Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Sunday, August 31, 2008

Foto keluarga - Agustus 2008

[English]
Foto keluarga sebelum Ramadhan. 31 Agustus 2008.
Gak heran saya demikian mencintai mereka

Sunday, June 22, 2008

22 Juni

[English]
"Lagi ngapain sih?"
"Sini, duduk. Papa mau liatin sesuatu."
"Apa?"
"Ini kunci untuk A, yang ini kunci untuk B. Ini dokumen-dokumen untuk C, sementara ini dokumen-dokumen untuk D. Papa simpan di sini. Kalau dokumen-dokumen untuk E papa taruh di bank. Ini kunci untuk ke safety boxnya dan passkey-nya 123456."
"Ngapain sih papa ngomong gini? Emang papa mau kemana?"

Itu pembicaraan saya dengan Bapak saya. Beberapa minggu kemudian, kesehatan beliau menurun terus hingga sekitar delapan bulan ketika beliau meninggal dunia.

22 Juni adalah hari ulang tahun Bapak saya. 22 juga adalah usia saya ketika beliau meninggal dunia. 22 dibagi dua, 11 (Juni), adalah saat beliau meninggal dunia.

Tadinya saya ingin menggunakan kata "ketika saya kehilangan beliau". Tapi rasanya kurang pas. Saya tidak pernah benar-benar kehilangan Bapak saya. Beliau selalu berada di sisi saya, mengiringi setiap langkah saya. Jadi saya gunakan kata-kata "meninggal dunia." Beliau sudah meninggalkan dunia ini dan melanjutkan perjalanannya.

...

Aku sudah lama tidak menyalakan lilin. Tapi pagi (dini hari) ini, aku menyalakannya untukmu, Pop. Mencuatkan kembali semua nostalgia kita dan pelajaran (serta kebiasaan) yang telah Papa limpahkan (tularkan?) kepadaku.

Senantiasa aktif. Bersikap positif. Komentar singkat menghujam dengan permainan kata yang cerdik. Keingintahuan. Deretan pertanyaan terperinci yang mengganggu. Kesederhanaan. Kecintaan pada alam. Kecintaan pada buku. Perhatian terhadap detail dan kepada orang di sekitar kita.

Pragmatis. Idealis. Lugas. Berani mencoba sesuatu yang baru (meskipun kita tidak tahu sama sekali tentang hal itu, dan berpotensi memalukan diri sendiri).

Mendengarkan orang tanpa membiarkan mereka mendikte kita. Melakukan segala sesuatu a la diri (
Tradisi. Emang kenapa tradisi mesti dipertahankan? Pernah Papa tanya itu. Khas Papa). Tidak mencampuri urusan orang. Berbicara seperlunya. Membaca gelagat dan situasi.

Mengizinkan. Melepaskan. Menjalani. Menghargai. Menikmati hidup. Bersantai. Berdoa. Hidup. Mencintai keluarga, mencintai Mama.

Tentunya aku belum menguasai semua itu, tapi minimal
khan aku sedang berusaha belajar.

Aku mengingat masa-masa kita tidak terlalu akrab (Akrab?
Boro-boro..). Atau lebih tepatnya, saat aku tidak terlalu dekat dengan Papa. Kemudian aku pikir, kenapa juga diungkit. Aku sadar itu semua proses. Prosesku, dan mungkin proses Papa juga (Karma kali ya, Pop? :p) Tetap saja, aku minta maaf kalau aku telah menyakiti hati Papa dan Mama.

Terima kasih pada Papa (dan Mama, dan Tuhan) yang telah membantuku hingga menjadi diriku kini. Terima kasih telah membebaskanku bertumbuh sesuai dengan jalan yang kupilih. Untuk membiarkanku membuat kesalahan dan belajar darinya, namun tetap berada dua langkah di belakangku-- memperhatikan, menjaga, mengasihi, menyayangi.

Aku merasa aku akan segera memasuki tahap baru dalam hidupku, pop. Tetap di sampingku, ya. Ini wilayah yang papa tahu betul, jauh lebih baik ketimbang orang lain dalam hidupku.

Saturday, June 07, 2008

Menilik masa lalu

[English]
Mari kita bicara sekali lagi tentang bersih-bersih. Tampaknya, dalam dua minggu terakhir ini, topik tersebut menjadi favorit dalam diri saya.

