[English]
Kemarin seorang rekan kerja dan teman, Pak Ahmad Lukman, meninggal dunia. Ia baru berusia 32 tahun, ayah dari seorang anak laki-laki. Pak Lukman memang sudah cukup lama tidak terlalu sehat. Kondisinya memburuk beberapa bulan terakhir ini.
Namun dia selalu penuh semangat. Seorang pekerja yang rajin, seorang teman berdiskusi tentang apa pun, seorang pencinta buku, dan aktivis dalam komunitasnya.
Orang yang telah menjalani hidup dengan sepenuh hati. Tidak pernah mengeluh tentang hidup maupun penyakitnya. Tentu ada kala dia bercerita tentang apa yang ia rasakan, tapi menurut saya itu masih belum mengeluh (atau meminjam istilah teman saya, terkena sindroma orang termalang sedunia). Dia seorang yang kuat, dengan senyum yang senantiasa menghias wajahnya.
Selama perjalanan saya ke rumahnya semalam, yang ada di kepala saya hanyalah: dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Mungkin lebih baik dari kebanyakan kita.
Salam, sobat. Bapak benar-benar menjalani hidup dengan baik. Kami akan bantu menjaga keluargamu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Thursday, February 07, 2008
Saturday, January 26, 2008
Meditasi Mengenal Diri
[English]
Tanggal 24 Desember 2007 sampai tanggal 1 Januari 2008 lalu saya mengikuti Meditasi Mengenal Diri arahan Pak Hudoyo Hupudio untuk pertama kalinya di Vihara Mendut, Jawa Tengah.
Meditasi mengenal diri bertujuan untuk melepaskan diri dari kemelekatan. Bukannya mendambakan sensasi atau perasaan yang damai atau menyenangkan. ‘Aturan permainan’ retret adalah sebagai berikut:
− Satu-satunya ‘tugas’ kita adalah sadar. Sadari dan amati setiap tindakan dan pikiran kita. Bedakan sadar dengan konsentrasi.
− Satu-satunya yang diminta dari kita adalah tidak mengganggu orang lain.
Sederhana, tapi tentu tidak mudah bagi saya yang pemula ini.
Hari-hari saya pun penuh naik turun. Mulai dari pikiran hingga sensasi fisik, pegal dsb. Namun saya memutuskan untuk mendisiplinkan diri saya dan agar tidak menyerah pada kepegalan dan kebosanan ini.
Waktu berjalan relatif cepat. Saya menikmatinya. Nah, ini pun jebakan emas (atau jebakan batman). Pak Hudoyo mengingatkan, “Hati-hati. Sadari kalau kamu menikmati. Sampai suatu saat kamu merasa biasa saja.” Ck, licik ya pikiran kita itu.
Menjelang penutupan, kepala Vihara Mendut hadir bersama kami. Kembali beliau mengajak kita untuk senantiasa mengamati, menyadari, termasuk saat-saat kita bosan dan frustasi kok gak bisa meditasi.
Pikiran terbiasa mencari, meminta, dan mendapatkan. Sulit bagi pikiran untuk memberi dan melepaskan. Bahkan ketika kita beramal pun, tetap ada pikiran “Apa yang saya dapat?” Mulai dari budi baik dari orang lain, karma, balasan perbuatan atau rezeki, hingga surga. Masih dengan pamrih sebenarnya.
Lebih halus lagi, ada pikiran-pikiran “saya memberi agar saya mendapat kepuasan hati”. Tetap ada harapan. Pikiran sulit melepaskan.
Pada saat kita bermeditasi pun, kerap menyelinap pikiran, moga-moga aku mendapatkan kemajuan. Jadi ketika kita merasa tenang, kita pun merasa senang, merasa ada kemajuan. Tetap mendapatkan sesuatu.
Kebiasaan kita untuk terus mencari, meminta, dan berharap ini muncul dari keakuan. Pikiran yang senantiasa menagih. Hal inilah yang membuat sengsara, menciptakan keresahan hati, ketidakpuasan.
Untuk mengatasinya, cukup diamati saja. ‘Metode’ meditasi ini sangat sederhana. Kita semua memiliki kemampuan untuk mengamati pikiran dan jasmani.
Pikiran (keinginan, rencana) dalam keseharian kita hendaknya disaring terlebih dulu. Baikkah pikiran itu? Apakah merugikan diri kita, orang lain atau makhluk lain? Apa aku mampu atau terlalu ambisius, memaksakan dan serakah? Semua sesuai takaran.
Apabila baik, maka kita harus konsisten, setia dalam melakukan rencana ini.
Keseharian kita adalah meditasi kita sepanjang masa. Maka hadirkanlah pengamatan ini. Amati gerak fisik dan pikiran kita yang senantiasa menagih kepada siapa saja, termasuk kepada Tuhan, diri dan orang lain.
Catatan lengkap saya taruh di sini. Bisa juga baca pengalaman teman saya dalam bermeditasi mengenal diri di sini.
Tanggal 24 Desember 2007 sampai tanggal 1 Januari 2008 lalu saya mengikuti Meditasi Mengenal Diri arahan Pak Hudoyo Hupudio untuk pertama kalinya di Vihara Mendut, Jawa Tengah.
Meditasi mengenal diri bertujuan untuk melepaskan diri dari kemelekatan. Bukannya mendambakan sensasi atau perasaan yang damai atau menyenangkan. ‘Aturan permainan’ retret adalah sebagai berikut:
− Satu-satunya ‘tugas’ kita adalah sadar. Sadari dan amati setiap tindakan dan pikiran kita. Bedakan sadar dengan konsentrasi.
− Satu-satunya yang diminta dari kita adalah tidak mengganggu orang lain.
Sederhana, tapi tentu tidak mudah bagi saya yang pemula ini.
Hari-hari saya pun penuh naik turun. Mulai dari pikiran hingga sensasi fisik, pegal dsb. Namun saya memutuskan untuk mendisiplinkan diri saya dan agar tidak menyerah pada kepegalan dan kebosanan ini.
Waktu berjalan relatif cepat. Saya menikmatinya. Nah, ini pun jebakan emas (atau jebakan batman). Pak Hudoyo mengingatkan, “Hati-hati. Sadari kalau kamu menikmati. Sampai suatu saat kamu merasa biasa saja.” Ck, licik ya pikiran kita itu.
Menjelang penutupan, kepala Vihara Mendut hadir bersama kami. Kembali beliau mengajak kita untuk senantiasa mengamati, menyadari, termasuk saat-saat kita bosan dan frustasi kok gak bisa meditasi.
Pikiran terbiasa mencari, meminta, dan mendapatkan. Sulit bagi pikiran untuk memberi dan melepaskan. Bahkan ketika kita beramal pun, tetap ada pikiran “Apa yang saya dapat?” Mulai dari budi baik dari orang lain, karma, balasan perbuatan atau rezeki, hingga surga. Masih dengan pamrih sebenarnya.
Lebih halus lagi, ada pikiran-pikiran “saya memberi agar saya mendapat kepuasan hati”. Tetap ada harapan. Pikiran sulit melepaskan.
Pada saat kita bermeditasi pun, kerap menyelinap pikiran, moga-moga aku mendapatkan kemajuan. Jadi ketika kita merasa tenang, kita pun merasa senang, merasa ada kemajuan. Tetap mendapatkan sesuatu.
Kebiasaan kita untuk terus mencari, meminta, dan berharap ini muncul dari keakuan. Pikiran yang senantiasa menagih. Hal inilah yang membuat sengsara, menciptakan keresahan hati, ketidakpuasan.
Untuk mengatasinya, cukup diamati saja. ‘Metode’ meditasi ini sangat sederhana. Kita semua memiliki kemampuan untuk mengamati pikiran dan jasmani.
Pikiran (keinginan, rencana) dalam keseharian kita hendaknya disaring terlebih dulu. Baikkah pikiran itu? Apakah merugikan diri kita, orang lain atau makhluk lain? Apa aku mampu atau terlalu ambisius, memaksakan dan serakah? Semua sesuai takaran.
Apabila baik, maka kita harus konsisten, setia dalam melakukan rencana ini.
Keseharian kita adalah meditasi kita sepanjang masa. Maka hadirkanlah pengamatan ini. Amati gerak fisik dan pikiran kita yang senantiasa menagih kepada siapa saja, termasuk kepada Tuhan, diri dan orang lain.
Catatan lengkap saya taruh di sini. Bisa juga baca pengalaman teman saya dalam bermeditasi mengenal diri di sini.
Thursday, January 10, 2008
Salam peduli autis
[English]
Akhir minggu lalu saya membantu teman-teman dari MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) melakukan pelatihan berbicara di depan publik bagi para pelopornya.
