Sunday, May 18, 2008

Malam itu

[English]
Saya terbaring di atas tempat tidur, tempat tidur saya yang nyaman dan akrab. Namun tak cukup nyaman untuk membuat saya tertidur. Mata saya terbuka lebar. Tubuh terjaga bugar.

Malam itu gelap dan dingin. Hujan turun dengan derasnya di luar. Saya bisa merasakan angin berhembus. Dingin. Tampaknya jalan-jalan sudah mulai tidak kuat untuk menahan derasnya curahan air. Sebentar lagi tumpah. Hanya masalah waktu.

Saya bisa merasakan tikus-tikus itu, tikus-tikus putih, di luar kamar saya, menjadi resah. Mereka tahu sebentar lagi air akan datang. Memasuki rumah mereka.

Kemudian semua itu terjadilah. Air hujan mengalir deras memasuki rumah sang tikus. Mereka berlarian. Ke luar rumah mereka dan masuk ke kamar saya. Melewati saya. Naik ke punggung kemudian turun lagi. Jumlahnya banyak sekali. Terlalu banyak. Saya bisa merasakan setiap tikus itu menaiki punggung saya dan melompat dari kedua pundak.

Tubuh saya merinding, bergidik. Suatu reaksi normal. Saya bisa merasakan rasa menggelitik, namun entah kenapa saya tidak panik. Bahkan ketika ada satu yang tidak bisa bergerak di punggung saya dan harus saya bantu melepaskan. Saya bisa mengerti.

Rumah mereka kebanjiran. Merekalah yang panik, bukan saya. Mereka berhak untuk panik. Jadi saya biarkan mereka lewat. Saya perhatikan, saya rasakan mereka lewat.

Saya berjalan ke dapur. Sudah pagi. Matahari sudah bersinar terang. Tampaknya hujan semalam telah mengusir semua awan. Paling tidak untuk sementara. Dapur saya besar, bergaya masa pertengahan. Berdinding putih. Berkeramik burgundy. Berpintu kayu.

Ah, pintu-pintu besar dari kayu itu. Megah. Ada tiga. Satu menuju ruang keluarga, satu ke halaman belakang, dan satu ke garasi.

Kakak perempuan saya berjalan masuk dan bertanya kenapa ada begitu banyak pintu. Tepatnya, dia bertanya kenapa mesti ada pintu sama sekali. “Copotlah semua pintu itu,” ujarnya. Kami pun melakukan apa yang ia katakan.

Benar juga. Mentari kini bersinar menelusuri semua relung rumah. Terasa lebih adem, lebih segar.

Semua anggota keluarga berjalan-jalan di luar. Jumlahnya cukup besar dan tampak akrab berjalan gembira bersama. Saya punya gambaran kira-kira ke mana dan agak bertanya-tanya kenapa kita mengambil jalan memutar.

Kakak perempuan saya masih ada di sana. Saya pertanyakan alasan jalan berputar ini. Dia hanya berkata singkat, “Karena anak-anak maunya begitu.” Seakan jawaban itu dapat menjelaskan semuanya. Mungkin memang demikian. Karena saya tidak bertanya lebih lanjut. Tak ada pertanyaan lagi. Saya tahu semua akan baik-baik saja.

Keinginan langka untuk berbagi. Sampai nanti, kalau memang ada kesempatan lagi.

PS: Floor, saya sudah menemukan buku hijau yang kauberikan. Kita berdua tahu apa maknanya itu.

Tapi hingga kini saya masih kepayahan mencari titik berimbang itu. Mungkin memang butuh waktu untuk menyesuaikan kembali. Menyesuaikan kembali, karena saya menyesuaikan untuk kesekian kalinya.

Tuesday, May 13, 2008

Kelaparan - 2

[English]
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirimkan tautan ini. Tentang sebuah penangkaran hewan di kota dimana para hewan banyak yang menderita dan beberapa bahkan dibiarkan mati. *menghela napas panjang*

Lagi-lagi, topiknya berkenaan dengan kelaparan. Kali ini kelaparan yang melanda hewan. Lagi-lagi, air mata pun tak tahan untuk tidak mengalir.

Saya berjanji pada teman saya bahwa saya akan menaruh cerita ini di blog saya, seraya berharap bisa berkontribusi terhadap perubahan. Maaf kalau terlalu lama dan lambat.

Menakjubkan betapa kita sering jatuh iba pada hewan, namun tidak terlalu pada manusia. Kita sering merasa kasihan ketika melihat hewan sakit, namun memilih untuk tidak mengacuhkan manusia yang tengah terpuruk dalam penderitaan.

Atau mungkin pemandangan itu terlalu menyakitkan buat kita, sehingga kita memutuskan untuk memalingkan pandangan dan meneruskan perjalanan dalam hidup yang serba indah dan bahagia, mungkin karena rasa takut akan menyakiti diri nantinya.

Saya pikir, seperti halnya anak-anak, para hewan ini ada untuk menyentuh kita lebih dalam, dengan keluguan, kejujuran, serta kerapuhannya.

Ketika rasa percaya, cinta tulus dan kasih mulai bertumbuh dalam diri, maka kita akan mampu menjadi diri yang lebih agung dan belajar untuk mencinta lebih banyak lagi. Untuk menyebar kasih dan mengulurkan tangan kita pada hewan, alam dan manusia.

Lihat siapa yang sebenarnya belajar mencinta sekarang. Dan kita tadinya berpikir bahwa kitalah yang membantu mereka.

Kelaparan - 1

[English]
Saya sudah sangat lama menunda menulis tulisan ini. Saya melihat berita di TV beberapa waktu lalu tentang kelaparan yang melanda negeri.

Seorang ibu dengan dua anak meninggal kelaparan di rumahnya.
Malnutrisi terjadi dimana-mana di beberapa daerah. Kelaparan berlangsung di kota tempat saya tinggal ini, di jalan-jalan yang saya lewati setiap hari. Rasanya saya tidak perlu menaruh satu gambar pun di sini. Sudah jelas.

Hati saya serasa melesak. Air mata mendesak.

Bahwasanya ada kelaparan di negara tropis agrikultur maritim ini sudah berada di luar nalar saya. Bahwasanya hal ini terjadi pas di depan mata saya--mata kita?--merupakan suatu hal di luar batas toleransi.

I sms beberapa teman. Saya menerima tanggapan yang menghangatkan hati.

Saya tahu ada masalah yang besar dan mungkin tak bisa saya pahami di negara ini yang kemudian menjurus ke situasi sekarang--baik dalam hal kelaparan maupun ketidakpedulian. Saya paham bahwa harus ada perubahan struktural--atau bahkan politis--untuk memperbaiki keadaan ini. Saya tahu itu.

Tetap saja, satu tanggapan yang paling berkesan buat seorang saya yang kecil dan biasa-biasa saja ini adalah ajakan seorang teman untuk melakukan apa pun yang kita bisa, untuk berbaik dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita.

Pesuruh di kantor yang menyediakan secangkir kopi hangat buat kita tiap hari. Supir pribadi/taksi/bus/bajaj yang mengantar kita ke sana kemari dalam 'tempo yang sesingkat-singkatnya'. Pedagang kaki lima dan jajanan. Tukang sayur keliling. Anak laki-laki kecil berkaos garis-garis merah putih yang mungkin luput dari perhatian kita.

Tahukah kita apakah mereka punya makanan untuk makan nanti malam? Tahukah kita apakah anak-anak mereka telah diberi makan dengan baik dan dapat terus bersekolah? Pedulikah kita?

Saya sudah menunda penulisan artikel ini cukup lama. Karena saya merasa tidak tahu jalan keluar dari masalah ini. Hingga kini pun, sebenarnya saya masih tidak tahu.

Tapi mungkin itu inti masalah saya. Inti masalah kita. Kita begitu bingung, merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya sampai-sampai kita tidak melakukan apa pun. Sama sekali.

Saatnya untuk melakukan sesuatu. Apa pun itu. Mulailah Memberi.

Monday, May 12, 2008

Teman lama, saya yang dulu

[English]
Kadang kita merasa bahwa kita telah berjalan jauh untuk suatu ketika menyadari bahwa kita ini masih seperti yang dulu-dulu saja. Belum jauh-jauh amat berubahnya.

Itu yang saya rasakan sekarang. Saya bertemu dengan beberapa teman baru sebulan terakhir ini dan bertaut kembali dengan beberapa sobat lama.

Betapa mereka berhasil membawa saya mengarungi masa kembali ke waktu lalu dan menemukan individu yang telah lama tidak muncul dari diri.

Halo saya, sudah lama sekali rasanya tak melihatmu. Saya hampir lupa betapa saya terkadang kangen sekali dengan saya yang itu. Menyenangkan.

Hati terasa ringan. Senyum (atau cengiran?) lebar di bibir. Otak yang sedikit korslet. :p

Rupanya saya yang itu tidak jelek-jelek amat. Mungkin sudah saatnya untuk mempersilakan saya yang itu bersinar kembali untuk ke sekian kalinya, dengan sedikit improvisasi berkat waktu yang telah ditempuh bersama.

*peluk*

Monday, May 05, 2008

Menunda keinginan

[English]
Kakak perempuan saya baru saja mengikuti pelatihan mendidik anak. Mereka mendiskusikan banyak hal. Salah satunya adalah saat sang pelatih menyarankan para orang tua untuk melatih anaknya menunda keinginan.

Ketika anak meminta sesuatu, orang tua tidak perlu memenuhi permintaan tersebut saat itu juga. Tunda seperlunya. Berikan jeda antara permintaan dan pemenuhannya.

Sang pelatih mengatakan bahwa hal ini akan melatih anak memiliki jeda-jeda serupa dalam kehidupan. Untuk tidak bertindak reaktif (secara instink ataupun emosional) pada saat itu juga. Untuk berpikir sebelum mereka menanggapi berbagai stimuli dalam hidup. Untuk berlaku bijak. Aduh.

Menarik, pikir saya. Suatu kebiasaan yang baik untuk diajarkan dengan cara demikian sederhana. Saya tahu kalau berpikir sebelum bertindak itu baik. Saya tahu menunda keinginan juga baik. Namun saya tidak pernah menautkan dua hal tersebut. Paling sedikit, tidak dalam hal mengasuh anak.

Saya akan mempersilakan dua guru besar saya meneruskan cerita ini.

Jalal-ad-din Rumi mengatakan, “Permulaan dari kesombongan dan kebencian berada pada keinginan duniawi, dan kekuatan keinginanmu berakar dari kebiasaan. Ketika tendensi buruk menjadi kokoh sebagai buah kebiasaan, kemarahan/kemurkaan akan (mudah) terpicu ketika ada pihak yang berusaha mengekangmu.”