Tadi malam di sebuah film di Disney Channel, karakter yang dimainkan oleh Bruce Willis diingatkan kalau dia terlalu sombong jika dia menganggap bahwa dirinya disitu sekedar membantu diri mudanya (diri mudanya mengarungi waktu untuk bertemu dengannya).

Benar, mungkin saja diri mudanya dapat belajar sesuatu dari karakter Bruce Willis, tapi sang diri muda juga ada di situ untuk membantu dia mengingat. Membantu dia mengingat. Tampaknya banyak sekali kejadian yang membantu saya mengingat akhir-akhir ini.

Saya telah diperkenalkan (kembali) kepada beberapa teman-teman yang 'gelo', yang mengingatkan saya bagaimana cara menertawai (terbahak-bahak) hal-hal tidak penting. Orang-orang yang bisa bercanda dan berbincang secara enteng tentang apa pun, bahkan tentang hal yang menyakitkan dalam hidup.

Orang-orang berbeda dengan kegilaan yang berbeda-beda pula. Namun, entah bagaimana, semua itu adalah saya. Beberapa rasanya seperti dibawa khusus dari masa lalu saya untuk mengingatkan saya tentang saya yang lalu. (ge-er ya).

Acara ngopi Rabu malam kemarin dengan seorang teman benar-benar telah melakukan hal ini ke saya. Kami berbincang dan tertawa tentang banyak hal. Kami berbicara tentang masa lalu, masa kini, tentang kerja, kehidupan sosial, dan hubungan dengan orang lain. Kami bercakap tentang bagaimana dan kenapa.

Sikap dan kepribadian kami telah berubah sesuai dengan situasi kerja dan etape hidup. Dan betapa kami sudah berubah. Kata-kata atau perilaku yang kami ucapkan atau kami lakukan terhadap orang dulu, tidak akan tega kami ucapkan atau kami lakukan sekarang. Amin.

Perbincangan ini mengingatkan saya tentang asal usul saya. Mengingatkan saya sudah menjadi seperti apa saya sekarang. Mungkin mengingatkan bahwa saya harus tetap memiliki sisi yang lebih ringan, lebih 'tolol', hampir gelo itu dalam diri. Bahwa saya tetap harus 'gila' supaya bisa tetap waras.

Atau, mungkin, itu hanya pertanda bahwa saya terlalu berusaha memisahkan diri dari masa lalu saya (munurut saya (dulu), itu untuk alasan yang kuat) dan berusaha untuk menciptakan suatu identitas baru yang lebih kuat dan dewasa.

Masa lalu-masa lalu itu. Awalnya, kita bergumul dengan mereka dan kita merasa bersalah terhadap diri sendiri. Kemudian kita dorong mereka jauh ke dalam diri dan (kita pikir) sudah lewatlah semua ini.

Kemudian kita menyadari mereka masih di sana, tetap menyakiti, dan kita bertahan dengan menolaknya sama sekali, tanpa menyadari bahwa sebenarnya dengan cara ini pun masalah belum selesai, Kita sekedar menjadi marah, pahit, atau minimal skeptis.

Perbincangan Rabu malam itu membuat saya berpikir bahwa sebenarnya masa lalu tidaklah terlalu buruk. Masa lalu adalah bagian dari dinding-dinding pembangun diri saya kini.

Yang membuat hidup, hidup. Terima. Nikmati. Biarkan mengalir. Mencoba. Sedikit demi sedikit. Tak lupa sejumput bumbu kegilaan untuk membantu meringankan.

Terima kasih. Terima kasih, semua.

Monday, May 05, 2008

Menunda keinginan

[English]
Kakak perempuan saya baru saja mengikuti pelatihan mendidik anak. Mereka mendiskusikan banyak hal. Salah satunya adalah saat sang pelatih menyarankan para orang tua untuk melatih anaknya menunda keinginan.

Ketika anak meminta sesuatu, orang tua tidak perlu memenuhi permintaan tersebut saat itu juga. Tunda seperlunya. Berikan jeda antara permintaan dan pemenuhannya.