Pelatihan diikuti oleh sekitar 15 orang. Ada yang orang tua dari anak penyandang autis, terapis, psikolog dan anak-anak muda dari Abnon Jakarta. Ada yang datang dari Kalimantan, ada yang datang dari Solo dan berbagai penjuru Jakarta.
Saya hanya bisa bilang: orang-orang luar biasa. Orang-orang yang penuh semangat dan komitmen untuk berbagi pemahaman tentang autisme serta membantu penyandang autis dan lingkungannya untuk menciptakan masa depan lebih baik bagi penyandang autis.
Terima kasih kepada Gayatri dan DY yang sudah mengizinkan saya untuk membantu dan yang sudah memprakarsai inisiatif indah ini. Salut dan terima kasih kepada teman-teman pelopor atas semangat dan kesabarannya.
Terima kasih kepada Mbak Lita dari Maverick yang langsung setuju membantu pelatihan ini. Gak kebayang kalau gak ada Mbak Lit.
Saya ingin berbagi dengan teman-teman, slide yang dipresentasikan ketika pelatihan tersebut. Moga-moga membantu dalam memahami.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Tini/Reni/sekretariat MPATI
Jl Warung Buncit Raya 99, Wisma Yaqif, Jaksel. Tel +62 (21) 799 1508, hp +62 (813) 8074 1898 atau e-mail yayasan_mpati@yahoo.com.
Akhir minggu lalu saya membantu teman-teman dari MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) melakukan pelatihan berbicara di depan publik bagi para pelopornya.
Pelatihan diikuti oleh sekitar 15 orang. Ada yang orang tua dari anak penyandang autis, terapis, psikolog dan anak-anak muda dari Abnon Jakarta. Ada yang datang dari Kalimantan, ada yang datang dari Solo dan berbagai penjuru Jakarta.
Saya hanya bisa bilang: orang-orang luar biasa. Orang-orang yang penuh semangat dan komitmen untuk berbagi pemahaman tentang autisme serta membantu penyandang autis dan lingkungannya untuk menciptakan masa depan lebih baik bagi penyandang autis.
Terima kasih kepada Gayatri dan DY yang sudah mengizinkan saya untuk membantu dan yang sudah memprakarsai inisiatif indah ini. Salut dan terima kasih kepada teman-teman pelopor atas semangat dan kesabarannya.
Terima kasih kepada Mbak Lita dari Maverick yang langsung setuju membantu pelatihan ini. Gak kebayang kalau gak ada Mbak Lit.
Saya ingin berbagi dengan teman-teman, slide yang dipresentasikan ketika pelatihan tersebut. Moga-moga membantu dalam memahami.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Tini/Reni/sekretariat MPATI
Jl Warung Buncit Raya 99, Wisma Yaqif, Jaksel. Tel +62 (21) 799 1508, hp +62 (813) 8074 1898 atau e-mail yayasan_mpati@yahoo.com.
Selamat ulang tahun, Ma
[English]
Satu-satunya kata-kata yang terpikir olehku adalah "terima kasih."
Terima kasih untuk--benar-benar--semuanya.
Sekalipun aku dedikasikan seluruh sisa hidupku untuk mama, tetap aja gak bakal ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah mama lakukan buat kami.

Gimana kalau kita dengarkan satu lagu? Aku rasa lagu ini pas banget.
Don't Forget To Remember Me
By Carrie Underwood
18 years have come and gone
For momma they flew by
But for me they drug on and on
We were loading up that Chevy
Both tryin' not to cry
Momma kept on talking
Putting off good-bye
Then she took my hand and said
'Baby don't forget
Before you hit the highway
You better stop for gas
There's a 50 in the ashtray
In case you run short on cash
Here's a map and here's a Bible
If you ever lose your way
Just one more thing before you leave
Don't forget to remember me'
This downtown apartment sure makes me miss home
And those bills there on the counter
Keep telling me I'm on my own
And just like every Sunday I called momma up last night
And even when it's not, I tell her everything's alright
Before we hung up I said
'Hey momma, don't forget to tell my baby sister I'll see her in the fall
And tell mee-ma that I miss her
Yeah, I should give her a call
And make sure you tell Daddy that I'm still his little girl
Yeah, I still feel like I'm where I'm supposed to be
Don't forget to remember me
Tonight I find myself kneeling by the bed to pray
I haven't done this in a while
So I don't know what to say but
'Lord I feel so small sometimes in this big ol' place
Yeah, I know there are more important things,
But don't forget to remember me
But don't forget to remember me
Aku gak akan lupa. Janji.
Satu-satunya kata-kata yang terpikir olehku adalah "terima kasih."
Terima kasih untuk--benar-benar--semuanya.
Sekalipun aku dedikasikan seluruh sisa hidupku untuk mama, tetap aja gak bakal ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah mama lakukan buat kami.

Gimana kalau kita dengarkan satu lagu? Aku rasa lagu ini pas banget.
Don't Forget To Remember Me
By Carrie Underwood
18 years have come and gone
For momma they flew by
But for me they drug on and on
We were loading up that Chevy
Both tryin' not to cry
Momma kept on talking
Putting off good-bye
Then she took my hand and said
'Baby don't forget
Before you hit the highway
You better stop for gas
There's a 50 in the ashtray
In case you run short on cash
Here's a map and here's a Bible
If you ever lose your way
Just one more thing before you leave
Don't forget to remember me'
This downtown apartment sure makes me miss home
And those bills there on the counter
Keep telling me I'm on my own
And just like every Sunday I called momma up last night
And even when it's not, I tell her everything's alright
Before we hung up I said
'Hey momma, don't forget to tell my baby sister I'll see her in the fall
And tell mee-ma that I miss her
Yeah, I should give her a call
And make sure you tell Daddy that I'm still his little girl
Yeah, I still feel like I'm where I'm supposed to be
Don't forget to remember me
Tonight I find myself kneeling by the bed to pray
I haven't done this in a while
So I don't know what to say but
'Lord I feel so small sometimes in this big ol' place
Yeah, I know there are more important things,
But don't forget to remember me
But don't forget to remember me
Aku gak akan lupa. Janji.
Wednesday, December 12, 2007
Pelajaran dari pemakaman semalam
[English]
Semalam saya melayat ke pemakaman keluarga seorang teman.
Saya takjub melihat betapa banyaknya bunga yang diterima dan jumlah orang yang berkunjung ke sana. Saya tidak menyangka bahwa keluarganya sedemikian populer dan bagian dari komunintas 'itu'.
Rasa hormat saya ke teman saya bertambah semalam. Bukan karena sekarang saya tahu kalau dia keluarga berada. Tapi karena betapa dia bisa tetap demikian sederhana meskipun keluarganya sangat berada.
Dibutuhkan kedewasaan, kepercayaan diri dan kesadaran yang tinggi untuk memiliki kerendahan hati seperti itu. Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi temannya.
Terima kasih atas pelajaran yang diberikan. Semoga damai dan cinta selalu menyertai keluargamu.
Semalam saya melayat ke pemakaman keluarga seorang teman.
Saya takjub melihat betapa banyaknya bunga yang diterima dan jumlah orang yang berkunjung ke sana. Saya tidak menyangka bahwa keluarganya sedemikian populer dan bagian dari komunintas 'itu'.
Rasa hormat saya ke teman saya bertambah semalam. Bukan karena sekarang saya tahu kalau dia keluarga berada. Tapi karena betapa dia bisa tetap demikian sederhana meskipun keluarganya sangat berada.
Dibutuhkan kedewasaan, kepercayaan diri dan kesadaran yang tinggi untuk memiliki kerendahan hati seperti itu. Saya bersyukur diberikan kesempatan untuk menjadi temannya.
Terima kasih atas pelajaran yang diberikan. Semoga damai dan cinta selalu menyertai keluargamu.
Monday, December 03, 2007
Anahata Villa & Spa Resort
[English]
Saya pergi ke Ubud akhir pekan lalu untuk mengikuti program Healing power of ikhlas yang diselenggarakan bersama oleh True Nature Healing dan Kata Hati Institute.
Saya ingin bercerita banyak tentang program ini tapi saya sedang menunggu handout yang mau dikirim oleh si penyelenggara lewat e-mail. Biar ceritanya tepat dan lengkap. Jadi sementara, saya akan bercerita tentang tempat kami menginap yang begitu indah: Anahata Villa & Spa Resort.
Di paragraf pertama dalam brosurnya, tertulis:
“Nestled in the lush landscape of the Petanu River bank, Anahata is a world class Bali hotel villa. Surrounded by verdant tropical forest and restful waters, visitors to these Bali vacation villas experience the tranquility of a pristine environment with all the amenities of luxurious living.” (Sori Bahasa Inggris, abis susah nerjemahinnya).

Anda bisa membaca lebih lanjut tentang tempat ini di situs webnya. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak tertulis dalam brosur maupun situsnya.
