Wednesday, May 28, 2008

Dua tahun lumpur Lapindo

[English]
Hari ini Harian Kompas memuat foto lumpur Lapindo. Tampaknya tak ada kata yang perlu ditambahkan di sini. Semua sudah terucap.
Saya rasa sudah saatnya kita berhenti mengeluh tentang hidup kita dan mulai merasa bersyukur, dan berbagi.

.mulailah melakukan sesuatu. apa pun itu.

Walk the World

[English]

Beberapa hal memang patut didukung.

Di tengah kelaparan dan malnutrisi yang melanda negeri ini.

Thursday, May 22, 2008

Hari Kebangkitan Nasional - 1

[English]
Dengar ini di acara klien kemarin. Setiap kali mendengar lagu tersebut, saya pasti tertegun atau, tepatnya, tercenung.

Indonesia Jaya
Dipopulerkan pertama kali oleh Harvey Malaiholo

Hari-hari terus berlalu
Tiada pernah berhenti
Seribu rintangan jalan berliku
Bukan suatu penghalang

Hadapilah segala tantangan
Mohon petunjuk yang kuasa
Ciptakanlah kerukunan bangsa
Kobarkanlah dalam dada
Semangat jiwa Pancasila

Hidup tiada mungkin
Tanpa perjuangan
Tanpa pengorbanan
Mulia adanya
Berpeganglah tangan
Satu dalam cinta
Demi masa depan
Indonesia jaya


Lagu yang pas untuk Hari Kebangkitan Nasional. Ayo, bangun.

Sunday, May 18, 2008

Malam itu

[English]
Saya terbaring di atas tempat tidur, tempat tidur saya yang nyaman dan akrab. Namun tak cukup nyaman untuk membuat saya tertidur. Mata saya terbuka lebar. Tubuh terjaga bugar.

Malam itu gelap dan dingin. Hujan turun dengan derasnya di luar. Saya bisa merasakan angin berhembus. Dingin. Tampaknya jalan-jalan sudah mulai tidak kuat untuk menahan derasnya curahan air. Sebentar lagi tumpah. Hanya masalah waktu.

Saya bisa merasakan tikus-tikus itu, tikus-tikus putih, di luar kamar saya, menjadi resah. Mereka tahu sebentar lagi air akan datang. Memasuki rumah mereka.

Kemudian semua itu terjadilah. Air hujan mengalir deras memasuki rumah sang tikus. Mereka berlarian. Ke luar rumah mereka dan masuk ke kamar saya. Melewati saya. Naik ke punggung kemudian turun lagi. Jumlahnya banyak sekali. Terlalu banyak. Saya bisa merasakan setiap tikus itu menaiki punggung saya dan melompat dari kedua pundak.

Tubuh saya merinding, bergidik. Suatu reaksi normal. Saya bisa merasakan rasa menggelitik, namun entah kenapa saya tidak panik. Bahkan ketika ada satu yang tidak bisa bergerak di punggung saya dan harus saya bantu melepaskan. Saya bisa mengerti.

Rumah mereka kebanjiran. Merekalah yang panik, bukan saya. Mereka berhak untuk panik. Jadi saya biarkan mereka lewat. Saya perhatikan, saya rasakan mereka lewat.

Saya berjalan ke dapur. Sudah pagi. Matahari sudah bersinar terang. Tampaknya hujan semalam telah mengusir semua awan. Paling tidak untuk sementara. Dapur saya besar, bergaya masa pertengahan. Berdinding putih. Berkeramik burgundy. Berpintu kayu.

Ah, pintu-pintu besar dari kayu itu. Megah. Ada tiga. Satu menuju ruang keluarga, satu ke halaman belakang, dan satu ke garasi.

Kakak perempuan saya berjalan masuk dan bertanya kenapa ada begitu banyak pintu. Tepatnya, dia bertanya kenapa mesti ada pintu sama sekali. “Copotlah semua pintu itu,” ujarnya. Kami pun melakukan apa yang ia katakan.

Benar juga. Mentari kini bersinar menelusuri semua relung rumah. Terasa lebih adem, lebih segar.

Semua anggota keluarga berjalan-jalan di luar. Jumlahnya cukup besar dan tampak akrab berjalan gembira bersama. Saya punya gambaran kira-kira ke mana dan agak bertanya-tanya kenapa kita mengambil jalan memutar.

Kakak perempuan saya masih ada di sana. Saya pertanyakan alasan jalan berputar ini. Dia hanya berkata singkat, “Karena anak-anak maunya begitu.” Seakan jawaban itu dapat menjelaskan semuanya. Mungkin memang demikian. Karena saya tidak bertanya lebih lanjut. Tak ada pertanyaan lagi. Saya tahu semua akan baik-baik saja.

Keinginan langka untuk berbagi. Sampai nanti, kalau memang ada kesempatan lagi.

PS: Floor, saya sudah menemukan buku hijau yang kauberikan. Kita berdua tahu apa maknanya itu.

