masih butuh lebih banyak waktu.

Wednesday, August 27, 2008

Hidup tak usai

[English]

Kota kecil abad pertengahan bertatahkan batu itu hening sempurna
Semua penghuni telah terlelap
Semua kecuali satu. Annette yang remaja
Jalan kota diam membisu
Namun bagi remaja ini
Sang kota tengah membeberkan jiwa yang lelah

Annette yang remaja terbalut dalam jaket musim dingin
Dia menatap nanar pada jalan melompong
Dada sesak, napas singkat, mata membasah
Namun ia tetap berdiri, tak tergerak
Membeku dalam ruang dan waktu
Tak acuh terhadap fahrenheit menusuk yang menggeluti tubuh

Karena ada tusukan lain yang terasa lebih menohok
Sesuatu tentang kota yang demikian dicinta
Kesedihan mendalam, frustasi dan kemiskinan yang melantakkan hati

Annette telah menentukan langkah
Ia tahu apa yang yang harus ia lakukan
Dan niat pun meneguh untuk mengejewantahkannya

Merasa cukup, perempuan ini masuk kembali
Ke gubuk kecil yang hangat dan nyaman
Ke sang ayah yang pandai dan pekerja keras
Ke ibunda nan sederhana dan penuh cinta
Dan ke adik laki-lakinya yang lugu

Annette yang mulai tumbuh dewasa tahu
Tanah subur di keliling kota ini adalah kunci
Untuk membawa orang-orang di sekitarnya
keluar dari jurang kemiskinan
Perekonomian berbasis pertanian. Itulah jawabannya
Itulah yang akan ia tekuni
Sebuah dedikasi total terhadap idealisme dan sesama

Prestasi Annette melambung di atas semua perempuan di zamannya
Pikiran-pikirannya dihargai

Namun Annette berpuas terlalu cepat
Pujian dan penghargaan telah membutakan
Keangkuhan pun secara laten mengambil alih kuasa atas jiwa
Ia lupa seberapa jauh ia masih dapat berjalan
Ia melalaikan beribu kilometer yang masih harus ia tapaki

Jalan pun membelok semakin jauh
Annette yang dewasa bertemu seorang pria
Mereka jatuh cinta
Mereka hidup berbahagia selama sisa hari dalam kehidupan

Annette lupa tujuan ia mengada
Ia mencengkeram kebahagiaan, takut akan kehilangan yang ia punya
Ia tidak tahu kalau ia bisa saja memiliki segalanya
Memiliki ini dan itu
Dan masih banyak lagi. Sang Pemelihara sedemikian murah hati

Di atas tempat tidurnya, Annette yang setengah tua menilik sekitar
Ia merasa bahagia. Ia merasa cinta
Annette telah memiliki apa yang ia dambakan
Kekayaan. Kehormatan. Keluarga
Dan (pemahaman akan) cinta
(yang ternyata membatasi dan cenderung salah kaprah)

Namun di menit-menit terakhir, ia teringat sesuatu
Kerja belum usai
Ia telah menafikan alasan kenapa ia ada di sini
Kini ia mulai menyadari kembali
Di saat-saat terakhir dalam hidupnya

Namun masih tersisa butiran asa
Perjalanan belum benar-benar berakhir
Masih ada kesempatan lain
Dan kesempatan itu mewujud sekarang, saat ini

Ketika semua entah bagaimana tertata rapi
Ketika semua dapat dan akan menjelma menjadi jalinan sempurna
Cinta. Dan kali ini, ia berharap Sang Maha Cinta.

Monday, August 18, 2008

Catatan akhir untuk perjalanan kali ini: Kehidupan yang demikian cepat

[English]
Tuntas sudah. Akhir dari rangkaian perjalanan saya kali ini. Besok, kerja (sebagai seorang profesional dalam bidang komunikasi) dimulai kembali. Perjalanan tiga minggu yang luar biasa.

Beberapa minggu lalu, ketika saya membeberkan jadwal perjalanan saya—yoga, meditasi, pelatihan penyembuhan, ketemuan dengan orang, empat-bahkan-lebih-lokasi di tiga negara dalam kurun waktu tiga minggu, dia berkata "cepat sekali hidupnya.”

Saya tidak pernah berpikir seperti itu hingga saat teman saya berkata demikian. Suatu sudut pandang yang cukup valid. Kalau Anda melihat jadwal saya, maka hidup saya ini tampak berjalan sangat cepat dari satu titik ke titik lain.