Tentang nama. Menurut Wikipedia yang handal selalu itu, chakra Anahata secara fisik terletak di daerah jantung. Anahata dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan di luar realita karma.
Dalam Anahata, seseorang mengambil berbagai keputusan, mengikuti kata hatinya, berdasarkan diri yang lebih ‘agung’, dan bukan berdasarkan emosi yang belum terpuaskan maupun nafsu dari diri yang lebih rendah.
Pohon pengabul keinginan, kalpa taru, tumbuh di sini, menyimbolkan kemampuan untuk memanifestasi apa pun yang Anda inginkan terjadi di dunia.
Anahata juga diasosiasikan dengan cinta dan kasih, pemberian terhadap sesama, dan bentuk penyembuhan psikis.
Wah, indah betul namanya.
Tentang orang-orang yang ada di sana. Saya berkesempatan untuk bertemu Onie Djatmiko, pemilih Anahata resort. Dia—beserta seluruh stafnya, seluruhnya—benar-benar ingin melayani semua tamunya. Dan kalau Anda kenal saya secara personal, Anda pasti tahu ini merupakan pujian yang tinggi dari saya.
Saya bisa pinjem hair dryer? Tentu. Bagaimana cara membuat sup ini? Oh kita melakukan ini dan itu. Nanti saya berikan resepnya ya.
Saya meninggalkan botol air mineral saya di meja restoran karena saya mau ke toilet sebentar. Waktu saya kembali, botol itu sudah penuh terisi kembali.
“Bus Ibu ke airport baru akan pergi satu jam lagi. Masih ada waktu lho untuk menikmati satu cangkir the lagi. Complimentary.”
Tentang sungai. Sungai yang mengalir di tepi Anahata benar-benar luar biasa. Resort ini terletak di tepi pertemuan dua sungai. Orang Bali percaya bahwa lokasi pertemuan dua sungai merupakan tempat yang bertuah, suci, penuh luapan energi. Anda harus berada di sana, benar-benar berada di sana, untuk memahaminya.
Tempat favorit saya, tepi sungai. Pagi-pagi (atau jam berapa pun, tidak masalah). Sendiri (atau bersama orang lain, sama nikmatnya).

Onie, tempatmu indah sekali.
Terima kasih sudah berbagi.
Gambar: dari Anahata resort.
Saya pergi ke Ubud akhir pekan lalu untuk mengikuti program Healing power of ikhlas yang diselenggarakan bersama oleh True Nature Healing dan Kata Hati Institute.
Saya ingin bercerita banyak tentang program ini tapi saya sedang menunggu handout yang mau dikirim oleh si penyelenggara lewat e-mail. Biar ceritanya tepat dan lengkap. Jadi sementara, saya akan bercerita tentang tempat kami menginap yang begitu indah: Anahata Villa & Spa Resort.
Di paragraf pertama dalam brosurnya, tertulis:
“Nestled in the lush landscape of the Petanu River bank, Anahata is a world class Bali hotel villa. Surrounded by verdant tropical forest and restful waters, visitors to these Bali vacation villas experience the tranquility of a pristine environment with all the amenities of luxurious living.” (Sori Bahasa Inggris, abis susah nerjemahinnya).

Anda bisa membaca lebih lanjut tentang tempat ini di situs webnya. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang tak tertulis dalam brosur maupun situsnya.
Tentang nama. Menurut Wikipedia yang handal selalu itu, chakra Anahata secara fisik terletak di daerah jantung. Anahata dikaitkan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan di luar realita karma.
Dalam Anahata, seseorang mengambil berbagai keputusan, mengikuti kata hatinya, berdasarkan diri yang lebih ‘agung’, dan bukan berdasarkan emosi yang belum terpuaskan maupun nafsu dari diri yang lebih rendah.
Pohon pengabul keinginan, kalpa taru, tumbuh di sini, menyimbolkan kemampuan untuk memanifestasi apa pun yang Anda inginkan terjadi di dunia.
Anahata juga diasosiasikan dengan cinta dan kasih, pemberian terhadap sesama, dan bentuk penyembuhan psikis.
Wah, indah betul namanya.
Tentang orang-orang yang ada di sana. Saya berkesempatan untuk bertemu Onie Djatmiko, pemilih Anahata resort. Dia—beserta seluruh stafnya, seluruhnya—benar-benar ingin melayani semua tamunya. Dan kalau Anda kenal saya secara personal, Anda pasti tahu ini merupakan pujian yang tinggi dari saya.Saya bisa pinjem hair dryer? Tentu. Bagaimana cara membuat sup ini? Oh kita melakukan ini dan itu. Nanti saya berikan resepnya ya.
Saya meninggalkan botol air mineral saya di meja restoran karena saya mau ke toilet sebentar. Waktu saya kembali, botol itu sudah penuh terisi kembali.
“Bus Ibu ke airport baru akan pergi satu jam lagi. Masih ada waktu lho untuk menikmati satu cangkir the lagi. Complimentary.”Tentang sungai. Sungai yang mengalir di tepi Anahata benar-benar luar biasa. Resort ini terletak di tepi pertemuan dua sungai. Orang Bali percaya bahwa lokasi pertemuan dua sungai merupakan tempat yang bertuah, suci, penuh luapan energi. Anda harus berada di sana, benar-benar berada di sana, untuk memahaminya.
Tempat favorit saya, tepi sungai. Pagi-pagi (atau jam berapa pun, tidak masalah). Sendiri (atau bersama orang lain, sama nikmatnya).

Onie, tempatmu indah sekali.
Terima kasih sudah berbagi.
Gambar: dari Anahata resort.
Saya.
[English]
Saya anak dari orang tua saya. Saya adik dari kakak-kakak saya. Saya profesi saya. Saya kawan dari teman-teman saya. Saya pengikut agama saya. Saya warga dari negara saya.
Definisi jamak untuk satu individu. Aneh.
Saya coba definisikan diri melalu masalah-masalah saya. Namun tiba-tiba masalah-masalah itu terasa tidak penting. Tidak relevan. Tidak pas.
Saya bukan apa-apa kecuali terberkati. Dicintai. Dan cinta itu sendiri.
Saya ini Anda. Anda adalah saya. Kemudian kata-kata saya, Anda, dia, kami, kalian, dan mereka menjadi membingungkan. Rasanya tidak logis. Mungkin sudah tidak relevan.
Kenapa juga mesti terbedakan?
Saya diminta membayangkan sebuah ruang sebagai simbolisasi dari saya, dan mengembangkan luas ruang itu. Saya bayangkan meruntuhkan tembok pembatas ruang dan melihat padang rumput menghijau di bawah naungan langit biru terang.
Saya merasa bebas, sampai saya sadar bahwa dunia saya masih terbatasi dengan tanah tempat saya berpijak. Saya masih menaruh batasan. Kebebasan mutlak masih sekedar ilusi.
Saya terlalu cepat berkesimpulan. Saya puas secara prematur. Ego kembali berbicara.
Saya terbayang dunia untuk memahami bahwa saya ini dunia, alam itu sendiri.
Saya melangkah ke belakang untuk melihat saya lebih jelas. Tapi sejauh apapun saya melangkah, saya tetap tidak bisa melihat diri saya. Saya tidak ada.
Saya bertanya-tanya.
Saya agung, saya pun sekedar setitik noktah tak perlu.
Konsep dualitas ini semakin membingungkan. Tidak logis. Tidak lagi relevan. Pembedaan itu tidak perlu. Tidak ada alasan untuk melakukannya.
Tidak ada kejamakan . Pilih satu kata ganti dan pakai satu itu saja. Satu saja cukup. Tidak pernah perlu lebih.
Saya melebih-lebihkan, seperti biasa.
Saya mau melakukan perjalanan menembus waktu. Kemudian saya menyadari tidak ada waktu untuk ditembus. Saya tidak melihat adanya tujuan atau dimensi lain.
Saat ini hanya satu-satunya yang ada.
Saya duduk di tepi sungai dan ingin bermain dengan air yang mengalir di bawah saya. Saya celupkan kaki ke dalam air dan menggerak-gerakkannya.
Kemudian saya berhenti dan sadar bahwa kaki-kaki saya tetap bergerak tanpa saya gerakkan. Aliran sungai telah melakukannya untuk saya. Sekarang semua menjadi logis. Saya tersenyum tanpa berusaha untuk tersenyum.
Izinkan alam melakukannya. Ikhlas. Saksikan keagungan menjelma.
Hiduplah dari ini, ujarnya seraya tersenyum.
Jiwa memahami. Yang lain masih perlu memproses.
Saya anak dari orang tua saya. Saya adik dari kakak-kakak saya. Saya profesi saya. Saya kawan dari teman-teman saya. Saya pengikut agama saya. Saya warga dari negara saya.