Tapi hingga kini saya masih kepayahan mencari titik berimbang itu. Mungkin memang butuh waktu untuk menyesuaikan kembali. Menyesuaikan kembali, karena saya menyesuaikan untuk kesekian kalinya.

Tuesday, May 13, 2008

Kelaparan - 2

[English]
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirimkan tautan ini. Tentang sebuah penangkaran hewan di kota dimana para hewan banyak yang menderita dan beberapa bahkan dibiarkan mati. *menghela napas panjang*

Lagi-lagi, topiknya berkenaan dengan kelaparan. Kali ini kelaparan yang melanda hewan. Lagi-lagi, air mata pun tak tahan untuk tidak mengalir.

Saya berjanji pada teman saya bahwa saya akan menaruh cerita ini di blog saya, seraya berharap bisa berkontribusi terhadap perubahan. Maaf kalau terlalu lama dan lambat.

Menakjubkan betapa kita sering jatuh iba pada hewan, namun tidak terlalu pada manusia. Kita sering merasa kasihan ketika melihat hewan sakit, namun memilih untuk tidak mengacuhkan manusia yang tengah terpuruk dalam penderitaan.

Atau mungkin pemandangan itu terlalu menyakitkan buat kita, sehingga kita memutuskan untuk memalingkan pandangan dan meneruskan perjalanan dalam hidup yang serba indah dan bahagia, mungkin karena rasa takut akan menyakiti diri nantinya.

Saya pikir, seperti halnya anak-anak, para hewan ini ada untuk menyentuh kita lebih dalam, dengan keluguan, kejujuran, serta kerapuhannya.

Ketika rasa percaya, cinta tulus dan kasih mulai bertumbuh dalam diri, maka kita akan mampu menjadi diri yang lebih agung dan belajar untuk mencinta lebih banyak lagi. Untuk menyebar kasih dan mengulurkan tangan kita pada hewan, alam dan manusia.

Lihat siapa yang sebenarnya belajar mencinta sekarang. Dan kita tadinya berpikir bahwa kitalah yang membantu mereka.

Kelaparan - 1

[English]
Saya sudah sangat lama menunda menulis tulisan ini. Saya melihat berita di TV beberapa waktu lalu tentang kelaparan yang melanda negeri.

Seorang ibu dengan dua anak meninggal kelaparan di rumahnya.
Malnutrisi terjadi dimana-mana di beberapa daerah. Kelaparan berlangsung di kota tempat saya tinggal ini, di jalan-jalan yang saya lewati setiap hari. Rasanya saya tidak perlu menaruh satu gambar pun di sini. Sudah jelas.

Hati saya serasa melesak. Air mata mendesak.

Bahwasanya ada kelaparan di negara tropis agrikultur maritim ini sudah berada di luar nalar saya. Bahwasanya hal ini terjadi pas di depan mata saya--mata kita?--merupakan suatu hal di luar batas toleransi.

I sms beberapa teman. Saya menerima tanggapan yang menghangatkan hati.

Saya tahu ada masalah yang besar dan mungkin tak bisa saya pahami di negara ini yang kemudian menjurus ke situasi sekarang--baik dalam hal kelaparan maupun ketidakpedulian. Saya paham bahwa harus ada perubahan struktural--atau bahkan politis--untuk memperbaiki keadaan ini. Saya tahu itu.

Tetap saja, satu tanggapan yang paling berkesan buat seorang saya yang kecil dan biasa-biasa saja ini adalah ajakan seorang teman untuk melakukan apa pun yang kita bisa, untuk berbaik dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita.

Pesuruh di kantor yang menyediakan secangkir kopi hangat buat kita tiap hari. Supir pribadi/taksi/bus/bajaj yang mengantar kita ke sana kemari dalam 'tempo yang sesingkat-singkatnya'. Pedagang kaki lima dan jajanan. Tukang sayur keliling. Anak laki-laki kecil berkaos garis-garis merah putih yang mungkin luput dari perhatian kita.

Tahukah kita apakah mereka punya makanan untuk makan nanti malam? Tahukah kita apakah anak-anak mereka telah diberi makan dengan baik dan dapat terus bersekolah? Pedulikah kita?

Saya sudah menunda penulisan artikel ini cukup lama. Karena saya merasa tidak tahu jalan keluar dari masalah ini. Hingga kini pun, sebenarnya saya masih tidak tahu.

Tapi mungkin itu inti masalah saya. Inti masalah kita. Kita begitu bingung, merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya sampai-sampai kita tidak melakukan apa pun. Sama sekali.

Saatnya untuk melakukan sesuatu. Apa pun itu. Mulailah Memberi.

Monday, May 12, 2008

Teman lama, saya yang dulu

[English]
Kadang kita merasa bahwa kita telah berjalan jauh untuk suatu ketika menyadari bahwa kita ini masih seperti yang dulu-dulu saja. Belum jauh-jauh amat berubahnya.