Namun menariknya, di setiap titik, hidup tersebut seperti melambat hingga ke tingkat yang tampak tidak bergerak sama sekali. Hidup ini berjalan lambat di tiap titik. Hidup telah memanfaatkan waktu yang dimilikinya dan menikmati proses yang dijalaninya.

Kini hidup sama sekali tak tampak berjalan cepat. Tidak lagi.

Hidup dengan ringan pindah dari satu titik ke titik lain, namun saya tahu bahwa ia menyimak setiap detik yang dilewatinya--mencelupkan diri dalam pengalaman yang diberikan oleh tiap node petualangan, menikmati proses, dan menyambut setiap pelajaran yang dihadiahkan oleh alam.

Melepaskan, menikmati, dan menyambut tampak menjadi kata-kata kunci dari episode perjalanan kali ini.

Rasa terima kasih saya haturkan pada guru-guru dan teman-teman saya. Dan Tuhan. Dan keluarga saya tercinta. Dan--walau terdengar aneh--kepada diri yang telah mengizinkan proses ini berlangsung.

Saat saya menulis catatan akhir ini, sebuah kalimat dalam buku yang saya terima dari seorang teman seperjalanan beresonansi dalam ruang kepala: “Compassion for others begins with kindness to ourselves. --- Rasa kasih terhadap makhluk lain dimulai dengan kebaikan dan kelembutan terhadap diri sendiri.”

PS: Kangen juga dengan dirimu. Um, beneran.

Tuesday, August 12, 2008

Malam terakhir

[English]
Malam itu adalah malam terakhir saya di Pacung untuk TB2. Hari berikutnya adalah saat kami menyudahi masa hening, hari-hari meditasi pun akan berakhir, dan saya akan melanjutkan perjalanan.

Jadi larut malam itu, saya duduk di teras saya, menatapi taman yang telah menggelap sedari tadi dan langit malam gemintang yang terbentang di atas saya.

Saya tersenyum dan berterima kasih pada mereka—pada malam, bintang, kolam, air mancur, sawah, taman, hewan, angin—atas pengalaman penuh berkah ini. Satu-satunya sahabat perjalanan di kala doa-doa malam terpanjatkan.

Malam demikian benderang. Saya belum pernah melihat langit demikian bertabur bintang di Indonesia. Namun bulan tak tampak. Saya sedikit bertanya-tanya kemana dia. Tak mengapa. Saya tahu ia ada di sana, entah dimana tepatnya tapi ada. Saya tetap menghaturkan senyum padanya.

Saya menimbang-nimbang untuk pergi tidur, namun sesuatu dalam diri mengajak untuk bertahan barang sejenak lagi. Jadi saya terus duduk dan berbincang dengan alam malam yang ramah, dekat dan hangat.

Kemudian malam mempersembahkan pertunjukan puncaknya untuk kali terakhir: Sebuah bintang jatuh yang gemilang dan—tampak—penuh warna. Cepat! Sebutkan sebuah keinginan!

Saya tidak dapat menahan senyum. Baik sekali.

Malam telah mengucap kata terakhirnya. Ia lantas mengizinkan saya untuk beranjak ke peraduan.

Perhatikan alam merekah

[English]
Bagaimana caranya ini..











Berubah menjadi ini..











Kemudian ini..











Sebelum sepenuhnya berkembang menjadi ini..









Perhatikan bagaimana alam merekahkan keindahannya.

X menandai titiknya

[English]
Lihat gambar di kiri ini? Gambar yang saya ambil ketika saya sedang bermeditasi dengan Bali Usada di Pacung, Bali.

Bila kita berdiri pas di situ dan tubuh mengarah ke titik bertemunya dua bukit di hadapan kita, kita dapat mendengar air mengalir dari tiga sumber berbeda: sungai kecil di depan, kolam di belakang, dan air mancur di kanan.

Tapi Anda tidak akan dapat melihatnya. Anda pun tidak akan dapat mendengarnya.

Titik luar biasa itu disediakan oleh alam khusus untuk saya. Hanya untuk saya. Dan saya tidak akan berbagi dengan siapa pun!

Monday, August 11, 2008

Kesepakatan dengan Tuhan

[English]
Tiga hari pertama dalam Tapa Brata saya merupakan [berhenti sejenak, mencari istilah positif untuk memaparkannya] 'yang paling kurang menyenangkan’ bagi saya.

Tubuh dan pikiran (atau jiwa) beradaptasi dengan gaya hidup, kegiatan dan jadwal harian yang baru.