Sang pelatih mengatakan bahwa hal ini akan melatih anak memiliki jeda-jeda serupa dalam kehidupan. Untuk tidak bertindak reaktif (secara instink ataupun emosional) pada saat itu juga. Untuk berpikir sebelum mereka menanggapi berbagai stimuli dalam hidup. Untuk berlaku bijak. Aduh.

Menarik, pikir saya. Suatu kebiasaan yang baik untuk diajarkan dengan cara demikian sederhana. Saya tahu kalau berpikir sebelum bertindak itu baik. Saya tahu menunda keinginan juga baik. Namun saya tidak pernah menautkan dua hal tersebut. Paling sedikit, tidak dalam hal mengasuh anak.

Saya akan mempersilakan dua guru besar saya meneruskan cerita ini.

Jalal-ad-din Rumi mengatakan, “Permulaan dari kesombongan dan kebencian berada pada keinginan duniawi, dan kekuatan keinginanmu berakar dari kebiasaan. Ketika tendensi buruk menjadi kokoh sebagai buah kebiasaan, kemarahan/kemurkaan akan (mudah) terpicu ketika ada pihak yang berusaha mengekangmu.”

Kemudian beliau juga pernah berkata, “Jika kamu terganggu oleh setiap friksi, bagaimana kamu bisa terpoles dengan baik?” Ok juga, guru. Bagaimana kita bisa melakukan in? Bagaimana kita mengelola keinginan kita? Datanglah guru saya yang lain, Al Ghazali.

Dalam bukunya Disciplining the Soul (Mendisiplinkan jiwa – yang mungkin merupakan salah satu buku yang paling berpengaruh dalam hidup saya), Al-Ghazali mengutip Yahya ibn Muadh al Razi, “Lawan jiwamu dengan pedang disiplin diri. Ada empat: makan sedikit, tidur sebentar, bicara seperlunya, dan toleransi semua perbuatan buruk yang dilakukan terhadapmu. Makan sedikit akan meniadakan keinginan, tidur sebentar akan membersihkan aspirasimu, berbicara seperlunya akan menyelamatkanmu dari berbagai penderitaan, dan mentoleransi perbuatan buruk akan mengantarmu ke tujuanmu—karena salah satu hal tersulit bagi manusia adalah untuk berlaku lembut ketika tidak diacuhkan atau ketika mentolerir perbuatan buruk yang dilakukan terhadapnya.” (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal57)

Benar sekali. Mentolerir perbuatan buruk/salah merupakan salah satu tantangan terbesar. Bagaimana caranya saya bisa menahan diri terhadap orang yang tidak mengacuhkan atau yang menjahati saya? Kapan saya harus mengatakan sesuatu dan kapan saya harus diam?

Beliau (Al Ghazali) kemudian berkata, “Pernah seseorang bertanya kepada Umar ibn Abd Al-Azis, ‘Kapan saya harus berbicara?’ Dan Umar menjawab, ‘Ketika kamu ingin diam.’ ‘Kapan saya harus diam?’ tanya orang itu lagi, dan Umar berujar, ‘Ketika kamu ingin berbicara.’ (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal59)

Saya mengangguk-anggukan kepala saya. Namun kemudian, saya jadi bingung sendiri dengan pernyataan itu. Rupanya saya memang masih belajar.

Kalau demikian, mari mulai dari awal. Seperti yang dikatakan di pelatihannya kakak saya. Tunda keinginan. Keinginan kita dulu. Bukan keinginan anak.

Saturday, May 03, 2008

Sabtu pagi

[English]
Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan.

Setelah menulis email untuk seorang Paman Bill, saya ngobrol (conference chat) dengan dua teman tersayang (Kami bertiga online pada jam delapan pagi di hari Sabtu. Kebayang tak kenapa kami berteman baik? *keluh*).

Obrolan dimulai dengan “Sudah ada tehnya masing-masing??” :)

Saya belum. Jadi saya langsung bangkit untuk membuat secangkir teh hangat. (Orang-orang aneh. Thayank, thayank, thayank..). Kemudian kami terus ngobrol tentang banyak hal dan tentang hal tak penting.

Di tengah-tengah obrolan, abang saya—yang memang doyan masak—memanggil untuk sarapan. Dia sudah mempersiapkan omelet tomat dan roti bawang bakar untuk kami semua.


Saya bolak-balik antara komputer dan meja makan untuk cicip-cicip makanan (dan menjawab sms plus menulis tulisan ini).