Kemudian beliau juga pernah berkata, “Jika kamu terganggu oleh setiap friksi, bagaimana kamu bisa terpoles dengan baik?” Ok juga, guru. Bagaimana kita bisa melakukan in? Bagaimana kita mengelola keinginan kita? Datanglah guru saya yang lain, Al Ghazali.

Dalam bukunya Disciplining the Soul (Mendisiplinkan jiwa – yang mungkin merupakan salah satu buku yang paling berpengaruh dalam hidup saya), Al-Ghazali mengutip Yahya ibn Muadh al Razi, “Lawan jiwamu dengan pedang disiplin diri. Ada empat: makan sedikit, tidur sebentar, bicara seperlunya, dan toleransi semua perbuatan buruk yang dilakukan terhadapmu. Makan sedikit akan meniadakan keinginan, tidur sebentar akan membersihkan aspirasimu, berbicara seperlunya akan menyelamatkanmu dari berbagai penderitaan, dan mentoleransi perbuatan buruk akan mengantarmu ke tujuanmu—karena salah satu hal tersulit bagi manusia adalah untuk berlaku lembut ketika tidak diacuhkan atau ketika mentolerir perbuatan buruk yang dilakukan terhadapnya.” (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal57)

Benar sekali. Mentolerir perbuatan buruk/salah merupakan salah satu tantangan terbesar. Bagaimana caranya saya bisa menahan diri terhadap orang yang tidak mengacuhkan atau yang menjahati saya? Kapan saya harus mengatakan sesuatu dan kapan saya harus diam?

Beliau (Al Ghazali) kemudian berkata, “Pernah seseorang bertanya kepada Umar ibn Abd Al-Azis, ‘Kapan saya harus berbicara?’ Dan Umar menjawab, ‘Ketika kamu ingin diam.’ ‘Kapan saya harus diam?’ tanya orang itu lagi, dan Umar berujar, ‘Ketika kamu ingin berbicara.’ (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal59)

Saya mengangguk-anggukan kepala saya. Namun kemudian, saya jadi bingung sendiri dengan pernyataan itu. Rupanya saya memang masih belajar.

Kalau demikian, mari mulai dari awal. Seperti yang dikatakan di pelatihannya kakak saya. Tunda keinginan. Keinginan kita dulu. Bukan keinginan anak.

Saturday, May 03, 2008

Semua pilihan di dunia ini

[English]
Baru-baru ini saya bepergian ke luar kota. Sepanjang perjalanan, saya menggunakan angkutan umum untuk pergi kemana pun saya ingin pergi. Saya sama sekali tidak keberatan. Bahkan, saya menikmatinya.

Hingga malam terakhir saya di kota itu, saya hendak bertemu dengan seorang teman di tempat yang tidak terjangkau oleh angkutan umum saya. Jadi saya memutuskan untuk menggunakan taksi, mungkin karena terbatasnya waktu, atau karena saya sudah tidak punya cukup energi lagi untuk menimbang opsi lain.

Saat saya duduk di kursi belakang taksi, saya memandang ke luar melalui jendela, menikmati pemandangan rumah, pohon, mobil, lampu, yang saya lewati. Saya menyadari kemewahan dari mengendarai taksi, sebuah kendaraan nyaman yang didedikasikan hanya untuk mengantar seorang saya kemanapun saya ingin pergi.

Kemudian saya tersadar. Saya telah menggunakan moda transportasi yang lebih umum (rame-rame) dan sederhana sepanjang perjalanan saya. Namun sebenarnya, saya selalu, selalu, selalu memiliki opsi(-opsi) lain yang lebih mewah kalau saya menginginkannya.

Seperti halnya begitu banyak aspek dalam kehidupan saya.

Fasilitas seperti Linked-in dan Facebook memungkinkan kita untuk bertaut kembali dengan teman yang telah lama hilang dari peredaran. Suatu hari, saya menunjukkan kepada seorang teman jabatan dari beberapa teman lama saya, nun jauh tinggi di tangga karir perusahaan.

Saya bilang, “Lihat deh mereka. Lihat saya. Apalah saya dibanding mereka?” Saya terdiam sejenak dan melanjutkan ucapan, “Saya seseorang yang memilih untuk tidak seperti itu.”

Saya bisa saja menjadi seperti mereka kalau saya menghendaki. Saya tahu saya punya opsi itu. Suatu opsi yang tidak saya ambil. Tepatnya, suatu opsi yang dulu pernah saya ambil, namun sekarang tidak lagi.

Pada kenyataannya, saya terberkati dengan semua pilihan yang ada di dunia ini—mungkin jauh lebih banyak dari yang dimiliki kebanyakan orang (tanpa bermaksud sombong sama sekali, sekedar bersyukur).

Pernyataan yang ditanggapi secara bijak oleh seorang teman, “Kalau demikian, gunakanlah dengan baik. Pilih opsi yang terbaik.”

Jadi saya kembalikan semua ini pada-Mu. Saya biarkan diri-Mu untuk mengambilkan keputusan buat saya. Karena saya tahu tidak ada orang lain yang dapat membuat keputusan ini untuk saya, tidak sebaik kalau Kamu melakukannya.

Terima kasih, padamu, dan, seperti biasanya, pada-Mu.

Tak ada lagi pertanyaan

[English]
Hari Jumat lalu saya makan siang dengan seorang teman baik, seorang mentor. Sebenarnya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, namun ketika dia menelepon saya mengajak bertemu, saya tak mungkin bisa menolak.

Dia kini tinggal di luar kota dan sedang mengunjungi kota saya untuk beberapa hari. Kita sudah lama tidak berbincang.

Teman tersayang saya ini adalah orang yang telah ‘membimbing’ saya melalui naik turun (dan turun)-nya hidup saya sekitar dua-empat tahun lalu. Pada saat itu, kepala (atau hati?) saya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan keraguan. Resah. Lelah.

Namun dia dengan sabar menuntun saya melewati perjalanan saya, entah itu perjalanan keluar kota maupun perjalanan ke dalam diri.

Saran pertama yang ia berikan, saya ingat sekali, adalah untuk “memperlambat semuanya. Lakukan semua satu per satu. Izinkan tubuh dan pikiran untuk santai. Apabila proses penyerahan dirimu adalah melalui meditasi dan doa, maka lakukanlah.

Jangan memaksakan semua proses ini dengan pikiranmu. Pikiran kita merupakan penghalang buat kita. "Percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati dan jangan berpegang terlalu erat terhadap apa yang kamu pahami sekarang; dalam segala hal akui kehadiran dan kebesaran-Nya dan Dia akan meluruskan jalan untukmu."

Lepaskan semua keinginan, kebutuhan, permintaan, ekspektasi dan pikiran. Bernafas perlahan dengan kesadaran tunggal: bahwa kita adalah milik-Nya. Biarkan Dia bekerja bersama kita dan terima apa saja dan semua hal yang Dia berikan setiap harinya.

Lihat, rasakan, cium dan sentuh semua yang ada di sekitarmu. Lantai, dinding, rumah, jalan, pohon, orang, mobil, kertas, kata, bahasa, musik, suara, bunga. Apa pun, tiap hari, tiap detik.

Hingga suatu hari, kamu akan mengerti, kemudian kamu akan menangis. Tangisan bahagia, nikmat, dan paham.


Kata-kata indah itu menandai perjalanan seumur hidup yang telah lama tertunda, terlalu lama.

Namun kemarin obrolan terasa berbeda. Kami berbincang dan tertawa tentang kerja dan hidup. Dialog, bukan konsultasi. Tetapi tetap menghangatkan hati dan menyenangkan.

Seraya memasuki mobil untuk kembali ke ‘kehidupan nyata’, saya berujar kepada teman saya, “Saya sudah tidak punya pertanyaan lagi.”

Seumur hidup, saya sudah mengemukakan begitu banyak pertanyaan tentang hidup itu sendiri, namun sekarang saya terdiam tanpa ada satu pun pertanyaan untuk diajukan.

Tak ada alasan atau manfaat untuk bertanya, atau mempertanyakan, ketika jauh di dasar diri ini kita tahu kalau kita sudah tahu. Atau minimal, kita percaya.

Sabtu pagi

[English]
Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan.

Setelah menulis email untuk seorang Paman Bill, saya ngobrol (conference chat) dengan dua teman tersayang (Kami bertiga online pada jam delapan pagi di hari Sabtu. Kebayang tak kenapa kami berteman baik? *keluh*).

Obrolan dimulai dengan “Sudah ada tehnya masing-masing??” :)

Saya belum. Jadi saya langsung bangkit untuk membuat secangkir teh hangat. (Orang-orang aneh. Thayank, thayank, thayank..). Kemudian kami terus ngobrol tentang banyak hal dan tentang hal tak penting.

Di tengah-tengah obrolan, abang saya—yang memang doyan masak—memanggil untuk sarapan. Dia sudah mempersiapkan omelet tomat dan roti bawang bakar untuk kami semua.


Saya bolak-balik antara komputer dan meja makan untuk cicip-cicip makanan (dan menjawab sms plus menulis tulisan ini).

Ibu, abang dan sepupu saya semua duduk di meja makan bersama—tentunya—si Miauw, bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami.

Sekarang jam 11 pagi dan saya masih terus mengobrol dengan teman dan keluarga.

Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan. *Peluk erat hangat*

Thursday, May 01, 2008

Lilin dan saya

[English]


Lilin dan saya sudah saling kenal lama sekali. Sahabat saya yang mana pun akan dapat (dan pernah) mengatakan "Eva dan lilin-lilin-nya.. [hmmph]". Sekedar memberikan gambaran betapa saya kerap terpesona terhadap benda yang demikian bersahaja ini.

Saya kurang pasti kapan keterpesonaan saya terhadap lilin atau segala yang bernuansa cahaya lilin ini dimulai, namun lilin-lilin itu memang mengagumkan. Kehangatan yang terpancar dari cahaya itu demikian menarik, menggugah, bahkan hampir terasa merayu.

Saya dapat duduk diam berlama-lama hanya untuk memandangi cahayanya atau menikmati nuansa warna yang ia ciptakan di daerah sekitarnya. Terasa damai. Hangat. Senyum.

Jadi ketika seorang teman memberikan saya tempat lilin (beserta lilin-lilinnya) sebagai hadiah yang menurutnya 'cocok untuk saya', itu memang pilihan yang aman. Instink yang bagus.

Hatur nuhun kangge hadiahna. Teu nginten. Tadi enjing parantos ngawitan nyarengan meditasi sareng padamelan abdi. Karaos haneuteun :)

Saturday, April 26, 2008

Terus kenapa?