Setiap sendi tubuh terasa sakit. Kurangnya (atau ketidakadaannya) konsentrasi. Kaki kesemutan dan terkadang keram. Udara demikian dingin. Otak ini tampak tak sanggup memahami apa yang harus ia lakukan atau rasakan selama bermeditasi.

Hari pertama. Hari kedua. Hari ketiga. Sungguh, menantang, bahkan membuat frustrasi.

Jadi malam hari ketiga, setelah semua orang kembali ke kamarnya masing-masing dan saya pun kembali ke kamar saya, saya duduk untuk memanjatkan doa di larut malam dan berbincang dengan Tuhan.

Saya mengusulkan kesepakatan dengan-Nya. Saya katakan, kurang lebih dalam kata-kata berikut, “Gini ya, Tuhan, saya dengan senang hati menjalani semua itu kalau memang itu yang Kau mau, tapi bantuin saya donk. Mudahkan proses ini buatku.”

Iya, saya tetap saja lugas, langsung dan tegas bahkan dengan-Nya sekalipun.

Saya harus mengingat-ingat 'doa' ini karena tampaknya cukup efektif.

Hari keempat, saya terjaga dari tidur dengan tekad kuat. Saya katakan pada diri bahwa saya harus dapat melalui ini semua. Saya merasa layak Po dalam Kungfu Panda ketika keempat pahlawan memberikannya pelajaran yang cukup keras (dalam arti sebenarnya) ketika mereka berlatih bersama untuk pertama kali.

Po jatuh dan jatuh lagi. Namun setiap terjatuh , dia bangkit kembali--dengan antusiasme yang tak dapat dimengerti dengan akal sehat--dan berteriak, “Woo hoo! Keren abissss. Yuk, kita lakukan lagi yuk!”

Saya merasa seperti itu. Saya berjanji pada diri bahwa saya akan berusaha melakukan yang terbaik, meskipun saya tidak bisa berkonsentrasi 100% atau kaki dan punggung ini terasa sakit.

Jadi, mulai saat itu, saya menerapkan regim yang baru. Saya datang ke setiap sesi meditasi dengan rajinnya. Saya duduk diam di setiap sesi meditasi yang berlangsung selama 45-60 menit itu. Saya mendisiplinkan diri untuk menarik kembali pikiran saya yang melayang ke sana ke mari (untuk keseribu kalinya) selama meditasi.

Saya melakukan semua shalat dan doa saya. Saya menjalani latihan yoga saya. Saya berjalan mengelilingi taman untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Saya bahkan dengan rapinya melipat selimut, pashmina dan jaket saya setiap kali selesai satu sesi meditasi. Saya berjanji pada diri untuk tersenyum setiap kali saya memulai dan menyudahi meditasi.

Pagi itu saya duduk menghadap bukit-bukit saat matahari mulai menyapa dunia, saya merasa Tuhan mengangguk, menyetujui usulan kesepakatan saya. Awan beranjak naik meninggalkan bukit di hadapan saya. Di belakangnya, saya melihat bukit yang lain, dan yang lain, dan yang lain. Kejelasan pandangan. Saya tersenyum. Mereka tersenyum balik kepada saya.

Saya beranjak keluar dari ruang makan dan mengangkat kepala saya, menengok langit yang terbentang tepat di atas kepala. Sang bulan masih terpekur di sana. Jam tujuh pagi dan bulan masih ada di situ. Seperti ia berusaha bertahan hingga tegukan napas terakhirnya, mengumpulkan segala daya untuk melihat hasil akhir episode perbincangan saya dengan Tuhan, menyemangati dan tersenyum sepanjang jalan saya.

Saya kembali tersenyum. Saya akan baik-baik saja.

10 hari berdiam diri

[English]
Tahap kedua dari perjalanan: 11 hari meditasi Tapa Brata II (TB2), dikelola oleh Bali Usada, di Pacung (dimana pun itu di Bali. Geografi memang tidak pernah menjadi salah satu kekuatan saya).

Dari 11 hari tersebut, 10 hari di antaranya saya jalani dalam keadaan hening (noble silence).

Saya belum pernah melakukan meditasi selama sebelas hari sebelumnya. Klise memang, selalu ada saat pertama bagi segala yang terjadi. Saya pernah mengikuti meditasi tujuh hari, tapi belum pernah sebelas.

Suatu pengalaman yang berbeda. Suatu pengalaman berharga.