Ibu, abang dan sepupu saya semua duduk di meja makan bersama—tentunya—si Miauw, bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami.

Sekarang jam 11 pagi dan saya masih terus mengobrol dengan teman dan keluarga.

Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan. *Peluk erat hangat*

Wednesday, April 02, 2008

Kemewahan untuk memilih

[English]
Orang sering bilang saya beruntung, karena saya bisa melakukan beberapa hal, banyak hal. Saya merasa saya terberkati, seperti halnya semua orang di dunia ini.

Bukan hanya karena saya memiliki kemewahan akan pilihan. Tapi juga kemewahan untuk memiliki keberanian memilih dan menerima akibatnya.

Saya rasa ini yang suka hilang dari banyak orang. Kita kerap mengatakan kita tidak memiliki pilihan. Pemikiran yang sering membawa kita ke jalan yang serba terbatas.

Saya benar-benar percaya bahwa kita selalu memiliki pilihan. Masalah ketajaman kita untuk mendeteksinya, keberanian untuk memilihnya, dan integritas untuk menjalani konsekuensinya.

Baru beberapa minggu belakangan ini saya menyadari dari mana asal kepercayaan ini. Saat saya sedang pergi dan ngobrol dengan seorang teman yang luar biasa.

Dia berujar, "Kamu beruntung kamu punya orang tua yang membesarkanmu dengan kepercayaan seperti itu." Dia benar.

Bapak saya, betapapun mengesalkannya dia ketika saya kecil *becanda, pa*, bersama dengan ibu saya yang penuh cinta itu telah membiarkan saya tumbuh sesuai dengan keinginan saya, mencoba (hampir) semua hal yang ingin saya coba, dan merasakan konsekuensinya.

Saya punya pilihan. Saya memilih. Anda pun punya. Anda pun bisa.

Saya pernah membuat keputusan yang baik, pernah pula yang kurang menyenangkan. Tapi tak apa. Saya telah belajar dari pengalaman itu. Hidup yang penuh eksperimen ini telah membantu saya untuk melihat, untuk percaya bahwa saya selalu memiliki pilihan, masing-masing dengan konsekuensinya.

Konsekuensi yang saya berani terima karena saya tahu konsekuensi itu dapat membuat saya melompat jauh. Hingga ke tempat saya berada hari ini. Ke tempat dimana saya bisa berada di masa datang.

Dan untuk itu, saya berterima kasih pada Bapak dan Ibu saya. Terima kasih. Puji Syukur. Setiap hari, ada saja hal baru yang saya sadari: semua hal yang Bapak dan Ibu telah lakukan kepada saya, untuk saya. Luar biasa.

Monday, March 17, 2008

Saya dan buku

[English]
Saya dan buku sudah berteman lama. Mereka adalah salah satu sahabat terdekat saya. Mereka telah membantu saya berjalan jauh, melebihi yang bisa saya bayangkan. Saya berterima kasih pada mereka. Saya berterima kasih pada ibu bapak saya.

Saya sedang main ke tempat teman minggu lalu. Dia telah membuka sebuah perpustakaan kecil bagi anak-anak di lingkungannya. Saya bercerita kecintaan saya tentang buku padanya. Dan saya ceritakan awal kecintaan itu mulai tumbuh.

Ketika saya masih kecil, ibu mengajak saya ke pasar beberapa kali tiap minggunya. Hampir setiap kali, beliau menitipkan saya di salah satu toko buku di sana.

Sang empunya toko dengan baik hati membiarkan saya menjelajahi tokonya, membaca apa pun yang saya inginkan. Komik, atlas, sejarah, geografi, pengetahuan umum, novel, apa pun. Kecintaan saya terhadap buku pun tumbuh.

Bapak turut pula menyuburkan kecintaan saya membaca. Bahkan ketika saya masih di sekolah dasar pun, beliau bisa dikatakan ‘mengharuskan’ saya untuk membaca surat kabar sebelum saya pergi sekolah.

Bapak kerap mendiskusikan kejadian yang tertulis di surat kabar dengan saya. Kecintaan saya pada membaca bertumbuh. Begitu pula dengan kemampuan (dan kegemaran) saya untuk menganalisis.