[English]
Setiap orang komunikasi pasti mengenal prinsip 5W1H – who what where when why and how (siapa apa dimana kapan kenapa dan bagaimana) dari sebuah cerita. Bagi beberapa orang, ada satu pertanyaan lagi yang tak kalah penting: terus kenapa? Kenapa sasaran komunikasi kita perlu peduli terhadap apa yang ingin kita sampaikan?

Terus kenapa juga merupakan pertanyaan yang muncul di pikiran saat saya berbincang dengan seorang teman. Katanya, dia senang berbincang dengan orang-orang biasa (yang luar biasa). Dia suka duduk-duduk di pinggir jalan untuk berbicara dengan para pedagang kaki lima dan lain-lain.

Saya pun demikian. Cerita mereka selalu membuat saya takjub. Cerita mereka senantiasa menaruh saya kembali pada tempat saya, untuk merasa bersyukur dan pada saat yang sama merasa saya belum ada apa-apanya dibanding mereka.

Malam itu ketika sedang berbincang dengan sang teman, pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut saya: terus kenapa? Jadi kamu suka mendengar cerita dari mereka, terus kenapa? Mau kamu apakan cerita itu? Bagaimana kamu menggunakan cerita itu untuk membantu mengubah diri ataupun orang lain?

Saya rasa saya harus lebih sering bertanya ini ke diri sendiri. Jadi saya suka diskusi spiritual. Jadi saya suka yoga. Jadi saya suka ngobrol dengan boneka (stuffed animal, not doll!) saya. Terus kenapa? Bagaimana semua ini bisa membuat diri saya menjadi lebih baik? Bagaimana agar hal ini dapat bermanfaat bagi orang di sekitar saya?

Terima kasih buat obrolannya. Dan pengingatnya.

Home sweet home

[English]
Hari yang cukup melelahkan, secara fisik maupun emosi. Hari yang sangat panjang. Saya bangun jam lima, setelah tidur tiga jam saja.

Kemudian langsung bekerja (lagi). Dan bekerja. Dan bekerja. Hingga sekitar jam enam atau tujuh malam. Kemudian saya pergi ke tempat teman (dasar ambisius) hingga jam 12.30 tengah malam. Lelah blas.

Sampai akhirnya saya tiba di rumah pukul satu dini hari. Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa begitu bugar. Kemudian saya mulai menyalakan komputer untuk merajut tulisan ini.

Tadi saya sempat meng-SMS teman saya karena saya sedang menimbang apa yang harus saya lakukan besok. Saya punya tiga opsi diskusi religi/spiritual yang bisa saya datangi. Kemudian saya katakan padanya, selalu ada opsi untuk tinggal di rumah. Dia membalas: rumah.

Teman saya itu tentunya benar sebenar-benarnya. Kalau saya harus memilih dari keempat opsi tersebut kegiatan mana yang paling menyantaikan secara spiritual, saya akan menjawab: tinggal di rumah.

Sebuah rumah bisa luar biasa berdampak pada diri ini. Terima kasih.

Seperti yang kamu katakan, sampai saat ini belum ada tempat lain yang lebih nyaman di dunia daripada rumah sendiri. Well, bagi kita yang beruntung. Ada orang yang tidak punya rumah. Ada yang punya rumah besar, tapi tidak merasa berada di rumah. Kita benar-benar termasuk yang beruntung.

PS: Satu kalimat terucap dalam percakapan di rumah teman tadi: "Kebenaran universal adalah perbuatan baik." Indah sekali.

Wednesday, April 23, 2008

Saya hanya meminta sebuah kapel kecil…

[English]
Entah kenapa, saya selalu diarahkan ke area ini. Mungkin ditarik merupakan kata yang lebih tepat. Kamu terus memberikan ‘alasan’ bagi saya untuk pergi ke sana.

Pertama, ada godaan untuk mengunjungi toko barang-barang kemah/trekking favorit saya. Saya menahan diri.

Kemudian seorang teman meminta saya membelikan sebuah produk yang katanya dijual di daerah sana. Saya masih menahan diri dan membeli produk tersebut di daerah lain.

Akhirnya, Kamu berhasil menarik saya ke sana karena ada teman lain yang mengajak bertemu di daerah itu. Baiklah, saya pergi.

Jadilah saya melangkah ke daerah itu. Setelah makan siang dengan teman tersebut, saya berputar-putar di daerah sekitar. Sedikit mengomel. Kamu sudah menarik saya hingga sini, dan sekarang saya apa yang mesti saya lakukan? Tidak adil. Kasih saya suatu tanda.

Saya pergi ke toko kemah itu dan tidak melihat sesuatu yang menarik. Ok, saya masih belum tahu kenapa saya mesti ke daerah ini.

Tiba-tiba, tepat di depan saya: Katedral Saint Andrew Singapura. Waah. Kemarin saya minta Tuhan untuk dibolehkan mengunjungi gereja Khatolik, tempat menyendiri favorit saya. Kemarin saya tidak menemukannya. Lantas saya lupa atas permintaan saya itu.

Rupanya, ada yang tidak lupa.

Bahkan lebih dari itu.

Saya hanya meminta sebuah gereja—atau bahkan kapel—Khatolik kecil yang sederhana buat saya untuk duduk diam. Dan Dia memberikan saya katedral.

.gak tau mesti ngomong apa.

Refleksi yang sempurna

[English]
Ini kali kedua saya menggunakan kata “sempurna”. Hidup rupanya memang sedang baik-baik saja.

Kita duduk bareng untuk keribuan kali. Dan setiap kali, selalu merupakan saat yang amat menyenangkan.

Siang yang demikian cerah (matahari tersenyum lebar, langit biru terang), tempat ngopi yang pas (makanan enak, staf ramah, pengunjung menyenangkan), dan kita yang duduk di dekat jendela melongok ke lapangan hijau dan orang berlalu-lalang di sekeliling kita.

Kita berbincang sedikit tentang kerja. Kita berbincang lebih banyak tentang pribadi. Kita berbincang tentang keluarga, rasa dan perjalanan. Kita berbincang tentang bahagia dan resah.

Saya rasa sedikit sekali cerita yang tidak saya bagi dengan dirimu. Saya dengan senang hati menjawab semua hal yang kamu tanyakan. Saya pun dengan suka cita dan sukarela bercerita tentang hal yang tak kamu tanyakan.

Kita berbicara tentang kita yang senantiasa menjadi si kuat. Si penyelesai masalah dalam cinta dan hidup. Kita sebagai orang-orang dengan hidup sederhana tanpa ada yang disembunyikan.

Hidup kita demikian sederhana sehingga tak ada yang perlu kita bagi kepada orang lain. Tidak ada keluhan satu kata pun. Hidup yang sederhana. Hidup yang baik-baik saja. Kita yang kuat-kuat saja.

Sampai suatu saat dalam kurun bincang kita, kebenaran menyesakkan menguak. (Wah, saya baru saja melihatmu online! Di jam-jam aneh ini). Kita ini terlalu gengsi, harga diri begitu tinggi, terlalu tinggi untuk mengakui atau bahkan menyadari.

Menara ini sedemikian tinggi sehingga kita sendiri pun tak dapat melihat apa yang ada di dalam. Semua baik-baik saja. Semua terbuat dari bebatuan kokoh.

Biarkan diri menjadi lemah, menjadi rentan, kata saya. Atau itu kata-katamu? Tak penting. Tak masalah. Sama saja. Pernyataan berlaku dua arah. Seperti biasa.

Karena kamu adalah refleksi sempurna diri saya. Apa yang saya ucapkan pada kamu, saya ucapkan pada diri sendiri. Cerita kamu adalah cerita saya juga.

Ketika saya mendengarkanmu, saya mendengarkan diri sendiri, dengan rasa bahagia dan kesedihan mendalam. Apa yang kamu rasakan (atau kamu pikir kamu rasakan) selalu terasa familiar di saya. Mengerikan.

Pantaslah saya tidak pernah ragu untuk bercerita padamu. Sejak pertama kita berbincang. Karena saya hanya berbincang dengan diri sendiri. Tidak perlu merasa malu. Karena kamu sudah tahu. Karena entah bagaimana itu pun kamu.

Saya menyayangimu sebagai seorang sahabat tercinta. Sejak awal. Hingga kapan pun. Terima kasih sudah menjadi cermin yang bening, refleksi sempurna dari diri ini. Walau kerap kita enggan mengakuinya.

Saat yang menyenangkan. Pas untuk melepas penat. Terima kasih.

PS: Ingat foto kita yang kita ambil di akhir kopi kita, yang ternyata buram? Mungkin ada hal-hal yang harus kita simpan sendiri. Atau tepatnya, di antara kita saja. Tempat sampah bagi satu sama lain.

Jalan-jalan yang pas

[English]
“Gimana jalan-jalannya?” tanya seorang teman Tanpa ragu, saya menjawab, “It was perfect.” (Catatan: mau saya terjemahkan ke sempurna kok rasanya kurang sreg).

Apakah jawaban itu terdengar terlalu positif? Mungkin. Namun memang itu yang saya rasakan tentang perjalanan saya kali ini. Saya tidak akan bercerita terperinci. Tapi sekedar memberikan gambaran.

Perjalanan kali ini tidak terlalu lama. Lima hari empat malam. Jalur penerbangan satu setengah jam yang sebetulnya sudah kerap saya tempuh. Tapi kali ini, terasa berbeda.

Waktu yang pas. Untuk menyantaikan diri. Untuk ‘melarikan diri’ barang sejenak.

Imbangan antara waktu sendiri, waktu bersama buku dan waktu bersama teman yang pas. Saya tidak menyadari betapa lamanya sejak terakhir kali saya benar-benar beperjalanan sendirian. Saya tidak menyadari betapa saya kangen akan saat-saat itu.

Kombinasi teman yang pas. Teman-teman yang dekat di hati. Teman-teman yang lama tak saya sambangi. Teman-teman yang dengan mereka saya bisa menjadi diri saya yang lebih santai dan terbuka.

Tempat tumpangan menginap yang pas.
Apartemen dari seorang teman lama. Salah satu sahabat terdekat saya yang telah menyaksikan—dan membiarkan—saya untuk bertumbuh seperti saya hari ini. Tidak ada tempat menginap yang lebih pas buat saya untuk perjalanan kali ini.

Kegiatan yang pas. Leyeh-leyeh di apartemen. Ngobrol dengan teman. Makan siang, makan malam, dan ngopi. (beberapa tenggat waktu terkait pekerjaan dan beberapa e-mail yang tidak terlalu terkait dengan pekerjaan). Menonton kartun di TV. Hablando con mis amigas españolas. Menjalani terapi kesehatan. Menonton orang lalu lalang. Tidak melakukan apa-apa. Belanja. Ngobrol lagi. Melihat tanpa menatap. Membaca buku. Oh dan berjalan. Menyenangkan sekali. Berjalan jauh secara perlahan.