Itu yang saya rasakan sekarang. Saya bertemu dengan beberapa teman baru sebulan terakhir ini dan bertaut kembali dengan beberapa sobat lama.

Betapa mereka berhasil membawa saya mengarungi masa kembali ke waktu lalu dan menemukan individu yang telah lama tidak muncul dari diri.

Halo saya, sudah lama sekali rasanya tak melihatmu. Saya hampir lupa betapa saya terkadang kangen sekali dengan saya yang itu. Menyenangkan.

Hati terasa ringan. Senyum (atau cengiran?) lebar di bibir. Otak yang sedikit korslet. :p

Rupanya saya yang itu tidak jelek-jelek amat. Mungkin sudah saatnya untuk mempersilakan saya yang itu bersinar kembali untuk ke sekian kalinya, dengan sedikit improvisasi berkat waktu yang telah ditempuh bersama.

*peluk*

Monday, May 05, 2008

Menunda keinginan

[English]
Kakak perempuan saya baru saja mengikuti pelatihan mendidik anak. Mereka mendiskusikan banyak hal. Salah satunya adalah saat sang pelatih menyarankan para orang tua untuk melatih anaknya menunda keinginan.

Ketika anak meminta sesuatu, orang tua tidak perlu memenuhi permintaan tersebut saat itu juga. Tunda seperlunya. Berikan jeda antara permintaan dan pemenuhannya.

Sang pelatih mengatakan bahwa hal ini akan melatih anak memiliki jeda-jeda serupa dalam kehidupan. Untuk tidak bertindak reaktif (secara instink ataupun emosional) pada saat itu juga. Untuk berpikir sebelum mereka menanggapi berbagai stimuli dalam hidup. Untuk berlaku bijak. Aduh.

Menarik, pikir saya. Suatu kebiasaan yang baik untuk diajarkan dengan cara demikian sederhana. Saya tahu kalau berpikir sebelum bertindak itu baik. Saya tahu menunda keinginan juga baik. Namun saya tidak pernah menautkan dua hal tersebut. Paling sedikit, tidak dalam hal mengasuh anak.

Saya akan mempersilakan dua guru besar saya meneruskan cerita ini.

Jalal-ad-din Rumi mengatakan, “Permulaan dari kesombongan dan kebencian berada pada keinginan duniawi, dan kekuatan keinginanmu berakar dari kebiasaan. Ketika tendensi buruk menjadi kokoh sebagai buah kebiasaan, kemarahan/kemurkaan akan (mudah) terpicu ketika ada pihak yang berusaha mengekangmu.”

Kemudian beliau juga pernah berkata, “Jika kamu terganggu oleh setiap friksi, bagaimana kamu bisa terpoles dengan baik?” Ok juga, guru. Bagaimana kita bisa melakukan in? Bagaimana kita mengelola keinginan kita? Datanglah guru saya yang lain, Al Ghazali.

Dalam bukunya Disciplining the Soul (Mendisiplinkan jiwa – yang mungkin merupakan salah satu buku yang paling berpengaruh dalam hidup saya), Al-Ghazali mengutip Yahya ibn Muadh al Razi, “Lawan jiwamu dengan pedang disiplin diri. Ada empat: makan sedikit, tidur sebentar, bicara seperlunya, dan toleransi semua perbuatan buruk yang dilakukan terhadapmu. Makan sedikit akan meniadakan keinginan, tidur sebentar akan membersihkan aspirasimu, berbicara seperlunya akan menyelamatkanmu dari berbagai penderitaan, dan mentoleransi perbuatan buruk akan mengantarmu ke tujuanmu—karena salah satu hal tersulit bagi manusia adalah untuk berlaku lembut ketika tidak diacuhkan atau ketika mentolerir perbuatan buruk yang dilakukan terhadapnya.” (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal57)

Benar sekali. Mentolerir perbuatan buruk/salah merupakan salah satu tantangan terbesar. Bagaimana caranya saya bisa menahan diri terhadap orang yang tidak mengacuhkan atau yang menjahati saya? Kapan saya harus mengatakan sesuatu dan kapan saya harus diam?

Beliau (Al Ghazali) kemudian berkata, “Pernah seseorang bertanya kepada Umar ibn Abd Al-Azis, ‘Kapan saya harus berbicara?’ Dan Umar menjawab, ‘Ketika kamu ingin diam.’ ‘Kapan saya harus diam?’ tanya orang itu lagi, dan Umar berujar, ‘Ketika kamu ingin berbicara.’ (Al Ghazali, Disciplining the Soul, hal59)

Saya mengangguk-anggukan kepala saya. Namun kemudian, saya jadi bingung sendiri dengan pernyataan itu. Rupanya saya memang masih belajar.

Kalau demikian, mari mulai dari awal. Seperti yang dikatakan di pelatihannya kakak saya. Tunda keinginan. Keinginan kita dulu. Bukan keinginan anak.