Saya dan buku sudah berteman lama. Dan perjalanan kami masih jauh. Saya hanya berharap setiap anak memiliki kesempatan yang sama dengan saya. Kalau saja mereka menyadari betapa jauh mereka bisa mengembara, secara intelektual dan imajinasi.

Saya berterima kasih pada para buku. Saya berterima kasih pada ibu bapak saya.

Thursday, February 07, 2008

Kepada anak kami tersayang:

[English]
Seorang teman menaruh puisi di bawah ini di blognya, disadur dari sebuah situs bertajuk parent's wish, harapan orang tua. Indah sekali.

Saya coba terjemahkan semampu saya.

Kepada anak kami tersayang:

Saat kamu melihat kami tua, lemah, dan letih,
Bersabarlah dan cobalah mengerti kami.

Bila kami menjadi kotor dikala menyantap makanan,
Bila kami tidak dapat mengenakan baju sendiri,

Bersabarlah dan ingat saat-saat
kami menyuapimu dan membantumu mengenakan pakaianmu.

Bila saat kami berbicara padamu,
Kami mengulang hal yang sama, lagi dan lagi,
Tolong jangan memotong kami. Dengarkan kami.

Ketika kau masih kecil,
Kami pun harus membacakan untukmu cerita yang sama
Ribuan kali hingga kamu tertidur.

Bila kami tidak ingin mandi,
Jangan merasa malu atau marah pada kami.

Ingatkah kamu saat kami harus mengejarmu
Dengan beribu bujukan agar kamu mau mandi?

Pada saat kami bersikap tak acuh terhadap teknologi baru,
Bantu kami untuk mengarungi dunia maya ini.

Kami telah mengajarimu begitu banyak,
Bagaimana memakan makanan yang baik, berpakaian yang baik,
juga untuk mempertahankan hakmu dengan baik.

Bila kadang kami lupa,
atau kehilangan arah pembicaraan kita,

Biarkan kami berusaha mengingatnya walau perlahan,
Dan jika kami tetap tidak mengingatnya, jangan jengah atau khawatir,

Karena yang terpenting bukanlah pembicaraan kita,
Tetapi tentunya kebersamaan kita, dan kamu yang mendengarkan kami.

Jika ada saat kami tidak berselera untuk makan, jangan paksa kami.
Kami tahu kapan kami perlu atau tidak perlu makan.

Saat kaki kami tak kuat melangkah
hingga kami tak dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat,

Ulurkanlah tanganmu. Sama seperti yang kami lakukan
Ketika kamu mencoba melangkah untuk pertama kalinya.

Dan apabila tiba saat kami mengatakan padamu,
Kami sudah tak ingin hidup lagi, bahwa kami ingin mati,
Janganlah meradang. Suatu hari, kamu pun akan mengerti.

Cobalah mengerti bahwa bukan saja kami telah menjalani hidup ini, kami telah berhasil mengarunginya.

Suatu hari kamu akan paham bahwa, meskipun kami telah melakukan kesalahan,
Kami selalu menginginkan yang terbaik untukmu
Dan kami telah mencoba untuk menyiapkan, membuka jalan untukmu.

Janganlah sedih, marah atau malu
apabila kami tengah bersamamu.

Cobalah mengerti kami dan bantu kami
Layaknya yang kami lakukan ketika kamu masih kecil.

Bantu kami melangkah.
Bantu kami menjalani sisa hidup kami, penuh cinta dan harga diri.

Kami akan membayarmu dengan senyum dan cinta yang melimpah
Yang selalu kami miliki dalam hati ini untukmu.

Kami sayang padamu, nak.

Bapak dan Ibu

Aku pun sayang sama papa dan mama. Maafkan atas segala ketidakacuhan, ketidakhormatan, kekasaran, keegoisan, ketidakpedulian, ketidakadaan rasa terima kasih, dan ketidaksabaranku.

Thursday, January 10, 2008

Selamat ulang tahun, Ma

[English]
Satu-satunya kata-kata yang terpikir olehku adalah "terima kasih."

Terima kasih untuk--benar-benar--semuanya.

Sekalipun aku dedikasikan seluruh sisa hidupku untuk mama, tetap aja gak bakal ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah mama lakukan buat kami.


Gimana kalau kita dengarkan satu lagu? Aku rasa lagu ini pas banget.