Dan saya secara resmi jatuh cinta dengan Craniosacral Therapy. Terima kasih, Kheng. Terima kasih, Martyn. Terima kasih, Heather.

Sekarang saya telah kembali. Mari, berikan!

Thursday, April 17, 2008

Daftar dekat

[English]
Saya kasih tahu kisi-kisi cara menandai bahwa saya merasa dekat dengan seseorang.

Yaitu kalau saya sudah mulai cerewet, ketika saya tidak sabar untuk berceloteh tentang hari(-hari) saya, tentang rasa. Ketika saya lebih cerewet dari lawan bicara saya, atau minimal berimbang.

Dan ketika saya mulai memperlihatkan sisi yang tak setertata biasanya.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menambahkan nama baru dalam “daftar dekat” ini. Bukannya saya berusaha eksklusif. Saya rasa ini sekedar masalah seleksi alam. Dan proses bertumbuh diri saya.

Tapi baru-baru ini saya telah menambahkan dirimu.

Dan saya ingin kamu tahu, seperti halnya orang lain dalam daftar tak terlalu panjang ini, kamu bisa telepon saya kapanpun, bahkan bertahun-tahun dari kini, untuk sekedar menyapa, “Ngopi yuk?”, dan saya akan langsung menyambut, “Ayuk.” Saya akan sediakan waktu.

Ini janji. Suatu penghargaan dan kesenangan tersendiri buat saya.

PS: bukan, bukan ini "entry terakhir" yang saya maksud. Sebelumnya.

Wednesday, April 16, 2008

Tak terungkap

[English]
Saya sudah menulis beberapa patah kata untuk bertutur tentang hari aneh yang tak terucap ini. Saya bahkan telah mengambil beberapa foto untuk ilustrasi dengan ponsel saya.

Foto sudah tertandai dengan baik untuk kemudian di-upload. Dan terhapus, secara tak sengaja. Terhenyak. Napas tertarik begitu dalam. Mata pun terpejam erat barang sejenak.

Mungkin beberapa hal memang tak perlu terungkap. Seperti yang sering dibisikkan pada saya akhir-akhir ini, telah tiba saat bagi keheningan. Untuk kesekian kalinya. Berdiam diri seraya terus melangkah.

Karena kata hanya akan membatasi dan menimbulkan kesalahpahaman.

Karena hanya dalam keheningan, katamu, kita dapat benar-benar mendengar. Hanya dalam keheningan kita dapat secara jujur berkomunikasi. Dan memahami.

Terima kasih. Kangen. Walau dalam pikiran sekilas terlintas, Mungkin kamu memang berpikir bahwa saya benar-benar sekuat itu.

Wednesday, April 09, 2008

Catatan: Doa

[English]
Sudah lama juga saya tidak mengikuti pengajian dengan Pak Arif. Saya hampir lupa betapa praktisnya ajaran yang beliau sampaikan dan betapa “biasa”-nya dia.

Topik malam ini adalah doa. Dimulai dari pertanyaan seorang peserta tentang bagaimana caranya agar kita gak kena akibat negatif dari doa kita sendiri. Pak Arif bilang, doa yang benar tidak akan seperti itu.

Qur’an berujar bahwa “semua urusan diikembalikan kepada Allah” (misalnya di 3:109). Quran said that “all things go back to God [as their source]” (for instance in 3:109). Apakah kita benar-benar sudah mengembalikan apa yang kita ‘miliki’ atau kita kerjakan kepada-Nya? Kalau saya, kayaknya belum. Kita berdoa untuk apa yang kita inginkan, untuk hal-hal yang menurut kita baik buat kita.

Kita kerap lupa bahwa masing-masing dari kita ada di dunia dengan peran dan fungsi khusus. Kita lupa Tuhan punya rencana besar. Kita lupa bertanya kepada-Nya, jadi apa rencana-Mu dan apa yang bisa saya lakukan?

Kita lupa untuk menjalankan perintah Tuhan, menjauhi larangan-NYa, atau bisa juga dikatakan hukum alam, hukum karma yang ada. Kita lupa berbuat baik. Kita terjangkit apa yang teman saya juluki “sindroma orang termalang sedunia” – kita pikir hidup ini penuh masalah, bukan rahmat.

Jadi berikut tips dari Pak Arif: mulai dari bangun, ingat Tuhan (atau ingat Cinta, ingat sekelumit keagungan dalam diri ini), bersyukur atas segala nikmat (termasuk yang sering terlewatkan seperti penglihatan dan pendengaran), minta perlindungan Tuhan, tanya kepada Tuhan apa rencana-Nya dan apa yang harus kita lakukan. Tutup doa dengan rasa syukur, sadari betapa banyaknya nikmat yang kita terima selama hidup kita.

Sehingga hidup ini menjadi tertuntun dan kita dapat berfungsi sebagaimana mestinya: rahmatan lil alamin, rahmat sebagai semesta alam.

Catatan lengkap bisa di-download di sini.

Monday, April 07, 2008

Tapi bagaimana kalau..

[English]
Perbincangan dengan seorang rekan kerja.

Rekan: Siapa yang melakukan fungsi A di dalam suatu acara?
Saya: Khan ada Rekan B.
Rekan: Tapi bagaimana kalau dia sakit dan tidak masuk?
Saya: Ada saya. Saya bisa melakukannya juga.
Rekan: Iya, tapi bagaimana kalau kamu juga tidak masuk?
Saya: Lha, saya khan sudah cadangan. Butuh cadangan berapa sih?

Walau terasa lucu, perbincangan seperti ini kerap terjadi, padamu, dan tentunya pada saya. Kita terus didera rasa khawatir akan hal-hal yang berbau hipotesis, mungkin terjadi walau belum pasti.

Di dunia yang penuh dengan "mungkin" atau "bagaimana kalau", kita akhirnya memutuskan untuk tetap berada di zona nyaman kita dan mengambil berbagai langkah pengamanan. Mungkin terlalu banyak.

Kemudian kita mengeluh tentang hidup kita. Kita merasa terjebak dalam kondisi ini dan tidak dapat berkutik kemana pun, tanpa ada pilihan lain. Hm.

Kita berusaha untuk tidak mengambil langkah-langkah berani dalam hidup. Langkah yang mungkin saja membantu kita mewujudkan potensi kita dan menjalankan fungsi kita yang sebenarnya dalam kehidupan ini.

Mungkin hanya orang-orang yang disebut para maverick yang dapat bertindak lain. Mungkin. Pada waktunya nanti.

Untung Tuhan Maha Sabar. Dengan segala potensi dan keajaiban yang telah Dia ciptakan dengan begitu hati-hati dan telah kita abaikan, atas nama keamanan. Kalau saja kita tahu.

Wednesday, April 02, 2008

Kemewahan untuk memilih

[English]
Orang sering bilang saya beruntung, karena saya bisa melakukan beberapa hal, banyak hal. Saya merasa saya terberkati, seperti halnya semua orang di dunia ini.

Bukan hanya karena saya memiliki kemewahan akan pilihan. Tapi juga kemewahan untuk memiliki keberanian memilih dan menerima akibatnya.

Saya rasa ini yang suka hilang dari banyak orang. Kita kerap mengatakan kita tidak memiliki pilihan. Pemikiran yang sering membawa kita ke jalan yang serba terbatas.

Saya benar-benar percaya bahwa kita selalu memiliki pilihan. Masalah ketajaman kita untuk mendeteksinya, keberanian untuk memilihnya, dan integritas untuk menjalani konsekuensinya.

Baru beberapa minggu belakangan ini saya menyadari dari mana asal kepercayaan ini. Saat saya sedang pergi dan ngobrol dengan seorang teman yang luar biasa.

Dia berujar, "Kamu beruntung kamu punya orang tua yang membesarkanmu dengan kepercayaan seperti itu." Dia benar.

Bapak saya, betapapun mengesalkannya dia ketika saya kecil *becanda, pa*, bersama dengan ibu saya yang penuh cinta itu telah membiarkan saya tumbuh sesuai dengan keinginan saya, mencoba (hampir) semua hal yang ingin saya coba, dan merasakan konsekuensinya.

Saya punya pilihan. Saya memilih. Anda pun punya. Anda pun bisa.

Saya pernah membuat keputusan yang baik, pernah pula yang kurang menyenangkan. Tapi tak apa. Saya telah belajar dari pengalaman itu. Hidup yang penuh eksperimen ini telah membantu saya untuk melihat, untuk percaya bahwa saya selalu memiliki pilihan, masing-masing dengan konsekuensinya.

Konsekuensi yang saya berani terima karena saya tahu konsekuensi itu dapat membuat saya melompat jauh. Hingga ke tempat saya berada hari ini. Ke tempat dimana saya bisa berada di masa datang.

Dan untuk itu, saya berterima kasih pada Bapak dan Ibu saya. Terima kasih. Puji Syukur. Setiap hari, ada saja hal baru yang saya sadari: semua hal yang Bapak dan Ibu telah lakukan kepada saya, untuk saya. Luar biasa.

Lihat sekitar, lihat ke bawah

[English]
Kejadian pertama
“Nih dia nih, banyak ilmu tapi pelit.” Komentar selewatan dari seorang teman. Dia memiliki sebuah yayasan pendidikan anak. Komentar itu ditujukan pada saya ketika kami berada di kantor yayasannya.

Apa saya memang sepelit itu? Apa memang saya demikian kaya ilmu untuk dibagi?

Kejadian kedua
Sebuah formulir yang harus saya isi. Salah satu pertanyaannya berujar: "tanya pada sahabat Anda apa kelemahan utama Anda." Kata tiga teman saya: kebanyakan mikir, terlalu santai, dan kurang percaya diri. Wah, apa benar?

.Hm.

Kejadian ketiga

Spanduk besar di Toko Djoger Bali.

Mau sejelas apa lagi pesannya?

Kita (terlalu) sering berpikir bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita selalu melihat ke atas, tidak pernah ke bawah. Saya hanya pemula. Saya masih harus belajar banyak. Masih beribu hal yang perlu saya kejar.

Kita menyepelekan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang telah kita teguk selama hidup kita, selama masa pendidikan kita, selama masa kerja kita. Kita terus haus akan lebih banyak ilmu, pengalaman, dan kekayaan.

Jarang kita sadari bahwa kebanyakan orang di berbagai daerah tidak pernah mengenyam pendidikan dasar sekalipun, tidak punya cukup pangan untuk sekedar hidup, tidak pernah berkelana di luar desa/kotanya. Betapa tidak pedulinya kita. Betapa tidak pedulinya saya.