Definisi jamak untuk satu individu. Aneh.
Saya coba definisikan diri melalu masalah-masalah saya. Namun tiba-tiba masalah-masalah itu terasa tidak penting. Tidak relevan. Tidak pas.
Saya bukan apa-apa kecuali terberkati. Dicintai. Dan cinta itu sendiri.
Saya ini Anda. Anda adalah saya. Kemudian kata-kata saya, Anda, dia, kami, kalian, dan mereka menjadi membingungkan. Rasanya tidak logis. Mungkin sudah tidak relevan.
Kenapa juga mesti terbedakan?
Saya diminta membayangkan sebuah ruang sebagai simbolisasi dari saya, dan mengembangkan luas ruang itu. Saya bayangkan meruntuhkan tembok pembatas ruang dan melihat padang rumput menghijau di bawah naungan langit biru terang.
Saya merasa bebas, sampai saya sadar bahwa dunia saya masih terbatasi dengan tanah tempat saya berpijak. Saya masih menaruh batasan. Kebebasan mutlak masih sekedar ilusi.
Saya terlalu cepat berkesimpulan. Saya puas secara prematur. Ego kembali berbicara.
Saya terbayang dunia untuk memahami bahwa saya ini dunia, alam itu sendiri.
Saya melangkah ke belakang untuk melihat saya lebih jelas. Tapi sejauh apapun saya melangkah, saya tetap tidak bisa melihat diri saya. Saya tidak ada.
Saya bertanya-tanya.
Saya agung, saya pun sekedar setitik noktah tak perlu.
Konsep dualitas ini semakin membingungkan. Tidak logis. Tidak lagi relevan. Pembedaan itu tidak perlu. Tidak ada alasan untuk melakukannya.
Tidak ada kejamakan . Pilih satu kata ganti dan pakai satu itu saja. Satu saja cukup. Tidak pernah perlu lebih.
Saya melebih-lebihkan, seperti biasa.
Saya mau melakukan perjalanan menembus waktu. Kemudian saya menyadari tidak ada waktu untuk ditembus. Saya tidak melihat adanya tujuan atau dimensi lain.
Saat ini hanya satu-satunya yang ada.
Saya duduk di tepi sungai dan ingin bermain dengan air yang mengalir di bawah saya. Saya celupkan kaki ke dalam air dan menggerak-gerakkannya.
Kemudian saya berhenti dan sadar bahwa kaki-kaki saya tetap bergerak tanpa saya gerakkan. Aliran sungai telah melakukannya untuk saya. Sekarang semua menjadi logis. Saya tersenyum tanpa berusaha untuk tersenyum.
Izinkan alam melakukannya. Ikhlas. Saksikan keagungan menjelma.
Hiduplah dari ini, ujarnya seraya tersenyum.
Jiwa memahami. Yang lain masih perlu memproses.
Wednesday, November 28, 2007
Telah dibuka: JakartaDoYoga!
[English]
Senang rasanya teman saya, Yusni, sudah berhasil mewujudkan impiannya untuk membuka studio yoga, Jakartadoyoga. Di tengah-tengah kota Jakarta.
Saya mengunjungi acara pembukaan studionya Sabtu lalu. Acaranya dijuluki “Walking meditation and yoga all day long.” Di acara ini jakartadoyoga menyelenggarakan meditasi bergerak ke salah satu taman di dekat studio, satu sesi yoga di taman, dan lima kelas yoga lainnya di studio sepanjang hari. Cara yang pas untuk meluncurkan sebuah studio yoga.
Yang paling saya suka tentang Yusni, studionya, atau pun semua acara yang ia gelar adalah bahwa kalau kita datang ke sana, rasanya kita datang ke acara teman. Tidak terasa ada jarak antara penyelenggara dan peserta.
Dan di sana kita benar-benar bisa merasakan betapa semangatnya si Yusni terhadap yoga. Saya bertandang ke studionya dan bisa merasa bahwa si pemilik tempat ini telah mencurahkan hatinya kepada persiapan dan manajemen studionya.
Salut kepada Yusni, studionya dan seluruh penggemar yoga di Jakarta maupun di seluruh pelosok dunia lain. Kuddos.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.jakartadoyoga.com, email studio@jakartadoyoga.com, atau main-main ke Jl. Sunda No 7, Lantai 3, Menteng.
Senang rasanya teman saya, Yusni, sudah berhasil mewujudkan impiannya untuk membuka studio yoga, Jakartadoyoga. Di tengah-tengah kota Jakarta.Saya mengunjungi acara pembukaan studionya Sabtu lalu. Acaranya dijuluki “Walking meditation and yoga all day long.” Di acara ini jakartadoyoga menyelenggarakan meditasi bergerak ke salah satu taman di dekat studio, satu sesi yoga di taman, dan lima kelas yoga lainnya di studio sepanjang hari. Cara yang pas untuk meluncurkan sebuah studio yoga.
Yang paling saya suka tentang Yusni, studionya, atau pun semua acara yang ia gelar adalah bahwa kalau kita datang ke sana, rasanya kita datang ke acara teman. Tidak terasa ada jarak antara penyelenggara dan peserta.Dan di sana kita benar-benar bisa merasakan betapa semangatnya si Yusni terhadap yoga. Saya bertandang ke studionya dan bisa merasa bahwa si pemilik tempat ini telah mencurahkan hatinya kepada persiapan dan manajemen studionya.
Salut kepada Yusni, studionya dan seluruh penggemar yoga di Jakarta maupun di seluruh pelosok dunia lain. Kuddos.
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.jakartadoyoga.com, email studio@jakartadoyoga.com, atau main-main ke Jl. Sunda No 7, Lantai 3, Menteng.
Thursday, November 22, 2007
Satu milyar lebih untuk inovator ICT
[English]
Microsoft Indonesia bersama SENADA, sebuah proyek untuk peningkatan daya saing yang didanai oleh USAID, hari ini meluncurkan program iMULAI, sebuah program kompetisi dan penghargaan berskala nasional bagi solusi inovatif untuk keperluan bisnis.
Program iMULAI bertujuan untuk menggugah semangat berinovasi dan menegaskan pentingnya inovasi di kalangan pebisnis Indonesia, serta mendukung terciptanya perekonomian Indonesia yang berdaya saing dan berbasis pengetahuan.
Kompetisi yang akan diselenggarakan hingga tanggal 31 Desember 2007 ini terbuka untuk semua perusahaan Indonesia (baik perusahaan yang baru mulai maupun yang sudah mapan) maupun organisasi non pemerintah.
iMULAI akan memilih tiga pemenang dengan gagasan inovasi paling menjanjikan dan paling berpotensi untuk memberikan dampak positif bagi industri Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia.
Setiap inovasi ini akan menerima dukungan dalam bentuk piranti keras dan piranti lunak bisnis dari Microsoft senilai lebih dari Rp145.000.000 serta pendanaan hibah dari SENADA sebesar Rp220.000.000 untuk biaya pengembangan inovasi.
Untuk info lebih lanjut, kunjungi situs web iMULAI.
Program iMULAI bertujuan untuk menggugah semangat berinovasi dan menegaskan pentingnya inovasi di kalangan pebisnis Indonesia, serta mendukung terciptanya perekonomian Indonesia yang berdaya saing dan berbasis pengetahuan.
Kompetisi yang akan diselenggarakan hingga tanggal 31 Desember 2007 ini terbuka untuk semua perusahaan Indonesia (baik perusahaan yang baru mulai maupun yang sudah mapan) maupun organisasi non pemerintah.
iMULAI akan memilih tiga pemenang dengan gagasan inovasi paling menjanjikan dan paling berpotensi untuk memberikan dampak positif bagi industri Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia.
Setiap inovasi ini akan menerima dukungan dalam bentuk piranti keras dan piranti lunak bisnis dari Microsoft senilai lebih dari Rp145.000.000 serta pendanaan hibah dari SENADA sebesar Rp220.000.000 untuk biaya pengembangan inovasi.
Untuk info lebih lanjut, kunjungi situs web iMULAI.
Tuesday, November 20, 2007
Serpihan dari alam semesta
[English]
[Pada suatu waktu, teman saya Hanny dan saya sendiri sedang mengalami kemacetan dalam menulis. Lantas kami memutuskan untuk saling menulis di blog yang lain -- saya tulis di blog Hanny, Hanny tulis di blog saya.
Jadi, teman-teman, berikut adalah tulisan blogger tamu pertama saya, Hanny, blogger yang situsnya mungkin merupakan satu-satunya situs blog yang secara rutin saya kunjungi.]
Dear Eva,
Saya tidak tahu apa-apa mengenai spiritualitas, meditasi, yoga, atau hal-hal indah lainnya yang dekat di hatimu. Tetapi, sebagaimana telah kita sepakati, mari memerankan Athena dalam The Witch of Portobello, dan saya akan mulai bercerita tentang hal-hal yang tidak saya ketahui sama sekali...