Don't Forget To Remember Me
By Carrie Underwood


18 years have come and gone
For momma they flew by
But for me they drug on and on
We were loading up that Chevy
Both tryin' not to cry
Momma kept on talking
Putting off good-bye
Then she took my hand and said
'Baby don't forget

Before you hit the highway
You better stop for gas
There's a 50 in the ashtray
In case you run short on cash
Here's a map and here's a Bible
If you ever lose your way

Just one more thing before you leave
Don't forget to remember me'

This downtown apartment sure makes me miss home
And those bills there on the counter
Keep telling me I'm on my own
And just like every Sunday I called momma up last night
And even when it's not, I tell her everything's alright
Before we hung up I said
'Hey momma, don't forget to tell my baby sister I'll see her in the fall
And tell mee-ma that I miss her
Yeah, I should give her a call
And make sure you tell Daddy that I'm still his little girl
Yeah, I still feel like I'm where I'm supposed to be
Don't forget to remember me

Tonight I find myself kneeling by the bed to pray
I haven't done this in a while
So I don't know what to say but
'Lord I feel so small sometimes in this big ol' place
Yeah, I know there are more important things,
But don't forget to remember me
But don't forget to remember me

Aku gak akan lupa. Janji.

Wednesday, November 07, 2007

Buat mama dan papa

Tuhan, maafkan saya dan maafkan papa dan mama.

Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil. SEJAK aku kecil.

*pelukcium*

Tuesday, September 25, 2007

Anak hilang

Kemarin malam keluarga saya pergi makan malam bareng, merayakan ulang tahun ponakan saya.

Ketika kami berjalan keluar restoran, tiba-tiba ada seorang anak yang mungkin berusia sekitar empat tahun, ikutan dalam rombongan kami. Kakak-kakak saya bertanya ke anak itu, papa mamanya mana? Si anak gak menjawab dan kami tidak melihat ada orang dewasa lain di sekitar kami.

Jadi keluarga saya berhenti berjalan. Satu abang saya balik masuk ke restoran, mencoba untuk mencari keluarga si anak. Dia tidak kembali sampai dia menemukan keluarga itu, sementara yang lainnya menunggu bareng si anak di depan.

Si anak sudah kembali bersama keluarganya. Kami pun berjalan pulang.

Selamat ulang tahun, ji. Kamu punya keluarga yang baik.

Tuesday, September 11, 2007

SMS

[English]
Saya menerima sebuah sms hari ini. Sepupu saya, anaknya meninggal dalam kandungan.

Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya ingin teman saya pernah bertanya pada saya, apa cobaan yang paling saya takuti, dan saya bilang, “untuk melihat anak saya meninggal sebelum saya.”

Saya tidak tau kenapa saya mengatakan itu. Saya sendiri belum memiliki anak. Saya hanya bisa membayangkan. Sebenarnya, mungkin saya tidak akan bisa membayangkan sampai saya benar punya anak. Semoga saya tidak pernah harus membayangkannya. Moga-moga tidak akan pernah.

.baek-baek.

Tuesday, August 07, 2007

Guru-guru kehidupan

[English]
Salah satu karunia terbesar yang saya rasakan dalam hidup ini (selain keluarga saya) adalah hal-hal yang bisa saya pelajari hanya dengan ‘menonton’ orang lain.

Orang-orang yang memperjuangkan hidupnya hanya dengan kedua tangannya. Mereka tidak berasal dari keluarga berada, tapi lihat betapa mapannya mereka sekarang secara finansial. The survivors.

Orang-orang yang begitu puas akan hidupnya, yang begitu bersyukur. Orang-orang yang penuh dengan kasih dan damai. Orang-orang yang memiliki hati yang begitu sederhana dan semangat tiada henti untuk menolong orang lain.

Orang-orang yang tidak peduli dan begitu rakus. Orang-orang yang selalu mengeluh tentang segala hal. Orang-orang yang terus berlari seperti seekor anjing yang berlari berputar mengejar ekornya sendiri.

Orang-orang yang telah melalui saat-saat berat dalam hidupnya dan berhasil. Yang telah mengalami neraka hidup dan tetap bertahan. Orang-orang yang mengalami berbagai cobaan namun kini hanya bisa sekedar bertahan untuk hidup. Dan mereka yang tidak bisa bertahan sama sekali – disadari atau tidak.