Pandangan seperti ini memberikan rasa palsu dalam diri bahwa kita memiliki hak untuk terus menerima. Kita lupa untuk memberi, untuk berbagi. Kita lupa bahwa bahkan hal sepele bagi kita merupakan hal besar bagi orang lain.

Jadi mungkin saya memang pelit. Saya terlalu banyak mikir. Saya tidak melakukan cukup banyak hal, terlalu santai. Saya tidak menyadari kemampuan saya. Saya kerap melihat ke atas, dan jarang ke bawah.

Bagaimana pun, telah tiba saat untuk memberi, untuk berbagi.

.Mulailah melakukan sesuatu. Apa pun itu.

Pemberian

[English]
Tepat satu tahun yang lalu, seorang teman/guru/penyelia saya meninggal dunia. Pak Mustafa Alatas.

Minggu lalu anak perempuannya--teman saya tersayang yang lain--menelepon saya, mengajak untuk ngopi. Dia mau memberikan saya sebuah buku kecil dan CD. Kompilasi koleksi tulisan serta musik almarhum Bapaknya yang demikian cantik.

Suatu inisiatif yang begitu indah.

Pak Mus, Bapak sudah berhasil membesarkan anak Bapak. Dia begitu memikirkan orang lain, tulus dan baik.

Hal terindah yang dapat diberikan seorang ayah kepada anaknya.

Friday, March 21, 2008

Saat-saat emas

Saat matahari terbit dan terbenam dijuluki saat-saat emas dalam dunia fotografi.

Saya jadi mencoba mengingat kapan saya duduk sambil menikmati saat-saat emas ini. Anda kapan?

Sedih ya.

Monday, March 17, 2008

Saya dan buku

[English]
Saya dan buku sudah berteman lama. Mereka adalah salah satu sahabat terdekat saya. Mereka telah membantu saya berjalan jauh, melebihi yang bisa saya bayangkan. Saya berterima kasih pada mereka. Saya berterima kasih pada ibu bapak saya.

Saya sedang main ke tempat teman minggu lalu. Dia telah membuka sebuah perpustakaan kecil bagi anak-anak di lingkungannya. Saya bercerita kecintaan saya tentang buku padanya. Dan saya ceritakan awal kecintaan itu mulai tumbuh.

Ketika saya masih kecil, ibu mengajak saya ke pasar beberapa kali tiap minggunya. Hampir setiap kali, beliau menitipkan saya di salah satu toko buku di sana.

Sang empunya toko dengan baik hati membiarkan saya menjelajahi tokonya, membaca apa pun yang saya inginkan. Komik, atlas, sejarah, geografi, pengetahuan umum, novel, apa pun. Kecintaan saya terhadap buku pun tumbuh.

Bapak turut pula menyuburkan kecintaan saya membaca. Bahkan ketika saya masih di sekolah dasar pun, beliau bisa dikatakan ‘mengharuskan’ saya untuk membaca surat kabar sebelum saya pergi sekolah.

Bapak kerap mendiskusikan kejadian yang tertulis di surat kabar dengan saya. Kecintaan saya pada membaca bertumbuh. Begitu pula dengan kemampuan (dan kegemaran) saya untuk menganalisis.

Saya dan buku sudah berteman lama. Dan perjalanan kami masih jauh. Saya hanya berharap setiap anak memiliki kesempatan yang sama dengan saya. Kalau saja mereka menyadari betapa jauh mereka bisa mengembara, secara intelektual dan imajinasi.

Saya berterima kasih pada para buku. Saya berterima kasih pada ibu bapak saya.

Pelajaran ulang

[English]
Sabtu pagi/siang lalu, saya ngobrol ngalor ngidul dengan teman saya. Salah satu yang saya ceritakan adalah tentang teman saya yang lain. Seorang yang sangat sibuk dengan kehidupan yang begitu rumit.

Saya menyebut dia salah satu guru terbesar saya. Sahabat saya.

Setiap kita akan bertemu, pasti ada saja hal terjadi. Meeting-nya yang molor. Restoran tempat kita ketemu tutup, hp dia mati, jadi dia tidak bisa menghubungi saya. Dia dapat kerjaan mendadak dari bosnya. Dia harus beli sesuatu buat keluarganya. Dsb. Dsb.

Jadi telat satu dua jam buat dia adalah ‘normal’. Bahkan, cukup bagus ketimbang tiga atau empat jam. Atau tidak jadi datang. Atau tidak datang tanpa ada pemberitahuan.

Tentunya, saya yang menjunjung tinggi ketepatan waktu dan pemenuhan janji ini agak-agak kesal setiap kali teman saya itu telat. Namun, entah kenapa, saya tetap saja membuat janji bertemu dengannya, dan dia pun tetap membuat janji dengan saya.

Saya tidak menyadari pelajaran yang tengah saya jalani hingga suatu hari, kami janjian ketemu lagi. Saya mengunjungi kotanya dan kami seharusnya bertemu setelah jam kerja. Ketika saya meng-smsnya setibanya saya di tempat kita harusnya ketemu, dia hanya menjawab, “maaf, harus beli sesuatu buat anakku.”

Hebatnya, saya hanya mengatakan (atau merasa) “ok”. Kemudian saya langsung mengangkat telepon saya, menelepon teman yang lain, dan bilang “kayaknya kita jadi bisa ketemu nih sekarang.” Hidup pun berjalan terus. Tanpa ada rasa sakit apapun.

Saya kemudian menyadari bahwa saya telah lulus dari salah satu pelajaran saya. Pelajaran untuk (tidak) menjadi emosional ketika orang mendadak berubah pikiran, ketika orang tiba-tiba punya acara/rencana lain, dan ketika orang tidak memenuhi janjinya.

Saya mulai melihat peristiwa dari sudut pandang orang lain. Teman saya itu hidupnya sudah rumit. Begitu juga mungkin orang-orang yang lain. Mungkin terlalu egois buat saya untuk marah. Mungkin memang hal itu sebaiknya tidak terjadi.

Sabtu malam lalu, saya seharusnya bertemu dengan teman yang lain. Lucunya, dia pun tidak muncul. Tidak ada telepon. Tidak ada pemberitahuan apa-apa. Dan saya merasa baik-baik saja. “Ok, kalau gitu, saya bisa santai dan menyelesaikan buku saya.” (keesokan paginya dia sms mengatakan dia sakit).

Pengalaman yang saya ceritakan ke teman saya pada Sabtu siang kini tampak sebagai pelajaran ulang untuk kejadian Sabtu malamnya.

Saya diingatkan pada pelajaran masa lalu saya, pelajaran yang sudah saya lewati dengan sukses. Sapaan lembut bagi saya agar saya tidak terjerembab ke dalam jebakan itu kembali. Terima kasih.

Thursday, March 06, 2008

Ujar sang sungai pada saya

[English]
Saya dan beberapa teman membincangkan puisi It’s a pleasure to be a student. Salah seorang teman menanyakan kata-kata “Rivers show me the nature of myself.” Dia bertanya apa yang bisa ditunjukkan oleh sungai pada kita?

Pertanyaan itu membawa saya kembali ke saat saya mengunjungi Anahata, Ubud, Bali.

Di penghujung waktu saya di sana, kami turun ke sungai di dekat tempat kami menginap.

Saya mencelupkan kaki-kaki saya ke dalam sungai. Saya gerakkan kedua kaki saya dan bermain-main dengan air sungai. Tentunya, kaki-kaki saya bergerak-gerak. Sensasinya menyenangkan.

Kemudian saya menghentikan gerakan saya, seraya masih membiarkan kaki-kaki saya tercelup dalam sungai. Dan apa yang saya lihat, menggerakkan bathin saya.

Saya melihat kaki saya tetap bergerak. Kaki saya digerakkan—seperti dimainkan—oleh air sungai yang mengalir. Sensasinya begitu menyenangkan. Jauh.

Mungkin demikian pula layaknya kita menjalani hidup ini. Jika kita berpasrah pada alam, maka alam akan menggerakkan kita, dengan anggun dan penuh cinta (kadang seperti anak kecil yang tengah asyik bermain).

Kita tidak perlu mencoba melawan atau bergerak melawannya untuk mendapatkan sensasi diri yang menyenangkan. Mungkin ada benarnya juga kata-kata mencoba terlalu keras.

Kita hanya perlu mengapresiasi, menyerahkan diri dan mengalir bersamanya. Merasakan, menikmati, sensasi yang jauh lebih agung.

Dan itulah, kata saya pada sang teman, yang telah ditunjukkan oleh sungai pada saya.

Gambar: dari Anahata Villa & Spa Resort.

Monday, March 03, 2008

Pameran: Out of Tibet

[English]
Info lebih lanjut, kunjungi situs webnya Enrico.

Friday, February 22, 2008

Jalan-jalan ke Bromo

[English]
Sudah lama saya tidak bepergian untuk sekedar berjalan-jalan. Biasanya kalau saya bepergian itu untuk pekerjaan, belajar atau keluarga. Jadi saya tidak tahu apa yang membuat saya mengiyakan ajakan untuk pergi ke Bromo minggu lalu.

Kami berempat. Mantan teman sekerja. Hm, kurang tepat sebenarnya. Saya hanya bekerja dengan salah satu dari mereka. Dua yang lain masuk ke kantor itu ketika saya sudah keluar. Namun saya entah kenapa sama sekali tidak ragu untuk menyambut undangan gabung jalan-jalan. Dan untung saya mengiyakannya.

Jalan-jalannya sangat menyenangkan. Walau cuaca kurang mendukung tetapi kami tetap senang. Kami menyambangi beberapa tempat di sekitar Jawa Timur, makan berbagai hidangan dan kudapan dalam jumlah yang, um, lebih dari cukup, dan praktis ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan. Ngobrol ngalur ngidul. Menyenangkan sekali.

Saya ingat guru saya pernah berkata bahwa kita hendaknya tidak bepergian untuk melarikan diri dari masalah dan mencari kedamaian. Karena kedamaian itu berada di dalam.

Hadirkan damai dalam diri. Sehingga pada saat kita bepertigan, kita tidak lagi melarikan diri. Kita berjalan-jalan untuk mengapresiasi keindahan alam dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang kita temui selama perjalanan. Kita mengagungkan Tuhan.

Terima kasih, padamu. Dan pada-Mu. Untuk pemandangan yang menakjubkan, persahabatan yang begitu indah.

Thursday, February 21, 2008

Menyegarkan

[English]
Saya sedang menunggu teman saya di sebuah rumah makan. Gelas pertama minuman saya sudah habis dan saya dengan halus menolak tawaran mas-mas pelayan untuk memesan gelas kedua.