Seperti biasa, orang-orang di sekitar selalu menarik perhatian saya. Apalagi yang ini. Sekumpulan orang yang tidak sekedar ingin iseng mencoba-coba bermeditasi untuk pertama kalinya.

Mereka sudah menjalani beberapa tradisi meditasi. Mereka telah mengikuti Tapa Brata 1. Entah bagaimana, mereka tentu berpikir ada manfaatnya dan memutuskan untuk melanjutkan ke TB2.

Saya disapa oleh alam yang demikian indah dan hidup yang begitu sederhana, berbincang dengan teman-teman (pada saat hening belum dimulai atau telah lewat) dan Pak Merta Ade, membuat suatu kesepakatan dengan Tuhan sekedar untuk mampu menjalani ini semua, dan melakukan berbagai rendez-vous dengan pekatnya malam di Pacung.

Begitu banyak yang ingin saya ceritakan sehingga saya memutuskan—seperti halnya pengalaman saya beryoga—untuk membaginya dalam beberapa entri. Saya kangen berbagi ini semua dengan teman-teman—dengan kamu.

Selamat menikmati. Pelan-pelan.

Sunday, August 10, 2008

Ruang yang terbuka bagi semua

[English]
Saya suka sekali kamar ini.

Jujur saya tadinya berharap mendapatkan kamar lain, yang ada di bagian lebih belakang dari penginapan ini. Kamar-kamar di belakang memiliki tata ruang dan perabot yang lebih cantik dan tradisional, memiliki pemandangan yang lebih indah dan terletak lebih dekat dengan peserta yoga lain.

Rupanya saya terlalu cepat berbicara.

Kamar saya itu, kamar saya yang lebih sederhana dan terpencil itu, adalah sempurna. Pertama, kamar ini sebenarnya nyaman dan mencukupi. Semua berfungsi dengan baik.

Kedua, saya punya tetangga yang pas. Sesama peserta yoga yang entah bagaimana memiliki latar belakang profesional (dan personal) yang mirip dengan saya. Jadi kami langsung nyambung.

Ketiga, kamar ini merupakan kamar terdekat ke ruang yoga kami. Lima menit ekstra yang demikian berharga. Orang lain harus sudah mulai berjalan ke kelas, saya masih bisa leyeh-leyeh sebentar.

Selain itu, dan ini yang paling ok, kamar ini menghadap jalan kecil yang harus dilalui oleh semua orang ke kelas yoga atau kemana pun. Dilengkapi dengan teras depan cantik, saya merasa memiliki rumah mungil menyenangkan yang menyambut setiap teman atau tamu yang kebetulan lewat.

Mencukupi, nyaman, terbuka dan hangat. Sebuah rumah impian.

Ingin seperti pertama kali

[English]
Saya tengah duduk diam menatapi tarian Kecak malam itu. Saya melihat teman-teman non-Indonesia saya mengagumi gerakan tarian Kecak yang demikian dinamis. Tapi saya tidak. Saya lupa sudah berapa kali saya menonton tarian ini.

Namun sebagian dari diri saya berharap ini adalah kali pertama saya menyaksikannya. Saya berharap saya dapat mengalami rasa yang sama seperti mereka yang tengah menikmati tarian ini untuk pertama kalinya.

Seperti seorang anak kecil yang melihat semua untuk pertama kalinya dan secara spontan dan lincah menjadi sangat bersemangat.

Menyenangkan sekali bukan apabila kita bisa memiliki antusiasme layak anak kecil seperti itu?

Putaran tubuh dan keseimbangan

[English]
Saya sangat menyukai filosofi yang melatari gerakan yoga. Berikut tiga hal yang saya catat dari sesi saya dengan Ann Barros.

Keseimbangan dalam pose pohon
Kami tengah melakukan pose pohon (tree pose). Biasanya pelatih kerap menyuruh kami untuk memfokuskan pandangan pada satu titik selama melakukan pose tersebut untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Tapi bukan Ann. Ann justru mengatakan yang sebaliknya. "Coba gerakkan pandangan Anda dari satu titik ke titik lain. Tubuh Anda harus tetap seimbang. Keseimbangan hendaknya datang dari dalam.”

Putaran tubuh (twist)
Setiap kali sesi akan berakhir, Ann mengajak kita untuk memutar tubuh. Putaran seperti ini, menurut filsuf yoga, melepaskan kemarahan serta kesedihan mendalam. Duh.