Sebuah karunia yang besar karena saya hanya perlu menonton dan tidak perlu melalui apa yang mereka lalui. Karena kalau saya juga harus merasakannya, saya tidak yakin saya bisa sekuat mereka.

Guru-guru besar dalam hidup saya. Saya hanya tinggal menonton. Dan menarik pelajaran darinya.

Friday, June 22, 2007

Kemarin

[English]

Kemarin itu bukan salah satu hari favorit saya di kantor. Rasanya terlalu banyak orang yang melewati tenggat waktunya (deadline maksudku). Dan mereka yang mengirimkan hasil kerjanya pun, hasilnya kurang memuaskan.

Bahkan ada satu saat dimana saya udah gak bisa ngomong apa-apa. (kebayang gak: saya, gak bisa ngomong apa-apa). Jadi bukannya saya mengeluarkan serentetan pertanyaan "kenapa" seperti biasanya, satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut saya hanyalah "Oh for God's sake". Saat saya berhenti bertanya, justru merupakan saat untuk mulai merasa khawatir.

Waktunya rehat kopi.

post script: Saat-saat terbaik kemarin adalah ketika saya mau keluar dari pintu kantor, penerima tamu di kantor saya yang selalu menghibur itu melakukan gerakan-gerakan biasa (atau tidak biasa?) untuk mengucapkan selamat jalan, dengan senyuman (cengiran, cenderung nakal) seperti biasa. Dia mungkin gak sadar betapa dia telah membuat hari saya menjadi jauh lebih menyenangkan.

Namun, saat terbaik dari yag terbaik untuk kemarin adalah ketika saya pergi ke rumah baru kakak saya sepulang kerja dan kumpul bareng keluarga saya. Sekumpulan orang aneh yang paling menyenangi dan menyenangkan saya. Dan selalu ditemani dengan berbagai makanan plus cemilan nikmat.

Tuesday, April 03, 2007

Relakan

Kejadian ini sebenarnya telah berlangsung lebih dari 10 tahun yang lalu.

Saya sedang umroh dengan keluarga saya. Kami baru saja turun dari taksi, ketika saya menyadari kalau jaket saya ketinggalan di taksi. Panik. Bapak saya memegang tangan saya, kemudian dia bilang: "Relakan.".

Mungkin karena umur, mungkin juga karena bawaan, saya tetap panik. Bapak saya sekali lagi memegang tangan saya, menatap saya dalam-dalam dan mengulang apa yang telah dia katakan: "Relakan." Mendadak saya terdiam, menjadi tenang. Dan berhenti berusaha.

Sampai sekarang, kalau saya 'kehilangan' sesuatu atau seseorang, atau merasa terlalu berpegang erat pada sesuatu atau seseorang, saya mengatakan kepada diri saya, "Lepaskan. Relakan. Let it go."

Love you, pop.

Wednesday, March 21, 2007

Sarapan yang menyenangkan

Hari raya di Indonesia -- Nyepi. Rasanya semua orang buru-buru melarikan diri dari ibukota ini. Keluargaku? Ibu, abang, kakak dan aku pun pergi sarapan di warung kopi dekat rumah kami. Santai. Senang. Hangat.

Terasa akrab sekali pagi itu. Layaknya sebuah keluarga. Terima kasih ya.

Thursday, March 08, 2007

Senang

Sebenarnya saya tidak punya alasan kuat untuk menaruh foto dua ponakan saya ini. Cuma senang aja. Liat ekspresi mereka. Bahagia sekali tampaknya. Gemes.

Sebenarnya sih, itu pun alasan yang cukup kuat ya.

Leyeh-leyeh bareng ibu

Teman-temanku ngajak hang-out malam ini. Tapi aku gak mau. Aku cuma ingin pulang.

Pagi tadi aku mikir mau ke gym setelah kantor. Tapi berubah pikiran. Aku cuma ingin pulang.

Aku nganter beberapa teman ke hotel mereka. Mereka nanya mau mampir dulu gak. Aku gak mau. Aku cuma ingin pulang.

Entah kenapa, aku cuma ingin cepat pulang. Untuk leyeh-leyeh bareng ibuku.