Sekitar setahun yang lalu, tiba-tiba saja, saya memutuskan untuk menggunakan kata 'splinters' ketika saya tidak ingin mencantumkan nama asli dalam tulisan-tulisan saya. Saya jatuh cinta pada kata itu semasa SMU, ketika saya menemukannya di dalam sebuah puisi oleh Edith Sodergran, The Stars.
Edith adalah penyair yang memperkenalkan modernisme Finland-Swedish dengan rima bebas dalam puisi-puisinya, dan tidak menerima banyak pujian atau perhatian semasa hidupnya, tetapi kini ia dipandang sebagai salah satu penyair terkemuka Finlandia.
Apakah menurutmu Edith terlalu maju dari masanya?
Apakah menurutmu ia menyerupai Athena-nya Coelho dalam The Witch of Portobello?
Terlepas dari itu, saya tidak ingin menganggap hal ini sebagai sebuah kebetulan, tetapi jika kamu mencari kata 'splinter' di dalam kamus, kata itu berarti "a small, thin, sharp piece of wood, glass, or similar material broken off from a larger piece" atau "kepingan / serpihan kecil, tipis, atau tajam dari kayu, kaca, atau materi sejenis yang terpisah/terpecah dari kepingan yang lebih besar".
Bagaimana jika kepingan yang lebih besar itu adalah semesta, Eva? Bagaimana jika saya adalah serpihan dari semesta? Bagaimana jika kita semua adalah serpihan dari alam semesta ini? Bukankah kita memang demikian adanya?
Jadi kini tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa kita terhubung satu sama lain dengan suatu cara; bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang mulia, bahwa pemikiran kita sangatlah magnetik dan mampu menarik hal-hal yang kita cintai semakin dekat kepada kita, bahwa kita mampu untuk mengupas rahasia semesta, satu demi satu setiap waktu.
Dan ini, Eva, inilah yang saya sebut spiritualitas.
Sesuatu yang telah ada di dalam diri kita semenjak lahir, mengaliri nadi kita dan memacu jantung kita; tetapi kita tetap mencarinya dalam perjalanan-perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, hanya untuk mengetahui bahwa sebenarnya kita tidak pernah kehilangan apa-apa.
H.
[Saya gak ubah satu kata pun dalam tulisanmu Han. Karena memang tidak perlu.
Sudah cantik. Sebagaimana biasa.]
[Pada suatu waktu, teman saya Hanny dan saya sendiri sedang mengalami kemacetan dalam menulis. Lantas kami memutuskan untuk saling menulis di blog yang lain -- saya tulis di blog Hanny, Hanny tulis di blog saya.
Jadi, teman-teman, berikut adalah tulisan blogger tamu pertama saya, Hanny, blogger yang situsnya mungkin merupakan satu-satunya situs blog yang secara rutin saya kunjungi.]
Dear Eva,
Saya tidak tahu apa-apa mengenai spiritualitas, meditasi, yoga, atau hal-hal indah lainnya yang dekat di hatimu. Tetapi, sebagaimana telah kita sepakati, mari memerankan Athena dalam The Witch of Portobello, dan saya akan mulai bercerita tentang hal-hal yang tidak saya ketahui sama sekali...
Sekitar setahun yang lalu, tiba-tiba saja, saya memutuskan untuk menggunakan kata 'splinters' ketika saya tidak ingin mencantumkan nama asli dalam tulisan-tulisan saya. Saya jatuh cinta pada kata itu semasa SMU, ketika saya menemukannya di dalam sebuah puisi oleh Edith Sodergran, The Stars.
Edith adalah penyair yang memperkenalkan modernisme Finland-Swedish dengan rima bebas dalam puisi-puisinya, dan tidak menerima banyak pujian atau perhatian semasa hidupnya, tetapi kini ia dipandang sebagai salah satu penyair terkemuka Finlandia.
Apakah menurutmu Edith terlalu maju dari masanya?
Apakah menurutmu ia menyerupai Athena-nya Coelho dalam The Witch of Portobello?
Terlepas dari itu, saya tidak ingin menganggap hal ini sebagai sebuah kebetulan, tetapi jika kamu mencari kata 'splinter' di dalam kamus, kata itu berarti "a small, thin, sharp piece of wood, glass, or similar material broken off from a larger piece" atau "kepingan / serpihan kecil, tipis, atau tajam dari kayu, kaca, atau materi sejenis yang terpisah/terpecah dari kepingan yang lebih besar".
Bagaimana jika kepingan yang lebih besar itu adalah semesta, Eva? Bagaimana jika saya adalah serpihan dari semesta? Bagaimana jika kita semua adalah serpihan dari alam semesta ini? Bukankah kita memang demikian adanya?
Jadi kini tidaklah sulit untuk membayangkan bahwa kita terhubung satu sama lain dengan suatu cara; bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang mulia, bahwa pemikiran kita sangatlah magnetik dan mampu menarik hal-hal yang kita cintai semakin dekat kepada kita, bahwa kita mampu untuk mengupas rahasia semesta, satu demi satu setiap waktu.
Dan ini, Eva, inilah yang saya sebut spiritualitas.
Sesuatu yang telah ada di dalam diri kita semenjak lahir, mengaliri nadi kita dan memacu jantung kita; tetapi kita tetap mencarinya dalam perjalanan-perjalanan yang panjang dan melelahkan itu, hanya untuk mengetahui bahwa sebenarnya kita tidak pernah kehilangan apa-apa.
H.
[Saya gak ubah satu kata pun dalam tulisanmu Han. Karena memang tidak perlu.
Sudah cantik. Sebagaimana biasa.]
Sunday, November 18, 2007
Satu bulan lagi
[English]
Ingat “perubahan besar dalam waktu dekat” yang pernah saya singgung beberapa waktu lalu? Nah ini dia.
Saya memutuskan untuk kembali ke habitat alami saya, freelancing. Untuk menjadi seorang communications specialist (jabatan yang saya tuliskan sendiri di kartu nama saya) secara freelance sekali lagi.
Dan kalau boleh jujur, sebenarnya, kali ini lebih dari itu.
Saya memiliki dua hal yang saya gandrungi pada saat ini (tiga kalau kita hitung juga keluarga saya). Pertama, komunikasi. Kedua adalah penyembuhan alami dan segala bawaannya (meditasi, yoga, spiritualisme, dsb).
Pada 2006, saya menyimpulkan bahwa saya tetap menyukai komunikasi. Saya masih menggemari dan bersemangat untuk bekerja di industri itu. Dengan syarat, harus dilakukan untuk suatu tujuan yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Jadi saya memutuskan untuk menfokuskan diri pada isu tanggung jawab sosial korporasi dan proyek pembangunan.
Ketika datang kesempatan untuk menjadi seorang manajer komunikasi penuh-waktu dalam sebuah proyek pembangungan (posisi yang masih saya duduki hingga sekarang), saya menyambutnya dengan gembira.
Satu tahun telah berlalu. Saya kini memiliki konklusi yang berbeda. Ternyata saya tetap tidak merasa 100% sreg dengan kondisi saya. Jiwa ini lelah. Begitu pun tubuh. Otak bingung memikirkan kenapa hal ini masih terus terjadi.
Kemudian datanglah The Witch of Portobello. Sebuah buku yang menempatkan saya dalam jalur kontemplatif yang sudah lama terlupakan. Saya sadar kalau saya harus memilih di antara dua kegandrungan saya tadi.
Meskipun demikian banyak pelajaran yang saya dapat, jaringan sosial/profesional yang terbangun, dan dampak yang telah diciptakan dalam waktu setahun terakhir ini, rasanya komunikasi sudah tidak terasa demikian menggairahkan. Untuk saya.
Saya membayangkan diri ini terus menjalani karir komunikasi dan saya tidak terlalu senang dengan apa yang terbayang. Saya tidak bisa melihat damai. (Tentu, mungkin saja ini hanya bayangan saya yang sangat terbatas).
Pilihan kini (lebih) jelas. Saya akan mengarah pada. Untuk keseribu kalinya, saya akan mendorong diri ini ke wilayah baru, di luar comfort zone saya. Untuk kembali menjadi murid. Saya sudah menemukan beberapa guru. Saya sudah mendaftar untuk dua kursus meditasi di bulan Desember. Suatu awal.
Seperti halnya menulis, komunikasi harus menjadi sebuah medium untuk sesuatu yang lebih besar, atau, secara pragmatis, menjadi cara untuk mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian..). Fokus saya kini akan lebih pada penyembuhan.