Kalau twist saja bisa begitu, gimana kalau twist-and-shout ya? ;)

Savatsana
Setiap sesi yoga hendaknya diakhiri dengan pendinginan/relaksasi. Salah satu yang dilakukan adalah savatsana atau corpse pose.

Pose ini dikatakan berguna untuk merilekskan tubuh, menurunkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit di kepala, kelelahan dan insomnia, menenangkan otak serta membantu mengurangi stres dan depresi ringan.

Savatsana selalu ditaruh kedua terakhir (sebelum meditasi) dalam sesi yoga. Saya senang sekali setiap mendengar Ann mengatakan--seraya kita melakukan savatsana, "Apabila Anda sudah siap, Anda dapat membangunkan tubuh Anda kembali sambil tetap menjaga keberadaan savatsana dalam diri.”

Sekarang sudah mulai dipahami belum kenapa saya demikian mencintai yoga? :)

Wednesday, July 16, 2008

Mewujudkan mimpi masa kecil

[English]
Mau jadi apa nanti kalau sudah besar? Apa yang menjadi minat atau ambisimu sejak dulu? Sewaktu kecil, kamu sering mimpi menjadi apa? Amatlah menyenangkan bila kita dapat mewujudkannya menjadi kenyataan. Mimpi pribadi (masa kecil) selalu menjadi topik diskusi yang menarik.

Tapi tau gak apa yang lebih menarik—buat saya—melebihi keinginan untuk mewujudkan mimpi masa kecil saya? Membantu orang lain mewujudkan mimpinya.

Saya tidak tahu kenapa, namun saya selalu bersemangat bila mendengar mimpi orang lain. Bahkan, bagi saya, mendengar mimpi orang lain lebih menggugah ketimbang memikirkan mimpi saya sendiri. Otak saya berputar ekstra keras. Kepala ini berimajinasi bagaimana mengubah mimpi tersebut menjadi kenyataan, siapa yang bisa saya hubungkan dengan teman saya ini, dsb, dsb.

Saya paling gemas kalau melihat orang-orang berbakat—yang bakatnya sedemikian jelas sehingga menyilaukan—namun mereka tetap hidup 'biasa-biasa saja.' Kenapa sih?

Saya percaya masing-masing insan memiliki bakat yang unik dan istimewa. Tiap-tiap kita memiliki peran yang sangat spesifik dalam hidup. Sebagian dari tugas kita adalah mencari tahu (atau ada juga yang bilang, mengingat kembali) keistimewaan kita. Bagian lain dari tugas kita adalah menjalaninya.

Bagaimana kita dapat mencari tahu dan menjalani peran, bakat dan mimpi istimewa kita tersebut?

Rahasia untuk menjadi istimewa—seperti yang dikatakan oleh Master Oogway dan Bapaknya Po Mr. Ping—adalah nihil. Tidak ada rahasia sama sekali. Kita hanya perlu meyakini bahwa kita ini istimewa.

Tapi ada triknya. Triknya adalah: dicoba.

Kalau kita tidak coba, bagaimana kita tahu kalau kita bisa? Mustahil, katamu? Well, mencoba sesuatu yang mustahil itu bisa menjadi mengasyikkan lho. Yuk!

Mimpi kita itu menunjukkan sesuatu kepada kita. Wujudkan. Jalani. Kemudian, manfaatkan demi kepentingan bersama.

Menulis dan menjadi penulis

[English]
Saya cukup terkejut, bingung dan lumayan tersanjung ketika beberapa teman bertanya apakah saya pernah berpikir untuk menulis buku.

"Um, gak tuh" adalah jawaban pertama saya. Singkat, walaupun mungkin tidak terlalu manis.

Kemudian jawaban kedua muncul setelah saya memikirkan pertanyaan itu sedikit lebih lama, "Tentang apa ya?" Saya tidak tahu buku apa yang bisa saya tulis sehingga mampu menarik orang untuk membaca atau bahkan membelinya sekalipun.

Karena saya tidak pernah melihat diri saya sebagai seorang penulis, apalagi penulis yang baik. Saya rasa saya tidak memiliki passion untuk menulis. Tidak seperti yang dimiliki oleh beberapa teman saya. Orang-orang itu melihat menulis sebagai passion mereka. Bagi mereka, menulis tampaknya telah ditaruh di tengah panggung sebagai pemeran utama atau bahkan pemeran tunggal. Saya tidak seperti itu.