Saturday, May 03, 2008

Semua pilihan di dunia ini

[English]
Baru-baru ini saya bepergian ke luar kota. Sepanjang perjalanan, saya menggunakan angkutan umum untuk pergi kemana pun saya ingin pergi. Saya sama sekali tidak keberatan. Bahkan, saya menikmatinya.

Hingga malam terakhir saya di kota itu, saya hendak bertemu dengan seorang teman di tempat yang tidak terjangkau oleh angkutan umum saya. Jadi saya memutuskan untuk menggunakan taksi, mungkin karena terbatasnya waktu, atau karena saya sudah tidak punya cukup energi lagi untuk menimbang opsi lain.

Saat saya duduk di kursi belakang taksi, saya memandang ke luar melalui jendela, menikmati pemandangan rumah, pohon, mobil, lampu, yang saya lewati. Saya menyadari kemewahan dari mengendarai taksi, sebuah kendaraan nyaman yang didedikasikan hanya untuk mengantar seorang saya kemanapun saya ingin pergi.

Kemudian saya tersadar. Saya telah menggunakan moda transportasi yang lebih umum (rame-rame) dan sederhana sepanjang perjalanan saya. Namun sebenarnya, saya selalu, selalu, selalu memiliki opsi(-opsi) lain yang lebih mewah kalau saya menginginkannya.

Seperti halnya begitu banyak aspek dalam kehidupan saya.

Fasilitas seperti Linked-in dan Facebook memungkinkan kita untuk bertaut kembali dengan teman yang telah lama hilang dari peredaran. Suatu hari, saya menunjukkan kepada seorang teman jabatan dari beberapa teman lama saya, nun jauh tinggi di tangga karir perusahaan.

Saya bilang, “Lihat deh mereka. Lihat saya. Apalah saya dibanding mereka?” Saya terdiam sejenak dan melanjutkan ucapan, “Saya seseorang yang memilih untuk tidak seperti itu.”

Saya bisa saja menjadi seperti mereka kalau saya menghendaki. Saya tahu saya punya opsi itu. Suatu opsi yang tidak saya ambil. Tepatnya, suatu opsi yang dulu pernah saya ambil, namun sekarang tidak lagi.

Pada kenyataannya, saya terberkati dengan semua pilihan yang ada di dunia ini—mungkin jauh lebih banyak dari yang dimiliki kebanyakan orang (tanpa bermaksud sombong sama sekali, sekedar bersyukur).

Pernyataan yang ditanggapi secara bijak oleh seorang teman, “Kalau demikian, gunakanlah dengan baik. Pilih opsi yang terbaik.”

Jadi saya kembalikan semua ini pada-Mu. Saya biarkan diri-Mu untuk mengambilkan keputusan buat saya. Karena saya tahu tidak ada orang lain yang dapat membuat keputusan ini untuk saya, tidak sebaik kalau Kamu melakukannya.

Terima kasih, padamu, dan, seperti biasanya, pada-Mu.

Tak ada lagi pertanyaan

[English]
Hari Jumat lalu saya makan siang dengan seorang teman baik, seorang mentor. Sebenarnya banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, namun ketika dia menelepon saya mengajak bertemu, saya tak mungkin bisa menolak.

Dia kini tinggal di luar kota dan sedang mengunjungi kota saya untuk beberapa hari. Kita sudah lama tidak berbincang.

Teman tersayang saya ini adalah orang yang telah ‘membimbing’ saya melalui naik turun (dan turun)-nya hidup saya sekitar dua-empat tahun lalu. Pada saat itu, kepala (atau hati?) saya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan keraguan. Resah. Lelah.

Namun dia dengan sabar menuntun saya melewati perjalanan saya, entah itu perjalanan keluar kota maupun perjalanan ke dalam diri.

Saran pertama yang ia berikan, saya ingat sekali, adalah untuk “memperlambat semuanya. Lakukan semua satu per satu. Izinkan tubuh dan pikiran untuk santai. Apabila proses penyerahan dirimu adalah melalui meditasi dan doa, maka lakukanlah.

Jangan memaksakan semua proses ini dengan pikiranmu. Pikiran kita merupakan penghalang buat kita. "Percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati dan jangan berpegang terlalu erat terhadap apa yang kamu pahami sekarang; dalam segala hal akui kehadiran dan kebesaran-Nya dan Dia akan meluruskan jalan untukmu."

Lepaskan semua keinginan, kebutuhan, permintaan, ekspektasi dan pikiran. Bernafas perlahan dengan kesadaran tunggal: bahwa kita adalah milik-Nya. Biarkan Dia bekerja bersama kita dan terima apa saja dan semua hal yang Dia berikan setiap harinya.

Lihat, rasakan, cium dan sentuh semua yang ada di sekitarmu. Lantai, dinding, rumah, jalan, pohon, orang, mobil, kertas, kata, bahasa, musik, suara, bunga. Apa pun, tiap hari, tiap detik.