Pilihan sudah jelas, namun tidak demikian dengan jalan di depan saya. Tak apa. Namanya juga proses. Saya akan mengambil langkah satu demi satu. Dengan bimbingan-Nya. Atau sesuatu agung dalam diri.
Saya mulai menghitung mundur kapan kapal ini mulai berlayar. Sekitar satu bulan dari sekarang. Ambil napas dalam-dalam.
Ingat “perubahan besar dalam waktu dekat” yang pernah saya singgung beberapa waktu lalu? Nah ini dia.
Saya memutuskan untuk kembali ke habitat alami saya, freelancing. Untuk menjadi seorang communications specialist (jabatan yang saya tuliskan sendiri di kartu nama saya) secara freelance sekali lagi.
Dan kalau boleh jujur, sebenarnya, kali ini lebih dari itu.
Saya memiliki dua hal yang saya gandrungi pada saat ini (tiga kalau kita hitung juga keluarga saya). Pertama, komunikasi. Kedua adalah penyembuhan alami dan segala bawaannya (meditasi, yoga, spiritualisme, dsb).
Pada 2006, saya menyimpulkan bahwa saya tetap menyukai komunikasi. Saya masih menggemari dan bersemangat untuk bekerja di industri itu. Dengan syarat, harus dilakukan untuk suatu tujuan yang bermanfaat untuk masyarakat banyak. Jadi saya memutuskan untuk menfokuskan diri pada isu tanggung jawab sosial korporasi dan proyek pembangunan.
Ketika datang kesempatan untuk menjadi seorang manajer komunikasi penuh-waktu dalam sebuah proyek pembangungan (posisi yang masih saya duduki hingga sekarang), saya menyambutnya dengan gembira.
Satu tahun telah berlalu. Saya kini memiliki konklusi yang berbeda. Ternyata saya tetap tidak merasa 100% sreg dengan kondisi saya. Jiwa ini lelah. Begitu pun tubuh. Otak bingung memikirkan kenapa hal ini masih terus terjadi.
Kemudian datanglah The Witch of Portobello. Sebuah buku yang menempatkan saya dalam jalur kontemplatif yang sudah lama terlupakan. Saya sadar kalau saya harus memilih di antara dua kegandrungan saya tadi.
Meskipun demikian banyak pelajaran yang saya dapat, jaringan sosial/profesional yang terbangun, dan dampak yang telah diciptakan dalam waktu setahun terakhir ini, rasanya komunikasi sudah tidak terasa demikian menggairahkan. Untuk saya.
Saya membayangkan diri ini terus menjalani karir komunikasi dan saya tidak terlalu senang dengan apa yang terbayang. Saya tidak bisa melihat damai. (Tentu, mungkin saja ini hanya bayangan saya yang sangat terbatas).
Pilihan kini (lebih) jelas. Saya akan mengarah pada. Untuk keseribu kalinya, saya akan mendorong diri ini ke wilayah baru, di luar comfort zone saya. Untuk kembali menjadi murid. Saya sudah menemukan beberapa guru. Saya sudah mendaftar untuk dua kursus meditasi di bulan Desember. Suatu awal.
Seperti halnya menulis, komunikasi harus menjadi sebuah medium untuk sesuatu yang lebih besar, atau, secara pragmatis, menjadi cara untuk mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian..). Fokus saya kini akan lebih pada penyembuhan.
Pilihan sudah jelas, namun tidak demikian dengan jalan di depan saya. Tak apa. Namanya juga proses. Saya akan mengambil langkah satu demi satu. Dengan bimbingan-Nya. Atau sesuatu agung dalam diri.
Saya mulai menghitung mundur kapan kapal ini mulai berlayar. Sekitar satu bulan dari sekarang. Ambil napas dalam-dalam.
Perubahan sudut pandang
[English]
Sudah agak larut dan saya masih ketak-ketuk di meja kantor saya. Ruangan sudah mulai menggelap. Mata ini terus menatap monitor komputer sampai waktu untuk pulang (akhirnya) tiba.
Saya memutar kursi saya untuk melihat ke jendela. Sekedar mengetahui seberapa macetnya kondisi jalan. Dan saya terkagum-kagum pada pemandangan yang terhampar di depan saya.
Langit jingga di atas bayangan gelap pencakar langit Jakarta.
Pemandangan ini sebenarnya sudah dari tadi stand-by di situ, siap untuk menghibur siapa pun yang dinaunginya tanpa pandang bulu, namun satu-satunya yang saya pandangi hingga detik itu adalah komputer saya.
Hal-hal yang bisa kita lihat, kalau saja kita mau mengubah sudut pandang kita.
Sudah agak larut dan saya masih ketak-ketuk di meja kantor saya. Ruangan sudah mulai menggelap. Mata ini terus menatap monitor komputer sampai waktu untuk pulang (akhirnya) tiba.
Saya memutar kursi saya untuk melihat ke jendela. Sekedar mengetahui seberapa macetnya kondisi jalan. Dan saya terkagum-kagum pada pemandangan yang terhampar di depan saya.
Langit jingga di atas bayangan gelap pencakar langit Jakarta.Pemandangan ini sebenarnya sudah dari tadi stand-by di situ, siap untuk menghibur siapa pun yang dinaunginya tanpa pandang bulu, namun satu-satunya yang saya pandangi hingga detik itu adalah komputer saya.
Hal-hal yang bisa kita lihat, kalau saja kita mau mengubah sudut pandang kita.
Guru
[English]
Bulan ini saya diberkahi kesempatan untuk bertemu dengan (minimal) dua tokoh guru. Sosok yang menurut saya berhak dipanggil “guru”. Sosok dengan ilmu dan keahlian yang demikian tinggi tetapi tetap bisa bersikap sederhana, biasa-biasa saja, dan tidak sungkan untuk mengulurkan tangan.
Pak Budi. Seorang terapis craniosacral. Saya dikenalkan oleh seorang teman. Saya mengunjungi rumahnya suatu malam pada saat ia mengadakan sesi meditasi. Saya tidak terlalu bisa mengenalinya karena ia begitu berbaur dengan yang lain. Kira-kira 10 orang yang hadir mengobrol dan memulai meditasi. Pak Budi kemudian menjawab semua pertanyaan dari peserta dan bahkan dengan senang hati menerapkan penyembuhan ke salah satu hadirin.
Pak Irmansyah Effendi. Pendiri Reiki Tummo. Beberapa tahun lalu saya mengambil kelas Reiki Tummo tetapi belum pernah merasa sreg. Suatu hari seorang teman me-YM saya dan memberitahu akan adanya temu alumni akbar dengan Pak Irmansyah sebagai pembicara. Menarik.
Saya duduk di deretan terdepan. Sang pembicara belum hadir. Kemudian datang seorang muda dengan rambut agak acak-acakan dan baju hawaii biru-putih. Dia sibuk sendiri dengan memasang notebook dan LCD. Seorang perempuan yang duduk di samping saya bilang, “Pak Irmansyah?” dan dia tersenyum. Ya ampun, itu Pak Irmansyah? Wow. Kenapa dia begitu ‘biasa-biasa saja’?
Saya benar-benar menikmati sesi yang diselenggarakan Pak Budi dan pak Irmansyah.
Bulan ini saya juga ‘kehilangan’ seorang guru lain. Pak Pujo yang meninggal dunia bulan lalu. Saya hanya sekali bertemu dengannya namun kesan yang ia tinggali begitu dalam. Wafatnya beliau mengingatkan saya pada satu-satunya saat kami bertemu.
Orang-orang dengan kebijakan yang demikian agung dan kesederhanaan yang mendalam. Orang-orang yang berhak dipanggil “guru”. Dan saya bersyukur memiliki kesempatan untk bertemu dengan mereka.
Jika ditilik dari jumlah guru yang saya temui dalam waktu singkat ini, mungkin sekarang saatnya masuk sekolah lagi. Senang rasanya bisa menjadi murid kembali.
Bulan ini saya diberkahi kesempatan untuk bertemu dengan (minimal) dua tokoh guru. Sosok yang menurut saya berhak dipanggil “guru”. Sosok dengan ilmu dan keahlian yang demikian tinggi tetapi tetap bisa bersikap sederhana, biasa-biasa saja, dan tidak sungkan untuk mengulurkan tangan.
Pak Budi. Seorang terapis craniosacral. Saya dikenalkan oleh seorang teman. Saya mengunjungi rumahnya suatu malam pada saat ia mengadakan sesi meditasi. Saya tidak terlalu bisa mengenalinya karena ia begitu berbaur dengan yang lain. Kira-kira 10 orang yang hadir mengobrol dan memulai meditasi. Pak Budi kemudian menjawab semua pertanyaan dari peserta dan bahkan dengan senang hati menerapkan penyembuhan ke salah satu hadirin.