Saya melihat menulis sebagai sekedar ekspresi dari pikiran dan perasaan saya. Salah satu medium untuk mengekspresikan passion saya, itu betul, namun tidak sebagai passion itu sendiri.

Tetap saja, sebagai seorang penggemar introspeksi, saya mencoba mengunyah pernyataan teman-teman saya itu sedikit lebih lama.

Saya obrolkan dengan teman lain--sesama zinister dan pemilik salah satu blog favorit saya. Saya yakin dia juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang penulis.

Komentarnya, "Kenapa (mesti menulis buku)? Gua sih lebih senang kalau loe tetap pada apa yang loe gunakan sekarang: blog dan sirkulasi email. Gratis. Kalau buku khan gua harus beli." Poin yang bagus.

Mohon jangan disalahartikan. Tentu saya memiliki respek yang sangat amat tinggi terhadap para penulis buku--para penulis berbakat luar biasa untuk buku yang telah maupun belum beredar. Buku telah menjadi salah satu sahabat terbaik saya dan saya tidak akan memiliki mereka--ataupun mendapatkan demikian banyak pembelajaran maupun pengetahuan--apabila bukan karena para penulisnya.

Semalam seorang teman lain berargumen, "Lho, kalau melalui buku khan semua pikiran dan ide loe terkompilasi dengan lebih compact (pepak, kalau kata ibu saya) dan terorganisir dengan rapi. Lagipula, loe akan dapat merangkul lebih banyak orang." Betul, mungkin. Tetapi apa yang akan saya tulis? Siapa yang mau saya rangkul?

Dalam satu diskusi beberapa minggu lalu, sesama partisipan bertanya kenapa saya tidak mengatakan apapun selama sesi terakhir. Saya bilang karena tidak ada yang perlu saya tambahkan. Dia menjawab, "Tetapi harusnya ikut urun rembug donk. Saya khan juga ingin belajar dari Anda." Benar juga. Menarik bahkan. Saya tidak pernah melihat diamnya saya sebagai suatu keengganan untuk berbagi.

Namun, sementara ini, saya tetap mengikuti saran teman saya untuk menggunakan media blog dan sirkulasi email. Untuk saat ini.

[Gambar 1 - pribadi; 2 - punya Hany]

Membaca buku berbahasa Indonesia

[English]
Rasanya saya terlalu banyak menggunakan Bahasa Inggris akhir-akhir ini.

Ketika saya menulis entri untuk blog saya, saya selalu menulis versi Bahasa Inggris-nya dulu. Ya, bahkan untuk tulisan ini. Ketika saya mau menulis daftar apa yang harus saya kerjakan, saya pun menuliskannya dalam Bahasa Inggris.

Ketika saya berbincang dengan beberapa teman Indonesia saya, saya berbicara dalam Bahasa Inggris (shame on me (baca: memalukan), ujar saya masih dalam Bahasa Inggris). Ketika saya mau membeli buku, seringkali, saya membeli buku berbahasa Inggris.

Jadi untuk perjalanan mendatang, saya memutuskan untuk membawa buku-buku berbahasa Indonesia. Buku fiksi Indonesia. Wah, sudah lama sekali. Dengan segala rasa hormat. Maafkan.

Friday, July 11, 2008

"Saya tidak tahu"

[English]
Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah entri tentang betapa saya tidak suka mengatakan "saya tidak tahu." Saya cukup percaya diri bahwa saya mampu untuk mengetahui apa pun yang ingin saya ketahui.

Jadi meskipun saya tidak tahu jawaban atau solusinya pada saat itu, saya yakin bahwa saya kenal seorang teman (dari teman dari teman) yang tahu. Kasih saya sedikit waktu dan saya akan mendapatkan solusinya. Pemegang teguh konsep six degrees of separation.

Namun tempo hari, saat saya tengah berbincang dengan seorang teman, saya menanyakan sebuah pertanyaan kenapa kepadanya dan dia menjawab kalau dia tidak tahu. Pertanyaan berkisar pada rasa dan saya bertanya kenapa dia merasa seperti itu. Dia menjawab tidak tahu, dia hanya merasa.

Saya memandangnya dan mengatakan, "Bukankah itu jawaban terindah yang bisa kamu berikan padaku?” Kami berdua tersenyum. Kami berdua tahu bahwa itu benar adanya.