Hingga suatu hari, kamu akan mengerti, kemudian kamu akan menangis. Tangisan bahagia, nikmat, dan paham.
”

Kata-kata indah itu menandai perjalanan seumur hidup yang telah lama tertunda, terlalu lama.

Namun kemarin obrolan terasa berbeda. Kami berbincang dan tertawa tentang kerja dan hidup. Dialog, bukan konsultasi. Tetapi tetap menghangatkan hati dan menyenangkan.

Seraya memasuki mobil untuk kembali ke ‘kehidupan nyata’, saya berujar kepada teman saya, “Saya sudah tidak punya pertanyaan lagi.”

Seumur hidup, saya sudah mengemukakan begitu banyak pertanyaan tentang hidup itu sendiri, namun sekarang saya terdiam tanpa ada satu pun pertanyaan untuk diajukan.

Tak ada alasan atau manfaat untuk bertanya, atau mempertanyakan, ketika jauh di dasar diri ini kita tahu kalau kita sudah tahu. Atau minimal, kita percaya.

Sabtu pagi

[English]
Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan.

Setelah menulis email untuk seorang Paman Bill, saya ngobrol (conference chat) dengan dua teman tersayang (Kami bertiga online pada jam delapan pagi di hari Sabtu. Kebayang tak kenapa kami berteman baik? *keluh*).

Obrolan dimulai dengan “Sudah ada tehnya masing-masing??” :)

Saya belum. Jadi saya langsung bangkit untuk membuat secangkir teh hangat. (Orang-orang aneh. Thayank, thayank, thayank..). Kemudian kami terus ngobrol tentang banyak hal dan tentang hal tak penting.

Di tengah-tengah obrolan, abang saya—yang memang doyan masak—memanggil untuk sarapan. Dia sudah mempersiapkan omelet tomat dan roti bawang bakar untuk kami semua.


Saya bolak-balik antara komputer dan meja makan untuk cicip-cicip makanan (dan menjawab sms plus menulis tulisan ini).

Ibu, abang dan sepupu saya semua duduk di meja makan bersama—tentunya—si Miauw, bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami.

Sekarang jam 11 pagi dan saya masih terus mengobrol dengan teman dan keluarga.

Awal yang sangat menyenangkan untuk sebuah akhir pekan. *Peluk erat hangat*

Thursday, May 01, 2008

Lilin dan saya

[English]


Lilin dan saya sudah saling kenal lama sekali. Sahabat saya yang mana pun akan dapat (dan pernah) mengatakan "Eva dan lilin-lilin-nya.. [hmmph]". Sekedar memberikan gambaran betapa saya kerap terpesona terhadap benda yang demikian bersahaja ini.

Saya kurang pasti kapan keterpesonaan saya terhadap lilin atau segala yang bernuansa cahaya lilin ini dimulai, namun lilin-lilin itu memang mengagumkan. Kehangatan yang terpancar dari cahaya itu demikian menarik, menggugah, bahkan hampir terasa merayu.

Saya dapat duduk diam berlama-lama hanya untuk memandangi cahayanya atau menikmati nuansa warna yang ia ciptakan di daerah sekitarnya. Terasa damai. Hangat. Senyum.

Jadi ketika seorang teman memberikan saya tempat lilin (beserta lilin-lilinnya) sebagai hadiah yang menurutnya 'cocok untuk saya', itu memang pilihan yang aman. Instink yang bagus.

Hatur nuhun kangge hadiahna. Teu nginten. Tadi enjing parantos ngawitan nyarengan meditasi sareng padamelan abdi. Karaos haneuteun :)

Saturday, April 26, 2008

Terus kenapa?

[English]
Setiap orang komunikasi pasti mengenal prinsip 5W1H – who what where when why and how (siapa apa dimana kapan kenapa dan bagaimana) dari sebuah cerita. Bagi beberapa orang, ada satu pertanyaan lagi yang tak kalah penting: terus kenapa? Kenapa sasaran komunikasi kita perlu peduli terhadap apa yang ingin kita sampaikan?

Terus kenapa juga merupakan pertanyaan yang muncul di pikiran saat saya berbincang dengan seorang teman. Katanya, dia senang berbincang dengan orang-orang biasa (yang luar biasa). Dia suka duduk-duduk di pinggir jalan untuk berbicara dengan para pedagang kaki lima dan lain-lain.

Saya pun demikian. Cerita mereka selalu membuat saya takjub. Cerita mereka senantiasa menaruh saya kembali pada tempat saya, untuk merasa bersyukur dan pada saat yang sama merasa saya belum ada apa-apanya dibanding mereka.

Malam itu ketika sedang berbincang dengan sang teman, pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut saya: terus kenapa? Jadi kamu suka mendengar cerita dari mereka, terus kenapa? Mau kamu apakan cerita itu? Bagaimana kamu menggunakan cerita itu untuk membantu mengubah diri ataupun orang lain?