Pak Irmansyah Effendi. Pendiri Reiki Tummo. Beberapa tahun lalu saya mengambil kelas Reiki Tummo tetapi belum pernah merasa sreg. Suatu hari seorang teman me-YM saya dan memberitahu akan adanya temu alumni akbar dengan Pak Irmansyah sebagai pembicara. Menarik.
Saya duduk di deretan terdepan. Sang pembicara belum hadir. Kemudian datang seorang muda dengan rambut agak acak-acakan dan baju hawaii biru-putih. Dia sibuk sendiri dengan memasang notebook dan LCD. Seorang perempuan yang duduk di samping saya bilang, “Pak Irmansyah?” dan dia tersenyum. Ya ampun, itu Pak Irmansyah? Wow. Kenapa dia begitu ‘biasa-biasa saja’?
Saya benar-benar menikmati sesi yang diselenggarakan Pak Budi dan pak Irmansyah.
Bulan ini saya juga ‘kehilangan’ seorang guru lain. Pak Pujo yang meninggal dunia bulan lalu. Saya hanya sekali bertemu dengannya namun kesan yang ia tinggali begitu dalam. Wafatnya beliau mengingatkan saya pada satu-satunya saat kami bertemu.
Orang-orang dengan kebijakan yang demikian agung dan kesederhanaan yang mendalam. Orang-orang yang berhak dipanggil “guru”. Dan saya bersyukur memiliki kesempatan untk bertemu dengan mereka.
Jika ditilik dari jumlah guru yang saya temui dalam waktu singkat ini, mungkin sekarang saatnya masuk sekolah lagi. Senang rasanya bisa menjadi murid kembali.
Wednesday, November 07, 2007
Buat mama dan papa
Tuhan, maafkan saya dan maafkan papa dan mama.
Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil. SEJAK aku kecil.
*pelukcium*
Sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil. SEJAK aku kecil.
*pelukcium*
Tuesday, October 09, 2007
Lowongan: PR Manager di SENADA
SENADA, sebuah proyek peningkatan daya saing dengan dana dari USAID, tengah membuka kesempatan bagi satu orang Public Relations Manager senior (Kode: PRM).
Public Relations Manager ini akan mengembangkan dan memimpin implementasi strategi komunikasi SENADA. Strategi tersebut akan mencakup rencana komunikasi SENADA secara keseluruhan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor usaha, asosiasi industri atau bisnis, pemerintah serta masyarakat yang lebih luas.
Jika Anda memenuhi kriteria ini, silakan kirimkan CV Anda beserta tiga referensi profesional (dilengkapi dengan nomor telepon dan alamat email) melalui email ke SENADA@dai.com (agar lamaran Anda dipertimbangkan Anda harus menulis kode di atas dalam subject email Anda) atau fax ke 021-579-32578 paling lambat Rabu, 24 Oktober 2007.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai posisi ini, Anda dapat men-download dokumen ini. Informasi lebih lanjut mengenai SENADA dapat dilihat di www.senada.or.id.
Public Relations Manager ini akan mengembangkan dan memimpin implementasi strategi komunikasi SENADA. Strategi tersebut akan mencakup rencana komunikasi SENADA secara keseluruhan dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor usaha, asosiasi industri atau bisnis, pemerintah serta masyarakat yang lebih luas.
Jika Anda memenuhi kriteria ini, silakan kirimkan CV Anda beserta tiga referensi profesional (dilengkapi dengan nomor telepon dan alamat email) melalui email ke SENADA@dai.com (agar lamaran Anda dipertimbangkan Anda harus menulis kode di atas dalam subject email Anda) atau fax ke 021-579-32578 paling lambat Rabu, 24 Oktober 2007.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai posisi ini, Anda dapat men-download dokumen ini. Informasi lebih lanjut mengenai SENADA dapat dilihat di www.senada.or.id.
Sunday, October 07, 2007
Kajian: I'tikaf (Oleh A. Chodjim)
[English]
Kata i’tikaf sering kita dengar, terutama menjelang akhir Ramadhan. Orang berbondong-bondong untuk berkumpul di mesjid, shalat jamaah, membaca Al Qur’an dan orang Jawa bilang “le’-le’an”, gak tidur semalaman atau lebih di mesjid.
Apakah esensi i’tikaf itu sendiri?
Inti i’tikaf adalah tafakkur, perenungan untuk mencapai transformasi spiritual, kontemplasi, refleksi diri.
Merenungkan apalah langkah kita selama ini sudah benar, apakah hubungan kita dengan alam semesta sudah harmonis.
Al Qur’an tidak menjelaskan tata cara (syarat dan rukun) i’tikaf. Karena itu, tata cara ini kemudian dijelaskan oleh para imam. Setiap imam memiliki sedikit perbedaan dalam tata cara i’tikaf.
Apa pun namanya, menurut saya pribadi, perenungan itu perlu dilakukan. Perenungan bukan berarti berpikir untuk suatu objektif tertentu, mendapatkan jawaban untuk suatu masalah kita yang spesifik.
Perenungan lebih berarti membuka diri/hati terhadap masuknya energi ilahi, kuasa alam, ke dalam diri.
Energi yang kemudian menuntun kita untuk secara alami, secara otomatis, menjalani hidup sesuai kehendak Allah, sesuai misi dan fungsi kita di dunia.
Catatan lengkap dapat di-download di sini.
Kata i’tikaf sering kita dengar, terutama menjelang akhir Ramadhan. Orang berbondong-bondong untuk berkumpul di mesjid, shalat jamaah, membaca Al Qur’an dan orang Jawa bilang “le’-le’an”, gak tidur semalaman atau lebih di mesjid.
Apakah esensi i’tikaf itu sendiri?
Inti i’tikaf adalah tafakkur, perenungan untuk mencapai transformasi spiritual, kontemplasi, refleksi diri.
Merenungkan apalah langkah kita selama ini sudah benar, apakah hubungan kita dengan alam semesta sudah harmonis.
Al Qur’an tidak menjelaskan tata cara (syarat dan rukun) i’tikaf. Karena itu, tata cara ini kemudian dijelaskan oleh para imam. Setiap imam memiliki sedikit perbedaan dalam tata cara i’tikaf.
Apa pun namanya, menurut saya pribadi, perenungan itu perlu dilakukan. Perenungan bukan berarti berpikir untuk suatu objektif tertentu, mendapatkan jawaban untuk suatu masalah kita yang spesifik.
Perenungan lebih berarti membuka diri/hati terhadap masuknya energi ilahi, kuasa alam, ke dalam diri.
Energi yang kemudian menuntun kita untuk secara alami, secara otomatis, menjalani hidup sesuai kehendak Allah, sesuai misi dan fungsi kita di dunia.
Catatan lengkap dapat di-download di sini.
Saturday, October 06, 2007
The Witch of Portobello
[English]Saya sebenarnya sudah kurang tertarik sama buku-bukunya Paulo Coelho. Dengan tetap segenap rasa hormat terhadap sang penulis berbakat ini. Cuma tidak pas aja selera saya dengan beliau.
Jadi ketika bukunya The Witch of Portobello keluar, saya bukan salah satu orang yang terburu-buru datang ke toko buku membelinya.
Sampai suatu saat salah satu teman yang sangat saya hargai merekomendasikan buku itu ke saya. Rasa ingin tahu pun muncul. Saya tahu dan percaya sama selera dia terhadap buku.
Pada hari yang saya dia meng-sms saya untuk merekomendasikan buku itu, saya pergi ke toko buku untuk membelinya. Kemudian saya membeli segelas besar kopi hitam dan duduk berjam-jam di warung kopi untuk membaca buku itu.
Saya pulang dan meneruskan bacaan saya. Saya menyelesaikan buku itu dalam satu hari. Gak bisa berhenti.
Kemudian saya cerita ke teman saya yang lain tentang the Witch of Portobello. Tanggapannya sangat tidak saya duga. Ia bilang, "Jadi, hasilnya apa?"
Sebuah pertanyaan yang tajam dan aneh untuk menanggapi sebuah cerita tentang buku yang baru dibaca. Tapi ini juga pertanyaan yang bagus. Apa ya hasilnya?
Hasilnya adalah buku ini membuat saya berpikir tentang hal yang sudah lama terlupakan oleh saya. Melempar saya kembali ke situasi introspektif dan retrospektif.
Jadi, kalau nanti ada perubahan besar dalam hidup saya dalam waktu dekat, Anda bisa salahkan si Paulo Coelho. Atau berterima kasih padanya.
Puasakah kita?
[English]
Lalu lintas di Jakarta beberapa hari terakhir ini telah (meng)gila. Saya tidak tahu apakah lalu lintas menjadi seperti ini karena Idul Fitri sudah tinggal seminggu lagi.
Saya masih tidak memahami kenapa lalu lintas di minggu ketiga bulan Ramadhan jauh lebih padat ketimbang lalu lintas di minggu pertama.