Kadang pertanyaan-pertanyaan terpenting dalam hidup harus memiliki "saya tidak tahu" sebagai jawabannya. Kenapa kamu menyayangi orang itu? Saya tidak tahu. Saya hanya tahu saya menyayanginya. Kenapa kamu memilih melakukan ini, bukan itu? Saya tidak tahu. Karena saya mau. Bagaimana kamu dapat menjadi demikian bahagia? Saya tidak tahu. Saya hanya merasa bahagia. Di sini. Di dalam. Apakah kita memang harus tahu alasannya?

Menilik ke berbagai kejadian baru-baru ini, saya telah menggunakan jawaban "saya tidak tahu" dalam beragam kesempatan. Saya telah memutuskan melakukan banyak
termasuk di antaranya keputusan-keputusan yang cukup penting—tanpa benar-benar mengetahui alasan logis di baliknya.

Untuk beberapa hal, bahkan saya berpikir untuk bertanya atau mempertanyakan pun tidak, sampai ada orang lain yang menanyakannya kepada saya. Setelah itu pun, saya tetap pada jawaban saya bahwa "saya tidak tahu."

Saya tidak keberatan untuk tidak tahu. Karena saya tahu Kamu tahu. Dan saya percaya Kamu.

Anda tidak bisa membayangkan betapa jauh saya telah berjalan untuk sampai pada tahap ketidaktahuan ini. Untuk tahu bahwa saya tidak tahu dan tidak merasa keberatan untuk tak mengetahui. Bahkan, saya menyambutnya dengan sepenuh hati. Kenapa begitu? Saya tidak tahu.

Pilihan dalam hidup

[English]
Tampaknya seorang teman sedang gandrung dengan kata-kata “Hidup adalah tentang pilihan." Pernyataan yang membuat saya berpikir. Apa memang hidup adalah tentang pilihan? Apakah kita memang benar-benar memilih?

Ada orang yang berpaham bahwa mereka sudah mentok dengan apa yang mereka miliki saat ini. Mereka merasa tidak memiliki pilihan lain. Kebanyakan mungkin karena alasan ekonomi, namun ada kalanya lebih karena kita tidak terbiasa berpikir tentang adanya pilihan lain dalam hidup. Bahwa kita dapat berjalan lebih jauh, kalau saja kita berusaha, kalau saja kita percaya.

Kemudian ada pula orang yang sudah mulai berpikir bahwa hidup adalah tentang pilihan. Kita punya begitu banyak pilihan dalam hidup. Kita memiliki kekuatan untuk memilih. Saya agak bertanya-tanya apakah kita perlu waktu berpikir untuk memilih adalah karena kita tidak cukup mengenal diri kita.

Jika kita tahu kita lebih suka teh ketimbang kopi, jika kita lebih suka es krim stroberi ketimbang cokelat, kita bahkan tidak akan berpikir tentang kopi atau es krim cokelat. Bahkan ketika kopi dan es krim cokelat itu terhidang di hadapan, kita tidak melihatnya sebagai suatu pilihan, karena itu bukan kita. Kita akan dengan mudahnya mengatakan "teh" dan "stroberi," tanpa perlu berpikir panjang.

Lagipula, siapa kita berani-beraninya bilang kalau kita bisa mengendalikan hidup ini. Seorang teman lain pernah berkata bahwa "persepsi akan kendali itu adalah ilusi." Kita pikir kita memiliki kendali, tapi satu menit kemudian semua bisa hancur berantakan tanpa kita dapat melakukan apa-apa. Terlalu arogan apabila kita berpikir kitalah orang yang mengendalikan hidup, bahwa kitalah yang membuat pilihan-pilihan itu.

Kemudian, ada juga orang yang hanya melakukan. Mereka sekedar menapaki jalan kehidupan. Mereka tidak merasa memilih karena mereka tahu bahwa jalan itu telah dibentangkan khusus untuk mereka jalani. Mereka memiliki keyakinan. Mereka berupaya sebaik mungkin memanfaatkan apa yang ada di hadapan mereka, apa yang telah dihidangkan bagi mereka, karena mereka tahu semua ini berasal dari Dia khusus untuk mereka.

Selain itu, ada orang yang hanya mengada. Orang yang melakukan bukan sekedar demi melakukan atau menjalani apa yang ada di hadapan mereka, namun karena semua berasal dari dalam diri. Karena itulah mereka. Mereka senantiasa merujuk ke hati, bukan ke pikiran.

Nantinya, entah kapan, akan tiba waktu saat apa yang kita 'inginkan' sama persis dengan apa yang Dia inginkan. Di sini kita tidak lagi berbicara tentang 'mengada' karena yang ada hanya Dia dan tidak yang lain. Dia adalah kita tapi kita bukan benar-benar Dia.