Saya rasa saya harus lebih sering bertanya ini ke diri sendiri. Jadi saya suka diskusi spiritual. Jadi saya suka yoga. Jadi saya suka ngobrol dengan boneka (stuffed animal, not doll!) saya. Terus kenapa? Bagaimana semua ini bisa membuat diri saya menjadi lebih baik? Bagaimana agar hal ini dapat bermanfaat bagi orang di sekitar saya?

Terima kasih buat obrolannya. Dan pengingatnya.

Home sweet home

[English]
Hari yang cukup melelahkan, secara fisik maupun emosi. Hari yang sangat panjang. Saya bangun jam lima, setelah tidur tiga jam saja.

Kemudian langsung bekerja (lagi). Dan bekerja. Dan bekerja. Hingga sekitar jam enam atau tujuh malam. Kemudian saya pergi ke tempat teman (dasar ambisius) hingga jam 12.30 tengah malam. Lelah blas.

Sampai akhirnya saya tiba di rumah pukul satu dini hari. Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa begitu bugar. Kemudian saya mulai menyalakan komputer untuk merajut tulisan ini.

Tadi saya sempat meng-SMS teman saya karena saya sedang menimbang apa yang harus saya lakukan besok. Saya punya tiga opsi diskusi religi/spiritual yang bisa saya datangi. Kemudian saya katakan padanya, selalu ada opsi untuk tinggal di rumah. Dia membalas: rumah.

Teman saya itu tentunya benar sebenar-benarnya. Kalau saya harus memilih dari keempat opsi tersebut kegiatan mana yang paling menyantaikan secara spiritual, saya akan menjawab: tinggal di rumah.

Sebuah rumah bisa luar biasa berdampak pada diri ini. Terima kasih.

Seperti yang kamu katakan, sampai saat ini belum ada tempat lain yang lebih nyaman di dunia daripada rumah sendiri. Well, bagi kita yang beruntung. Ada orang yang tidak punya rumah. Ada yang punya rumah besar, tapi tidak merasa berada di rumah. Kita benar-benar termasuk yang beruntung.

PS: Satu kalimat terucap dalam percakapan di rumah teman tadi: "Kebenaran universal adalah perbuatan baik." Indah sekali.

Wednesday, April 23, 2008

Saya hanya meminta sebuah kapel kecil…

[English]
Entah kenapa, saya selalu diarahkan ke area ini. Mungkin ditarik merupakan kata yang lebih tepat. Kamu terus memberikan ‘alasan’ bagi saya untuk pergi ke sana.

Pertama, ada godaan untuk mengunjungi toko barang-barang kemah/trekking favorit saya. Saya menahan diri.

Kemudian seorang teman meminta saya membelikan sebuah produk yang katanya dijual di daerah sana. Saya masih menahan diri dan membeli produk tersebut di daerah lain.

Akhirnya, Kamu berhasil menarik saya ke sana karena ada teman lain yang mengajak bertemu di daerah itu. Baiklah, saya pergi.

Jadilah saya melangkah ke daerah itu. Setelah makan siang dengan teman tersebut, saya berputar-putar di daerah sekitar. Sedikit mengomel. Kamu sudah menarik saya hingga sini, dan sekarang saya apa yang mesti saya lakukan? Tidak adil. Kasih saya suatu tanda.

Saya pergi ke toko kemah itu dan tidak melihat sesuatu yang menarik. Ok, saya masih belum tahu kenapa saya mesti ke daerah ini.

Tiba-tiba, tepat di depan saya: Katedral Saint Andrew Singapura. Waah. Kemarin saya minta Tuhan untuk dibolehkan mengunjungi gereja Khatolik, tempat menyendiri favorit saya. Kemarin saya tidak menemukannya. Lantas saya lupa atas permintaan saya itu.

Rupanya, ada yang tidak lupa.

Bahkan lebih dari itu.

Saya hanya meminta sebuah gereja—atau bahkan kapel—Khatolik kecil yang sederhana buat saya untuk duduk diam. Dan Dia memberikan saya katedral.

.gak tau mesti ngomong apa.

Refleksi yang sempurna

[English]
Ini kali kedua saya menggunakan kata “sempurna”. Hidup rupanya memang sedang baik-baik saja.

Kita duduk bareng untuk keribuan kali. Dan setiap kali, selalu merupakan saat yang amat menyenangkan.

Siang yang demikian cerah (matahari tersenyum lebar, langit biru terang), tempat ngopi yang pas (makanan enak, staf ramah, pengunjung menyenangkan), dan kita yang duduk di dekat jendela melongok ke lapangan hijau dan orang berlalu-lalang di sekeliling kita.

Kita berbincang sedikit tentang kerja. Kita berbincang lebih banyak tentang pribadi. Kita berbincang tentang keluarga, rasa dan perjalanan. Kita berbincang tentang bahagia dan resah.