Tiba-tiba si Mas datang dengan membawa sebuah gelas air putih dingin. Gratis untuk menemani saya menunggu.

Menyegarkan sekali. Airnya.
Dan inisiatifnya.

Thursday, February 07, 2008

Amorous evening - Sebuah konser

Kepada anak kami tersayang:

[English]
Seorang teman menaruh puisi di bawah ini di blognya, disadur dari sebuah situs bertajuk parent's wish, harapan orang tua. Indah sekali.

Saya coba terjemahkan semampu saya.

Kepada anak kami tersayang:

Saat kamu melihat kami tua, lemah, dan letih,
Bersabarlah dan cobalah mengerti kami.

Bila kami menjadi kotor dikala menyantap makanan,
Bila kami tidak dapat mengenakan baju sendiri,

Bersabarlah dan ingat saat-saat
kami menyuapimu dan membantumu mengenakan pakaianmu.

Bila saat kami berbicara padamu,
Kami mengulang hal yang sama, lagi dan lagi,
Tolong jangan memotong kami. Dengarkan kami.

Ketika kau masih kecil,
Kami pun harus membacakan untukmu cerita yang sama
Ribuan kali hingga kamu tertidur.

Bila kami tidak ingin mandi,
Jangan merasa malu atau marah pada kami.

Ingatkah kamu saat kami harus mengejarmu
Dengan beribu bujukan agar kamu mau mandi?

Pada saat kami bersikap tak acuh terhadap teknologi baru,
Bantu kami untuk mengarungi dunia maya ini.

Kami telah mengajarimu begitu banyak,
Bagaimana memakan makanan yang baik, berpakaian yang baik,
juga untuk mempertahankan hakmu dengan baik.

Bila kadang kami lupa,
atau kehilangan arah pembicaraan kita,

Biarkan kami berusaha mengingatnya walau perlahan,
Dan jika kami tetap tidak mengingatnya, jangan jengah atau khawatir,

Karena yang terpenting bukanlah pembicaraan kita,
Tetapi tentunya kebersamaan kita, dan kamu yang mendengarkan kami.

Jika ada saat kami tidak berselera untuk makan, jangan paksa kami.
Kami tahu kapan kami perlu atau tidak perlu makan.

Saat kaki kami tak kuat melangkah
hingga kami tak dapat berjalan tanpa menggunakan tongkat,

Ulurkanlah tanganmu. Sama seperti yang kami lakukan
Ketika kamu mencoba melangkah untuk pertama kalinya.

Dan apabila tiba saat kami mengatakan padamu,
Kami sudah tak ingin hidup lagi, bahwa kami ingin mati,
Janganlah meradang. Suatu hari, kamu pun akan mengerti.

Cobalah mengerti bahwa bukan saja kami telah menjalani hidup ini, kami telah berhasil mengarunginya.

Suatu hari kamu akan paham bahwa, meskipun kami telah melakukan kesalahan,
Kami selalu menginginkan yang terbaik untukmu
Dan kami telah mencoba untuk menyiapkan, membuka jalan untukmu.

Janganlah sedih, marah atau malu
apabila kami tengah bersamamu.

Cobalah mengerti kami dan bantu kami
Layaknya yang kami lakukan ketika kamu masih kecil.

Bantu kami melangkah.
Bantu kami menjalani sisa hidup kami, penuh cinta dan harga diri.

Kami akan membayarmu dengan senyum dan cinta yang melimpah
Yang selalu kami miliki dalam hati ini untukmu.

Kami sayang padamu, nak.

Bapak dan Ibu

Aku pun sayang sama papa dan mama. Maafkan atas segala ketidakacuhan, ketidakhormatan, kekasaran, keegoisan, ketidakpedulian, ketidakadaan rasa terima kasih, dan ketidaksabaranku.

In memoriam: Pak Lukman

[English]
Kemarin seorang rekan kerja dan teman, Pak Ahmad Lukman, meninggal dunia. Ia baru berusia 32 tahun, ayah dari seorang anak laki-laki. Pak Lukman memang sudah cukup lama tidak terlalu sehat. Kondisinya memburuk beberapa bulan terakhir ini.

Namun dia selalu penuh semangat. Seorang pekerja yang rajin, seorang teman berdiskusi tentang apa pun, seorang pencinta buku, dan aktivis dalam komunitasnya.

Orang yang telah menjalani hidup dengan sepenuh hati. Tidak pernah mengeluh tentang hidup maupun penyakitnya. Tentu ada kala dia bercerita tentang apa yang ia rasakan, tapi menurut saya itu masih belum mengeluh (atau meminjam istilah teman saya, terkena sindroma orang termalang sedunia). Dia seorang yang kuat, dengan senyum yang senantiasa menghias wajahnya.

Selama perjalanan saya ke rumahnya semalam, yang ada di kepala saya hanyalah: dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Mungkin lebih baik dari kebanyakan kita.

Salam, sobat. Bapak benar-benar menjalani hidup dengan baik. Kami akan bantu menjaga keluargamu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Saturday, January 26, 2008

Meditasi Mengenal Diri

[English]
Tanggal 24 Desember 2007 sampai tanggal 1 Januari 2008 lalu saya mengikuti Meditasi Mengenal Diri arahan Pak Hudoyo Hupudio untuk pertama kalinya di Vihara Mendut, Jawa Tengah.

Meditasi mengenal diri bertujuan untuk melepaskan diri dari kemelekatan. Bukannya mendambakan sensasi atau perasaan yang damai atau menyenangkan. ‘Aturan permainan’ retret adalah sebagai berikut:
− Satu-satunya ‘tugas’ kita adalah sadar. Sadari dan amati setiap tindakan dan pikiran kita. Bedakan sadar dengan konsentrasi.
− Satu-satunya yang diminta dari kita adalah tidak mengganggu orang lain.

Sederhana, tapi tentu tidak mudah bagi saya yang pemula ini.

Hari-hari saya pun penuh naik turun. Mulai dari pikiran hingga sensasi fisik, pegal dsb. Namun saya memutuskan untuk mendisiplinkan diri saya dan agar tidak menyerah pada kepegalan dan kebosanan ini.

Waktu berjalan relatif cepat. Saya menikmatinya. Nah, ini pun jebakan emas (atau jebakan batman). Pak Hudoyo mengingatkan, “Hati-hati. Sadari kalau kamu menikmati. Sampai suatu saat kamu merasa biasa saja.” Ck, licik ya pikiran kita itu.

Menjelang penutupan, kepala Vihara Mendut hadir bersama kami. Kembali beliau mengajak kita untuk senantiasa mengamati, menyadari, termasuk saat-saat kita bosan dan frustasi kok gak bisa meditasi.

Pikiran terbiasa mencari, meminta, dan mendapatkan. Sulit bagi pikiran untuk memberi dan melepaskan. Bahkan ketika kita beramal pun, tetap ada pikiran “Apa yang saya dapat?” Mulai dari budi baik dari orang lain, karma, balasan perbuatan atau rezeki, hingga surga. Masih dengan pamrih sebenarnya.

Lebih halus lagi, ada pikiran-pikiran “saya memberi agar saya mendapat kepuasan hati”. Tetap ada harapan. Pikiran sulit melepaskan.

Pada saat kita bermeditasi pun, kerap menyelinap pikiran, moga-moga aku mendapatkan kemajuan. Jadi ketika kita merasa tenang, kita pun merasa senang, merasa ada kemajuan. Tetap mendapatkan sesuatu.

Kebiasaan kita untuk terus mencari, meminta, dan berharap ini muncul dari keakuan. Pikiran yang senantiasa menagih. Hal inilah yang membuat sengsara, menciptakan keresahan hati, ketidakpuasan.

Untuk mengatasinya, cukup diamati saja. ‘Metode’ meditasi ini sangat sederhana. Kita semua memiliki kemampuan untuk mengamati pikiran dan jasmani.

Pikiran (keinginan, rencana) dalam keseharian kita hendaknya disaring terlebih dulu. Baikkah pikiran itu? Apakah merugikan diri kita, orang lain atau makhluk lain? Apa aku mampu atau terlalu ambisius, memaksakan dan serakah? Semua sesuai takaran.

Apabila baik, maka kita harus konsisten, setia dalam melakukan rencana ini.

Keseharian kita adalah meditasi kita sepanjang masa. Maka hadirkanlah pengamatan ini. Amati gerak fisik dan pikiran kita yang senantiasa menagih kepada siapa saja, termasuk kepada Tuhan, diri dan orang lain.

Catatan lengkap saya taruh di sini. Bisa juga baca pengalaman teman saya dalam bermeditasi mengenal diri di sini.

Thursday, January 10, 2008

Salam peduli autis

[English]
Akhir minggu lalu saya membantu teman-teman dari MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) melakukan pelatihan berbicara di depan publik bagi para pelopornya.

Pelatihan diikuti oleh sekitar 15 orang. Ada yang orang tua dari anak penyandang autis, terapis, psikolog dan anak-anak muda dari Abnon Jakarta. Ada yang datang dari Kalimantan, ada yang datang dari Solo dan berbagai penjuru Jakarta.

Saya hanya bisa bilang: orang-orang luar biasa. Orang-orang yang penuh semangat dan komitmen untuk berbagi pemahaman tentang autisme serta membantu penyandang autis dan lingkungannya untuk menciptakan masa depan lebih baik bagi penyandang autis.

Terima kasih kepada Gayatri dan DY yang sudah mengizinkan saya untuk membantu dan yang sudah memprakarsai inisiatif indah ini. Salut dan terima kasih kepada teman-teman pelopor atas semangat dan kesabarannya.

Terima kasih kepada Mbak Lita dari Maverick yang langsung setuju membantu pelatihan ini. Gak kebayang kalau gak ada Mbak Lit.

Saya ingin berbagi dengan teman-teman, slide yang dipresentasikan ketika pelatihan tersebut. Moga-moga membantu dalam memahami.



Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Tini/Reni/sekretariat MPATI
Jl Warung Buncit Raya 99, Wisma Yaqif, Jaksel. Tel +62 (21) 799 1508, hp +62 (813) 8074 1898 atau e-mail yayasan_mpati@yahoo.com.

Selamat ulang tahun, Ma

[English]
Satu-satunya kata-kata yang terpikir olehku adalah "terima kasih."

Terima kasih untuk--benar-benar--semuanya.

Sekalipun aku dedikasikan seluruh sisa hidupku untuk mama, tetap aja gak bakal ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah mama lakukan buat kami.


Gimana kalau kita dengarkan satu lagu? Aku rasa lagu ini pas banget.