Balik ke niat awal saya menulis artikel ini. Jadi ceritanya saya sedang terjepit di tengah kegilaan ini. Saya melihat-lihat sekitar saya. Saya berasumsi bahwa kebanyakan orang di jalan ini semua pada puasa.
Katanya, puasa itu melatih kita untuk sabar. Untuk lebih bisa mengendalikan diri. Untuk menahan diri tidak hanya dari makanan, minuman dan seks, tetapi juga ‘melaparkan’ diri kita dari mengkonsumsi emosi negatif.
Tapi yang bisa saya lihat, saya rasakan adalah betapa agresifnya orang ketika sedang mengendarai kendaraannya. Jarak satu kendaraan dengan kendaraan lain begitu dekat. Motor bersliweran ke sana ke mari, mencoba mencari celah sempit di antara mobil-mobil yang ada.
Tidak ada yang mau memberi jalan ke yang lain. Ketika ada yang mencoba menyalip, kita bisa lihat tiba-tiba wajah si supir yang merasa tersalip mendadak menjadi tegang, emosi.
Saya jadi bertanya-tanya seberapa banyak dari kita yang benar-benar berpuasa. Dan saya tulus berharap bahwa sehabis bulan Ramadhan, kita semua dapat sungguh-sungguh merayakan idul fitri – kembalinya jiwa kita ke keadaan fitrah, suci.
Lalu lintas di Jakarta beberapa hari terakhir ini telah (meng)gila. Saya tidak tahu apakah lalu lintas menjadi seperti ini karena Idul Fitri sudah tinggal seminggu lagi.
Saya masih tidak memahami kenapa lalu lintas di minggu ketiga bulan Ramadhan jauh lebih padat ketimbang lalu lintas di minggu pertama.
Balik ke niat awal saya menulis artikel ini. Jadi ceritanya saya sedang terjepit di tengah kegilaan ini. Saya melihat-lihat sekitar saya. Saya berasumsi bahwa kebanyakan orang di jalan ini semua pada puasa.
Katanya, puasa itu melatih kita untuk sabar. Untuk lebih bisa mengendalikan diri. Untuk menahan diri tidak hanya dari makanan, minuman dan seks, tetapi juga ‘melaparkan’ diri kita dari mengkonsumsi emosi negatif.
Tapi yang bisa saya lihat, saya rasakan adalah betapa agresifnya orang ketika sedang mengendarai kendaraannya. Jarak satu kendaraan dengan kendaraan lain begitu dekat. Motor bersliweran ke sana ke mari, mencoba mencari celah sempit di antara mobil-mobil yang ada.
Tidak ada yang mau memberi jalan ke yang lain. Ketika ada yang mencoba menyalip, kita bisa lihat tiba-tiba wajah si supir yang merasa tersalip mendadak menjadi tegang, emosi.
Saya jadi bertanya-tanya seberapa banyak dari kita yang benar-benar berpuasa. Dan saya tulus berharap bahwa sehabis bulan Ramadhan, kita semua dapat sungguh-sungguh merayakan idul fitri – kembalinya jiwa kita ke keadaan fitrah, suci.
Wednesday, October 03, 2007
Menjadi seorang murid
[English]
Baru-baru ini, di rumah seorang teman dengan sekelompok orang lainnya, kami berdiskusi panjang lebar tentang puisi yang saya taruh di blog saya satunya, puisi berjudul It is a pleasure to be a student. Salah seorang teman kami adalah seorang guru. Dia bilang dia kadang ndaftar ikut suatu kelas untuk menjadi murid lagi.
Saya punya interpretasi, pemahaman yang berbeda.
Bagi saya merasa menjadi murid ketika kita memang seorang murid itu relatif mudah. Kalau saya ikut ndaftar suatu kelas, tentu saya merasa saya seorang murid karena saya memang benar-benar seorang murid.
Yang lebih menantang adalah untuk menjadi murid setiap detik dalam kehidupan kita. Untuk merasakan kerendahan hati bahwa saya bisa belajar dari orang yang sedang berada di depan saya karena ada yang dia ketahui yang tidak saya ketahui. Untuk memiliki antusiasme, keinginan, semangat untuk belajar.
Jujur deh. Ketika kita seorang manajer, direktur, vice president, seorang senior di tempat kita bekerja, dan kita berhadapan dengan seorang magang yang lulus kuliah aja belum, apa dengan mudah kita bisa merasa bahwa kita bisa belajar dari si anak magang ini? Atau kita memutarkan bola mata, tersenyum sinis dan ngedumel setiap kali dia mengatakan sesuatu yang 'gak pas'? Ya, kira-kira begitu lah.
Saya tidak bisa melupakan puisi tersebut waktu itu. Puisi itu seperti pengingat buat saya (untuk tidak mengatakan tamparan di muka)bagi orang yang sangat percaya diri, arogan, sok tahu ini untuk belajar kepada setiap orang yang ia temui, setiap kejadian yang ia alami dalam hidup ini.
Kadang saya melemparkan diri saya ke sesuatu yang benar-benar baru, sengaja atau tidak sengaja. Untuk kembali menjadi murid kelas satu, murid pemula, sekali lagi.
Mungkin sudah waktunya saya kembali melakukannya.
Baru-baru ini, di rumah seorang teman dengan sekelompok orang lainnya, kami berdiskusi panjang lebar tentang puisi yang saya taruh di blog saya satunya, puisi berjudul It is a pleasure to be a student. Salah seorang teman kami adalah seorang guru. Dia bilang dia kadang ndaftar ikut suatu kelas untuk menjadi murid lagi.
Saya punya interpretasi, pemahaman yang berbeda.
Bagi saya merasa menjadi murid ketika kita memang seorang murid itu relatif mudah. Kalau saya ikut ndaftar suatu kelas, tentu saya merasa saya seorang murid karena saya memang benar-benar seorang murid.
Yang lebih menantang adalah untuk menjadi murid setiap detik dalam kehidupan kita. Untuk merasakan kerendahan hati bahwa saya bisa belajar dari orang yang sedang berada di depan saya karena ada yang dia ketahui yang tidak saya ketahui. Untuk memiliki antusiasme, keinginan, semangat untuk belajar.
Jujur deh. Ketika kita seorang manajer, direktur, vice president, seorang senior di tempat kita bekerja, dan kita berhadapan dengan seorang magang yang lulus kuliah aja belum, apa dengan mudah kita bisa merasa bahwa kita bisa belajar dari si anak magang ini? Atau kita memutarkan bola mata, tersenyum sinis dan ngedumel setiap kali dia mengatakan sesuatu yang 'gak pas'? Ya, kira-kira begitu lah.
Saya tidak bisa melupakan puisi tersebut waktu itu. Puisi itu seperti pengingat buat saya (untuk tidak mengatakan tamparan di muka)bagi orang yang sangat percaya diri, arogan, sok tahu ini untuk belajar kepada setiap orang yang ia temui, setiap kejadian yang ia alami dalam hidup ini.
Kadang saya melemparkan diri saya ke sesuatu yang benar-benar baru, sengaja atau tidak sengaja. Untuk kembali menjadi murid kelas satu, murid pemula, sekali lagi.
Mungkin sudah waktunya saya kembali melakukannya.
Sepi
[English]
Saya baru menyadari bahwa sudah lama saya tidak menulis di blog saya. Di blog yang mana pun.
Bukannya saya tidak mau. Bukannya saya tidak punya waktu. Tetapi saya hanya tidak tahu mau menulis apa.
Saya tidak tahu harus menulis apa. Weleh, kacau.
Seorang teman pernah bilang bahwa menurutnya tulisan-tulisan saya selama saya di Spanyol bagus-bagus. Dia bertanya apakah itu karena suasana mendukung, atau karena situasi hati saya. Dua-duanya.
Jadi jika saya menulis dengan baik apabila suasana sekitar mendukung dan hati saya sedang dalam suasana hati yang pas, maka apa arti "gak tau mau nulis apa"? Weleh, kacau.
Saya baru menyadari bahwa sudah lama saya tidak menulis di blog saya. Di blog yang mana pun.
Bukannya saya tidak mau. Bukannya saya tidak punya waktu. Tetapi saya hanya tidak tahu mau menulis apa.
Saya tidak tahu harus menulis apa. Weleh, kacau.
Seorang teman pernah bilang bahwa menurutnya tulisan-tulisan saya selama saya di Spanyol bagus-bagus. Dia bertanya apakah itu karena suasana mendukung, atau karena situasi hati saya. Dua-duanya.
Jadi jika saya menulis dengan baik apabila suasana sekitar mendukung dan hati saya sedang dalam suasana hati yang pas, maka apa arti "gak tau mau nulis apa"? Weleh, kacau.
Subscribe to:
Posts (Atom)