Saya rasa sedikit sekali cerita yang tidak saya bagi dengan dirimu. Saya dengan senang hati menjawab semua hal yang kamu tanyakan. Saya pun dengan suka cita dan sukarela bercerita tentang hal yang tak kamu tanyakan.

Kita berbicara tentang kita yang senantiasa menjadi si kuat. Si penyelesai masalah dalam cinta dan hidup. Kita sebagai orang-orang dengan hidup sederhana tanpa ada yang disembunyikan.

Hidup kita demikian sederhana sehingga tak ada yang perlu kita bagi kepada orang lain. Tidak ada keluhan satu kata pun. Hidup yang sederhana. Hidup yang baik-baik saja. Kita yang kuat-kuat saja.

Sampai suatu saat dalam kurun bincang kita, kebenaran menyesakkan menguak. (Wah, saya baru saja melihatmu online! Di jam-jam aneh ini). Kita ini terlalu gengsi, harga diri begitu tinggi, terlalu tinggi untuk mengakui atau bahkan menyadari.

Menara ini sedemikian tinggi sehingga kita sendiri pun tak dapat melihat apa yang ada di dalam. Semua baik-baik saja. Semua terbuat dari bebatuan kokoh.

Biarkan diri menjadi lemah, menjadi rentan, kata saya. Atau itu kata-katamu? Tak penting. Tak masalah. Sama saja. Pernyataan berlaku dua arah. Seperti biasa.

Karena kamu adalah refleksi sempurna diri saya. Apa yang saya ucapkan pada kamu, saya ucapkan pada diri sendiri. Cerita kamu adalah cerita saya juga.

Ketika saya mendengarkanmu, saya mendengarkan diri sendiri, dengan rasa bahagia dan kesedihan mendalam. Apa yang kamu rasakan (atau kamu pikir kamu rasakan) selalu terasa familiar di saya. Mengerikan.

Pantaslah saya tidak pernah ragu untuk bercerita padamu. Sejak pertama kita berbincang. Karena saya hanya berbincang dengan diri sendiri. Tidak perlu merasa malu. Karena kamu sudah tahu. Karena entah bagaimana itu pun kamu.

Saya menyayangimu sebagai seorang sahabat tercinta. Sejak awal. Hingga kapan pun. Terima kasih sudah menjadi cermin yang bening, refleksi sempurna dari diri ini. Walau kerap kita enggan mengakuinya.

Saat yang menyenangkan. Pas untuk melepas penat. Terima kasih.

PS: Ingat foto kita yang kita ambil di akhir kopi kita, yang ternyata buram? Mungkin ada hal-hal yang harus kita simpan sendiri. Atau tepatnya, di antara kita saja. Tempat sampah bagi satu sama lain.

Jalan-jalan yang pas

[English]
“Gimana jalan-jalannya?” tanya seorang teman Tanpa ragu, saya menjawab, “It was perfect.” (Catatan: mau saya terjemahkan ke sempurna kok rasanya kurang sreg).

Apakah jawaban itu terdengar terlalu positif? Mungkin. Namun memang itu yang saya rasakan tentang perjalanan saya kali ini. Saya tidak akan bercerita terperinci. Tapi sekedar memberikan gambaran.

Perjalanan kali ini tidak terlalu lama. Lima hari empat malam. Jalur penerbangan satu setengah jam yang sebetulnya sudah kerap saya tempuh. Tapi kali ini, terasa berbeda.

Waktu yang pas. Untuk menyantaikan diri. Untuk ‘melarikan diri’ barang sejenak.

Imbangan antara waktu sendiri, waktu bersama buku dan waktu bersama teman yang pas. Saya tidak menyadari betapa lamanya sejak terakhir kali saya benar-benar beperjalanan sendirian. Saya tidak menyadari betapa saya kangen akan saat-saat itu.

Kombinasi teman yang pas. Teman-teman yang dekat di hati. Teman-teman yang lama tak saya sambangi. Teman-teman yang dengan mereka saya bisa menjadi diri saya yang lebih santai dan terbuka.

Tempat tumpangan menginap yang pas.
Apartemen dari seorang teman lama. Salah satu sahabat terdekat saya yang telah menyaksikan—dan membiarkan—saya untuk bertumbuh seperti saya hari ini. Tidak ada tempat menginap yang lebih pas buat saya untuk perjalanan kali ini.

Kegiatan yang pas. Leyeh-leyeh di apartemen. Ngobrol dengan teman. Makan siang, makan malam, dan ngopi. (beberapa tenggat waktu terkait pekerjaan dan beberapa e-mail yang tidak terlalu terkait dengan pekerjaan). Menonton kartun di TV. Hablando con mis amigas espaƱolas. Menjalani terapi kesehatan. Menonton orang lalu lalang. Tidak melakukan apa-apa. Belanja. Ngobrol lagi. Melihat tanpa menatap. Membaca buku. Oh dan berjalan. Menyenangkan sekali. Berjalan jauh secara perlahan.