Don't Forget To Remember Me
By Carrie Underwood


18 years have come and gone
For momma they flew by
But for me they drug on and on
We were loading up that Chevy
Both tryin' not to cry
Momma kept on talking
Putting off good-bye
Then she took my hand and said
'Baby don't forget

Before you hit the highway
You better stop for gas
There's a 50 in the ashtray
In case you run short on cash
Here's a map and here's a Bible
If you ever lose your way

Just one more thing before you leave
Don't forget to remember me'

This downtown apartment sure makes me miss home
And those bills there on the counter
Keep telling me I'm on my own
And just like every Sunday I called momma up last night
And even when it's not, I tell her everything's alright
Before we hung up I said
'Hey momma, don't forget to tell my baby sister I'll see her in the fall
And tell mee-ma that I miss her
Yeah, I should give her a call
And make sure you tell Daddy that I'm still his little girl
Yeah, I still feel like I'm where I'm supposed to be
Don't forget to remember me

Tonight I find myself kneeling by the bed to pray
I haven't done this in a while
So I don't know what to say but
'Lord I feel so small sometimes in this big ol' place
Yeah, I know there are more important things,
But don't forget to remember me
But don't forget to remember me

Aku gak akan lupa. Janji.

Wednesday, December 12, 2007

Pelajaran dari pemakaman semalam

[English]
Semalam saya melayat ke pemakaman keluarga seorang teman.

Saya takjub melihat betapa banyaknya bunga yang diterima dan jumlah orang yang berkunjung ke sana. Saya tidak menyangka bahwa keluarganya sedemikian populer dan bagian dari komunintas 'itu'.

Rasa hormat saya ke teman saya bertambah semalam. Bukan karena sekarang saya tahu kalau dia keluarga berada. Tapi karena betapa dia bisa tetap demikian sederhana meskipun keluarganya sangat berada.

Dibutuhkan kedewasaan, kepercayaan diri dan kesadaran yang tinggi untuk memiliki kerendahan hati seperti itu. Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi temannya.

Terima kasih atas pelajaran yang diberikan. Semoga damai dan cinta selalu menyertai keluargamu.

Monday, December 03, 2007

Anahata Villa & Spa Resort

[English]
Saya pergi ke Ubud akhir pekan lalu untuk mengikuti program Healing power of ikhlas yang diselenggarakan bersama oleh True Nature Healing dan Kata Hati Institute.

Saya ingin bercerita banyak tentang program ini tapi saya sedang menunggu handout yang mau dikirim oleh si penyelenggara lewat e-mail. Biar ceritanya tepat dan lengkap. Jadi sementara, saya akan bercerita tentang tempat kami menginap yang begitu indah: Anahata Villa & Spa Resort.

Di paragraf pertama dalam brosurnya, tertulis:

“Nestled in the lush landscape of the Petanu River bank, Anahata is a world class Bali hotel villa. Surrounded by verdant tropical forest and restful waters, visitors to these Bali vacation villas experience the tranquility of a pristine environment with all the amenities of luxurious living.” (Sori Bahasa Inggris, abis susah nerjemahinnya).


Anda bisa membaca lebih lanjut tentang tempat ini di situs webnya. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak tertulis dalam brosur maupun situsnya.

Tentang nama. Menurut Wikipedia yang handal selalu itu, chakra Anahata secara fisik terletak di daerah jantung. Anahata dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan di luar realita karma.

Dalam Anahata, seseorang mengambil berbagai keputusan, mengikuti kata hatinya, berdasarkan diri yang lebih ‘agung’, dan bukan berdasarkan emosi yang belum terpuaskan maupun nafsu dari diri yang lebih rendah.

Pohon pengabul keinginan, kalpa taru, tumbuh di sini, menyimbolkan kemampuan untuk memanifestasi apa pun yang Anda inginkan terjadi di dunia.

Anahata juga diasosiasikan dengan cinta dan kasih, pemberian terhadap sesama, dan bentuk penyembuhan psikis.

Wah, indah betul namanya.

Tentang orang-orang yang ada di sana. Saya berkesempatan untuk bertemu Onie Djatmiko, pemilih Anahata resort. Dia—beserta seluruh stafnya, seluruhnya—benar-benar ingin melayani semua tamunya. Dan kalau Anda kenal saya secara personal, Anda pasti tahu ini merupakan pujian yang tinggi dari saya.

Saya bisa pinjem hair dryer? Tentu. Bagaimana cara membuat sup ini? Oh kita melakukan ini dan itu. Nanti saya berikan resepnya ya.

Saya meninggalkan botol air mineral saya di meja restoran karena saya mau ke toilet sebentar. Waktu saya kembali, botol itu sudah penuh terisi kembali.

“Bus Ibu ke airport baru akan pergi satu jam lagi. Masih ada waktu lho untuk menikmati satu cangkir the lagi. Complimentary.”

Tentang sungai. Sungai yang mengalir di tepi Anahata benar-benar luar biasa. Resort ini terletak di tepi pertemuan dua sungai. Orang Bali percaya bahwa lokasi pertemuan dua sungai merupakan tempat yang bertuah, suci, penuh luapan energi. Anda harus berada di sana, benar-benar berada di sana, untuk memahaminya.

Tempat favorit saya, tepi sungai. Pagi-pagi (atau jam berapa pun, tidak masalah). Sendiri (atau bersama orang lain, sama nikmatnya).

Onie, tempatmu indah sekali.
Terima kasih sudah berbagi.


Gambar: dari Anahata resort.

Saya.

[English]
Saya anak dari orang tua saya. Saya adik dari kakak-kakak saya. Saya profesi saya. Saya kawan dari teman-teman saya. Saya pengikut agama saya. Saya warga dari negara saya.

Definisi jamak untuk satu individu. Aneh.


Saya coba definisikan diri melalu masalah-masalah saya. Namun tiba-tiba masalah-masalah itu terasa tidak penting. Tidak relevan. Tidak pas.

Saya bukan apa-apa kecuali terberkati. Dicintai. Dan cinta itu sendiri.


Saya ini Anda. Anda adalah saya. Kemudian kata-kata saya, Anda, dia, kami, kalian, dan mereka menjadi membingungkan. Rasanya tidak logis. Mungkin sudah tidak relevan.

Kenapa juga mesti terbedakan?

Saya diminta membayangkan sebuah ruang sebagai simbolisasi dari saya, dan mengembangkan luas ruang itu. Saya bayangkan meruntuhkan tembok pembatas ruang dan melihat padang rumput menghijau di bawah naungan langit biru terang.

Saya merasa bebas, sampai saya sadar bahwa dunia saya masih terbatasi dengan tanah tempat saya berpijak. Saya masih menaruh batasan. Kebebasan mutlak masih sekedar ilusi.

Saya terlalu cepat berkesimpulan. Saya puas secara prematur. Ego kembali berbicara.

Saya terbayang dunia untuk memahami bahwa saya ini dunia, alam itu sendiri.

Saya melangkah ke belakang untuk melihat saya lebih jelas. Tapi sejauh apapun saya melangkah, saya tetap tidak bisa melihat diri saya. Saya tidak ada.

Saya bertanya-tanya.

Saya agung, saya pun sekedar setitik noktah tak perlu.

Konsep dualitas ini semakin membingungkan. Tidak logis. Tidak lagi relevan. Pembedaan itu tidak perlu. Tidak ada alasan untuk melakukannya.

Tidak ada kejamakan . Pilih satu kata ganti dan pakai satu itu saja. Satu saja cukup. Tidak pernah perlu lebih.

Saya melebih-lebihkan, seperti biasa.

Saya mau melakukan perjalanan menembus waktu. Kemudian saya menyadari tidak ada waktu untuk ditembus. Saya tidak melihat adanya tujuan atau dimensi lain.

Saat ini hanya satu-satunya yang ada.

Saya duduk di tepi sungai dan ingin bermain dengan air yang mengalir di bawah saya. Saya celupkan kaki ke dalam air dan menggerak-gerakkannya.

Kemudian saya berhenti dan sadar bahwa kaki-kaki saya tetap bergerak tanpa saya gerakkan. Aliran sungai telah melakukannya untuk saya. Sekarang semua menjadi logis. Saya tersenyum tanpa berusaha untuk tersenyum.

Izinkan alam melakukannya. Ikhlas. Saksikan keagungan menjelma.
Hiduplah dari ini, ujarnya seraya tersenyum.

Jiwa memahami. Yang lain masih perlu memproses.

Wednesday, November 28, 2007

Telah dibuka: JakartaDoYoga!

[English]
Senang rasanya teman saya, Yusni, sudah berhasil mewujudkan impiannya untuk membuka studio yoga, Jakartadoyoga. Di tengah-tengah kota Jakarta.

Saya mengunjungi acara pembukaan studionya Sabtu lalu. Acaranya dijuluki “Walking meditation and yoga all day long.” Di acara ini jakartadoyoga menyelenggarakan meditasi bergerak ke salah satu taman di dekat studio, satu sesi yoga di taman, dan lima kelas yoga lainnya di studio sepanjang hari. Cara yang pas untuk meluncurkan sebuah studio yoga.

Yang paling saya suka tentang Yusni, studionya, atau pun semua acara yang ia gelar adalah bahwa kalau kita datang ke sana, rasanya kita datang ke acara teman. Tidak terasa ada jarak antara penyelenggara dan peserta.

Dan di sana kita benar-benar bisa merasakan betapa semangatnya si Yusni terhadap yoga. Saya bertandang ke studionya dan bisa merasa bahwa si pemilik tempat ini telah mencurahkan hatinya kepada persiapan dan manajemen studionya.

Salut kepada Yusni, studionya dan seluruh penggemar yoga di Jakarta maupun di seluruh pelosok dunia lain. Kuddos.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.jakartadoyoga.com, email studio@jakartadoyoga.com, atau main-main ke Jl. Sunda No 7, Lantai 3, Menteng.

Thursday, November 22, 2007

Satu milyar lebih untuk inovator ICT

[English]
Microsoft Indonesia bersama SENADA, sebuah proyek untuk peningkatan daya saing yang didanai oleh USAID, hari ini meluncurkan program iMULAI, sebuah program kompetisi dan penghargaan berskala nasional bagi solusi inovatif untuk keperluan bisnis.

Program iMULAI bertujuan untuk menggugah semangat berinovasi dan menegaskan pentingnya inovasi di kalangan pebisnis Indonesia, serta mendukung terciptanya perekonomian Indonesia yang berdaya saing dan berbasis pengetahuan.