Saya yakin ada penjelasan-penjelasan lain. Tapi saya akan berhenti di sini dan mengakhiri tulisan saya dengan apa yang ditulis oleh seorang teman dalam emailnya. Dia berujar, “Ketika kamu terhubung dengan hatimu dan bergerak berdasarkannya, semua yang kamu lakukan adalah jujur. Tidak ada benar atau salah. Hanya 'ada'. Pikiranmu tidak akan menghalangi. Kamu akan menjalaninya tanpa ragu."

Dia meneruskan, “Ketika kamu fokus untuk hanya menggali dirimu, semua hal lain akan tertata dengan sendirinya. Hati, dalam hal ini, memainkan peran yang demikian penting. Hati menjadi jembatan antara pikiran dan tindakanmu. Cinta membutuhkan hati yang terbuka untuk bisa memberi dan menerima. Semakin terbuka hatimu, semakin kamu dapat memberi dan menerima. "Dia" adalah "cinta."

Saya sangat terberkati. Saya menyadari itu. Terima kasih.

Sunday, June 29, 2008

Rambu dan simbol

[English]
Saya orang yang sangat percaya akan berbagai rambu dan simbol dalam hidup, rambu dan simbol dari kehidupan. Hidup gemar menyapa kita dengan beragam tanda, mengarahkan apa yang perlu kita pelajari dan lakukan.

Hari ini, hidup menyapa untuk berujar bahwa saya belum terlalu pandai membacanya.

Saya tengah berjalan menuju rumah seorang teman. Ia dengan baik hati telah mengirimkan peta rumahnya beberapa hari sebelumnya. Tadi malam, saya telah mempelajarinya dan bahkan membuat catatan kecil dengan hati-hati.

Tentunya, pagi ini catatan itu tertinggal di rumah. Saya baru menyadarinya saat saya memasuki perumahan teman saya. Ck. Tipikal saya banget, saya pikir. Baik, mari berpikir positif. Saya terus berjalan dan mencoba membayangkan rute rumah teman saya.

Saya mengikuti gambar mental itu. Sampai suatu titik, saya berhenti dan melihat nomor blok rumah di samping saya. “W. Harusnya N,” gumam saya, “Saya harus kembali ke jalan besar.”

Seraya berputar, saya menengok ke kiri. Ada beberapa mobil parkir di kejauhan. “Aha, pasti itu,” kata saya pada diri (Sekarang saya tidak terlalu paham kenapa saya berpikir demikian). Saya mengarah ke sana. Ternyata memang rumah teman saya.

Saya menelusuri kembali peta mental itu di kepala saya. Saya pun menyadari kesalahan saya.

Saya langsung belok ke kiri (garis hijau) ketimbang belok sedikit ke kanan dulu sebelum belok kiri.
Saya telah mengabaikan belokan kecil aneh tapi ternyata penting itu.

Demikian pula saya dalam hidup. Saya melupakan catatan kecil yang telah saya buat dengan hati-hati. Saya berikan label "tipikal saya" terus-menerus pada setiap pikiran, ucapan dan tindak-tanduk saya, hingga suatu saat benar-benar menjadi tipikal saya. Saya melewatkan belokan kecil tak 'wajar' yang sebenarnya harus saya lewati sebelum saya melanjutkan perjalanan.

Saya berhenti sejenak untuk membaca paragraf di atas. Ah, iya, saya juga sering terlalu keras pada diri.

Setuju. Mari coba lebih positif melihat diri. Jika saya benar-benar memperhatikan apa yang saya lakukan, saya bisa memiliki gambaran mental yang jelas. Saya senang berkontemplasi. Saya tidak (lagi) terlalu kesal apabila saya berbuat kesalahan. Saya memikirkan langkah selanjutnya dan melanjutkan perjalanan. Saya percaya pada instink yang telah kerap 'menyelamatkan' saya.

Tetap, hari ini hidup mengingatkan bahwa saya masih melewatkan demikian banyak tanda yang telah ia anugerahkan pada saya–entah karena
ketidaksabaran, ketidakpedulian ataupun ego.

Jujur, itu pula sebab saya masih melewatkan begitu banyak tanda, rambu, dan simbol darimu–karena ketidaksabaran, ketidakpedulian ataupun ego. Tolong jangan menyerah terhadap diri saya.