Dan saya secara resmi jatuh cinta dengan Craniosacral Therapy. Terima kasih, Kheng. Terima kasih, Martyn. Terima kasih, Heather.

Sekarang saya telah kembali. Mari, berikan!

Thursday, April 17, 2008

Daftar dekat

[English]
Saya kasih tahu kisi-kisi cara menandai bahwa saya merasa dekat dengan seseorang.

Yaitu kalau saya sudah mulai cerewet, ketika saya tidak sabar untuk berceloteh tentang hari(-hari) saya, tentang rasa. Ketika saya lebih cerewet dari lawan bicara saya, atau minimal berimbang.

Dan ketika saya mulai memperlihatkan sisi yang tak setertata biasanya.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menambahkan nama baru dalam “daftar dekat” ini. Bukannya saya berusaha eksklusif. Saya rasa ini sekedar masalah seleksi alam. Dan proses bertumbuh diri saya.

Tapi baru-baru ini saya telah menambahkan dirimu.

Dan saya ingin kamu tahu, seperti halnya orang lain dalam daftar tak terlalu panjang ini, kamu bisa telepon saya kapanpun, bahkan bertahun-tahun dari kini, untuk sekedar menyapa, “Ngopi yuk?”, dan saya akan langsung menyambut, “Ayuk.” Saya akan sediakan waktu.

Ini janji. Suatu penghargaan dan kesenangan tersendiri buat saya.

PS: bukan, bukan ini "entry terakhir" yang saya maksud. Sebelumnya.

Wednesday, April 16, 2008

Tak terungkap

[English]
Saya sudah menulis beberapa patah kata untuk bertutur tentang hari aneh yang tak terucap ini. Saya bahkan telah mengambil beberapa foto untuk ilustrasi dengan ponsel saya.

Foto sudah tertandai dengan baik untuk kemudian di-upload. Dan terhapus, secara tak sengaja. Terhenyak. Napas tertarik begitu dalam. Mata pun terpejam erat barang sejenak.

Mungkin beberapa hal memang tak perlu terungkap. Seperti yang sering dibisikkan pada saya akhir-akhir ini, telah tiba saat bagi keheningan. Untuk kesekian kalinya. Berdiam diri seraya terus melangkah.

Karena kata hanya akan membatasi dan menimbulkan kesalahpahaman.

Karena hanya dalam keheningan, katamu, kita dapat benar-benar mendengar. Hanya dalam keheningan kita dapat secara jujur berkomunikasi. Dan memahami.

Terima kasih. Kangen. Walau dalam pikiran sekilas terlintas, Mungkin kamu memang berpikir bahwa saya benar-benar sekuat itu.

Wednesday, April 09, 2008

Catatan: Doa

[English]
Sudah lama juga saya tidak mengikuti pengajian dengan Pak Arif. Saya hampir lupa betapa praktisnya ajaran yang beliau sampaikan dan betapa “biasa”-nya dia.

Topik malam ini adalah doa. Dimulai dari pertanyaan seorang peserta tentang bagaimana caranya agar kita gak kena akibat negatif dari doa kita sendiri. Pak Arif bilang, doa yang benar tidak akan seperti itu.

Qur’an berujar bahwa “semua urusan diikembalikan kepada Allah” (misalnya di 3:109). Quran said that “all things go back to God [as their source]” (for instance in 3:109). Apakah kita benar-benar sudah mengembalikan apa yang kita ‘miliki’ atau kita kerjakan kepada-Nya? Kalau saya, kayaknya belum. Kita berdoa untuk apa yang kita inginkan, untuk hal-hal yang menurut kita baik buat kita.

Kita kerap lupa bahwa masing-masing dari kita ada di dunia dengan peran dan fungsi khusus. Kita lupa Tuhan punya rencana besar. Kita lupa bertanya kepada-Nya, jadi apa rencana-Mu dan apa yang bisa saya lakukan?

Kita lupa untuk menjalankan perintah Tuhan, menjauhi larangan-NYa, atau bisa juga dikatakan hukum alam, hukum karma yang ada. Kita lupa berbuat baik. Kita terjangkit apa yang teman saya juluki “sindroma orang termalang sedunia” – kita pikir hidup ini penuh masalah, bukan rahmat.

Jadi berikut tips dari Pak Arif: mulai dari bangun, ingat Tuhan (atau ingat Cinta, ingat sekelumit keagungan dalam diri ini), bersyukur atas segala nikmat (termasuk yang sering terlewatkan seperti penglihatan dan pendengaran), minta perlindungan Tuhan, tanya kepada Tuhan apa rencana-Nya dan apa yang harus kita lakukan. Tutup doa dengan rasa syukur, sadari betapa banyaknya nikmat yang kita terima selama hidup kita.

Sehingga hidup ini menjadi tertuntun dan kita dapat berfungsi sebagaimana mestinya: rahmatan lil alamin, rahmat sebagai semesta alam.

Catatan lengkap bisa di-download di sini.