Kompetisi yang akan diselenggarakan hingga tanggal 31 Desember 2007 ini terbuka untuk semua perusahaan Indonesia (baik perusahaan yang baru mulai maupun yang sudah mapan) maupun organisasi non pemerintah.

iMULAI akan memilih tiga pemenang dengan gagasan inovasi paling menjanjikan dan paling berpotensi untuk memberikan dampak positif bagi industri Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia.

Setiap inovasi ini akan menerima dukungan dalam bentuk piranti keras dan piranti lunak bisnis dari Microsoft senilai lebih dari Rp145.000.000 serta pendanaan hibah dari SENADA sebesar Rp220.000.000 untuk biaya pengembangan inovasi.

Untuk info lebih lanjut, kunjungi situs web iMULAI.

Tuesday, November 20, 2007

Serpihan dari alam semesta

[English]
[Pada suatu waktu, teman saya Hanny dan saya sendiri sedang mengalami kemacetan dalam menulis. Lantas kami memutuskan untuk saling menulis di blog yang lain -- saya tulis di blog Hanny, Hanny tulis di blog saya.

Jadi, teman-teman, berikut adalah tulisan blogger tamu pertama saya, Hanny, blogger yang situsnya mungkin merupakan satu-satunya situs blog yang secara rutin saya kunjungi.]

Dear Eva,

Saya tidak tahu apa-apa mengenai spiritualitas, meditasi, yoga, atau hal-hal indah lainnya yang dekat di hatimu. Tetapi, sebagaimana telah kita sepakati, mari memerankan Athena dalam The Witch of Portobello, dan saya akan mulai bercerita tentang hal-hal yang tidak saya ketahui sama sekali...

Sekitar setahun yang lalu, tiba-tiba saja, saya memutuskan untuk menggunakan kata 'splinters' ketika saya tidak ingin mencantumkan nama asli dalam tulisan-tulisan saya. Saya jatuh cinta pada kata itu semasa SMU, ketika saya menemukannya di dalam sebuah puisi oleh Edith Sodergran, The Stars.

Edith adalah penyair yang memperkenalkan modernisme Finland-Swedish dengan rima bebas dalam puisi-puisinya, dan tidak menerima banyak pujian atau perhatian semasa hidupnya, tetapi kini ia dipandang sebagai salah satu penyair terkemuka Finlandia.

Apakah menurutmu Edith terlalu maju dari masanya?
Apakah menurutmu ia menyerupai Athena-nya Coelho dalam The Witch of Portobello?

Terlepas dari itu, saya tidak ingin menganggap hal ini sebagai sebuah kebetulan, tetapi jika kamu mencari kata 'splinter' di dalam kamus, kata itu berarti "a small, thin, sharp piece of wood, glass, or similar material broken off from a larger piece" atau "kepingan / serpihan kecil, tipis, atau tajam dari kayu, kaca, atau materi sejenis yang terpisah/terpecah dari kepingan yang lebih besar".

Bagaimana jika kepingan yang lebih besar itu adalah semesta, Eva? Bagaimana jika saya adalah serpihan dari semesta? Bagaimana jika kita semua adalah serpihan dari alam semesta ini? Bukankah kita memang demikian adanya?

Jadi kini tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa kita terhubung satu sama lain dengan suatu cara; bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang mulia, bahwa pemikiran kita sangatlah magnetik dan mampu menarik hal-hal yang kita cintai semakin dekat kepada kita, bahwa kita mampu untuk mengupas rahasia semesta, satu demi satu setiap waktu.

Dan ini, Eva, inilah yang saya sebut spiritualitas.

Sesuatu yang telah ada di dalam diri kita semenjak lahir, mengaliri nadi kita dan memacu jantung kita; tetapi kita tetap mencarinya dalam perjalanan-perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, hanya untuk mengetahui bahwa sebenarnya kita tidak pernah kehilangan apa-apa.

H.

[Saya gak ubah satu kata pun dalam tulisanmu Han. Karena memang tidak perlu.

Sudah cantik. Sebagaimana biasa.
]

Sunday, November 18, 2007

Satu bulan lagi

[English]
Ingat “perubahan besar dalam waktu dekat” yang pernah saya singgung beberapa waktu lalu? Nah ini dia.

Saya memutuskan untuk kembali ke habitat alami saya, freelancing. Untuk menjadi seorang communications specialist (jabatan yang saya tuliskan sendiri di kartu nama saya) secara freelance sekali lagi.

Dan kalau boleh jujur, sebenarnya, kali ini lebih dari itu.

Saya memiliki dua hal yang saya gandrungi pada saat ini (tiga kalau kita hitung juga keluarga saya). Pertama, komunikasi. Kedua adalah penyembuhan alami dan segala bawaannya (meditasi, yoga, spiritualisme, dsb).

Pada 2006, saya menyimpulkan bahwa saya tetap menyukai komunikasi. Saya masih menggemari dan bersemangat untuk bekerja di industri itu. Dengan syarat, harus dilakukan untuk suatu tujuan yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Jadi saya memutuskan untuk menfokuskan diri pada isu tanggung jawab sosial korporasi dan proyek pembangunan.

Ketika datang kesempatan untuk menjadi seorang manajer komunikasi penuh-waktu dalam sebuah proyek pembangungan (posisi yang masih saya duduki hingga sekarang), saya menyambutnya dengan gembira.

Satu tahun telah berlalu. Saya kini memiliki konklusi yang berbeda. Ternyata saya tetap tidak merasa 100% sreg dengan kondisi saya. Jiwa ini lelah. Begitu pun tubuh. Otak bingung memikirkan kenapa hal ini masih terus terjadi.

Kemudian datanglah The Witch of Portobello. Sebuah buku yang menempatkan saya dalam jalur kontemplatif yang sudah lama terlupakan. Saya sadar kalau saya harus memilih di antara dua kegandrungan saya tadi.

Meskipun demikian banyak pelajaran yang saya dapat, jaringan sosial/profesional yang terbangun, dan dampak yang telah diciptakan dalam waktu setahun terakhir ini, rasanya komunikasi sudah tidak terasa demikian menggairahkan. Untuk saya.

Saya membayangkan diri ini terus menjalani karir komunikasi dan saya tidak terlalu senang dengan apa yang terbayang. Saya tidak bisa melihat damai. (Tentu, mungkin saja ini hanya bayangan saya yang sangat terbatas).

Pilihan kini (lebih) jelas. Saya akan mengarah pada. Untuk keseribu kalinya, saya akan mendorong diri ini ke wilayah baru, di luar comfort zone saya. Untuk kembali menjadi murid. Saya sudah menemukan beberapa guru. Saya sudah mendaftar untuk dua kursus meditasi di bulan Desember. Suatu awal.

Seperti halnya menulis, komunikasi harus menjadi sebuah medium untuk sesuatu yang lebih besar, atau, secara pragmatis, menjadi cara untuk mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian..). Fokus saya kini akan lebih pada penyembuhan.

Pilihan sudah jelas, namun tidak demikian dengan jalan di depan saya. Tak apa. Namanya juga proses. Saya akan mengambil langkah satu demi satu. Dengan bimbingan-Nya. Atau sesuatu agung dalam diri.

Saya mulai menghitung mundur kapan kapal ini mulai berlayar. Sekitar satu bulan dari sekarang. Ambil napas dalam-dalam.

Perubahan sudut pandang

[English]
Sudah agak larut dan saya masih ketak-ketuk di meja kantor saya. Ruangan sudah mulai menggelap. Mata ini terus menatap monitor komputer sampai waktu untuk pulang (akhirnya) tiba.

Saya memutar kursi saya untuk melihat ke jendela. Sekedar mengetahui seberapa macetnya kondisi jalan. Dan saya terkagum-kagum pada pemandangan yang terhampar di depan saya.

Langit jingga di atas bayangan gelap pencakar langit Jakarta.

Pemandangan ini sebenarnya sudah dari tadi stand-by di situ, siap untuk menghibur siapa pun yang dinaunginya tanpa pandang bulu, namun satu-satunya yang saya pandangi hingga detik itu adalah komputer saya.

Hal-hal yang bisa kita lihat, kalau saja kita mau mengubah sudut pandang kita.

Guru

[English]
Bulan ini saya diberkahi kesempatan untuk bertemu dengan (minimal) dua tokoh guru. Sosok yang menurut saya berhak dipanggil “guru”. Sosok dengan ilmu dan keahlian yang demikian tinggi tetapi tetap bisa bersikap sederhana, biasa-biasa saja, dan tidak sungkan untuk mengulurkan tangan.

Pak Budi. Seorang terapis craniosacral. Saya dikenalkan oleh seorang teman. Saya mengunjungi rumahnya suatu malam pada saat ia mengadakan sesi meditasi. Saya tidak terlalu bisa mengenalinya karena ia begitu berbaur dengan yang lain. Kira-kira 10 orang yang hadir mengobrol dan memulai meditasi. Pak Budi kemudian menjawab semua pertanyaan dari peserta dan bahkan dengan senang hati menerapkan penyembuhan ke salah satu hadirin.

Pak Irmansyah Effendi. Pendiri Reiki Tummo. Beberapa tahun lalu saya mengambil kelas Reiki Tummo tetapi belum pernah merasa sreg. Suatu hari seorang teman me-YM saya dan memberitahu akan adanya temu alumni akbar dengan Pak Irmansyah sebagai pembicara. Menarik.

Saya duduk di deretan terdepan. Sang pembicara belum hadir. Kemudian datang seorang muda dengan rambut agak acak-acakan dan baju hawaii biru-putih. Dia sibuk sendiri dengan memasang notebook dan LCD. Seorang perempuan yang duduk di samping saya bilang, “Pak Irmansyah?” dan dia tersenyum. Ya ampun, itu Pak Irmansyah? Wow. Kenapa dia begitu ‘biasa-biasa saja’?

Saya benar-benar menikmati sesi yang diselenggarakan Pak Budi dan pak Irmansyah.

Bulan ini saya juga ‘kehilangan’ seorang guru lain. Pak Pujo yang meninggal dunia bulan lalu. Saya hanya sekali bertemu dengannya namun kesan yang ia tinggali begitu dalam. Wafatnya beliau mengingatkan saya pada satu-satunya saat kami bertemu.

Orang-orang dengan kebijakan yang demikian agung dan kesederhanaan yang mendalam. Orang-orang yang berhak dipanggil “guru”. Dan saya bersyukur memiliki kesempatan untk bertemu dengan mereka.

Jika ditilik dari jumlah guru yang saya temui dalam waktu singkat ini, mungkin sekarang saatnya masuk sekolah lagi. Senang rasanya bisa menjadi murid kembali.

Wednesday, November 07, 2007

Buat mama dan papa

Tuhan, maafkan saya dan maafkan papa dan mama.

Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil. SEJAK aku kecil.

*pelukcium*